
Jen mengambil beberapa tumbuhan obat itu sebagai persediaan bahan obatnya.
Kliik, tiba-tiba muncul notification, Jen melihat nameboardnya. LEVEL 21 >> LEVEL 22.
Wouu, aku naik level lagi, batin Jen senang.
“Tak ku sangka, batu yang tadi ku serap menaikan level ku 1 tingkat. Batu itu memang termasuk harta karun di dalam sini”, Ucap Jen girang.
Aura di dalam goa ini, sangat murni dan padat, sangat bagus untuk berlatih, batinnya.
“Hem.. kayaknya aku berlatih di dalam sini saja, aura yang murni ini sayang sekali kalau disia-siakan” Ucap nya.
Jen mencari tempat yang nyaman dan posisi yang pas lalu mulai mempelajari jurus-jurus yang belum sempat ia pelajari karena urusan di istana.
Dia duduk bersilah, memfokuskan kekuatannya pada satu titik. Dibukanya gulungan jurus dari pangeran, dan berkonsentrasi sampai di dalam pikirannya muncul tarian-tarian indah, kemudian dia mengikuti tarian-taria itu yang merupakan gerakan jurus hingga akhirnya jurus itu telah selesai ia kuasai.
Terakhir ia mengambil gulungan jurus yang tergembok yang baru saja dipinjamnya dari perpustakaan. Ia mencoba membuka gembok nya, tetapi ternyata sangat sulit, lalu dia mengumpulkan aura nya, dan memadatkannya, tak lupa ia juga memurnikannya.
Kini terbentuk suatu sinar emas semakin lama sinar itu semakin terang, di genggamnya sinar itu, dan dihantamkannya pada gembok jurus itu.
Kraak..
Gembok itu mulai retak, tapi masih belum hancur, sekali lagi Jen mengumpulkan auranya, ia melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya.
Krakk.. Pranggkk..!
Hancur lah gembok itu, dan terbuka lah gulungan jurus tersebut.
Jen melihat gambar-gambar bintang yang berubah-ubah, kemudian gambar bintang itu keluar dari gulungan.
Jleebb…
Kembali Jen merasakan seperti ada kilatan menyambar dan menancap di keningnya yang menyebabkan sakit luar biasa, kali ini Jen berusaha menahan sakitnya, ia tidak ingin pingsan seperti saat ia di perpustakaan.
Sedetik kemudian ia marasakan seluruh tubuhnya sangat panas bagaikan terbakar, keringat nya bercucuran dan menguap karena panasnya suhu tubuhnya.
AKKHHH…
Jen teriak menahan sakit dan panas di seluruh tubuhnya. Kini dia kembali berada di ruang hampa Cosmis dan melihat banyak bintang menari-nari, kali ini tidak menimpa nya, tetapi perlahan bintang yang menari-nari itu menghilang satu persatu, dan muncul satu bintang besar, bintang-bintang kecil yang belum menghilang mendekat ke bintang yang besar itu, dan mereka tampak menari-nari dengan irama yang sangat indah.
Kemudian bintang itu meledak dan cahaya yang sangat silau menyadarkan Jen dari pelatihannya. Terlihat dari seluruh tubuhnya keluar seperti uap berwarna-warni, dan ia merasakan kekuatan yang luar biasa di dalam tubuhnya.
Kliikk… kembali nameboardnya memberikan notification.
LEVEL 22 >>LEVEL 30.
Hebaat ! batin Jen.
Dalam beberapa hari aku bisa meningkatkan level ku sampai 10 level. Setelah Jen selesai mempelajari gulungan Jurus Membelah Langit, kembali jurus itu dengan otomatis tergulung sendiri dan gembok yang tadinya telah rusak, kini gembok nya bagus kembali, dan gulungan itu kembali tergembok.
Ohh, ternyata gulungan ini sangat canggih, batin Jen yang kagum melihat gulungan itu.
Tak terasa, sudah 10 hari aku di dalam sini, batin Jen setelah melihat catatan waktu di nameboard nya.
“Aku harus segera keluar, dan mencari pangeran serta Anes”.
“Apa memang ada jalan keluar yang lain lagi ya ?.
Jen berkeliling diruangan itu dan menemukan suatu pintu rahasia di sisi tembok dekat altar, Jen menyentuh tembok itu dan terbuka suatu celah. Ia masuk ke celah tersebut, dan keluar dari sisi belakang goa.
Kini ia kembali ke pinggir sungai. Ia akan menyelam, segera ia mengumpulkan udara dan menahan nafasnya lalu menyelam ke dalam sungai itu.
Sungainya ternyata sangat dalam, arus nya tenang. Jen melihat ada suatu lubang di dalam sungai itu, ia mendekatinya dan menyelidiki lubang itu dan teryata di dalam lubang itu ada daratan.
Segera Jen naik ke daratan. Ia melihat ada jejak darah, namun tidak tau bekas darah siapa itu. Ia mengikuti jejak darah tersebut dan menemukan Pangeran tergeletak dan Anes berusaha menyembuhkannya.
Jen segera mendekat, Anes yang melihat kedatangan Jen bersyukur karena Jen baik-baik saja.
“Kenapa dengan kalian?”
Jen sangat heran melihat pangeran penuh luka begitupun Anes.
“Kami diserang Naga Air beberapa hari lalu, tetapi Naga itu sudah berhasil dikalahkan pangeran, tetapi karena itu pangeran terluka parah dan aku mencoba menyembuhkan luka-luka nya sejak saat itu.”
“Tapi, kamu juga terluka parah Nes”, ucap Jen yang juga mengkuatirkan Anes.
“Luka ku tidak seberapa dibandingan luka pangeran, itu tadi menembus jantung nya, untunglah tidak dalam.”
Anes menunjukkan suatu tanduk tajam yang berasal dari Naga Air tergelatak di tanah, dan bagian dada Pangeran masih mengeluarkan banyak darah.
“Minumlah obat ini”, ucap Jen sambil menyerahkan sebutir pil obat pada Anes.
Anes menghentikan penyembuhannya, dan meminum pil tersebut. Kemudian ia merasakan kekuatannya sedikit demi sedikit pulih kembali.
“Pulihkan lah dulu dirimu, biar aku yang melanjutkan penyembuhan Pangeran” Ucap ku mengambil alih pengobatan.
Aku mengangkat sedikit kepala pangeran dan menelankan pil obat padanya. Lalu ia mengobati luka-luka luar pangeran dengan rumput obatnya.
Terlihat darah pangeran mulai berhenti keluar, wajahnya yang pucat kini lebih bersinar. Tak lama kemudian, jari-jari pangeran bergerak perlahan, dan akhirnya ia membuka matanya.
“Jen ? “ Ucap nya yang baru sadar dari pingsannya.
“Kakak, istirahat lah dulu, kakak belum pulih sepenuhnya”, balas Jen yang masih mengkuatirkan Pangeran.
Anes dan Pangeran dalam masa pemulihan, sedangkan Jen berjaga, mungkin saja ada monster lain yang akan menyerang mereka nanti.
Tak terasa sudah 3 hari berlalu di dalam sungai, Anes dan Pangeran telah pulih sepenuhnya, bahkan berkat pil-pil obat Jen, mereka jauh lebih baik dari sebelumnya, jurus yang dipilihkan Jen untuk Anes pun sudah dikuasainya.
“Sudah waktu nya kita kembali, Rin pasti kuatir menunggu kita.”
Akhirnya kami kembali menyelam keluar dari sungai, dan memanjat tebing air terjun.
Sesampai disana tampak Rin ternyata sedang berlatih jurus yang diberikan Jen, dari tubuhnya terpancar sinar keemasan dan muncul suatu tanda di keningnya lambang Bintang. Ntah mereka menyadarinya atau tidak sebenarnya di kening Anes pun tiba-tiba Jen melihat lambang Bintang.
Saat Jen menanyakan perihal lambang Bintang itu, Anes pun tidak menyadarinya. Jen sebenarnya penasaran mengapa bisa muncul lambang Bintang di kening kedua kesatria ini.
Tapi, ya sudah lah, mungkin nanti aku akan menemukan jawabannya, yang penting sekarang aku harus ke tempat Meimei, melihat apa senjata nya sudah selesai, batin Jen.