
"Aku.. aku mencintai mu."ujar pria yang dicintai Jen.
Kalimat itu menghentikan langkah seorang gadis yang sedang bersembunyi di balik pohon.
Jen memperhatikan sepasang manusia yang sedang dimabuk asmara.
Dalam diamnya tak terasa airmata menetes membasahi wajah manisnya.
Pemandangan di depan Jen sangat menyakitkan hatinya.
Pria pujaan hatinya yang juga sahabat kecil nya menyatakan cinta pada salah satu teman sekelasnya.
“Aku juga mencintaimu.” ucap gadis itu dengan tatapan penuh cinta.
Jen pun meninggalkan tempat itu dan berlari kembali ke kelas nya.
Dia tak ingin mereka tahu kalau ia menguping pembicaraan mereka.
Jen singgah dahulu ke toilet untuk membersihkan wajahnya sebelum dia masuk ke dalam kelas.
Dia tak ingin teman-teman yang lain menatapnya curiga karena matanya yang sembab.
Lagipula hari ini adalah hari terakhir ujian, ia tak ingin kejadian tadi mengganggu konsentrasi nya.
Waktu demi waktu berlalu dengan hening.
Semua orang berkonsentrasi pada lembar ujiannya, begitupun para guru berkonsentrasi mengawasi para murid dengan ketat.
Teng !! Teng !! Teng!!
Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Para siswa mengumpulkan lembar jawaban dan satu persatu meninggalkan kelas.
Jam tangan Jen menunjukan pukul 14.00, ia melangkahkan kaki nya menuju gerbang sekolah dan berusaha tetap tegar.
"Jeeen !” Terdengar panggilan seorang pria.
Jen menoleh dan itu adalah Vero, tetapi Jen tak mengatakan apapun hanya tersenyum kecil terlukis di wajah manisnya.
Pria itu mendekati Jen lalu mereka berjalan berbarengan.
"Kamu tau, tadi aku akhirnya menyatakan cinta ku pada Rea.” Katanya penuh semangat.
Siapa Vero?
Yaa, pria ini lah yang tadi dilihatnya menyatakan cinta dan akhirnya membuatnya patah hati.
Mendengar ucapan nya, Jen berusaha tersenyum dan berpura-pura kaget.
“Ohyaa… lalu apa kamu diterima oleh nya?” Jen berpura-pura tidak tahu.
“Tentu saja, sekarang kami sudah resmi pacaran.”
Dia mengatakannya dengan nada malu-malu.
“Baguslah kalau begitu, selamat ya.”
Bukannya Jen tidak tau perasaan Vero, hanya ia tak menyangka kalau pria ini memiliki cukup keberanian menyatakan cinta nya.
“Aku juga ingin merasakan cinta.” Ucap Jen dengan senyum tipis nya.
“Tidak mungkin, kalau kamu jatuh cinta dunia pasti akan kiamat.” Celetuk pria itu.
Plaakk!
Sebuah pukulan mendarat di pundak Vero.
“Aakkhh, itu sakit~, kenapa kamu nggak coba klub Karate saja dengan tenaga sekuat ini” Protes pria itu.
Dasar cowok tidak sensitive, Batin Jen.
Ia mempercepat langkahnya meninggalkan Vero di belakang.
Jen adalah gadis tomboi, siapa sangka ia bisa jatuh cinta. Tentu saja Vero pun tidak mungkin menyangka kalau ternyata teman masa kecil nya ini telah jatuh cinta padanya.
Di sepanjang perjalanan mereka, Jen berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum mendengar cerita pria masa kecil nya ini yang akhirnya memiliki pacar.
Rumah mereka bersebelahan, jadi nya mau tidak mau Jen selalu pulang bareng Vero. Bahkan sejak SD hingga saat inipun mereka di sekolah yang sama, pada saat salah satu dari mereka piket, maka salah satu nya lagi menunggu di gerbang sekolah.
Begitu lah kebiasaan mereka sejak mereka SD. Beberapa kali juga mereka berada di kelas yang sama, saat ini pun mereka berada di kelas yang sama 2IPA2.
Tak terasa mereka sudah tiba di depan rumah Jen, sedangkan rumah Vero tepat ada disebelahnya.
“Aku diluan ya.”
Jen melambaikan tangan dan masuk ke gerbang rumahnya.
Sesampai di kamar, ia mengganti seragam, meletak ransel nya, dan menghidupkan komputer yang terletak rapi di meja belajarnya.
Untuk mengobati patah hatinya, ia segera login suatu game online petualangan dengan judul COSMIS.
“Ahhh, akhirnya ujian selesai juga, sudah 5 hari tidak login” Gumam nya lega.
Sudah sejak setahun yang lalu dia memainkan game ini, dan sudah level 99, sedikit lagi dia akan menyelesaikan game tersebut saat level nya sudah 100.
Hingga dia tiba disuatu reruntuhan misterius yang sebelum nya tidak pernah ada dan mulai menjelajah, dia memasuki sebuah goa yang cukup dalam dan sangat misterius.
Rasa penasaran mendorongnya untuk terus memasuki goa itu. Tiba-tiba suatu cahaya menyelimuti nya, dan wuusshhhhh... semua nya menjadi gelap.
Jen membuka matanya dan menemukan dirinya terbaring disuatu kamar sederhana yang cukup asing bagi nya.
Dimana ini? Pikirnya heran.
Ia mencoba duduk dari tidurnya, tetapi rasa sakit di lengannya mengagetkannya.
Auuchh… Kenapa lengan ku terluka?, Batinnya.
Ia melihat lengan kiri nya sudah di perban rapi, matanya memperhatikan setiap sudut kamar itu. Hanya ada satu tempat tidur, lemari pakaian dan meja tulis, kamar itu cukup bersih dan nyaman.
Ceklekk… pintu terbuka.
"Nona sudah sadar?"
Seorang pria berpakaian biru, memiliki mata coklat yang tegas dan dengan rambut hitam nya yang panjang bagaikan samurai mendekati Jen.
"Kamu~ siapa? dan dimana ini?"
Jen masih mencoba mencerna situasi.
"Saya Anes, saya menemukan nona pingsan di gua myste, lalu saya membawa kesini"
Pria itu mencoba menjelaskan perlahan agar Jen tidak takut.
Goa myste?, bukannya itu goa yang ada dalam game Cosmis?, batin Jen.
"Apakah ini dunia Cosmis ?” Terka Jen.
"Ya tentu saja, kanapa nona bertanya seperti itu?" Balas pria asing itu heran.
Setelah pria itu meletakkan semangkuk makanan, ia duduk di kursi di depan Jen.
“Ini ada bubur makanlah dulu, kamu sudah pingsan 2 hari.”
“Terimakasih, tapi aku masih belum lapar.”
Jen menolak bubur itu, ia kuatir di dalamnya dicampur sesuatu.
Kruyukk~~~ (suara perut Jen)
Aiss, nih perut nggak bisa diajak kerjasama, Batin Jen malu.
“Makanlah dulu, tenang saja aku tak mencampur racun di dalamnya.”
Ucap pria bernama Anes itu dengan ramah, seakan ia tau apa yang dikuatirkan Jen.
Jen mengambil mangkuk itu dan mulai memakannya perlahan.
Hemm, cukup lezat, Pikirnya sambil terus melahap bubur itu.
Selesai ia makan, Jen melihat ada tombol di sudut kanan matanya. Lalu ia menekan tombol itu dan muncul seperti sebuah layar di depan matanya dan menunjukan status nya saat ini.
JEN (Putri tertua Raja Negeri QUA)
LEVEL : 1
KEMAMPUAN: PENYERAP
PENYIMPANAN: 0
"AARRKKKK !! leveeel ku?!"
Spontan ia kaget melihat level nya yang kembali ke level 1, padahal seharusnya sudah level 99 maks.
Ruang penyimpanan 0, padahal harus nya sudah ada 300 item termasuk barang langka di dalam nya, dan kemampuan penyerap?, apa itu, batin nya.
Anes yang sedari tadi nyantai di pojok kamar dengan refleks bangkit dan mengeluarkan pedang dari sarung nya. Seketika ia menjadi waspada.
Jen yang melihat pedang Anes, lebih kaget lagi, menyangka tak lama lagi nyawanya melayang di tangan pria ini.