
Rin kembali menaiki bebatuan sedangkan Jen masih sibuk melayang-layang di permukaan air.
“Nes !!, Kakak !!”
Teriak Jen sambil menelusuri aliran sungai.
Lama ia menunggu, namun Pangeran dan Anes masih belum muncul juga.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyelam juga. Jen mendarat di pinggir sungai di dekat air terjun itu, tempat tadi mereka terjatuh.
Saat ia hendak menyelam, samar-samar pandangan matanya terjatuh pada goa di belakang air terjun.
“Seperti ada goa di balik air terjun ini, tapi goa apa itu?”
Rasa penasaran mulai mengelitik nya.
“Kayaknya aku bisa mampir kesana dulu?” Ucap nya kecil.
Pangeran dan Anes pasti baik-baik saja dengan pelatihan mereka saat ini, pikir Jen.
Ia akhirnya memutuskan untuk meneliti goa itu terlebih dahulu karena ia merasakan ada firasat aneh di dalam nya.
Ia melompat diantara bebatuan, saat ia masuk ke balik air terjun, ia mulai merasakan lembab nya udara di dalam goa itu.
Di dalamnya tidak terlalu besar namun cukup panjang menyerupai terowongan bawah tanah. Dibagian terluar terowongan, pencahayaannya masih masuk menembus air terjun.
Jen melihat ada beberapa jamur peri di dinding-dinding goa. Jamur Peri bagus dijadikan bumbu untuk penyedap masakan, tentu saja Jen segera mengambil jamur itu dan menyimpannya ke ruang penyimpanannya.
“Hemm, lumayan untuk persediaan buat masak, pikir Jen.
Walau Jen tidak terlalu pintar masak, tapi dengan jamur ini pasti auto lezat.
Ia masih terus menelusuri goa, semakin lama semakin gelap, namun jen masih bisa melihat dengan samar samar. Dia melihat di ujung terowongan ada suatu pintu yang sepertinya ada cap segel nya ditengah-tengah pintu itu. Cap Segel lambang Kerajaan Qua. Berarti hanya keturunan langsung Raja Qua yang bisa membuka pintu ini.
Jen mencoba mendorong pintu itu sekuat tenaga, namun pintu tersebut sama sekali tidak bergeming.
“Misterius sekali sich, sampai pakai segel-segel segala”
Jen mempelajari segel tersebut. Sepertinya di sini harus ditetesin darah sebagai kunci nya, Batin Jen
Jen menusuk sedikit jarinya, kemudian meneteskannya di atas segel tersebut.
Segel itu kemudian bersinar terang, bercahaya kebiruan.
Krakk…!
pintu bergerak dan sedikit terbuka.
Perlahan Jen mengintip, ada suatu ruangan yang cukup luas di dalam.
Dengan hati-hati ia membuka pintu itu, dan melangkah kan kakinya masuk.
Brakkk..!
Pintu itu segera tertutup kembali saat ia sudah ada di dalam nya.
Jen sampai kaget dengar suara bantingan daun pintu yang menggema dalam goa.
Ia mencoba membuka pintu itu lagi, namun usaha nya tak membuahkan hasil, pintu nya kembali tak bergeming sama sekali.
Ia memperhatikan seluruh ruangan itu. Ada beberapa lampu yang bersinar dengan kekuatan aura yang menyinari ruangan, dinding-dindingnya banyak ukiran-ukiran rumit.
Ada sebuah altar ditengah-tengah ruangan itu, dan diatas nya terletak sebuah box besi tertutup. Jen mendekati box besi itu, dan lagi-lagi ada segel yang menguncinya.
“Kalau begini lama-lama darah ku habis juga”
Kembali Jen menusuk jari nya dan meneteskan darahnya ke atas segel di box itu.
Kembali box itu bersinar kebiruan, dan terbukalah bagian atasnya. Di dalam nya, ada suatu gulungan hitam, Jen mengambil gulungan itu.
Dan betapa kaget nya dia mengetahui itu adalah suatu gulungan berisi jurus tingkat LEGENDA.
Kliikk.. muncul notification di layar nameboardnya.
JURUS MEMBELAH LANGIT, dengan Jurus ini, dapat membuka dimensi lain. Misal ingin membuka negeri Awan di dimensi Atas.
“Wouu, baru kemarin aku dapat jurus legenda, sekarang aku dapat lagi, tak kusangka keberuntunganku besar juga.”
Hemm… tapi walaupun aku mantan Legenda, tetap akan sulit mempelajari jurus ini saat ini, apalagi sebelumnya aku belum pernah menguasai jurus ini, Batin Jen yang kemudian menyimpan gulungan itu di ruang penyimpanannya.
Di samping gulungan itu, Jen menemukan suatu batu biru, ukurannya sebesar kepalan tangan, Jen segera mengambil batu itu, tapi…
“Ouuuccchhh”
Batu nya malah terjatuh dari pegangannya.
Batu itu walau hanya sebesar kepalan tangan tapi beratnya seakan ia mengangkat 100kg beban.
“Busseet nih batu berat banget ~”
Jen berusaha mengangkat kembali batu itu dengan sekuat tenaga.
“Mengapa setiap ada jurus legenda, selalu ada berat 100kg ?” Ucap nya heran.
Perjuangannya tak sia-sia, kini batu itu berada di kedua tangan nya dan saat berada di tangannya batu itu seperti mencair, terasa seperti aliran air yang tenang masuk melalui pori-pori kulitnya.
Tubuhnya seperti dengan otomatis menyerap aura di dalam batu itu. Perlahan batu tersebut melebur menjadi butiran debu, dan menguap. Beberapa detik kemudian Jen merasakan aura di tubuhnya berputar-putar, hingga akhirnya tenang kembali.
Selesai Jen menyerap batu itu, ia merasa kekuatan nya bertambah berkali-kali lipat.
Matanya masih terus melihat kedalam box itu, dan ada benda berbentuk bulat disana.
Jen mengamati benda itu, bulat lonjong berwarna merah.
Apa ini batu sihir yang lain nya juga kah?, batin Jen.
Kemudian ia mengambil benda itu tapi tak terjadi apapun.
Benda ini mirip telur, Ehh… jangan-jangan ini salah satu telur pendekar Hitam ? batin Jen.
Ia menyimpan batu itu keruang penyimpanan, untuk nanti di tunjukan nya kepada Anes dan Rin.
Matanya masih menyapu setiap sudut ruangan, siapa tau dia menemukan sesuatu yang bagus lagi.
Ada beberapa tanaman obat level sedang yang juga tumbuh di tembok-tembok ruangan dan aromanya harum, tanaman itu mirip lumut tetapi warna nya merah menyala dan ada juga hewan-hewan kecil yang mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, hewan-hewan itu disebut pengumpul aura.