
Tetua Herly membawa Jen ke tempat rahasia yang pernah mereka buat bersama yakni
‘KOTA EMAS’
Dulu saat masih memainkan game ini, Jen membuat sebuah kota kecil dengan hasil
Uang dan hadiah yang berhasil di kumpul nya, selain mendirikan Klan Langit dan perguruannya. Tapi kota itu masih belum ada penduduk nya, bahkan masih di segel hanya Jen dan Tetua Herly yang dulu sebagai assisten setia nya yang tahu kota ini.
“Guru, kota ini sudah ada sejak guru menghilang seratus tahun yang lalu, saya tidak tahu harus bagaimana, itu lah mengapa kota ini masih kosong hingga kini”
Jen memperhatikan kota yang dulu sempat dibangunnya, semua tertata rapi dan bersih, tidak ada yang rusak.
“Kamu menjaga kota ini dengan sangat baik tetua Herly” Ujar Jen kagum.
Sebenarnya Jen masih bingung mau dibuat seperti apa kota ini, ia membeli wilayah ini dengan hampir semua tabungannya dan hadiah-hadiah yang berhasil di kumpulkan nya, lalu mendisain kota ini sedemikian rupa, walau hanya kota kecil, tetapi lengkap dengan pemandian air hangat, hotel mewah, taman yang luas dan indah, pasar modern, tempat hiburan, rumah-rumah penduduk yang bagus dan unik, serta istana tempat Jen berdiam nantinya. Dan alasan utama Jen memilih wilayah ini, karena posisi nya yang ada di lembah tertutup gunung, dan danau yang luas serta jernih, juga sungai-sungai kecil yang mengalir mengelilingi kota ini, selain itu, ada tambang emas yang sumber daya nya tidak akan habis-habis, itulah sebabnya mengapa kota ini disebut Jen Kota Emas.
“Tidak ada yang dapat saya lakukan selain menunggu Guru kembali sambil tetap meneruskan Klan serta perguruan ini, juga merawat kota Emas Guru.” Ucap Tetua Herly.
“Aku beruntung karena memilih mu sebagai murid ku, sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan Klan selama ini?” Tanya Jen serius.
“Guru ingatkan selain saya, guru juga mengangkat beberapa murid yaitu Tetua Wancu, Tetua Yoshu, Tetua Bemo, Tetua Abel, Tetua Maria, dan Tetua Loren, lalu setelah Guru menghilang kami terus berlatih, walau Klan ini tidak di peringkat satu lagi, tapi bertahan di peringkat tiga. Kami pun mengangkat murid untuk kami latih, dan sekarang murid-murid kami juga sudah menjadi tetua, hingga kini ada 20 tetua yang bertanggung jawab atas Klan dan perguruan ini.” Tetua Herly pun menceritakan semua dari awal.
“Tetapi saya terlalu ceroboh, dari kami bertujuh, tetua Wancu yang paling banyak mengambil murid, bisa di bilang dari tiga belas murid kami yang menjadi tetua, lima diantara nya adalah murid Tetua Wancu, saya tidak menyadari ternyata dia ingin menguasai Klan ini, kekuatannya nya di Klan ini mencapai enam puluh persen, semua keputusanpun jadi dia yang menentukan” Jelas Tetua Herly.
Aku mulai melihat siapa dalang dibalik penyerangan ku waktu itu, batin Jen.
“Baiklah, aku akan menyelidiki tetua Wancu, terimakasih untuk kesetiaan mu Tetua Herly” Jen memuji Tetua Herly dan memberikan sekantong pil aura.
“Guru pil ini sangat berharga…” Tetua Herly terkejut karena menerima pil langka dari Jen.
“Itu bahkan masih sangat kurang menggantikan kesetiaan mu selama ini” Jen tersenyum manis.
“Terima kasih Guru!”
Tetua Herly berlutut hormat.
“Kamu jangan menyebut ku guru di depan orang lain, atau sebaiknya panggil saja aku Jen, aku kuatir akan ada yang mendengar mu nanti” Ucap Jen.
“Guru, kenapa anda merahasiakan indentitas anda?” Tanya Tetua Herly.
“Aku ingin memasang umpan kepada penghianat!” Ujar Jen dingin.
Melihat reaksi dan mendengar jawaban Jen, Tetua Herly berhenti bertanya, setelah tetua Herly menceritakan semuanya, mereka pun kembali ke tempat mereka.
“Nona, kau dari mana saja?”
Anes yang melihat kehadiran Jen terburu-buru menghampiri nya.
“Tadi aku ada sedikit urusan, memangnya ada apa?” Tanya Jen cuek.
“Tadi pelayan Tetua Wancu mencari nona” Jelas Anes.
“Mencariku?” Jen penasaran apa rencana tetua itu sekarang.
“Karena tetua Wancu mencari ku, maka aku akan kesana sekarang” Lanjut Jen.
“Tidak usah Nes, kamu berlatih aja sama yang lain, sebentar lagi pertandingan tahunan kan dimulai”
Mendengar jawaban nona nya, Anes pun menurut dan kembali berlatih. Sementara Jen bersiap menuju paviliun tempat tetua Wancu berada.
Perjalanan ke paviliun Tetua Wancu tidak terlalu jauh, dengan segera Jen sudah tiba disana. Di depan pintu masuk seorang pelayan berjaga, Jen mendekati pelayan itu.
“Saya kesini atas undangan Tetua Wancu” Ujar Jen cuek.
“Nona Jen datang !” Pelayan itu menyampaikan pesan ke dalam.
Tak lama setelah pelayan itu menyampaikan pesan, keluar seorang pelayan lain dari dalam paviliun dan mempersilahkan Jen masuk. Perlahan Jen melangkahkan kaki nya dan mengamati paviliun itu.
Menurut nya paviliun Tetua Wancu jauh lebih mewah dibandingkan paviliun tetua yang lain, yang pernah Jen bangun sebelumnya. Paviliun Tetua ini banyak sekali tambahan renovasi dan hiasan-hiasan mewah bagaikan paviliun Istana.
Hemm, dari ini aja aku tahu walau Tetua Herly memiliki pangkat tertinggi, tapi Klan ini dan perguruan ini sudah dikuasai oleh Tetua Wancu, batin Jen.
Kini di depannya sudah ada Tetua Wancu sedang duduk di kursi kebesarannya, di samping kiri dan kanan nya ada seorang pelayan.
“Hormat pada Tetua Wancu, saya dengar tetua memanggil saya tadi ?” Tanya Jen sambil menundukkan kepala nya.
“Berani sekali kamu tidak berlutut di hadapan Tetua Wancu !” Seorang pelayan teriak sambil menunjuk kearah Jen dengan tatapan merendahkan.
“Saya berasal dari Kerajaan Qua, saya hanya akan berlutut pada Raja !” Balas Jen yang tetap terlihat santai namun tegas.
“Kamu, berani nya !”
Pelayan itu hendak turun untuk mendekati Jen bermaksud memberi Jen pelajaran. Tapi Tetua Wancu mencegahnya, pelayan itu akhirnya menurut dan tetap di tempat nya namun dari wajahnya Jen bisa tahu pelayan itu masih kesal.
“Jadi kamu dari negeri Qua, beruntung sekali Raja memiliki orang setia seperti mu” Ujar Tetua Wancu.
Jen hanya diam mendengar ucapan nya, dan tetap waspada setiap perkataan dan gerak-gerik tetua ini.
“Saya akan mengangkat mu menjadi murid, jadi kamu harus bangga pada dirimu ini.”
Akhir nya Jen tahu maksud dari dia dipanggil Tetua Wancu.
“Terimakasih Tetua, tapi setahu saya bukannya masih tiga bulan lagi baru akan dilaksanakan pemilihan murid ?” Tanya Jen.
“Itu tidak berlaku bagi saya, jika kamu punya bakat, tidak perlu menunggu sampai pemilihan murid berikutnya karena kamu akan menjadi milik saya.” Jelas Tetua Wancu sombong.
Mendengar ucapan tetua Wancu, Jen menjadi emosi. Jadi begini cara nya merekrut murid diam-diam, sehingga tinggal murid yang kurang berbakat sisa nya yang dipilih oleh tetua yang lain, batin Jen.
“Maaf tetua tapi saya ini tidak pantas menjadi murid anda saat ini, saya masih harus berlatih lebih giat, hingga saat tiba pemilihan murid berikutnya saya pasti lebih siap.” Ujar Jen perlahan.
“Ohh hoho, baiklah saat kamu siap tiga bulan lagi, saya menunggu mu begabung secara sah” Ujar Tetua itu senang.
“Kalau begitu saya undur diri dulu, untuk berlatih” Potong Jen.
“Baiklah kamu boleh pergi.”
Tetua Wancu akhirnya mempersilahkan Jen kembali.