INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 39: SENJATA BARU



“Aku mau ke tempat Meimei dulu, Rin dan Anes kalian ikut dengan ku, kakak apa mau  ikut juga?” Ucap Jen.


Tampak Pangeran berpikir sejenak, dan mengiyakan ajakan Jen.


“Boleh juga sudah lama kakak tidak kesana”.


Kami berempat menuju ke kediaman Meimei dengan berjalan kaki dan melompat dari satu atap ke atap lain, bagaikan ninja.


Dalam perjalanan, Jen melihat sekelompok penjual budak yang hendak meninggalkan negara Qua, ada 2 gerobak penuh dengan budak yang akan dijual.


“Kak, apa mereka penjual budak resmi ?”


Jen menunjuk ke arah sekelompok penjual budak. Pangeran memperhatikan penjual budak itu.


“Kakak kurang tau, kita harus mendekat dan minta mereka menunjukan surat kerja mereka”, sambung Pangeran.


“Aku kuatir, orang-orang yang ada di dalam gerobak itu hasil dari penculikan.”


Ucap Jen lirih, ia teringat saat ia diculik dulu dan dijual paksa untuk dijadikan budak.


“Harusnya ada penjaga di gerbang keluar di negeri ini yang mengawasi berkas-berkas mereka, jika mereka hendak keluar”, ucap Pangeran.


“Tapi waktu itu, penjual budak yang menjual ku dulu bisa lolos dari pemeriksaan.”


“Benar juga kata mu, sepertinya kita perlu memeriksa gerbang luar.”


Pangeran mulai curiga sepertinya ada permainan disana.


“Kalau begitu setelah dari kediaman Meimei kita kesana ya kak?!”


Boleh juga, harusnya mereka tiba ke gerbang luar besok sore, jadi kita masih ada waktu sebelum mereka meninggalkan negeri ini.”


Mereka melanjutkan perjalanan mereka ke tempat Meimei, kali ini mereka bergerak lebih cepat agar segera sampai disana sebelum malam.


Sesampai di gerbang kediaman Meimei, ternyata tuan rumah sudah menanti-nantikan kedatangan mereka, dan segera menuju ke gerbang untuk menyambut Jen dan Pangeran.


“Selamat datang Pangeran dan Tuan Putri”


Ayah Meimei tampak senang sekali dengan kedatangan mereka.


“Jeenn !?”


Tampak Meimei berlari menuju gerbang mendekati Jen, dan segera memeluk erat nya.


“Aiih, Meimei, kamu terlihat semangat sekali”


“Tentu saja, aku sangat senang kamu datang”


“Mari kita makan dulu, kami telah menyiapkan hidangan untuk kalian”


Ayah Meimei mempersilahkan kami masuk ke paviliun utama nya untuk menyantap makan malam.


“Paman, sudah sampai mana pembuatan senjata dan baju nya?”


Jen cukup penasaran untuk mengetahuinya.


“Senjata dan baju ?”


Pangeran terlihat bingung.


“Pas sekali Putri datang hari ini, kemarin semuanya telah selesai kami tempah”


“Wouu, aku sudah tak sabar untuk melihatnya”


Selesai mereka menyantap makan malam itu, ayah Meimei mengajak mereka ke bengkel pribadi nya. Terlihat lah ada pedang hitam yang bagus sekali, pedang itu bermata dua dan bentuknya seperti Naga.


“Waahh, ini bagus sekali paman, tidak terlalu panjang jadi Anes pasti lebih mudah untuk memakainya.”


Jen mengamati dengan kagum pedang naga itu, kemudian menyerahkannya pada Anes.


“Cobalah kamu gunakan pedang ini.”


“Terimakasih Nona.”


Anes mengambil pedang itu dan mengayun-ayunkannya ke udara.


“Pedang ini sangat ringan, dan enak di pegang.”


Katanya mengagumi pedang baru nya itu.


Jen hanya tersenyum melihat Anes senang. Kemudian ia mengambil baju yang terletak diatas meja.


“Baju ini lumayan sulit di tempah karena harus menyesuaikan dengan ukuran tubuh.”


Ayah Meimei mengambil salah satu baju itu dan menyerahkannya pada Rin juga pada Anes. Mereka bertiga masuk ke ruang ganti dan mencoba baju jirah itu.


“Waah, nyaman sekali Paman, luar biasa, padahal bahannya dari batu, tapi bisa selembut ini.”


Jen sangat puas dengan hasil tempah keluarga ini. Memang tak diragukan senjata-senjata kuat berasal dari keluarga ini, Batin Jen.


 Ayah Meimei mengeluarkan Pedang hitam berbentuk petir dengan Kristal biru menghias bagian atasnya.


“Ini saya buat setelah mendengar Pangeran juga ikut datang kesini,”


“Ini pedang yang sangat bagus Paman, terimakasih.”


Pangeran terlihat senang dengan pedang baru nyaa yang memang tak kalah bagus nya.


“Paman ini biaya untuk pedang dan baju ini, kami sangat puas.”


Jen menyerahkan sekantong koin emas untuk membayar Sang Paman.


“Tidak perlu Putri, sisa dari batu meteor itu masih cukup untuk membuat beberapa senjata yang kalau dijual harga nya selangit.”


“Terimakasih Paman.”


Tampak Jen memberi hormat atas ketulusan ayah Meimei ini.


“Kalau begitu silahkan malam ini menginap lah disini, kami sudah menyediakan paviliun untuk kalian berempat.”


“Terimakasih Paman.” Ucap mereka kompak.


Beberapa pelayan datang mendekati mereka dan memberi hormat lalu membawa mereka ke pavilium mereka masing-masing.


“Jen, aku ingin tidur bersama mu malam ini.”


Bisik Meimei saat Jen akan masuk ke paviliunnya.


“Ohh, bagus sekali, aku juga ingin ditemani malam ini.”


Jen membalas dengan sedikit menggoda Meimei.


Akhirnya malam itu, Jen dan Meimei tidur di paviliun yang sama.


“Jen, banyak sekali yang ingin ku ceritakan pada mu, sudah lama kita tidak mengobrol seperti ini.”


Jen hanya diam menyimak cerita Meimei.


“Aku dengar kamu sudah memutuskan tunangan mu, apa ku bilang dia bukan orang yang baik.”


 Celoteh Meimei panjang kali lebar menjelaskan kembali sifat pangeran Herald.


 “Oiya, ku dengar kamu mengikuti pertandingan untuk masuk klan Angin, apa aku ikut juga ya, biar bisa bersama mu.”


“Hahahaaa… makanya siapa suruh kamu sakit-sakitan, sekarang aja baru sembuh.”


Jen tertawa melihat tingkah Meimei yang pada akhirnya hanya terdiam tak mampu membalas candaan Jen. Tak terasa malam semakin larut. Jen dan Meimei akhirnya tertidur.


Tidur mereka sangat berantakan, sama sekali tidak mencerminkan seorang bangsawan.


Hingga akhirnya pagi menyingsing, mereka merasakan badan mereka semua pegal-pegal.


“Tak ku sangka gaya tidur mu masih sama buruk nya seperti saat kamu masih anak-anak.”


Meimei menggerutu sambil memijit-mijit pundak dan leher nya yang pegal akibat timpaan tangan Jen.


“Kamu sendiri juga tidur seperti Badak.”


Balas Jen tak mau kalah sambil memijit-mijit kedua kaki nya yang pegal ditimpa kaki Meimei.


Pelayan yang sedari tadi sudah datang untuk membereskan paviliun kaget melihat tempat tidur yang sangat berantakan itu, bahkan bantal ntah terlempar kemana-mana, selimut ntah kenapa bisa sampai tergeletak di kolong tempat tidur.


Ini mereka habis perang atau tidur sih semalam?, Batin pelayan itu.


Jen dan Meimei merendam bareng di bak besar yang telah disiapkan pelayan.


Setelah mereka selesai menyiapkan diri, seorang pelayan datang.


“Nona sudah waktu nya sarapan, Tuan sudah menunggu.”


“Ayok kita sarapan dulu.”


 Jen dan Meimei bersama beberapa pelayan menuju ke ruang makan. Disana Pangeran, Rin dan Anes juga sudah menunggu. Mereka menghabiskan sarapan itu dengan cepat.


“Paman kami pamitan dulu, terimakasih atas segalanya.”


Pangeran memohon pamit mewakili kami.


“Cepat sekali kalian kembali?” Ucap ayah Meimei.


“Masih ada beberapa hal yang perlu kami kerjakan lagi” Balas Jen.


Akhirnya mereka keluar dari kediaman itu, diantar oleh Meimei sampai ke gerbang.


“Datanglah lagi kapan-kapan.”


Meimei melambaikan tangannya menatap kepergian kami.