INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 45 : DI PENGINAPAN



“Apa tuh ?” Tanya ku.


Red membuka kantongan itu, dan banyak sekali koin emas dan perak di dalamnya.


“I..ini..??”


Aku tak sanggup melanjutkan perkataan ku.


Dalam hati aku berkata, darimana anak ini dapat duit sebanyak ini.


“Kau melakukannya lagi Red?”, Ucap Rin.


“Melakukan apa ?” Tanya ku penasaran.


“Sebenarnya Red sangat hebat dalam bertaruh, itulah sebab nya kami Pendekar Hitam sampai memiliki Castle yang sangat besar di atas bukit Terlarang.”


Anes menjelaskan sumber keuangan mereka selama ini.


Oh, bisa dibilang dia Raja judi donk kalau di dunia ku, batin Jen.


Jen memang pernah mendengar ada sebuah Castle yang sangat besar bagaikan Istana Suatu Kerajaan yang terletak di bukit Terlarang.


Disebut bukit Terlarang karena seluruh bukit itu memang bagian dari halaman Castle tersebut, sehingga tak bisa sembarang masuk kesana.


Saat masih memainkan game ini, Jen pernah sampai ke bukit itu. Bukit itu sangat sulit di jelajah, dan banyak monster level tinggi disana, selain itu aura di bukit sungguh berbeda dengan aura di luarnya. Aura di bukit itu sangat mencekam, jadi pemain menyebutkan Bukit itu sangat berbahaya dan dilarang masuk kesana.


Tak kusangka namanya benaran ‘Bukit Terlarang’, batin Jen.


Dan paling tidak menyangka ternyata di bukit itu kediaman pendekar Hitam.


“Ya sudah sebaiknya kita mencari tempat penginapan saja disekitar Atrium Qua, karena jaraknya lumayan jauh dari Istana”


Pangeran menyampaikan pendapatnya pada kami.


“Benar juga, besok pagi kita harus sudah tiba di Atrium” Ucap Jen.


Kami mulai mencari penginapan di sekitar Atrium. Atrium Qua biasa nya digunakan untuk melantik pejabat.


“Kak itu ada penginapan, kita coba disana aja ?”


“Oh, benar juga, tapi sebaiknya kita menyembunyikan identitas kita”


Pangeran menutupi dirinya dengan jubah, Jen, Anes dan Rin juga mulai menutupi tubuh diri mereka dengan jubah, tetapi Red dan Nath berpenampilan biasa saja.


Kriieett..


Pintu terbuka, Pangeran masuk dan memesan beberapa kamar untuk kami.


Jen sekamar dengan Rin, Pangeran dengan Anes, Red dengan Nath.


Saat itu hari sudah malam saat mereka tiba di penginapan, mereka berkumpul di restoran penginapan dan memesan makanan untuk makan malam.


“Besok test terakhir, kira-kira apa ya test nya ?, ku harap kita semua berhasil jadi murid dalam”


Kami mulai ngombrol banyak hal, Jen sendiri sebagai pendengar yang baik sambil menyantap makan malam nya.


Sedang asik kami makan malam, sekelompok preman kota datang menghampiri kami. Tubuh mereka kekar dan besar dengan wajah garang mengintimidasi.


“Kulihat kalian orang baru disini, apa kalian tidak tau ini tempat bos kami !”


Kami tak memperdulikan mereka, dan tetap melanjutkan makan kami.


Braakk !!


Meja di banting salah satu dari mereka.


Para pengunjung mulai tegang dan meninggalkan tempat itu, sementara pemilik penginapan, memohon pada mereka untuk tidak membuat masalah.


“Diam kamu !!”


Pemilik tersebut di dorong hingga meja di belakangnya rusak akibat ditimpa sih pemilik.


“Kalian sudah bosan hidup ternyata !!”


Mereka mulai menyerang kami, segera ku perintah Anes dan Rin untuk membereskan mereka.


Dalam sekejam sekelompok penjahat itu kalah dan melarikan diri, namun sebelum sempat bos mereka kabur, Jen menghadangnya.


“Kamu pikir, habis membuat masalah kamu bisa langsung kabur begitu saja !!”


Jen memegang kerah pria bertubuh kekar yang disebut bos oleh mereka.


“Am-ampun nona ~”, mohon nya.


“Kalau mau ku ampuni ganti rugi semua kerusakan akibat ulah kalian ini pada pemilik penginapan ini !”


“Ba-baik !”


Jumlah nya lumayan dan cukup untuk membersihkan tempat yang sudah berantakan ini, batin nya.


“Sekarang kamu minta maaf sama pemilik itu, dan jangan berani-berani buat onar lagi di wilayah ini !”


Bos penjahat itu berlutut dan meminta maaf, lalu segera kabur dari tempat itu.


“Tuan maafkan kami juga, ini untuk ganti rugi tempat ini”


Kuserahkan kantongan koin itu pada sih pemilik penginapan.


“Kalian sungguh hebat ?”


Tiba-tiba seorang wanita muda datang menyapa kami. Aku memperhatikan wanita itu, dan mengingat nya. Dia juga salah satu peserta yang berhasil masuk 10 besar.


Kliikk, Jen melihat layar notification nya.


Ulala (kakak Selir Ika)


Level: 18


Kemampuan: Alkemis


“Kamu Nona dari keluarga hitte kan ?”


“Darimana kamu tahu ?”


Tampak ia kaget karena kami mengenalnya, sementara kami yang masih memakai jubah tentu saja ia tidak mengenali kami.


Seiingatku, sih Ulala ini sifat nya cukup baik dan jauh berbalik dari sifat Selir Ika yang ambisius.


Kami berpandangan dan sepakat menunjukan diri padanya.


Setelah ia tahu siapa kami, langsung ia berlutut hormat pada Pangeran dan Aku.


“Maafkan hamba yang Mulia, karena tidak langsung mengenal anda”


Katanya hormat sambil terus berlutut memohon ampun.


“Jangan begitu, kami yang menyembunyikan identitas kami”


Pangeran membantunya berdiri.


“Bergabunglah dengan kami, besok kita berangkat bersama ke Atrium”


Ajak ku, karena aku tau Ulala memiliki sifat yang setia pada Kerajaan, ia lebih cocok disebut kesatria wanita daripada seorang Nona besar.


“Suatu kehormatan bisa bergabung dengan kelompok ini” Ucap nya bangga.


“Kami juga senang, kamu bergabung dengan kami” Balas ku.


Akhir Ulala satu kamar dengan ku dan Rin.


Sebelum aku tidur, aku berlatih sebentar di kamar itu. Ulala dan Rin yang melihat ku jadi ikut berlatih juga.


Setelah kurang lebih 3 jam berlatih, kami pun beristirahat.


Tok..tok..


Seseorang mengetuk pintu kamar kami, aku yang tadi nya masih terlelap mulai terganggu, begitupun Ulala dan Rin.


Rin segera membuka pintu itu, tampak Pangeran Anes Red dan Nath sudah berbaris di depan kamar kami.


“Kalian mau sampai kapan tidur nya ?” Ucap Pangeran.


Kulihat kearah jendela, dan hari sudah mulai terang, udara pagi yang segar menambah semangat kami.


“Baiklah, kami siap-siap dulu !”


Rombongan Pangeran menunggu kami di restoran, hingga kami selesai merapikan diri, dan kami melahap hidangan yang sudah tersedia di meja depan kami.


Dalam sekejap habis sudah semua hidangan tersebut dan kami berangkat ke Atrium Qua.


Tak lama perjalanan kami, hanya butuh waktu 5 menit dari penginapan, disana peserta yang masuk 10 besar lainnya telah hadir.


“Selamat kepada para peserta yang masuk 10 besar, kita akan memulai test terakhir !”


Seperti biasa pembawa acara dengan semangat memulai test ini.


Di ruang juri aku melihat beberapa guru besar dan Raja.


“Akhirnya Ayah melihat kita juga kak” Ucap ku semangat.


“Tentu saja, saat ia tidak hadir juga wakil nya terus menceritakan tentang kita dan pertandingan kita kemarin.”


Pangeran menyakinkan ku kalau ternyata Raja selama ini terus memperhatikan kami.