INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 6 : JURUS ANGIN



Diwajahnya terbentuk berbagai ekspresi tak jelas dan sulit di mengerti.


“nona, kenapa begitu panik?”, ucap Anes heran melihat kelakuan nona nya.


“ahh, perasaan mu saja, aku baik-baik saja”, jawab Jen sambil kembali bertingkah normal.


Tak lama setelah terbentuk nya sosok itu, Gadis itu pun tersadar dari tidur panjang nya, awal nya tatapan nya kosong, lalu mengarah ke arah Anes. “ Aaaakkkk, Anes aku merindukan mu !!”, teriak Rin senang dan langsung memeluk erat Anes.


Anes hanya merespon dingin Rin yang sedari tadi memeluk erat dirinya.


Grr, Jen sedikit iri melihat body sh tante ini, lalu membandingkan dengan dirinya yang tergolong datar, ini tidak adil. Tapi sih Anes ini masa mati rasa setelah di peluk erat begitu, batin nya.


Setelah puas memeluk Anes, dan hanya mendapat respon dingin dari nya, akhirnya Rin melepas pelukkannya, dan melihat kearah Jen, ia melihat lambang matahari bersinar di kening gadis itu, Rin langsung tau kalau Jen adalah Sang Legenda yang menyelamatkannya.


lalu sambil berlutut ia menyatakan sumpah setia nya sebagai pengikut Jen. “terimakasih hamba kepada nona yang telah menyelamatkan saya, saya bersumpah akan setia kepada nona”.


“berdirilah, jangan sebut dirimu hamba, jadi nama mu Rin, kenalkan aku Jen, baiklah Rin sekarang kita rekan seperjuangan”, Jen tersenyum ramah padanya.


Sangat bagus dalam sekejap aku mendapat 2 pengikut bergelar Pendekar Hitam, dan kabar buruknya saat ini mereka hanya manusia biasa berlevel 0, ntah aku harus senang atau sedih dengan keadaan ini, batin Jen.


Tak terasa hari sudah pagi saja,dan mereka tidak tidur sama sekali, terlebih Jen yang kewalahan mendengar suara-suara hingga jarak 100 meter.


“baiklah aku mau ke bukit di belakang kota dulu”, akhirnya Jen membuka pembicaraan dan meninggalkan mereka berdua di ruangan itu.


Hem, disini tenang, hanya suara angin dan rumput, Jen mengeluarkan bahan-bahan obat nya serta tungku sederhananya, dan mulai konsentrasi meracik obat. 1 jam kemudian dia berhasil membuat empat  pil obat peredam suara tingkat 3, dan satu tingkat 4, tak lama setelah ia selesai membuat obat, terdengar suara ‘kreekk’, tungku nya retak, dan hancur.


akkhh,, tungku nya langsung hancur, memang harga dan kualitas berbanding lurus, batin Jen.


Satu pil tingkat 3 bisa meredam suara selama 1 hari, dan tingkat 4 selama 2 hari, berarti ia bisa bertahan 5 hari tanpa terganggu suara-suara berisik.


Ahh, aku juga harus mempelajari jurus angin dari kakek kemarin, walaupun mungkin mustahil untuk level ku sekarang, batin nya.


Tetapi ia tidak putus asa, dan membuka gulungan itu, dan mempelajari jurus-jurus di dalamnya, sebenarnya dulu ia sudah menguasai jurus itu, tapi.. ya itu, kemampuan nya kembali ke level 1 dan banyak jurus-jurus tingkat tinggi, bahkan tingkat dewa yang akhirnya hanya tinggal kenangan.


Ia berkonsentrasi dan merasakan gerakan-gerakan indah menari-nari di pikirannya, aliran darahnya seakan mengalir dengan sangat cepat, ia merasakan tubuhnya sangat ringan bagaikan kapas, hembusan angin terasa lembut dan kuat dan terus bergantian lembut ke kuat dan dalam waktu 2 hari ia sudah bisa menguasai jurus angin tersebut.


Ini luar biasa, padahal dulu aku menguasai jurus itu setelah 2 tahun (dalam dunia game) mempelajari nya, apakah mungkin karena sebelumnya aku sudah menguasai nya, jadi sebenarnya itu sudah ada dalam diriku, sehingga saat aku menemukan jurus itu kembali, bisa dengan mudah mempelajari dan menguasainya, batin nya menduga.


'Klik' nameboardny muncul, dan terlihat level nya naik  dua tingkat, sekarang ia di level 3.


Ohh, bagus lah, jurus ini menaikkan 2 level, ini sangat bagus, batin nya senang.


Sudah dua hari aku diatas bukit, sebaiknya aku kembali dulu dan melihat keadaan Anes serta Rin, mungkin mereka sedang kuatir, batin Jen.


Saat ia sudah turun bukit, ia melihat Anes dan Rin berdiri di kaki bukit dengan jarak sekitar 200 meter.


“Apa yang kalian lakukan disini?”, Tanya nya penasaran.


“tentu saja kami berjaga, bukankah nona sedang berlatih jurus disana, tidak mungkin kami membiarkan orang lain mengggangu nona”, balas Anes hormat.


“jadi apakah kalian berjaga selama dua hari tanpa istirahat?”, sambung Jen lagi.


“benar nona”, balas Rin.


“Akkhh,,, kalian ini, saat ini hanya manusia biasa, bisa sakit kalau tidak istirahat”, protes Jen. Kini Jen yang malah jadi kuatir terhadap kedua rekan nya ini.


Jen melihat nameboard mereka kemampuan mereka naik 1 level, tetapi level mereka masih nol. Apa ini, kenapa kemampuan mereka bisa naik satu level, sementara level mereka tetap nol. Sedangkan aku di kemampuan ku tidak ada level seperti milik mereka, tetapi level ku bertambah, Jen berpikir keras, mengapa bisa ada perbedaan seperti itu.~~~~