INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 35: PERPUSTAKAAN KERAJAAN



Acara berlangsung meriah, seakan mereka telah melupakan peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka tampak menikmati setiap hidangan.


Dari acara itu, akhirnya Raja mengetahui kalau Jen mengikuti pertandingan untuk masuk klan Angin dan bahkan memiliki semua bakat.


Kekuatan gosip memang luar biasa, Batin Jen yang telinga nya beberapa kali menangkap percakapan para bangsawan tentang keikutsertaannya dalam pertandingan untuk masuk klan Angin.


Psst.. “Aku masih tidak percaya Putri memiliki bakat sehebat itu”, “Iya ya, ternyata selama ini Raja menyembunyikannya”, “Ya ampun, selama ini aku tidak tau kala Jen sangat berbakat”


Dan masih banyak lagi gosip yang tertangkap telinganya, sampai rasa nya kepala nya bakal meledak kalau mendengar lebih banyak lagi.


Setelah acara selesai, Sesuai dugaan nya, Raja memanggil nya ke paviliun.


“Nona, apa perlu saya temani?”


Rin tampak kuatir kalau Raja tidak mengijinkan Jen ikut pertandingan tersebut.


“Tidak perlu, kamu disini saja menyimpan hadiah-hadiah dari bangsawan tadi ke ruang rahasia kita.”


Lalu Jen melangkahkan kaki nya bersama seorang pelayan menuju ke paviliun Raja.


Sesampai di pintu masuk, seperti biasa pengawal menyampaikan pesan, dan tak lama kemudian seorang pelayan mempersilahkannya masuk.


“Hormat kepada Ayahhanda, semoga diberkati dalam segala hal.”


Ucap Jen sambil menundukkan kepalanya.


“Nak, ayah dengar kamu ikut kompetisi untuk masuk klan Angin?”


“Benar Ayah, aku dan kakak Pangeran bertemu disana saat itu.”


“Mendekatlah kemari, duduk disini.”


Jen menuruti perkataan Raja, ia berjalan mendekati nya dan duduk di kursi sebelah nya.


“Nak, beberapa minggu lagi kamu dan pangeran mengikuti ujian masuk klan angin, itu sangat bagus juga sangat berbahaya.”


Ucap Raja kuatir.


“Terimakasih Ayah aku akan menjaga diri dengan baik.” Sambung Jen dengan yakin.


“Kalau begitu ambilah ini, dan pergilah ke perpustakaan Istana.”


Raja memberikan nya sebuah lencana emas, yang artinya ia bebas masuk ke perpustakaan hingga tingkat keduanya.


Di Istana ada paviliun perpustakaan, berlantai 2. Tapi baik Putri ataupun pangeran tidak di izinkan naik ke lantai dua apabila belum sampai level 20.


Raja sendiri sudah mencapai level 70. Di dunia ini setiap Raja harus mencapai minimal level 50 baru lah ia bisa diangkat jadi Raja.


Raja dari kerajaan Anol sudah mencapai level 80, dan kerajaan Lue di urutan ketiga Raja nya mencapai level 65.


“Ayah benarkah aku bisa masuk hingga lantai kedua?”


Tanya Jen masih tidak percaya akan keputusan Raja memberikan dia lencana itu.


“Ya, kamu dan Pangeran sudah saya izinkan masuk ke lantai dua, bagaimana pun kalian adalah penerus kerajaan ini, jadi asah lah kekuatan kalian semaksimal mungkin.”


Raja telah merestui keputusan mereka dan memutuskan mendukung Jen dan Pangeran dalam rencana mereka masing-masing.


“Terimakasih Ayah, aku izin dulu, ingin segera ke perpustakaan.”


Balas Jen yang sudah tak sabar lagi mempelajari berbagai jurus yang ada di Kerajaan Qua ini.


“Hohohoo… kamu semangat sekali nak, pergilah lakukan yang terbaik.”


Jen keluar dari Paviliun dan dengan cepat ia berjalan sampai para pelayannya kewalahan mengejar langkah nya.


Perpustakaan letaknya di dekat lapangan latihan para pengawal Istana, dan dijaga seorang tetua yang berada di level 30.


Putri Jen yang dulu, tidak pernah menginjakan kaki nya ke tempat ini, jadi sedikit pengawal yang mengenali wajahnya.


Sesampai di depan perpustakaan ia dihadang oleh tetua itu, lalu Jen menunjukan lencana yang diberikan Raja barusan.


Tetua itu melihat lencana tersebut dan akhirnya mengijinkannya masuk.


Sesampai di dalam, Jen sungguh takjub, tak menyangka kerajaan ini punya koleksi yang cukup lengkap.


Jen masih berkeliling lantai 1 dan mencari-cari jurus yang menurut nya sesuai untuk nya, tentu saja ia tak melupakan Anes dan Rin.


Pertama ia mencari gulungan jurus untuk mereka. Setelah cukup lama menelusuri lantai 1 akhirnya ia menemukan Jurus Penyembuh master, dan Pengendali Iblis.


“Hemm, Jurus ini cocok sekali untuk mereka.”


Jen mengambil gulungan tersebut dan menyimpannya terlebih dahulu di ruang penyimpanannya.


Lalu setelah itu ia naik ke lantai dua.


Wuusssshhh..


Auranya berat sekali di lantai dua, untuk berjalan selangkah saja seperti mengangkat beban 100kg.


Pantasan saja yang dikasih izin sampai ke lantai dua hanya yang level 20 keatas, Batin Jen.


Ia melangkahkan kaki nya dengan susah payah, ia mencoba jurus anginnya, tetapi ia tak dapat menggunakannya di lantai dua, sebab gravitasi nya memang jauh berbeda.


Untuk melangkah dari rak satu ke rak yang lain nya saja harus menguras tenaga sebanyak ini, kapan bisa nemu nih jurus yang cocok untuk ku, Pikir Jen sambil terus berusaha melangkahkan kakinya, dan menggapai satu persatu gulungan jurus.


Kemudian ia menemukan suatu jurus pengumpul cahaya. Dengan jurus ini ia bisa meledakkan satu kota, ia mengambilnya dan membuka gulungan itu. Jurus ini termasuk jurus level emas, atau level 50, karena sebelum nya aku berada di tingkat legenda, harusnya aku pun bisa mempelajari jurus ini, Batin Jen.


“Akhirnya tak sia-sia aku mengerahkan tenaga ku hanya untuk jalan saja.”


Jen terlihat puas telah menemukan jurus yang bagus.


Kemudian ia melihat di sebuah rak disudut ruangan itu ada gulungan bercahaya, Jen jadi penasaran jurus apa itu sebenarnya.


Tapi untuk kesana, lagi-lagi ia harus bersusah payah karena letakknya paling ujung. Ntah sudah berapa lama ia melangkah hingga akhirnya ia sampai ke rak tersebut.


Diambil nya gulungan itu, tapi ia tak bisa membuka nya karena gulungan itu juga tergembok.


“Sebenarnya jurus apa ini?”


Jen malah semakin penasaran, karena selain bercahaya juga tergembok.


Saat Jen memegang gulungan itu, tiba-tiba gulungan nya terlepas dan terbang, melayang-layang bagaikan memiliki Jiwa.


Jen berusaha menangkapnya, tapi gulungan itu segera melesat seakan tak ingin disentu oleh siapapun.


Jen tak menyerah, digunakannya jurus angin nya untuk menangkap gulungan itu, hingga akhirnya ia berhasil menangkapnya, tapi ia jadi menggunakan lebih banyak tenaga.


Walau sudah tertangkap gulungan itu masih terus meronta-ronta agar terlepas dari jerat angin Jen.


Dengan sekuat tenaga jen menahan nya, hingga akhirnya gulungan itu tak bergerak lagi.


Kini Jen menggenggam gulungan itu dengan lebih kuat.


Jlebb…


sedetik kemudian ia merasakan ada suatu kilatan cahaya yang berasal dari dalam gulungan itu kemudian menancap masuk dari kening nya.


“AKKHH !”


Jen meronta menahan sakit, kini kepala nya seperti terbentur benda yang sangat keras yang membuat Jen tak sadarkan diri.


Saat ia sadar, ternyata ia sudah berada di ruang hampa Cosmis. Disana ia melihat banyak sekali bintang yang sedang menari-nari, lalu berputar-putar mengelilinginya, dan kemudian bintang-bintang itu jatuh menimpah nya.