INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 50: PENGAKUAN PANGERAN VEI



“Nona tolong darahnya dong”


Anes sudah sejak tadi standby agar segel telurnya segera dibuka Jen.


Jen menusukkan jari nya dengan jarum dan menetes darah segar ke atas telur tersebut.


Tak berapa lama, telur itupun bersinar kebiruan, biru yang terasa dingin, udara tiba-tiba menjadi sangat dingin, mereka semua yang ada disana spontan menggigil.


Udara dingin dan panas bersatu dan berputar-putar disekitar telur itu.


Kraakk !!


Telur nya retak, dan dari dalam nya keluar kabut biru muda yang perlahan berbentuk seorang pria dewasa, dengan wajah tampan, mata dan rambut nya biru menyala. Kulit nya sangat putih.


Pandangan nya kosong lalu perlahan pria itu mulai sadar.


“Kak Yola !”


Red teriak senang dan segera memeluk pria itu.


Kak Yola ?, kirain tadi cewek, Jen salah menduga.


“Red, Anes dan Rin, ternyata kalian sudah berkumpul, mana Mari ?”


Yola terlihat senang melihat mereka bertiga, namun juga heran karena tidak melihat rekan mereka satu lagi.


Kliik.. aku melihat layar nameboardnya.


Yola (Pengembara)


Level : 4


Kemampuan : ES DEWA


Seperti namanya, kemampuan ini sangat kuat, bisa membekukan 1 kota dalam 1 jam.


“Mari masih belum ketemu, sementara ini kak Yola yang terakhir kami temukan”


Rin menjelaskan, dan memperkenalkan Jen pada Yola, Yola melihat kearah Jen dan dalam penglihatannya di kening Jen ada lambang matahari bersinar, begitupun Jen melihat kening pria itu sama seperti Anes, Rin dan Red ada lambang bintang.


“Terimakasih Nona telah menyelamatkan kami”


Yola berlutut di depan Jen dan mencium tangan Jen dengan lembut, itu seperti adegan seorang pangeran melamar putri.


Jen tersipu malu dengan perlakuan Yola padanya. Pangeran yang sejak tadi duduk disebelah Jen, semakin mendekatkan dirinya kearah Jen, seakan memberi sinyal pada pria itu, bahwa gadis ini milik nya tetapi Jen tidak menyadari hal itu.


Yola memperhatikan pangeran Vei, ia tampak bingung. Rin yang menyadari keganjilan itu, segera memperkenalkan Pangeran Vei pada nya.


Yola masih terus memperhatikan Pangeran Vei, keningnya tampak berkerut seakan sedang memikirkan sesuatu.


Anes yang sudah mengenal Yola sejak lama, teringat kalau Yola sebelum menjadi Pendekar Hitam, ia juga adalah seorang Pangeran, anak dari adik terkecil Raja Anol.


Yola mungkin mengenal Pangeran Vei ?, batin Anes.


Tapi setelah itu, Yola tidak mengatakan apapun, seakan ia tak ingin mengungkit masa lalu.


“Aku tak bisa membuka segel mu, kalau Vei tidak menemukan mu loh”


“Terimakasih Pangeran” Ucap nya sopan.


Tak terasa hari sudah mulai gelap, keempat pendekar Hitam menuju ke hutan di belakang istana untuk berlatih. Nath juga ikut, ia juga melatih kemampuannya karena sebagian besar kekuatannya masih tersegel.


Sedangkan Jen masih bersama Pangeran Vei di gazebo taman.


“Tampaknya mereka sangat bersemangat” Ucap Pangeran Vei.


“Mereka memang selalu begitu”


“Aku senang akhirnya kamu lulus”


“Tentu saja, kan kamu sudah menunggu ku disana”


Jen tersenyum ceria, ia hanya basa-basi saja, tapi wajah Pangeran tampak kaget dan kami terdiam sejenak.


“Ah, ya.. aku memang selalu menunggu mu”


Katanya sambil menatap mata ku.


Sebentar Jen menatap matanya juga dan segera mengalihkan pandangan nya ke arah lain.


Deg, deg..


Sudah lah aku tak sanggup lagi, seperti nya aku sakit jantung, batin nya.


Ucap nya kemudian sambil terus menatap mataku.


Ntah sejak kapan Jen berkeringat, udara dingin sejuk tak menghentikan keringat nya.


Wajah nya malah panas, dan telapak tangan nya dingin.


“Aku~ juga”


Tapi Jen tak sanggup menatap nya lebih lama lagi, makanya itu ia memandang kearah taman.


Warna warni bunga, serangga terbang yang mengitari bunga, hembusan angin, dedaunan yang diterbangkan angin, semua itu menenangkan Jen.


Setelah pengakuan itu, mereka malah terdiam, dan wajah mereka terlihat memerah karena malu dan tentu saja perasaan bahagia tidak dapat disembunyikan dari ekspresi senyum mereka.


“Nonaa !”


Anes mendekati mereka.


“Ada apa, dimana yang lain ?”


“Mereka masih berlatih, mungkin sampai beberapa hari, jadi saya disini mewakili mereka untuk melindungi nona”


“Oh, baiklah, hari sudah mulai gelap, sebaiknya kita segera kembali”


“Vei, apa kamu mau mampir ke paviliun ku ?”


“Sebenarnya aku ingin, tapi aku juga harus kembali ke Perguruan, kalau tidak pelatih ku pasti sibuk mencari ku”


“Oh, begitu kah, kalau begitu kita ketemu lagi saat di perguruan ya”


“Ok, aku sangat senang hari ini”


Katanya sambil mencium kening ku dan menghilang dari hadapan ku.


“Berani sekali dia mencium nona !”


Anes terlihat tidak senang ada orang yang menyentuh-nyentuh nona nya.


Sedangkan Jen masih kaget dan tersipu malu karena tiba-tiba Vei mencium keningnya.


“Tak apa Nes, kami baru saja jadian”


“Haaa ?”


Anes masih tidak percaya nona nya akhirnya memilih Pangeran Vei jadi kekasihnya.


Melihat Anes yang masih ragu, Jen mengubah topik pembicaraan.


“Kalau kamu juga masih ingin berlatih di hutan, pergilah aku bisa menjaga diri kok”


Tapi tampak nya Anes bersikeras tetap menjaga Jen, hingga Jen akhirnya membiarkan nya dengan keputusannya.


“Ya sudah terserah mu saja, aku istirahat dulu”


Jen masuk ke paviliunnya, dan merebahkan diri ke kasurnya yang empuk dan nyaman. Sedangkan Anes berjaga di balik bayangan di sekitar paviliun Jen.


********


Pagi pun tiba seperti biasa para pelayan telah selesai merapikan dan menyiapkan sarapan untuk disantap mereka.


Jen sendiri sudah bangun dari subuh tadi, lebih tepatnya sebenarnya ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan pengakuan Pangeran Vei kemarin padanya.


Saat akan sarapan, Anes memberi kabar pada rekannya yang lain, tapi yang datang hanya Rin, dan Nath.


“Yang lain masih berlatih serius, terutama Yola, katanya sudah lama ia tidak berlatih jadi ingin menormalkan kembali kemampuannya”


Rin menjelaskan keadaan yang lainnya sambil terus melahap sarapannya. Nath sendiri kulihat kemajuannya sangat bagus, dalam semalam ia sudah mulai bisa mengontrol 60 persen kekuatannya dari yang tadinya hanya 30 persen.


“Segel yang mengikat kekuatan mu perlahan akan terlepas asalkan kau bisa mengontrol 90 persen kekuatan mu Nath”


Jen menyemangati Nath agar terus berusaha mengendalikan kekuatannya.


“Kalau segel ku sudah terlepas, apa aku boleh kembali ke tempat asal ku ?”


Nath menatap mata ku ragu, ia masih trauma dengan kelakuan para manusia pada nya.


“Tentu saja, kamu diberi kebebasan untuk memilih jalan mu Nath”


Jen tersenyum lembut padanya sambil membersihkan nasi yang tertinggal disekitar mulut anak itu.


Selesai mereka makan, Tak lupa Jen memberikan Pil Pemulih untuk Nath. Setiap hari sehabis Nath selesai sarapan Jen selalu menyuruh nya untuk minum pil Pemulih agar segel di dalam kekuatannya melemah, itulah mengapa perlahan kekuatan Nath terus berkembang dan itu harus segera di control nya, kalau tidak segel itu akan kembali mengekangnya.