
Akkhh !! Jen teriak, dan tersadar.
Ternyata ia masih tergeletak di ruang perpustakaan lantai dua bersama gulungan jurus yang tergembok di pegangnya erat.
Ntah sudah berapa lama ia tak sadarkan diri, dan ia merasakan sesuatu yang berbeda pada tubuhnya. Ia merasa lebih ringan dan bertenaga, kemudian di pikirannya tiba-tiba sudah ada suatu gerakan jurus.
Kliik… Jen melihat nameboard nya, dan masuk ke ensiklopedia jurus, di scannya gulungan jurus itu.
Lalu muncul notification. JURUS SERIBU BINTANG = dengan jurus ini bukan hanya satu kota, bahkan satu negara bisa hancur akibat hujan meteor yang disebabkan oleh jurus ini.
Wouuu… ini jurus Level Legenda, batin Jen senang.
Sebelumnya jurus ini telah hilang dari perpustakaan klan Angin. Belum ada yang berhasil menguasai nya, termasuk saat Jen masih di level Legenda, itu pun masih setengah dari jurus itu yang berhasil dipelajari nya, sebelum akhirnya gulungan Jurus itu hilang. Saat itu Jen memerintah seluruh klan Angin untuk menemukan gulungan jurus itu, tetapi tak ada yang berhasil menemukannya, hingga akhirnya gulungan itupun terlupakan.
“Tak kusangka ternyata gulungan jurus ini selama ini ada di perpustakaan kerajaan ini”, gumam nya pelan.
Tapi kenapa jurus ini bisa ada disini ?, Jen berpikir sejenak.
Yang bisa masuk ke perpustakaan klan Angin hanya murid dalam dan gulungan jurus ini terletak di lantai 100. Lalu yang bisa ke lantai 100 hanya aku, dan beberapa guru besar saja.
Sedangkan yang bisa masuk ke perpustakaan lantai dua di kerajaan ini hanya anggota keluarga kerajaan yang sudah mencapai minimal level 20.
Berarti harusnya ada hubungan salah satu guru besar klan angin dengan salah satu anggota kerajaan ini, Jen terus memikirkan segala kemungkinan.
Tapi ia masih tak bisa menemukan hubungannya, jadi ia skip dulu peristiwa ini, mungkin akan tiba waktu nya benang merah terlihat.
Kini sudah ada 4 gulungan jurus di tangannya, ia kembali ke lantai satu dan mendaftarkan gulungan itu ke daftar yang dipinjam.
Tetua yang menjaga perpustakaan itu sampai terheran-heran, dengan level Jen yang masih di level 6 dan ia malah meminjam gulungan jurus dengan level tinggi.
“Kamu yakin ingin meminjam gulungan jurus ini?” Ucap tetua.
Ia memastikan kembali pilihan Jen yang tak biasa itu.
“Saya yakin?!” Jawab Jen tegas.
Akhirnya tetua itu hanya diam saja, ia tak ambil pusing. Sebelum akhirnya ia melihat suatu gulungan yang tergembok bersinar itu.
“Ternyata kamu memilih jurus ini juga, saya ingatkan Raja pun tak bisa membuka gemboknya, jadi percuma kamu meminjamnya.”
Tetua itu menjelaskan bahwa gulungan jurus itu memang tidak biasa.
Bahkan Sang Raja sekalipun tidak bisa membuka gembok nya, Batinnya.
“Tidak masalah aku akan mencobanya dulu.”
Selesai mendaftarkan semua gulungan itu, Jen kembali ke Paviliun nya.
Disana seperti biasa Anes dan Rin sedang melanjutkan latihan mereka, namun saat melihat Jen, mereka menghentikan pelatihan mereka.
“Nes, Rin, ini aku ada bawakan gulungan jurus untuk menambah kemampuan kalian, tapi sebaiknya kita jangan berlatih disini, mending kita pergi ke Hutan belakang istana.” Jen mendekati mereka dan menyodorkan gulungan itu pada mereka.
Saat mereka akan menuju ke hutan, tiba-tiba pangeran datang dan berpapasan dengan mereka yang masih di halaman paviliun Putri.
“Jen, mau kemana kalian?”
Buru-buru Pangeran mendekati mereka yang hendak ke hutan.
“Kak, kami ingin berlatih di hutan belakang istana.”
Jen sambil menunjuk ke arah hutan.
“Kalau begitu kakak ikut dengan kalian, kakak pun tadinya ingin mengajak kalian berlatih bersama.”
“Ohh, baguslah kalau begitu, makin rame makin seru.”
Mereka berempat menuju ke hutan tanpa ditemani pelayan.
“Tampak nya kamu sekarang sudah level 6 Jen?”
Pangeran memastikan pencapaian Jen.
Jen hanya tersenyum manis, sebenarnya ia tak ingin menyembunyikan level nya dari pangeran, tapi kalau ia memberitahukannya, ia kuatir pangeran malah semakin bingung.
Mereka masuk ke dalam hutan lebih jauh, Hutan di belakang Istana sangat luas, bahkan luasnya melebihi satu kota, semakin ke dalam, aura nya semakin pekat, tepat ditengah-tengah hutan ini ada lokasi misterius, tidak bolah ada yang sampai kesana.
Tempat itu dijaga oleh 4 Batu Penjuru, jika bertekat untuk melewati Batu ini maka orang itu akan tersambar petir bahkan yang level nya sudah mencapai 50 tak dapat menahan serangan petir itu.
“Kak, bukan kah itu lokasi tepat di tengah hutan ?”
Jen memastikan pada Pangeran sambil menunjuk ke depan mereka.
“Ia, tapi kita tidak bisa masuk kesana, dan belum ada yang berhasil menerobos kesana” Ucap Pangeran menjelaskan.
“Sebenarnya kenapa tidak bisa ya?”
Jen penasaran ada apa di dalam sana.
“Ntahlah Jen, kakak juga nggak tau.”
Tapi Jen sangat penasaran, ia mencoba untuk menerebos, seketika muncul kilatan petir yang hampir saja menyambarnya kalau ia tidak segera menghindar.
“Hemm, benar juga, hampir saja aku game over.”
Pangeran, Rin dan Anes menatap Jen bingung, dalam hati mereka bertanya-tanya apa maksud dari game over yang dikatakannya tadi.
“Ya sudahlah kalau emang nggak bisa, kita berlatih diatas sana aja, kelihatannya disana sangat cocok untuk berlatih.”
Jen menunjuk kearah suatu bukit yang dibawahnya ada air terjun.
Mereka dengan segera menuju kesana, mengikuti aliran sungai, untuk kemudian memanjat bebatuan nya, sedangkan Jen tidak ikut memanjat karena ia punya jurus angin.
“Jen kenapa kau tak bantu kami dengan jurus angin mu itu, agar kami juga tidak perlu memanjat bebatuan ini?!”
Pangeran merasa Jen curang karena hanya dia yang terbang.
“Ya tidak bisa donk kak, namanya juga latihan?!”
Akhirnya mau tidak mau mereka tetap memanjat bebatuan itu, Batu-batu nya lembab dan licin membuat semakin sulit untuk dipanjat. Saat hendak naik, kaki Pangeran tergelincir.
“Akhh!”
Teriak nya spontan saat pegangannya terlepas dari bebatuan,
Anes yang berada di bawahnya berusaha menggapai tangan Pangeran, tapi ia pun ikut terjatuh, dan mereka pun masuk ke dalam air tepat dibawah air terjun itu.
BYUUURRR !!
Rin yang masih merayap di bebatuan melihat kebawah, mencari keberadaan Pangeran dan Anes.
Sedangkan Jen yang yang sedari tadi terbang berusaha mencari keberadaan mereka tepat dipermukaan air, tapi mereka tak kunjung keluar dari dalam air.
“Rin, kamu naik saja diluan, dan kalau sudah sampai keatas, langsung saja berlatih, biar aku yang mencari mereka !”
Teriak Jen pada Rin yang masih menunggu perintah.
“Baik, semoga nona segera menemukan mereka !”
Terdengar teriakan Rin yang sebenarnya juga kuatir dengan keadaan mereka dibawah sana.