
Esok pagi nya, Jen, Anes dan Rin sudah bersiap-siap.
“akhirnya tiba juga waktu ini, kita harus bisa masuk 10 besar”, ucap Jen semangat.
Di lokasi pertandingan banyak sekali ternyata peserta yang antusias.
“ini mungkin ada ribuan pesarta dari negeri ini yang berpartisipasi, dan rata-rata level mereka 8 keatas”, ucap Jen sambil mengamati nameboard para paserta.
Klik, muncul notification pada nameboard nya.
‘JUMLAH PESERTA YANG MENGIKUTI PERTANDINGAN ADA 3.860 ORANG’
Ohh, teryata nameboardnya juga merekam setiap kegiatan yang diikuti Jen.
“kami akan berusaha sekuat tenaga”, balas Anes dan Rin.
“tentu saja, walaupun kekuatan kalian di segel, tapi kalian adalah 2 pendekar hitam, kekuatan kalian masih diatas rata-rata”, dukung Jen.
Semua peserta berbaris di bawah arena pertandingan, dan para walikota pun turut serta menantikan anggota nya. Mata Jen melihat kesekitar tamu kehormatan, Tetapi tak menemukan Sang Raja.
Hem, mungkin nanti di babak final datangnya, pikir Jen setelah gagal menemukan Raja.
Lalu perwakilan dari Raja maju ke depan, dan melayang di udara, mengangkat tangannya sebagai kode ‘Harap Tenang’, semua peserta pun mulai tenang. Ia mulai mengucapkan kata-kata pembuka.
“Saat ini, adalah saat yang special, karena kalian yang hadir di tempat ini memiliki kesempatan menjadi anggota Klan Langit, kerahkan semua kemampuan kalian !”, ucap Perwakilan Raja itu membakar semangat para peserta. Setelah ia selesai mengucapkan kalimat pembuka, Ia kembali ke tempat duduk nya, dan berdiri
seorang lagi sebagai pemandu acara.
“Baiklah, saya akan menjelaskan peraturannya, ada 3x seleksi, seleksi pertama diadakan di bukit Alpha, masing-masing kalian akan diberikan satu lambang permata biru seperti ini, dan 50 orang terbanyak yang memiliki lambang ini dia akan lanjut seleksi kedua”, ucap pembawa acara itu menjelaskan.
“haa, hanya 50 orang?”, bisik-bisik peserta.
“lambang ini akan diberikan di pintu masuk bukit Alpha, dan waktu yang diberikan sampai besok pagi pukul 7 paling lambat kalian harus menyerahkan kembali lambang ini di pintu masuk yang sama”, lanjut pembawa acara.
“Baiklah pertandingan ini dimulai!!”, teriak sih pembawa acara mengakhiri penjelasannya.
bukit Alpha terletak di belakang kota ini, biasanya digunakan sebagai tempat untuk berlatih karena hawa di atas bukit masih murni.
“hem, ayo kita segera ke bukit Alpa”, Jen, Rin dan Anes bergegas pergi, begitupun dengan para peserta lain.
satu jam perjalanan, akhirnya mereka bertiga sampai, dan menuju ke pintu masuk bukit untuk mengambil lambang mereka. lambang itu tidak dapat di simpan tetapi di tempelkan di lengen mereka, seperti tato gelang, jika mereka berhasil merebutnya dari lawan, cukup mereka sentuh saja, dan lambang itu berpindah ke lengan mereka.
Mereka memasuki bukit, tak terlihat siapa pun disana, padahal di pintu masuk terlihat banyak sekali peserta yang masuk.
“mereka langsung bersembunyi dan mengincar korban”, ucap Anes waspada.
“apa kita juga akan mencari tempat persembunyian dan mencari korban?”, Tanya Rin.
“Tempat bersantai??”, Anes dan Rin heran.
Kini mereka sudah ada di pinggir sungai dan menangkap ikan untuk makan siang mereka. Jen sendiri asik berenang-renang dan mengganggu Rin agar ia juga ikut bermain air dengannya. Sedang Anes asik menyantap ikan bakarnya.
Dibalik semak-semak jen menyadari ada 3 orang sedang mengintai mereka. Jen tersenyum, hem.. akhirnya datang mangsa, pikir Jen.
“bersiap-siaplah kita kedatangan mangsa”, bisik Jen pada Rin.
Kedatangan mangsa, Rin menggeleng kepala mendengar ucapan nona nya ini.
Jen keluar dari air, menyusul Rin dibelakang nya.
“keluarlah kalian”, ucap Jen tenang.
“wahh, nona.. hebat juga mengetahui kedatangan kami”, ucap salah satu dari mereka.
“tentu saja, mana mungkin kami tidak tau kalau mangsa mendekat”, jawab Jen santai.
Mendengar ucapan Jen, mereka pun geram, dan segera menyerang Jen.
Jen mengambil sebuah kerikil dari pinggir sungai, dan melemparkannya kearah salah satu pria tersebut.
Tapi pria itu segera menghindar.
“Hemm.. lumayan, kamu cukup cepat, tapi tidak secepat angin ku”, ucap Jen segera mengarahkan pedang angin nya pada pria itu. 2 rekan nya berusaha membantu, tapi Rin dan Anes menghadang.
Pria dihadapan Jen jatuh pingsan, sedangkan kedua lainnya sudah dibereskan Anes dan Rin. Segera mereka mengambil lambang dari lengan mereka, masing-masing memperoleh satu.
“baiklah, bersantainya selesai, waktu nya berburu”, ucap Jen mengaktifkan mode berburu.
Mereka bertiga kini telah berpencar mencari buruan mereka masing-masing.
Klang,klang, klang, terdengar bunyi pedang dari beberapa peserta yang sedang bertarung memperebutkan lambang. Hari sudah sore menjelang malam, tentu saja peserta harus segera mengumpulkannya, karena pada malam hari tentu semakin sulit merebutnya, belum pada malam hari biasanya beberapa monster level sedang beraktifitas.
Begitupun mereka bertiga di lokasi yang berbeda, beberapa kali dihadang peserta lain. Saat ini Jen berhadapan dengan seorang peserta berlevel 9.
“Jen, lama tak berjumpa”, sapa pria itu.
Siapa dia, Jen berpikir sejenak. Dan suatu bayangan muncul di pikirannya, semakin lama semakin jelas.
Ahh, itu pangeran kelima, Herald dari Kerajaan Anol, tunangan Putri Jen. Pangeran Herald tau perasaan Jen pada nya,tapi pangeran itu malah sering mempermainkan Jen, dan para gadis dari keluarga bangsawan ikut merendahkannya.
“aku tak ingin menyerang gadis lemah seperti mu, jadi serahkan saja lambang yang kamu miliki dengan manis, setelah pertandingan ini, aku akan menemani mu seharian”, ucap Pangeran Herald dengan nada merendahkan.