INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 32: PERBINCANGAN DENGAN RAJA



“Kak aku ingin tidak ada orang lain selain kita disini, karena ini sangat penting !”


Jen melihat ada beberapa pelayan disitu.


Pangeran memerintah para pelayan meninggalkan mereka.


Tampak semua pelayan yang ada di dalam paviliun keluar meninggalkan mereka, hal ini di lakukan Jen untuk menghindari penyusup yang mungkin menyamar jadi salah satu pelayan Pangeran.


Pangeran tampak mulai serius mendengarkan perkataan Jen.


“Baiklah apa hal yang ingin adik sampaikan ?”


Ucap pangeran sambil meneguk secangkir teh yang ada di depan nya.


“Aku sudah mendapatkan dokumen daftar budak dari paviliun Selir Shan, dan juga menemukan racun yang diminum ibu !”


Jen mengatakan nya perlahan.


“Benarkah, lalu dimana racun itu ditemukan ?”


Pangeran tak sabar untuk mengetahui misteri keracunannya permaisuri.


“Racun itu ditemukan di halaman belakang paviliun Selir Asyia.”


Jawab Jen pelan dan kemudian meminum secangkir teh yang ada di depannya juga.


“Apa…!, berani sekali dia membunuh Permaisuri !”


Kini dari mata Pangeran terpancar aura membunuh yang kuat, cangkir yang dipegangnya hampir saja pecah akibat hentakan tangan nya di meja.


Lalu ia berdiri dan melangkah keluar hendak menuju ke paviliun Selir Asyia, tapi Jen segera mencegahnya.


Ia menahan tangan Pangeran, sehingga pangeran tidak melanjutkan langkahnya.


“Jangan dulu kak, belum waktu nya, sabar lah hanya tinggal beberapa hari lagi sampai semua kebusukan mereka kita singkapkan.”


Jen berusaha menenangkan Pangeran.


“Tapi Selir itu telah berani membunuh Permaisuri ibu kita.”


Ucap Pangeran kesal, ia mengepalkan tangannya menahan amarahnya.


“Tenanglah kak, kalau kita bergerak sekarang, kita tidak akan bisa menjebak semua yang ikut dalam misi pembunuhan itu, dan lagi aku juga curiga Selir Shan salah satu dalangnya.”


Tampak Pangeran sedang berpikir, dan akhirnya setuju mengikuti rencana Jen.


Melihat Pangeran yang kembali tenang, Jen pun kembali menceritakan rencananya, dan berpamitan.


“Kak, aku kembali dulu, aku ingin ke paviliun Raja untuk bertemu Ayah.”


Ucap Jen sambil menundukan kepala dan keluar dari paviliun Pangeran.


Setelah Jen keluar dari paviliun Pangeran, ia menuju ke paviliun Raja.


Lagi-lagi ia melihat Selir Shan keluar dari paviliun itu dan berpapasan dengannya.


Kenapa sich setiap aku kesini selalu ketemu dengan Selir ular satu nih, batin Jen.


Pakaian Selir Shan dan perhiasan rambutnya sudah seperti Permaisuri saja, ia memakai gaun Permaisuri begitupun perhiasan rambutnya dan jumlah pelayan yang melayani nya sudah banyak bertambah.


“Selir Shan, kamu hanya lah seorang Selir, tidak pantas memakai pakaian dan perhiasan Permaisuri ibu ku !”


Ucap Jen yang tidak senang Selir itu memakai milik Ibunya.


“Sebentar lagi, aku akan menjadi Permaisuri dan menguasai istana ini, jadi apa bedanya, dan jika aku sudah menjadi Permaisuri aku harap kamu segera meninggalkan istana ini.”


Bisik Selir Shan saat berpapasan dengan Jen.


“Raja tidak akan membiarkan mu melakukan apapun sesuka mu !” Balas Jen dingin.


“Hahahaaa… aku ini orang yang paling dicintainya, kamu bisa apa !” Ucapnya sambil tertawa.


Para pelayannya pun ikut tertawa merendahkan Jen, lalu mereka berjalan melewati nya.


Selir ular ini, perlu dikasih sedikit pelajaran rupanya, agar menghormati Putri, batin Jen.


Diam-diam Jen menggunakan jurus angin nya, dan syuuutt..


"AKKH !"


Selir Shan tersandung dan jatuh mencium tanah, para pelayan yang menemani nya kaget setengah mati.


Hihiiihhh..., tawa Jen kecil.


“KALIAN BAGAIMANA SIH MENGAWAL KU, DASAR TIDAK BERGUNA! !”


Selir Shan lalu menoleh kearah ku yang sedang menutup mulut ku menahan tawa, dan dengan menahan malu serta marah berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu.


Dasar sial, dia menertawai ku tadi, lihat saja kau Putri tak berguna !, batin Selir Shan.


Sesampai di Paviliun Selir, para pelayan yang menemaninya tadi dihukum cambuk masing-masing 10 kali oleh Selir Shan.


“Dasar br*ngsek kau Jen, beraninya menertawai ku, lihat saja nanti kalau aku sudah menjadi Permaisuri !!”


Maki Selir Shan yang melampiaskan amarahnya pada para pelayan nya.


Jen melanjutkan langkah nya menuju Paviliun Raja, pengawal yang melihat kehadirannya segera memberikan kabar ke dalam “Putri Jen tiba!”.


Jen masuk di tuntun seorang pelayan menghadap Raja.


“Hormat pada Ayahanda, semoga diberikan segala berkat.”


Ucap Jen memberi hormat sambil menundukkan kepala nya.


“Mendekatlah Nak”, balas Raja yang mempersilahkan Jen duduk disalah satu kursi yang semeja dengan nya.


Jen duduk di dekat Raja, ia melihat ternyata kantong yang berisi serbuk bunga itu terpasang lagi di pinggang Raja.


“Ayah, kenapa kantong itu masih ayah pakai ?”


Tanya Jen penasaran sambil menunjuk kearah pinggang Raja.


“Kemarin Ayah sudah meletakkannya di ruangan, tetapi tiba-tiba ayah ingin menghirup aroma wewangian nya lagi." Jelas Raja.


Mendengar penjelasan Raja, Jen berpikir pasti Raja sudah tercandu dengan aroma nya.


Lalu Jen mengambil sesuatu dari tempat penyimpanannya, ia mengambil beberapa daun kembang Loyang, memecah-mecahnya menjadi serpihan kecil.


“Ayah, bisa aku pinjam kantong itu ?” Tanya Jen menunjuk lagi kantongan di pinggang Raja.


Raja mengambilnya dan menyerahkannya.


Jen segera membuka nya, membuang isi di dalamnya, dan membersihkannya hingga tak tertinggal sedikitpun, lalu memasukkan serpihan daun itu sebagai pengganti serbuk bunga tersebut.


Tampak Raja terus mengamati yang dilakukan Jen, namun Raja masih diam saja.


“Ayah, ini adalah daun kembang Loyang, aromanya hampir sama dengan serbuk bunga floral, tapi ini lebih baik dari itu, karena bisa melancarkan pernafasan ”


Ucap Jen menjelaskan sambil kembali menyerahkan kantongan itu.


Jen curiga, di dalam serbuk itu sepertinya ditambahkan sesuatu sehingga orang yang mencium aromanya jadi ketagihan, dan tidak bisa lepas sehingga Selir Shan yang sering datang akan semakin dicintai Raja.


“Heemm, benar juga aroma nya memang mirip, dan ini lebih menenangkan.”


Ucap Raja lega sambil meletakan kantongan itu kembali ke pinggangnya.


“Ayah ingatlah jangan beritahu siapapun kalau dalam kantongan itu sudah diganti isinya." Lanjut Jen dengan serius.


“Baiklah Nak, jangan kuatir.” Jawab Raja menyanggupi.


“Termasuk pada Selir kesayangan ayah itu.”


Sambung Jen yang masih terlihat serius.


“Selir Shan maksudmu ?, ayah pikir dia akan mengerti jika ayah menjelaskannya.”


Ucap Raja yang sama sekali tidak mencurigai Selir itu.


“Ayaahhh ~”


Ucap Jen dengan nada dingin yang sangat serius.


Karena justru yang paling penting tidak boleh sampai diketahui Selir ular itu, Batin Jen.


“Ok..ok…, Ayah tidak akan mengatakan pada siapapun termasuk selir Shan.” Tiba-tiba Raja merasakan aura tertekan yang kuat dari Jen.


Kalau nanti Selir Shan mengetahuinya, dia pasti langsung menggantinya kembali, dan curiga kalau aku sudah mengetahui sesuatu, pasti dia akan lebih waspada, batinnya lagi.


Jen masih diam memandang Raja.


“Jangan terlalu serius, Ayah hanya bercanda tadi, kamu tenang saja, hanya ayah dan kamu."


Lanjut Raja meyakinkan Jen kembali, agar tidak mencurigai nya lagi.


“Baiklah, aku percaya.”


Jen melihat sorot mata ayahnya yang dapat memastikan janji nya.