
“Maafkan Ayah Jen, kalau begitu ayah akan menambah uang bulanan mu, kamu bisa membeli apapun yang kamu inginkan.”
Raja menyuruh Jen mendekat dan mempersilahkan ia duduk disampingnya.
“Ayah sejak ibu meninggal, keuangan para Selir dan anak Selir semua dipegang oleh Selir Shan, bahkan termasuk saya dan sejak itu uang bulanan saya dipegang oleh Kepala Pelayan. Saya tak diberi sedikitpun, bahkan untuk beli gaun baru saya pun tidak punya sampai kemarin, berkat kakak pertama akhirnya saya memiliki gaun yang baru.”
Terlihat wajah Raja kaget bercampur marah.
“Pelayan, panggilkan Kepala Pelayan kesini !” Perintah Raja.
Tak lama, Kepala Pelayan datang, dan berlutut.
“Apa selama ini uang bulanan tuan Putri kamu yang pegang?!” Tanya Raja menahan amarahnya.
“Maaf yang mulia, tapi Selir Shan yang menyuruh saya untuk memegang kas Tuan Putri”
Ampun Kepala Pelayan itu, sambil terus berlutut dan menundukkan kepalanya sampai ke lantai karena takut dihukum.
“Selir Shan..??”
Tanya Raja lagi tidak percaya Selir kesayangannya itu melakukan hal seperti itu.
“Ayah, saya hanya ingin uang bulanan saya yang sebelum-sebelumnya di kembalikan pada saya, dan saya harap uang bulanan saya langsung diserahkan pada saya itu saja” Mohon Jen pada ayahnya.
“Baiklah Nak, Kepala Pelayan sekarang juga kamu kembalikan semua uang bulanan nya selama ini, kalau tidak seluruh keluarga mu yang akan membayarkan hutang itu, dan lagi jabatan mu sekarang diturunkan jadi pelayan tingkat dua !” Perintah Raja geram.
Terlihat wajah kepala pelayan itu pucat,
“Ba..baik yang mulia”
Di kerajaan ada juga tingkatan untuk pelayan dari mulai yang tertinggi yaitu Kepala Pelayan, Pelayan tingkat 1 lalu tingkat 2 dan yang paling rendah tingkat 3.
Raja memerintahkan ia segera menyiapkan uang tersebut, dan pelayan itupun keluar dari paviliun dengan wajah pucat.
Dalam pikiran Jen muncul ingatan, saat Putri Jen ingin membeli satu gaun yang bagus, Kepala Pelayan malah berani menyuruhnya mencuci pakaian semua Selir dan anak nya.
Saat itu Putri Jen menolak, dan ia tak diberikan sepeser pun dari uang bulanannya sendiri.
Tentu saja selama ini pelayan itu berani karena mendapat dukungan dari Selir Shan dan Selir Ika.
Jen menduga, pasti duit nya sudah habis dipakai nya, sekarang ia kena karma atas perbuatannya sendiri.
Jen izin kembali ke paviliun nya, Raja pun mengizinkannya. Tapi sebelum Jen pergi, Raja menyerahkan segulung kain sutra dengan benang emas untuk dipakai nya saat jamuan makan 3 hari lagi.
Jen membawa kain tersebut dan bermaksud menjahitkan gaun dengan thema kesatria.
Sejujurnya Jen tidak suka memakai gaun, menurutnya itu membuatnya kesulitan bergerak.
Setiba di paviliunnya, ia segera menunjukan kain dan benang pemberian ayahnya pada Rin dan Anes. Tampak Jen sangat senang.
“Tiga hari lagi akan ada jamuan makan menyambut panen tahun ini di istana, pasti akan banyak orang-orang berpengaruh yang datang, itu kesempatan ku untuk menambah relasi mungkin saja ketiga telur pendekar hitam dapat segera kita temukan"
“Nona Mega tiba”
Terdengar suara pengawal memberi pesan.
Haa, ngapain sih Mega ini datang kesini dasar pengganggu, batin Jen.
Ia segera keluar dan melihat Mega bersama 3 pelayannya.
“Kakak, bagaimana kabar mu ?” Ucapnya basa-basi.
“Sudah ku katakan, kau tidak layak memanggil ku dengan sebutan itu !” Ucap Jen dingin.
“Sekarang kau bisa bilang begitu tapi nanti setelah ibu ku menjadi permaisuri, kau hanya sebagai putri terbuang !” Ucap Mega sambil tertawa kecil.
Ia berjalan mendekati kain tersebut dan segera mengambil kain serta benang itu.
“Kakak, ternyata kau masih memiliki barang bagus, pas sekali untuk jamuan makan nanti, aku masih belum menyiapkan gaun ku.”
Mega mengambil barang itu begitu saja tanpa seizin Jen.
Rasa nya Jen pengen sekali menghajar nya sampai ia tak dapat bangkit lagi dari kasurnya, tapi ia tak ingin membuat kekacauan saat ini, ya belum saatnya.
“HA.. KAU, BERANI SEKALI MENGAMBIL BARANG PUTRI TANPA IZIN !”
Rin kesal melihat perbuatan Mega dan bersiap memberinya pelajaran.
Jen segera mencegahnya.
“HAHAHAHAAA… PUTRI PENAKUT SEPERTI DIA MANA BERANI MENOLAK KU, KALAU DIA BERANI.. DIA TAU AKIBATNYA !”
Dengan penuh kemenangan Mega melihat sikap Jen yang hanya terdiam menahan amarahnya.
Pelayan-pelayan Mega pun memandang rendah pada Jen, tak ada satupun yang memberi hormat.
“Putri~~”, Ucap Anes pelan.
“Tidak apa-apa Rin, kita bisa memakai gaun yang lain” Ucap Jen menenangkan nya.
"Lihat lah Putri pengecut kita ini, kasihan sekali dia" Ejek Mega.
Akhirnya Mega pergi dari paviliun putri.
“Nona, kenapa tadi nona membiarkan nya bertindak seenaknya begitu, kekuatan nona jauh lebih kuat dari pada nya.” Tanya Rin penasaran.
“Tenang saja, kalau sekarang aku menghajarnya, itu akan terlalu ringan baginya. Kain dan benang tadi adalah pemberian Raja yang khusus disiapkannya untuk ku, kita lihat bagaimana reaksi Raja saat melihat kain dan benang itu dipakai oleh Mega.”
Jen menjelaskan maksud nya pada Rin dan Anes.
Anak ular tertangkap, aku penasaran bagaimana nanti induknya menyelamatkannya, terlukis senyum kecil dari wajah Jelita Jen.
Akhirnya Rin dan Anes mengerti maksud nonanya tersebut.
“Oiya, bagaimana dengan ruang rahasia kita, apa sudah selesai ?” Tanya Jen pada Anes.
“Sudah nona, saya memang bermaksud menyampaikannya hari ini” jawab Anes.
Mereka bertiga masuk ke sebuah pintu di lantai, menuruni tangga perlahan, dan menemukan sebuah ruangan yang cukup luas dan sangat bagus hasil kerja keras Anes, dan tentu nya dibantu oleh Rin juga.
Rak-rak buku terbuat dari batu, begitupun meja dan kursi nya, ada juga beberapa peti batu disudut-sudut ruangan, pencahayaannya menggunakan batu Kristal cahaya yang diisi aura. Barang-barang Jen dari hadiah yang diterimanya beberapa hari yang lalu juga telah disusun rapi oleh Rin.
“Bagus sekali, sekarang kita punya ruang rahasia” Ucap Jen puas.
Mereka menaiki tangga lagi, dan menutup pintu di lantai, pintu itu dibuat menyerupai lantai kayu yang ada disekitarnya, sehingga orang lain tidak akan menyadari kalau itu adalah sebuah pintu rahasia.
Dari ruangan itu juga Anes telah membuat terowongan kecil menuju hutan di belakang istana sebagai pintu keluar rahasia dalam kondisi darurat.
“Nice Job!” Ucap Jen puas sambil mengangkat jempol.
Anes yang tidak mengerti maksudnya sedikit memiringkan kepala nya.
Beberapa hari telah berlalu, kini tiba waktu nya perjamuan makan menyambut Panen di istana.
Sudah sejak dini hari para pelayan sibuk menyiapkan segala sesuatu nya untuk acara ini. Begitu pun Jen, sedang bersiap-siap di paviliunnya.
Ia mengenakan baju putih sederhana, walaupun sederhana tetapi tetap terlihat mewah dengan beberapa butir hiasan permata di bagian pinggangnya. Ia hanya menggerai rambutnya, dengan hiasan pita hijau, senada dengan warna permata di gaun yang dikenakannya.