
“Ika aku sangat mencintai mu dan anak ini adalah anak kita, tapi kamu tidak mau mengakui ku.”
Jen ingat pria itu adalah kepala pengawal Istana, Selir Ika sebelum menikah dengan Pangeran Amos memiliki teman dekat, dan pria itu adalah teman dekatnya. Ia tahu pria itu mencintainya tetapi Ika lebih memilih menjadi selir Pangeran Amos.
“Kamu sungguh bodoh, kalau Pangeran sampai tahu ini bukan anak nya nyawa ku dan nyawa mu pasti melayang, dan lagi setelah anak ini lahir aku pasti diangkat jadi permaisurinya, kamu tenang saja setelah itu pangkat mu pasti ku naikkan juga”
Ho, sudah kuduga memang dari awal itu bukan anak pangeran, Selir Ika sepertinya karma mu pada ku tidak akan lama lagi.
Tampak terlukis senyum sinis di wajah cantik Jen.
Baiklah sekarang aku harus segera ke paviliun sh Lian itu dulu. Jen meninggalkan mereka disana dan kembali bergabung dengan Anes dan Rin.
“Bagaimana situasinya di dalam Rin ?”
“Mereka sedang tertidur nona.”
“Oklah, ayo kita berikan kejutan pada mareka”
Krieet.. (suara pintu terbuka)
“Lian terimakasih untuk teh nya tadi, aku datang ingin mengajak mu…”
Terputus kalimat Jen melihat Lian dan Pangeran sedang tidur bersama tanpa busana.
Lian dan Pangeran terbangun dan terkejut dengan keadaan mereka.
“Dasar P*l*cur apa yang sudah kau lakukan !!”
Lian yang sudah sadar juga kaget mendapati dirinya tidur dengan Pangeran Herald.
Ke..kenapa jadi aku yang tidur dengan Pangeran playboy ini, batin nya bingung.
Pangeran Herald yang sudah tersadar dari mabuk nya, kaget dan ngamuk dengan Lian. Ia sangat malu karena Jen melihatnya sedang tidur dengan Lian.
“Aku.. tak menyangka kamu telah menyerahkan tubuh mu pada nya padahal kalian belum menikah ?”
Jen terlihat syok mendapati mereka yang masih tak berbusana. Pangeran Herald segera memakai kembali pakaian nya begitupun Lian.
Peristiwa itu segera menyebar dengan cepat di Istana bahkan berita nya segera menyebar di Istana Kerajaan Anol dan sampai ke telinga Raja.
Dengan segera Raja membuka sidang keluarga.
Tampak Jen juga bersiap-siap menuju ke paviliun Raja, disana semua anggota Kerajaan telah hadir.
Lian dan Pangeran Herald telah berlutut di depan Raja, perwakilan dari negeri Anol juga telah datang.
“Ibu mu baru saja dihukum mati, dan sekarang kau membuat malu Kerajaan ini !”
Tampak Raja geram melihat anak dari Selirnya yang tidak punya harga diri.
Lian tampak pucat dan pasrah.
“Yang Mulia maafkan aku, aku mencintai Pangeran Herald dan bersedia menikah dengan nya”
Lian memohon agar dia tidak dihukum, sebab menurut hukum kerajaan anak gadis yang tidak suci lagi, harus tinggal di kuil selamanya dan mengabdi disana.
Di dunia ini, jika didapati pria dan wanita tidur bersama tanpa ikatan pernikahan maka yang bersalah adalah sih wanita nya.
“Pangeran bukannya kamu pernah mengatakan mencintai nya ?”
Akhirnya Raja menanyakan pendapat Pangeran Herald.
“Dulu aku memang mencintainya, tapi ternyata aku salah, aku baru tau ternyata Lian seperti ini “
“Pangeran karena kalian telah tidur bersama, ambil lah wanita itu menjadi Selir anda”
Perwakilan dari Kerajaan Anol memberikan masukan pada Pangeran Herald.
“Di Istana ku sudah ada 5 Selir, kalau tambah 1 lagi aku rasa tidak masalah”
Untung pertunangan ku dengan nya dibatalkan, walau nanti jadi permaisuri tetap saja harus berbagi dengan Selir-selir nya, batin Jen lega.
“Lian berterimakasih lah pada mereka, karena mau mengambil mu menjadi Selir Pangeran Herald !”
Raja memerintah Lian, dan Lian segera berlutut pada mereka.
“Terimakasih Pangeran”
Lalu Pangeran Herald dan Perwakilan Raja berpamitan pulang. Tetapi Raja mencegahnya dan menawarkan mereka untuk bermalam di Istana ini dulu, mereka pun menyetujui nya.
Lian kembali ke paviliun nya.
“Siaall !! Brengs*k!! kenapa jadi Selir sih, katanya dia mencintai ku, tapi nyata nya dia hanya menjadikan ku Selir nya saja !!”
Lian mengamuk di paviliunnya, para pelayannya tampak takut dan kuatir.
Sedangkan Jen sedang menikmati teh sore nya seperti biasa di taman kesayangannya.
“Sepertinya kamu sangat menikmati sore ini ?”
Tiba-tiba Jen dikagetkan dengan kehadiran Pangeran Vei.
“Vei.. ka-kamu sejak kapan disitu ?”
“Sejak tadi, hehehe..”
Vei duduk disebelah Jen dan minum dari gelas Jen.
“Hem..enak juga ternyata teh ini”
Deg.. di-dia minum dari gelas ku, itukan berarti ciuman secara tidak langsung, Batin Jen.
Wajah nya langsung panas, debaran jantungnya tak berhenti bagaikan menyanyikan melodi cinta.
“Hei, ada apa dengan mu, kenapa bengong ?”
Pangeran Vei mendekatkan wajahnya, membuat wajah Jen semakin panas.
“Cukup, kau membuat aku sakit jantung !”
“Apa..??”
Pangeran Vei tampak heran.
Jen berusaha menangkan dirinya.
“Tadi aku tak melihat mu di paviliun Raja ?”
Jen penasaran darimana saja Pangeran Vei.
“Aku hanya berkeliling saja, sudah lama tidak kesini, terakhir kali aku tidak sempat mengelilingi istana ini”
“Aku bisa menemani mu kalau kau mau ?”
Jen menawarkan diri.
“Oh bagus sekali yuk kita keliling”
Mereka berjalan bersama, tangan mereka bersentuhan tapi tidak bergandengan.
Mereka tak mengatakan apapun selama perjalanan mereka, tetapi walau begitu Jen berharap waktu berhenti saat ini.
Jen melirik melihat wajah Pangeran Vei yang ternyata memerah.
“Vei, apa kamu sakit ?”
“Nggak memang nya kenapa ?”
“Wajahmu merah soalnya, ku pikir kamu demam ?”
“Wajahmu juga merah Jen ?”
“Ohh, hahaa.. memang sedikit dingin jadi ini reaksi kulit ku”
Kemudian mereka hening kembali.
“Jen aku…”
Belum sempat Pangeran Vei melanjutkan perkataannya tiba-tiba Anes dan Rin muncul ntah darimana.
“Nona ternyata anda disini” Ucap Anes.
Ada apa dengan mereka berdua ini merusak suasana saja, batin Jen.
“Ehh, ada Pangeran Vei, Salam Pangeran”
Ucap Anes dan Rin.
“Ada apa kalian kesini ?”
Tampak Jen meminta pertanggungjawaban mereka yang telah mengganggu waktu berharga nya dengan Pangeran.
“Nona, besok partandingannya akan dilanjutkan kembali, apa nona tidak ingin berlatih ?”
Anes mengatakannya ragu-ragu sambil mata nya melirik ke arah Rin.
Jen mencium aroma sandiwara disini.
“Baiklah aku akan berlatih sebentar lagi, Vei maaf ya aku masih harus berlatih untuk besok.”
“Tak apa selamat berlatih” Katanya sambil tersenyum.
“Oiya, tadi kamu mau ngomong apa Vei ?”
Jen teringat perkataan Pangeran Vei yang terputus tadi.
“Ohh itu, aku hanya mau bilang aku menunggu mu di Klan Angin, jadi kamu harus berusaha sebaiknya.”
“Tentu, terimakasih dukungan nya” Balas Jen sambil tersenyum lembut.
Pangeran Vei melihat nya semakin jauh mengikuti Anes dan Rin.
“Aku akan selalu menunggu mu, sampai kau juga mencintai ku”, Ucap nya kecil.