
Sehabis mereka sarapan, Jen berkeliling bersama nobel peliharaan nya ke pusat pasar di kota itu. Ia mencoba beberapa jenis jajanan, membeli beberapa bahan obat. Saat sedang asik menikmati keramaian, ia melihat walikota bersama tuan muda pertama dan beberapa pejabat lainnya masuk kesebuah bar.
Hem, seperti nya menarik, batin Jen. Ia mengikuti mereka dari kejauhan dan masuk ke dalam bar itu. Tak lupa ia menyembunyikan Nobel diruang peyimpanannya. Tampak mereka memasuki sebuah ruangan private. Jen duduk disalah satu meja terdekat dari ruangan tersebut, dan mengaktifkan skill pendengarannya, dengan sedikit konsentrasi ia mengatur jarak dengar nya,dan menyaring suara-suara yang lain, rasa penasaran mendorongnya untuk menguping pembicaraan mereka.
“permisi nona, ingin pesan apa?”, seorang pelayan menghampiri dan menyerahkan buku menu.
“ahh, saya pesan yang ini saja”, jawab Jen menunjuk salah satu minuman dengan acak. Ia ingin segera konsentrasi mendengar pembicaraan mereka.
“Jadi, apa paman sudah menyiapkan sumber daya untuk di barter ke negeri Qua”, ucap walikota.
“tentu saja, saya sudah menyiapkan 1 ton daun merah dan kecambah hijau level 5”, lanjut orang itu.
“jangan, kirim yang level 3 saja, bukankah itu mirip, mereka tidak akan tau itu karna tanaman ini hanya tumbuh di daerah kita itu menguntungkan kita, mereka barter level 5, kita biar saja yang level 3”, sambung anak pertamanya.
“lalu bagaimana dengan bantuan pusat untuk bencana yang dikirim beberapa hari yang lalu”, lanjut walikota lagi.
“sudah kita pisah tuan, 40% untuk dibagikan para pejabat, 30% untuk walikota, dan sisanya 30% akan segera kita salurkan ke masyarakat”, lanjut salah satu pejabat.
“kerja bagus, pembicaraan kita hari ini tidak boleh bocor, paham!”, ucap nya. Sepertinya mereka bersiap-siap untuk keluar, dan Jen pun segera meninggalkan tempat itu.
Dasar pejabat korup, akan ku bongkar rencana mereka, batin Jen.
Dalam kediaman walikota, sang nona sombong menyiapkan rencana untuk menghabisi Jen. Ia menyiapkan bubuk racun dan menyuruh pelayan nya meletakkannya di dalam pot bunga paviliun tempat Jen menginap.
"kali ini kau tidak akan bisa lolos, ucapkan selamat tinggal pada wajah cantik mu itu, dasar j*lang", ucap Rieny membalaskan dendamnya.
Jen yang pertama tiba di kediaman walikota, dan segera masuk ke paviliun nya, tapi penciumannya cukup tajam terhadap aroma racun, dan segera menemukan bubuk racun di dalam pot bunga nya.
Hoo, ternyata sih nona sombong sudah tidak sabaran, batin Jen dengan senyum sinis nya. Ia mengambil bubuk itu dan menyelinap masuk ke paviliun tempat tinggal Rieny, dan meletakkan bubuk itu ke pot bunga nya. Kebetulan saat itu tidak ada orang disana, nona Rieny sedang ngobrol dengan kakak kedua nya di taman bunga di dekat paviliun utama.
Bubuk racun itu akan menyebabkan gatal dan muncul bisul-bisul di wajah, Jen tersenyum tipis menantikan peristiwa itu. Dan benar saja malam itu seisi kediaman walikota gempar dengan teriakkan dari nona Rieny.
“APA YANG KAMU LAKUKAN, BUKANNYA SAYA SURUH LETAKKAN DI PAVILIUN SI J*LANG ITU!”, maki nya pada pelayannya itu.
“tapi nona, saya sudah meletakkannya disana, saya juga tidak tau mengapa bisa ada di ruangan nona”, ampun pelayan itu sambil terus berlutut dan menunduk.
"KAMU PIKIR DENGAN MAAF WAJAH SAYA AKAN KEMBALI SEPERTI SEMULA!!, PELAYAN !! SINGKIRKAN PELAYAN INI SEKARANG JUGA, SAYA TIDAK MAU MELIHAT NYA LAGI!!', Perintah nya pada pelayan yang lain.
Di paviliun lain, Anes dan Rin yang mendengar cerita Jen hanya tertawa mengetahui sang nona sombong termakan jebakannya sendiri.
“oiya, Rin bisakah kamu menyelinap masuk ke ruang administrasi dan membawa surat perintah pengiriman barang yang akan di barter ke negeri Qua”, Jen menceritakan rencana para pajabat korup itu pada mereka berdua, dan Anes yang mencari bukti transfer yang di ambil oleh para pejabat. Malam itu, mereka bertiga tampak sibuk menyelinap dan mencari bukti.
Sudah 3 hari berlalu sejak mereka mulai mencari bukti, dan akhirnya semua bukti terkumpul, dan mereka mengirimkan bukti tersebut dengan merpati surat.
“Baiklah sudah waktu nya kita melanjutkan perjalanan”, ucap Jen.
Mereka kemudian berkemas, dan permisi untuk melanjutkan perjalanan mereka, walikota yang tidak mengetahui rencana mereka, memberikan mereka satu peti barang berharga dengan maksud agar mereka melupakan kejadian yang perna anak gadisnya lakukan dan mengatakan hal-hal baik pada sang Raja, tentu saja Jen menerima barang berharga itu.
Tidak baik menolak apa yang diberikan orang lain, anggap saja ini permintaan maaf walikota atas apa yang dilakukan anak gadis nya, batin Jen.