INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 21: PEMBALASAN JEN



“Nona Jen, apa maksud kamu menghukum kepala pelayan !”


Dengan kesal Selir Ika berteriak.


Pasalnya kepala pelayan dan selir Ika adalah satu komplotan yang bekerja sama untuk mencari perhatian Pangeran Emus dan Raja.


“Selir Ika, tidak kah kamu diajarkan sopan santun di keluarga mu bagaimana berhadapan pada putri kerajaan ?” Balas Jen cuek.


“Ka..kamuu berani nya… aku akan mengadukan mu pada yang mulia pangeran Emus dan juga Selir Shan !” Ancam Selir Ika kesal.


 “Untuk apa kamu mengadu, saya hanya mengajarkan pada pelayan ini bagaimana caranya menghormati putri kerajaan ini, apa Selir Ika juga perlu saya berikan pelajaran tambahan tentang etika kerajaan ?” Balas Jen dengan senyuman sinisnya.


Selir Ika sangat kesal, dan mendekati Jen, lalu membisikkan sesuatu padanya.


“Lihat saja bagaimana kakak mu besok akan memberimu pelajaran, malam ini pangeran Emus akan menemani ku, kamu lihat saja nanti!” bisik Selir Ika dengan nada mengancam. Ia lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Jen.


Tampak terukir senyuman tipis diwajah Jen.


"Ohyaa, Tak sabar aku menunggu besok " Ucap nya pelan yang masih memperhatikan kepergian Selir itu.


Di paviliun Selir, Selir Ika sudah bersiap-siap menyambut pangeran Emus. Ia memakai gaun tidur sutra nya yang baru saja dibeli nya, dan menuangkan wewangian ke tubuhnya.


Lihat saja, besok kau tak akan bisa sombong lagi Jen, batin nya.


“Yang Mulia Pangeran Emus tiba !”


Terdengar suara pengawal dari luar sebagai pesan.


Pangeran Emus segera masuk, dan Selir Ika berlutut menyambut kedatangan nya.


Ia memasang wajah sedih nya agar pangeran Iba.


“kenapa kamu terlihat sedih begitu?”


Pangeran Emus heran melihat wajah Selirnya yang terlihat sedih.


“Yang mulia, baru saja saya mampir ke paviliun Putri, tapi Putri Jen mengusir ku, bahkan kepala pelayan disuruhnya berlutut di depan paviliunnya”


Selir Ika dengan manja mengadukan Jen pada Pangeran. Ia berusaha menggoda dan mempengaruhi Pangeran.


“Memangnya apa yang terjadi disana?”, Tanya Pangeran.


“Aku tidak tau, saat aku sampai disana pelayan itu sudah berlutut, dan aku diusirnya, padahal aku hanya ingin menyapa tuan putri” sambung nya lagi sambil berpura-pura sedih.


Dalam hati nya ia senang dan tak sabar menunggu hukuman yang akan diberikan pangeran Emus pada Jen.


“Selir Ika, aku kesini hanya ingin melihat keadaan para Selir, jadi aku akan kembali lagi ke paviliun ku, masih banyak kerjaan yang harus aku periksa, dan mengenai putri Jen, besok aku akan memanggilnya” Balas pangeran Emus.


Setelah mengatakan itu ia keluar dari paviliun Selir.


“Baik yang mulia” Balas Selir Ika sambil menunduk.


Ciih, seperti nya yang mulia sangat sibuk, hingga hanya memberi salam saja pada Selir-selir nya, batin nya kesal.


Tapi, sudahlah.. yang penting besok akan ada pertunjukan bagus, rasakan kamu Jen.. inilah akibatnya jika berani melawan ku, pikir nya puas.


Malam pun berlalu, pagi menjelang, saat Jen bangun sudah ada 3 pelayan di paviliun nya yang sedang membersihkan paviliun itu, juga air mandiian nya telah disiapkan.


Hem.. kepala pelayan kerja cepat juga, pikir Jen puas melihat paviliun nya yang kini lebih bersih dan terawat.


Segera ia membersihkan dirinya, dan memakai pakaian yang sederhana saja.


Seorang pelayan datang menghampirinya dan mengatakan pangeran Emus memanggilnya. Jen sudah tau ia akan dipanggil dan mengapa ia dipanggil, jadi ia memang sengaja memakai pakaian dengan accessories sederhana yang menghiasi rambut hitamnya.


Ia bersama beberapa pelayan menuju ke paviliun pangeran.


Sesampai disana ia segera menundukkan kepalanya dan memberi hormat pada kakak nya itu.


Disana juga sudah ada ketiga selir pangeran dan kepala pelayan.


Pangeran Emus basa basi menanyakan hal tersebut, sebab sejak pertemuannya kembali dengan putri Jen, ia telah percaya sepenuhnya dengan adiknya itu.


Jen pun mengetahui kini di istana dia tidak sendri lagi, tapi ada pangeran Emus yang telah sepihak dengannya.


“Kakak, pelayan itu telah berani membentak ku semalam, padahal aku hanya bermaksud meminta pelayan untuk menyiapkan peralatan mandi ku, jadi aku bermaksud mengajarkan pada nya etika pelayan yang baik” Jawab Jen dengan muka memelasnya.


“Baiklah lalu mengapa kamu mengusir Selir Ika saat ia bermaksud untuk menyapa mu ?”


Pertanyaan kedua pun dilontarkan pangeran.


“Kakak, malam itu Selir Ika datang dan berteriak di depan paviliun ku, apa itu yang dimaksud menyapa ?”, Jawab Jen tetap menunjukkan wajah memelas nya.


“Apa.. siapa yang meneriaki mu !, saya tau saya hanya Selir rendahan dan kamu seorang putri kerajaan tapi kamu tak harus mengusir ku ~”


Potong Selir Ika dengan wajah sedih penuh sandiwara.


“Kakak, lihat pakaian yang ku pakai ini, bahkan pakaian yang dikenakan kepala pelayan jauh lebih bagus, apalagi yang dikenakan Selir rendahan, apa menurut kakak aku diperlakukan dengan baik oleh mereka ?”


Ucap Jen yang juga tak kalah jago berakting.


Pangeran Emus baru menyadari selama ini, pakaian yang dikenakan putri memang selalu sederhana, begitupun perhiasan rambut nya yang apa adanya.


Kenapa selama ini ia sangat buta melihat adiknya ini, batin pangeran Emus yang menyesalkan dirinya yang tidak peka.


Padahal Jen adalah satu-satu nya adiknya dari permaisuri yang juga adalah ibu kandungnya.


Sementara Selir Ika sangat terkejut dengan perubahan sifat putri Jen, begitupun kedua selir yang lain, dan semua pelayan yang hadir di tempat itu.


“Mulai saat ini, siapapun yang berani menentang putri Jen, akan dihukum, dan hukuman tergantung dari putri Jen !”


Pangeran memberikan peringatan pada semua Selirnya dan semua pelayan yang ada di istana.


“Dan Selir Ika, karena telah berani meneriaki putri statusnya diturunkan menjadi selir ketiga, sedangkan Selir Hely dinaikkan statusnya menjadi selir pertama !”


perintah pangeran untuk menepati janjinya.


Mendengar perintah itu, Selir Ika sangat syok, tak menduga statusnya akan diturunkan, begitupun Selir Hely juga tak menduga statusnya akan dinaikkan bahkan menjadi Selir Pertama.


Dan saat itu juga mereka bertukar lambang, dengan berat hati Selir Ika menyerahkan lambang nya.


Masing-masing status di istana memiliki lambangnya sendiri dan fungsinya masing-masing, dari situ ditentukan seberapa tinggi posisi nya dan apa saja yang dikuasainya.


Jen menoleh ke arah Selir Hely, dan tersenyum hangat padanya, Selir Hely langsung tau kalau ini adalah rencana putri.


Lalu Jen juga menoleh kearah Selir Ika dan mendekatinya lalu membisikkan sesuatu ke telinganya.


“Bagaimana pertunjukannya Selir Ika ?”


Senyum tipis menghiasi wajah Jen, dan Selir Ika yang mengetahui itu hanya bisa terdiam pucat tak menduga ini semua telah direncanakan Jen.


Setalah pertemuan itu, Selir Hely menghampiri Jen.


“Putri Jen, terimakasih” Ucap Selir Hely.


Ia menundukkan kepalanya dengan hormat.


“Aku yang berterimakasih pada mu Selir Hely, karna telah membantu ku setelah cambukkan waktu itu” Balas Jen.


Mereka berjalan bersama keluar dari paviliun pangeran, dan berpapasan dengan selir Saunya yaitu Selir kedua pangeran Emus.


Selir Saunya langsung menundukan kepala nya dan mengucap salam pada Jen.


Kalau dulu, Selir ini pun tidak peduli akan kehadiran Jen, tapi selama ini, ia juga tidak pernah mencari masalah pada Jen. Jadi Jen mengampuninya.


Untunglah selama ini aku tidak perna mencari masalah padanya, batin Selir ini sambil melihat Jen dan Selir Hely berlalu.