
Hendery memandang bayinya dari jauh, yang tidur dengan pulas. Menangis haru, lelaki itu segera masuk ke dalam ruangan. Berjalan mendekat, Hendery berdiri di sampingnya. "Tampan," katanya.
Bayi laki-laki dengan mata sipit, rambut hitam tebal, bulu matanya lentik, lebih tampan dari sang papa. Hendery mengambilnya dari sana, menimang penuh kasih sayang putranya. Lalu, bayi itu membuka mata, terlihat manik jernih berwarna coklat hazel. Dia menggeliat sejenak membuat Hendery mengulas senyum. "Kamu Papa beri nama Jay, ya?"
"Mulai sekarang, kita akan hidup berdua."
Hendery menghembuskan napas panjang. "Karena Mama kamu sudah ... pergi untuk selamanya."
"Meninggalkan kita," kata Hendery. Air matanya kembali menetes.
Satu hari yang lalu, saat Chalodra kritis, dia sempat sadarkan diri tapi tidak lama. Dia membuka mata hanya untuk melihat bayinya. Ketika melihat istrinya bergerak sedikit, Hendery langsung menghampiri. "Cha?"
Mata Chalodra sayu, seperti orang sudah kehilangan semangat hidup. "Aku mau lihat bayi kita, Mas," ucap Chalodra.
"Tunggu sebentar, ya!" Hendery melenggang pergi, berusaha mengabulkan permintaan sang istri. Dia kembali bersama suster yang menggendong bayi. "Ini, Cha. Bayi kita sehat," ujar Hendery.
Chalodra melihatnya. "Tampan," katanya.
"Iya, Cha. Makanya kamu harus sembuh!"
Chalodra tidak menjawab, sorot matanya berubah ke arah lain. "Tidak bisa, Mas." Dia menggelengkan pelan kepalanya. "Mas kasih dia nama yang bagus, ya!" pintanya.
Hendery menggeleng pelan. "Kita kasih nama dia bersama, Cha." Namun, senyum yang Chalodra ukir terlihat menyakitkan bagi Hendery.
Ruangan itu hening, hanya suara tangisan bayi Chalodra. Hendery beralih dari Chalodra, tetapi ketika kembali menatap sang istri, dia sudah menutup mata. "Cha?" Hendery mendekati.
"Suster, istri saya!" pekik Hendery.
Suster itu menggeleng pelan melihat Hendery. "Saya panggilkan Dokter, Pak." Suster itu melenggang pergi dengan membawa sang bayi. Dia tahu, Hendery tidak akan percaya bila dirinya mengatakan bahwa istrinya sudah meninggal.
Hendery merengek, menggoyangkan lengan Chalodra. "Sayang, bangun!" Air matanya sudah tidak terbendung, jatuh dengan deras. "Cha, apa kamu lelah dengan semua ini?" tanya Hendery.
"Cha, ayo bangun! Setelah ini tidak ada lagi yang mengganggu kita."
"Cha, Mas mohon bangun!"
"Kita akan berlibur setelah bayi kita berusia satu tahun." Hendery menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Chalodra, menangis sendu di sana. "Cha," lirihnya.
Kepergian Chalodra memberikan bekas luka yang teramat pedih. Hendery merasa tidak menjadi suami baik selama ini. Menyesal akan semuanya, tetapi tak akan pernah bisa mengembalikan Chalodra.
5 tahun kemudian
Waktu terus berjalan, roda kehidupan berputar sesuai takdir. Kehilangan seseorang tidak menjadikan diri juga harus pergi. Lelaki tampan dengan setelan jas berjalan menuruni tangga, sembari mengenakan jam tangan. "Jay, sarapannya sudah selesai belum?" tanyanya, kepada anak laki-laki di meja makan.
Anak laki-laki yang dipanggil Jay pun menoleh, segera meneguk susu cokelat dari gelas itu. Lalu, dia turun dari kursi. "Bi Aya, Jay sudah selesai," ujarnya. Bi Aya pun mengangguk, kemudian mendekat dan memberikan tasnya. "Terima kasih."
Bi Aya mengulas senyum tipis. "Sekolah yang pintar, ya! Jangan nakal!" tutur Bi Aya.
Jay berlari pergi dengan kaki kecilnya. Menghampiri sang papa di ruang tengah. "Papa, Jay sudah selesai," ujar Jay.
Laki-laki itu menoleh, menunduk melihat sang putra. Dia Hendery, berjongkok menyamakan tingginya dengan Jay untuk merapikan dasi di baju. "Yang rapi, dong," ucap Hendery.
"Papa hari ini kerja, ya?" tanya Jay.
"Iya, hari ini ada pekerjaan di kantor. Tapi, Papa antar kamu sekolah dulu."
"Sekolahnya bagus tidak?"
"Bagus, kok. Kamu pasti senang belajar di sana." Ucapan Hendery membuat Jay melebarkan senyumnya. "Ayo, berangkat!" ajak Hendery, mengulurkan tangan untuk digandeng Jay,
Mereka berdua pun berjalan beriringan, dengan langkah riang Jay.
Ini adalah hari pertamanya di sekolah, Jay sempat menolak untuk pergi karena takut dengan orang baru. Namun, yang paling Jay takuti di dunia ini adalah darah, sebab pernah jatuh di kolam renang hingga mengeluarkan banyak darah. Dia begitu waspada di tempat baru karena mudah takut, berbeda dengan papanya.
Keberadaan Hendery tentu saja menarik perhatian orang banyak, terutama para wanita. Ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, memandang Hendery dengan sangat puas, bahkan beberapa mencoba menggoda. Namun, Jay juga anak pemberani, sehingga memarahi orang-orang itu.
"Siap, Pa!"
Hendery menyisir rambut sang putra ke belakang untuk merapikan. Lalu, dia menyuruh Jay agar masuk ke kelas, yang sudah diisi oleh guru.
Hendery pergi dari tempat itu, sedikit menaikkan emosinya dengan penghuni-penghuni di dalamnya. Dia mengendarai mobil, menuju kantornya karena sudah membuat janji dengan Taka.
Sungguh, kepergian Chalodra membawa dampak besar bagi laki-laki tersebut. Hendery kembali menjadi seorang yang cuek seperti dulu, berbeda saat bersama Chalodra. Dia lebih sering marah dan sulit mengontrol emosi, bahkan lebih banyak marah bila sedang sendirian.
Hendery menyeduh teh di ruangan pribadi, menunggu Taka datang menemuinya. Foto pernikahan masih terpajang di atas meja, membuatnya berfokus kepada benda itu. "Cha, kamu sudah bahagia di sana?" gumam Hendery. "Mas rindu."
Tak lama kemudian, Taka datang mengejutkan Hendery. "Sudah lama, Kak?" tanya Tak, dia duduk di sofa samping Hendery. "Hari ini Jay pergi sekolah, ya?"
"Lama sekali," jawab Hendery.
"Maaf, tadi meeting-nya ada sedikit masalah, tapi tidak apa-apa."
"Tanggal pernikahannya sudah benar, kan? Tidak dibatalkan lagi, kan?" celetuk Hendery karena pernikahan adiknya dan Casandra sempat tertunda.
Taka menarik sudut bibirnya. "Kali ini beneran, deh."
"Sekretaris kamu itu sudah benar-benar dipecat, ya?" tanya Hendery.
Taka mengangguk. "Kami hampir kehilangan kontrak karena masalahnya."
Sekretaris Taka, yang pernah menggoda Hendery, masih ingatkan? Dia mempunyai hubungan dengan suami klien Taka, hampir saja kehilangan kontrak besar. Kesalahannya bukan hanya itu, tetapi ia telah menimbun beberapa berkas dan tidak dikerjakan.
.....
Hendery menjemput sang putra pulang dari sekolah, dia menunggu di depan gerbang karena enggan untuk bertemu ibu-ibu nakal itu lagi. Untungnya, Jay keluar dari kelas lebih awal. "Pa, hari ini jadi mengunjungi Mama?" tanya Jay. Hendery lantas mengangguk cepat.
"Bagaimana sekolahnya? Sudah dapat teman?" tanya Hendery. Namun, Jay menggelengkan kepala membuatnya heran. "Kenapa?"
"Mereka nakal-nakal. Ramai di kelas saat Bu Guru mengajar." Jay memajukan bibirnya, terlihat tidak menyukai hal itu.
Hendery mengelus kepala sang putra. "Ya baiklah, Jay yang terbaik!"
"Ayo, kita mengunjungi makam Mama!"
Jay terlihat begitu senang ketika sampai, dia mengikuti papanya yang berjongkok di samping makam Chalodra. "Ini Mama?"
"Iya, Mama ada di dalamnya. Mama sedang lihat Jay, loh. Jadi, ayo bersikap sopan!"
"Mama! Ini Jay, ini pertama kali Jay datang, ya?"
"Aku mau ketemu Mama!"
Hendery tersentak kaget, hatinya mendadak rapuh mendengar celotehan lucu sang putra. Dia mengulas senyum tipis melihatnya. "Cha, kamu sudah dipanggil Mama, nih," kat Hendery.
"Mama, kapan kita bertemu?"
"Kalian sudah bertemu, saat Jay baru lahir."
"Lalu, kapan kami bisa bertemu lagi, Pa?"
Hendery menggelengkan pelan. "Masih lama sekali."
...TAMAT...
...🐰...
...Thank you for your support...
...I thanks for all...