INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 10 : BERTEMU WALIKOTA



“HAHAHAA.. KITA LIHAT APA KAU PUNYA NYALI !!”, Dengan nada merendahkan dan tak peduli peringatan nya. Ia pun menampar kembali pipi kanan Jen. Dan seketika itu juga mendarat dua tamparan ke pipi kiri dan kanan nona sombong itu.


“Akhhh”, teriak nona itu kaget sambil menahan perih di kedua pipi nya.


“Sudah saya peringatkan tadi”, ucap Jen sinis.


“KAMU..KAMU WANITA J*LANG KURANG AJ*R\, PENGAWAL HUKUM CAMBUK MEREKA 100 KALI!!”\, teriak nona itu dengan emosi nya.


Jen mengangkat tangan kanannya memberi tanda pada Rin dan Anes, mereka segera tau maksudnya dan dengan cepat pasukan tersebut dihabisi oleh mereka berdua.


Nona sombong itu, masih tidak percaya  pasukannya yang level nya lebih tinggi ternyata bisa dikalahkan mereka, bahkan dengan cepatnya.


Tak lama setelah itu, kakak kedua nona itu tiba, “Apa yang terjadi disini?”, Tanya nya.


Melihat kakak kedua nya telah datang, nona itu langsung mengadu.


“kakak, mereka berusaha membunuh saya di jalan, dan sekarang gadis J*lang itu berani menampar saya dan melukai pengawal saya”, adu nya sambil menunjuk ke arah Jen.


“berani sekali kalian membuat onar disini, dan menyakiti adik saya”, geram pemuda itu.


“kami hanya pendatang disini, pada saat kami tiba dikota ini, ada kereta kuda yang hampir menabrak kami, untung saja kami segera menyingkir, tapi kuda itu terpeleset dan kereta nya terjatuh, lalu nona muda ini memfitnah kami, menuduh kami seorang pembunuh yang berusaha membunuhnya, dan memaksa kami untuk ditahan, dan dicambuk”, Jen menjelaskan situasi yang sebenarnya.


“CUKUP, KALIAN TELAH MENYINGGUNG ADIK SAYA DAN MENYAKITINYA, KALIAN PANTAS DI HUKUM!”. Ternyata kakak kedua nya pun terlalu memanjakannya. Tampak sih nona sombong itu tersenyum penuh kemenangan.


Pantas saja nona ini kelakuannya menjengkelkan, pikir Jen kesal.


Sebelum sempat mengatakan hukuman yang pantas untuk mereka, seorang pengawal datang dan membisikkan sesuatu ke telinga pemuda itu.


Seketika itu, pemuda itu kaget, dan wajahnya kelihatan pucat.


“ahh, maaf adik saya yang salah, ayoo Rieny kamu harus minta maaf pada mereka”, ucap


pemuda itu pucat dan membujuk adiknya agar meminta maaf.


“haaaaa… apa maksud kakak”, nona sombong itu tampak kaget tidak percaya.


“Gadis itu adalah putri dari Raja Negeri Qua”, bisik nya pelan.


Pendengaran Jen yang emang tajam menangkap pembicaraan mereka. Ohhh.. rupanya sekarang mereka sudah tau siapa aku, batin Jen.


“maaf putri, adik saya masih terlalu muda, harap anda maklum, kami tidak tau siapa anda tadi, tuan dan nona yg dibelakang putri pasti pengawal pribadi anda, kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh, silahkan beristirahat di tempat kami”, tawar pemuda itu dengan senyum palsunya.


Ciihh, Jen tampak jijik melihat mereka semua yang ada di tempat ini. Tapi, karena hari sudah semakin gelap, pikir Jen, sudah lah lumayan penginapan dan makan gratis.


Mereka diarahkan ke sebuah paviliun yang tergolong mewah, dan disediakan makanan lezat. tiba-tiba  muncul beberapa ingatan di pikiran Jen saat ia masih di istana, dalam ingatan itu, pihak kerajaan Lue hendak membuat kerjasama dengan kerajaan Qua~~~~. Dalam pertukaran sumber daya alam, dan wali kota Xuan sebagai penanggung jawabnya.


Pantas saja, setelah mereka tau siapa aku, mereka jadi berubah 360 drajat, batin nya.


Tok..tokk.. pintu paviliun diketuk, “ya masuk”, ucap Jen.


“putri, walikota mengundang anda makan malam bersama”, ucap seorang pelayan perempuan sambil menunduk. Jen, tidak tertarik sama sekali untuk makan bersama dengan keluarga bermuka dua ini.


“bisakah saya menolak undangan itu, saya sangat lelah saat ini”, tolak Jen halus.


“baiklah akan saya sampaikan, selamat beristirahat putri”, balas pelayan itu sambil menunduk dan berlalu dari hadapan mereka.


“nona kami akan berjaga diluar, istirahat lah yang cukup”, ucap Anes yang tiba-tiba muncul di belakang Jen.


“kalian, istirahatlah juga, tempat ini sudah ada pengawal yang jaga”, balas Jen.


Malam itu, mereka tidur dengan lelap nya, hingga tak terasa pagi sudah menjelang, seorang pelayan mengetuk pintu, dan menyiapkan mandian mereka.


“segarnya, air hangat bertabur kelopak bunga dan dengan aroma theraphy, menu makanan yang beragam dan lezat, kalau di dunia ku ini seperti nginap di hotel bintang 5, batin Jen senang.


Setelah puas mandi, seorang pelayan mengetuk pintu lagi, dan mengatakan, walikota ingin sarapan bersama mereka. Akhirnya Jen menerima ajakan itu, walau sebenarnya dia ogah banget.


Mereka bertiga bersama seorang pelayan berjalan menuju ke paviliun utama. “Putri Jen tiba”, terdengar seorang pengawal memberikan kabar, tak lama keluarlah seorang pelayan mengantarkan mereka ke jamuan makan. Disana sudah menunggu walikota dan keluarga nya. Jen, Rin dan Anes duduk di meja yang telah disiapkan khusus untuk mereka,


“Selamat datang Putri Jen, kami tidak menyangka putri datang berkunjung ke kota ini”, sapa pria tua gemuk, yang menjabat sebagai walikota ini. Jen hanya tersenyum, malas membalas basa basi yang basi itu.


“wanita yang duduk di samping saya ini adalah istri saya, sedangkan tiga lainnya yang duduk di depan itu adalah selir-selir saya, dan 2 pemuda yang duduk di belakang mereka adalah anak-anak saya, dan ini putri saya satu-satunya”, jelas walikota sambil menunjuk satu persatu keluarga nya.


Jen terlihat cuek, sedangkan Rieny sih nona sombong terlihat menahan amarah.


Liat saja kamu j*lang, aku akan membereskan mu nanti, batin nya yang masih  tak terima tamparan Jen.