INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)

INEZ (IMMORTAL NEVER OF ZENIT)
Episode 28: DI KEDIAMAN MEIMEI



Gooaarr..


Tiba-tiba terdengar auman seekor monster, Jen mencari sumber suara itu.


Lalu muncul monster serigala berkepala dua, hendak menerkam Jen dari belakang, monster itu bertaring besi, dan cakar-cakarnya seruncing ujung pedang hendak mencabik Jen.


Untung respon Jen cukup cepat, dia berhasil menghindar, tetapi lengan nya masih terkena cakar monster itu, dan segera darah segar mengalir. Rin berusaha membantu, namun ia masih berhadapan dengan beberapa pengawal level 10.


Klik, Jen melihat nameboard monster itu.


HEWAN PELIHARAAN: Serigala Taring


LEVEL :20


Kemampuan: Taring Besi Pencabik.


“Tak kusangka kau cukup cepat menghindari terkaman serigala ku ini.” Ucap pria itu sombong.


“Aku kira serigala darimana nyasar, ternyata peliharaan mu.” Ucap Jen sambil menahan aliran darah dari lengan kanan nya.


“HAHAHAA…tak pantas putri lemah seperti mu berlatih disini !!”


Ia memerintah monster itu untuk menyerang Jen lagi.


Segera monster itu melompat kearah Jen, memamerkan taring-taring besi nya.


 “NOBEL keluarlah !!” Teriak Jen memanggil peliharaannya.


Sekejap seekor Singa Putih bersayap Kristal muncul dan mengepakkan sayap nya.


Serigala itu terhempas hingga 100 meter. Tampak Ian kaget mengetahui Putri Jen yang dikiranya lemah itu, ternyata memiliki hewan peliharaan sekuat ini.


Setelah serigala itu terhempas, Nobel segera mengembangkan sayap nya, dan bagaikan hujan meteor, ia meluncurkan Kristal-kristal tajam yang kemudian menancap tepat di jantung binatang itu, dan mengalir deras darah menggenangi tanah dibawah nya.


Matilah serigala itu. Kemudian Jen dan Nobel menghampiri pria itu.


“Kau..Kau.. akan terima balasannya nanti !!”


Ian lari menjauh dari mereka.


“Nona, kamu terluka, sini saya sembuhkan.” Ucap Anes yang baru saja tiba dari kediaman Meimei.


Ia kuatir melihat lengan Jen yang penuh dengan darah.


Anes tampak mulai berkonsentrasi, tangannya menyentuh lengan Jen dengan perlahan, keluar seberkas sinar putih keemasan, dan mengalir menutupi luka nya.


Jen merasakan hawa sejuk dan hangat bergantian di sekitar luka nya, tak lama kemudian darah nya sudah berhenti mengalir, dan luka nya mulai menutup sedikit demi sedikit.


Lima menit kemudian, ia sudah tidak merasakan sakit lagi, dan luka nya sudah tertutup.


“Makasi Anes, kamu sangat membantu.”


Puji Jen.


“Nona maafkan saya, tidak bisa menjaga nona, hingga nona sampai terluka seperti ini.”


Rin mendekati Jen, ia cemas dari ekspresi wajahnya menunjukkan penyesalan karena masih tak cukup kuat untuk melindungi penyelamatnya itu.


“kalian sudah melakukan yang terbaik, ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke puncak bukit ini.”


“Anes bagaimana kondisi Meimei?”.


“Nona Meimei masih terbaring dan sangat lemah tadi.”


Mendengar jawaban nya, Jen semakin ingin segera menyelesaikan obat itu, dan memberikannya pada Meimei.


Merekapun melanjutkan pendakian, dan akhirnya tiba di puncak bukit Alpha.


Disana sangat sepi, dan Jen mencari tempat yang nyaman untuk mulai meracik obat.


Dikeluarkan nya beberapa bahan termasuk yang sangat langka, ia yakin tungku nya tak akan cukup kuat untuk membuat pil ini, jadi Jen menambahkan aura nya ke tungku itu, dan mulai berkonsentrasi.


Cukup sulit membuat obat ini, aura Jen hampir tak terkendali, tapi ia terus berusaha untuk tetap focus.


Dua jam kemudian mengepul asap dari dalam tungku, asap pekat putih yang sangat harum, satu Pil obat level tinggi akhirnya berhasil dibuatnya.


Setelah Jen selesai dengan pil obatnya, mereka segera melanjutkan perjalanan ke kediaman Meimei.


Hari sudah menjelang malam saat mereka melanjutkan perjalanan. Butuh 30 menit perjalanan dengan kereta kuda, hingga akhirnya mereka tiba ke kediaman Meimei.


Beberapa pengawal yang berjaga di depan gerbang melihat kedatangan Jen dan segera bersujud memberi hormat.


“Hormat pada yang Mulia Putri.” Ucap mereka serempak.


“Putri Jen tiba”, seorang penjaga memberi kabar ke dalam. Tak lama kemudian, keluar seorang pelayan dan mempersilahkan mereka masuk.


Meimei sedang terbaring lemah di tempat tidurnya, Jen mendekat dan duduk disebelah nya.


Ia melihat wajah Meimei pucat, dan kesulitan menarik nafas, tangan kanan nya memegang dada nya yang terasa sangat nyeri.


Dia sesak nafas, kalau di dunia ku mungkin dia di diagnose penyakit jantung.


“te..ri..ma.. ka..sihh Jen, su..dah.. da..tang..” Ucap Meimei pelan.


Jen tersenyum lembut, dan mengeluarkan sebuah pil dari ruang penyimpanannya.


Lalu menyuruh pelayan mengambilkan semangkuk  air.


Dengan perlahan Ia mendudukan Meimei, lalu menyuruh nya menelan pil itu dan memberinya minum, setelah selesai kembali ia membaringkan Meimei.


Tak lama setelah meminum pil itu, Meimei kembali tidur dengan lelap, wajahnya kelihatan kembali merona, dan ia juga telah bernafas seperti biasa.


Melihat Meimei sudah tenang dan terlelap, mereka pun bermaksud pulang, tetapi seorang pelayan segera mencegah mereka.


“Putri. Kata tuan kami, hari sudah malam. menginap lah disini, kami juga sudah menyiapkan paviliun untuk putri “.


Memang hari sudah malam, Batin Jen.


“Baiklah, kami akan menginap disini hingga besok.”


Jen menyetujui niat baik keluarga itu.


Paviliun nya tidak jauh dari paviliun Meimei, sepertinya memang sengaja dipilihkan yang terdekat.


Segera Jen merebahkan dirinya di kasur, dan tak membutuhkan waktu lama hingga ia tertidur dengan lelapnya.


Tak terasa pagi pun menjelang, masih dalam lelap nya tidur Jen, hingga terdengar suara langkah kaki mendekatinya.


Segera Jen membuka matanya, dan telah berdiri Meimei yang bersiap membangunkannya.


“Jeeeeennnn !!”


Sorak nya sambil langsung memeluk erat tubuh Jen dan melingkarkan tangannya ke leher Jen.


“UGGKKK ~ Mei..mei.. aku tak bisa bernafas.”


“Upps, sorry... aku terlalu senang jadi hilang kendali.”


Meimei melepaskan pelukannya.


“Syukurlah kamu sudah sehat.” Ucap Jen lega melihat Meimei yang penuh energy.


“Jen, aku berhutang nyawa pada mu, ntah aku bisa atau tidak membalasnya kelak.” Sambung Meimei serius.


Airmata nya mulai berlinang karena terharu.


"Hemm.. baiklah, kau harus sering-sering mengunjungi ku sebagai balasannya." Ucap Jen bercanda agar Meimei berhenti menangis.


Mendengar ucapan Jen, Meimei akhirnya kembali tersenyum.


“Nona, Tuan memanggil kalian berdua untuk sarapan bersama.”


Seorang pelayan menyampaikan pesan sambil menundukkan kepalanya.


“Baiklah kami segera kesana.”


Mereka berempat menuju paviliun utama bersama 4 orang pelayan.


Sesampai disana Tuan Sian bersama istrinya dan kedua anaknya yang lain sudah menunggu.


Beberapa pelayan menghampiri kami, dan menuntun kami ke meja yang telah disediakan.


“Putri Jen, kedatangan Putri ke kediaman kami adalah suatu kehormatan bagi keluarga ini, dan tak terhingga rasa syukur dan terimakasih kami pada putri yang telah menyelamatkan anak kami.” Ucap Tuan Sian dengan hormat.


“Saya senang Meimei sudah sehat, dia adalah sahabat berharga saya.” Balas Jen hormat.


Mereka malahap sarapan itu dengan penuh sukacita sambil bercerita banyak hal.


“Oiya, Paman apakah bisa menempah pedang dari bahan ini ?”


Tanya Jen sambil mengeluarkan pecahan kecil batu meteor Api yang mereka dapat beberapa waktu lalu.


Tuan Sian mengamati batu itu, ia takjub serta kaget.