INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 60 - Tetua Herly



Sekarang Jen dan Anes sudah terbebas dari serangan monster kecil tadi, mereka mendekati bunga Rafles itu.


“Nona, cepat lah ambil bunga itu, saya sudah tidak sanggup lagi menahan aroma busuk nya”


Anes menutup rapat-rapat hidung nya, bau busuk dari bunga tersebut seperti bau busuk dari ratusan mayat yang daging-daging nya sudah berair. Semakin dekat dengan bunga itu semakin tajam bau busuk nya.


“Aku juga tidak bisa langsung memasukan bunga ini ke dalam kotak penyimpanan ku, itu akan membuat tanaman obat yang lain menjadi rusak”


Sebelum Jen mengambil bunga itu, ia menyiram nya dengan air suci milik nya, lalu membungkus bunga itu dengan gelembung aura nya. Setelah itu baru lah ia memetik nya, dan menyimpannya dengan aman di dalam kantong penyimpanannya.


“Sudah selesai, dengan begini tanaman yang lain dalam penyimpanan ku pun aman”


Jen dan Anes melanjutkan perjalanan mereka kembali ke titik pertemuan yang telah mereka rencanakan sebelum mereka berpencar.


“Perjalanan kali ini kita mendapat banyak tanaman obat, dan kekuatan serta kemampuan kita juga telah meningkat dengan sangat cepat.” Ujar Anes.


“Iya benar, tapi yang lebih penting dari itu, aku akan menyelidiki tetua yang berhianat!”


Sebelum nya Jen percaya dengan semua tetua yang telah dipilihnya untuk mengurus klan, bahkan ia telah menganugrahkan umur panjang pada semua tetua klan Langit.


Sesampai mereka di titik pertemuan.


“Putri, aku sangat merindukan mu ~”


Yola berlari mendekati Jen, tapi dia segera menghindari Yola dengan tenang.


“Sudah waktu nya kita kembali ke perguruan” Ucap Jen cuek.


Mereka kembali melawari jembatan pelangi, setelah mereka melawati nya, pelangi itu kembali menghilang, begitupun lembah itu sudah tidak terlihat lagi. Sesampai di perguruan akhirnya mereka berpisah. Jen menuju ke asrama nya, dalam perjalanan ia bertemu Sasa.


“Jen akhirnya kamu kembali”


Sasa langsung berlari mendekati Jen.


“Ia, aku sibuk berlatih untuk pertandingan nanti” Ucap Jen cuek.


“Kelompok Sisca datang ke kamar mu beberapa hari yang lalu, tapi karena kamu tidak ada mereka mengobrak-abrik kamar mu”


Sasa menceritakan kejadian selama Jen tidak ada. Jen hanya diam saja mendengar penjelasan Sasa. Sesampai di kamar nya, benar saja kamar nya sudah seperti kapal pecah.


“Maaf hanya beberapa bagian yang sempat aku rapikan”


Jen memperhatikan beberapa pakaian nya telah terlipat rapi di kasurnya, dan sebagain barang-barangnya juga tertata rapi di meja kerja nya.


“Terima kasih ya”


Jen merapikan kamar nya yang berantakan dibantu oleh Sasa.


“Aku akan membuat perhitungan dengan nya setelah selesai merapikan kamar ini”


Butuh setengah hari untuk merapikan semua nya.


“Haiiss, kalau kamu mau buat perhitungan dengan mereka, mending besok saja deh”


Jen berpikir sejenak.


"Benar juga, ini sudah terlalu sore." batin Jen.


“Baiklah, sekarang kita istirahat saja dulu”


Akhirnya Sasa pamitan untuk kembali ke kamar nya. Jen pun segera beristirahat sebab selama di lembah ia memang hampir tidak tidur selama 6 hari. Kini semua badan nya sudah pegal-pegal, dan dalam sekejap ia langsung tidur terlelap.


**********


Tok! tok!


“Jen !”


Suara ketukan pintu dan teriakan memanggil-manggil membangunkan Jen dari tidur nyenyak nya.


“Ungkk ~”


Perlahan Jen membuka matanya, dan dengan sedikit gerakan di tangan kanan nya, dengan kekuatan Angin nya kunci pintupun terbuka.


Ceklek!


Sasa segera masuk dan menutup kembali pintu kamar Jen.


Sasa mengayun-ayun pundak Jen berusaha membangunkannya. Akhirnya Jen pun bangun juga, dan merapikan diri nya.


“Kamu ini, paling susah kalau bangun pagi, kalau aku tidak ada pasti kamu selalu ketinggalan jam latihan pagi!”


Sasa sudah seperti seorang Ibu yang sibuk membangunkan dan membereskan anak nya agar tidak telat ke sekolah saja.


Tak sampai 15 menit akhirnya mereka tiba di lapangan untuk latihan pagi, disana sudah berkumpul semua dari kelas nya, dan ada juga dari kelas lain, semua nya khusus tingkat satu.


Jen mendekati kelompok kelas nya, disana juga sudah ada Sisca. Ia mendekati gadis itu.


“Jadi kamu yang mengobrak-abrik kamar ku ?” Bisik Jen.


“Itu hanya peringatan pada mu!” Balas nya.


Tampak nya Sisca masih sangat percaya diri dapat menghancurkan Jen.


Ini tidak sederhana, pasti dia merencanakan sesuatu?, batin Jen.


Latihan pagi segera dimulai, Jen hanya diam saja dan meninggalkannya lalu mulai ikut berlatih.


Latihan pagi berlangsung selama 3 jam, setelah latihan pagi mereka diberi waktu 1 jam untuk merapikan diri, dan berkumpul di Aula utama.


“Jarang-jarang kita di minta berkumpul di Aula utama, bukan hanya tingkat satu tapi juga tingkat dua dan tiga.” Ujar Sasa.


Setelah satu jam istirahat, semua murid dari tiga tingkatan sudah berkumpul di Aula utama, di altar juga sudah hadir kedua puluh tetua, mereka duduk di kursi kebesaran mereka masing-masing. Di bawah Altar juga telah hadir semua guru, jika dihitung jumlah mereka ada 52 orang, mereka memberi hormat dan kemudian duduk di samping kiri dan kanan altar, sedangkan para murid berdiri menghadap ke altar sesuai dengan tingkatan masing-masing.


Jen memperhatikan kedua puluh tetua, termasuk beberapa tetua yang dicurigainya.


“Semua para murid di undang datang ke aula ini sebab tetua akan mengumumkan suatu hal!”


Seorang guru dipilih sebagai moderator. Lalu berdiri tetua tertinggi. Jen ingat tetua itu bernama ‘Herly’ dulu dia adalah gadis yang cantik dan pemalu, siapa sangka sekarang dia menjadi tetua tertinggi dengan sifat yang tegas dan berani dan tentu saja usia nya sudah seratus tahun lebih. Tetua Herly adalah orang pertama yang dijadikan Jen murid, mereka sangat dekat dulu Jen sudah menganggap nya sebagai adik nya sendiri. Ia ingat terakhir kali mereka bertemu, karena Jen mau ujian dia mengatakan pada nya untuk memimpin klan selama ia pergi.


“Klan Langit telah didirikan lebih dari seratus tahun dan hingga kini masih bertahan di peringkat 3 sejak Yang Mulia Legenda pergi, tapi saya yakin intuisi saya mengatakan ia telah ada disini dan sedang memperhatikan kita semua anak-anak nya, dengan serangan Iblis yang semakin meningkat memaksa kita untuk semakin cepat bertindak, untuk itu acara pertandingan tahunan akan dipercepat, dan seminggu lagi kita akan mengadakan nya, persiapkan diri kalian !”


Setelah mengatakan itu, Tetua Herly kembali ke kursi nya.


“Kalian sudah dengar itu!, selamat bertemu kembali minggu depan, dan jangan lupa persiapkan diri kalian!”


Sang moderator mengakhiri pertemuan ini, para tetua meninggalkan ruangan.


Jen bergegas keluar dari aula, dan mencari tetua Herly. Untunglah ia masih sempat bertemu dengannya sebelum tetua tersebut meninggalkan tempat ini.


“Tetua Herly!” teriak Jen sambil berlari mendekati nya.


“Kamu!, berani sekali menyebut nama tetua!”


Pelayannya langsung menunjuk Jen dengan wajah tak senang.


Tetua itu menoleh kearah Jen dan memperhatikannya, antara percaya tidak percaya firasatnya langsung mengetahui kalau Jen adalah Guru nya, Sang Legenda pendiri Klan Langit.


“Gu…”  belum sempat Tetua Herly menyelesaikan kata-katanya, Jen langsung memberi kode untuk diam.


“Pelayan pergilah diluan ke paviliun” Perintahnya.


“Baik Yang Mulia”


Pelayan itu segera meninggalkan kami. Kini hanya ada Jen dan Tetua Herly.


“Guru, aku sangat merindukan mu, kemana saja guru selama ini ?” Tanya nya.


Dari ekspresi nya ia tak dapat menyembunyikan rasa bahagia dan terharu nya kembali bertemu dengan Jen.


“Aku tak menyangka kamu langsung tahu siapa aku” Ujar Jen.


“Tentu saja mana mungkin saya lupa dengan aroma Guru!”


Tetua itu bersujud memberi hormat sampai kepalanya menyentuh tanah.


“Banyak yang ingin kutanyakan pada mu selama aku pergi” Ucap Jen.


“Baiklah, sebaiknya kita pergi dari sini dan mencari tempat yang aman” Jawab Tetua Herly.


Mereka pergi kesuatu tempat rahasia, yang hanya mereka berdua yang tahu.