I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
40. Milik Chalodra



...SELAMAT MEMBACA...


...Support-mu semangatku...


...Ayo dong komennya digas bestie...


Suara gemericik air mancur membuat suasana menjadi tenang. Burung-burung kecil memijakkan kakinya di rerumputan, juga ada yang hanya sekadar mampir melewati. Matahari pun tidak terlalu menyilaukan sinarnya, karena awan putih menutupinya.


Chalodra melangkah kecil sambil menggandeng lengan Hendery. Ada sebatang permen lollipop di tangan kanannya. Sembari berjalan, Chalodra tersenyum kecil pada anak kecil yang memandanginya. Memang, wajah menggemaskan Chalodra membuat siapapun ingin mencubit.


Hendery pun sama, seperti menemani anak kecil dan Chalodra terlihat seperti adiknya. Tubuh mungil istrinya itu benar-benar membuat orang salah menganggap Chalodra, sehingga para wanita yang melihat akan mengedipkan mata pada Hendery. "Cha, bisa tidak? Jangan senyum-senyum seperti itu," ujar Hendery.


Chalodra mendongak dan melebarkan matanya. "Kenapa? Kayak orang gila?"


Hendery mengangguk. "Mirip."


"Ih!" Chalodra memukul kecil lengan Hendery yang besar itu. "Cukup gembel saja, Mas! Tidak perlu tambah lagi!" tegur Chalodra.


Hendery menghembuskan napas panjang. Meski begitu, Hendery senang bila Chalodra bersikap seperti anak kecil. Walaupun terkadang, Hendery menyukai Chalodra yang sexy. "Mas Hendery," panggil Chalodra seraya menghentikan langkah.


Hendery menunduk, menatap Chalodra sambil mengangkat sebelah alisnya. "Istirahat dulu, ya?" kata Chalodra, "kepala aku pusing."


Dengan cepat, tetapi lembut, Hendery membawa Chalodra ke kursi kayu di sudut taman. Chalodra menghembuskan napas berat saat itu, semakin membuat Hendery khawatir. "Mas belikan minum dulu, ya?" ucap Hendery, Chalodra mengangguk.


Sembari menunggu, Chalodra memijat pelipisnya agar pusing yang menyerang tiba-tiba segera hilang. Namun, semakin Chalodra bergerak, tubuhnya terasa lemas. Padahal, dia sudah sarapan tadi pagi dan minum banyak air putih. "Perutku kok geli?" gumam Chalodra sambil mengelus perutnya.


Chalodra mengerutkan dahi memandangi perutnya, lalu Chalodra mengingat sesuatu. "Tambah buncit, deh," katanya. "Ah, gak mungkin. 'Kan sudah satu bulan tidak melakukannya."


Benar, Hendery yang sibuk dan keadaan menegangkan ini tidak bisa dilakukan untuk melakukan hubungan indah itu. Namun, keduanya juga sering bermesraan. "Lama sekali, sih!" Chalodra berdecak kesal, setengah jam Hendery pergi. Apa laki-laki itu tersesat?


Kaki panjang Hendery terlihat sedikit berlari, benar-benar gagah. Hendery duduk di samping Chalodra, lalu memberikan botol air mineral yang dibelinya. "Minumnya pelan saja, Cha!" tegur Hendery.


Begitu haus, Chalodra meneguk air itu sampai habis. "Lega," katanya.


"Masih pusing?" tanya Hendery, Chalodra mengangguk. "Mau pulang sekarang?"


"Sebentar, Mas, aku mau istirahat dulu," jawab Chalodra.


Tidak ada percakapan setelah itu, hanya suara daun dan ranting pohon yang bergesekan. Seorang anak laki-laki berusia lima tahun mendekati Chalodra, lalu berujar, "Selamat, Kak.".


Chalodra dan Hendery hanya mengerutkan dahi tidak paham. "Kenapa ya, Dek?" tanya Chalodra.


Belum bocah itu menjawab, seorang wanita tua berjalan mendekat, sepertinya Ibu dari anak itu. "Maaf jika putra saya berbicara tidak baik," katanya.


"Tidak, Bu. Tadi, Adik ini bilang selamat," kata Chalodra.


Bocah itu membisikkan sesuatu kepada Ibunya, lalu sang Ibu menarik bibirnya. "Kata anak saya, Kakak sedang hamil."


Chalodra tersentak kaget, bahkan Hendery menutup mulut dengan tangannya. "Kenapa bisa tahu?" tanya Chalodra.


"Putra saya mempunyai indra keenam."


Benar-benar terjadi, keduanya hanya diam membisu setelah pulang dari taman. Mendengar hal mengejutkan seperti itu, Hendery dan Chalodra tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan bocah, meskipun orang tuanya bilang dia anak indigo.


Hendery berbeda dengan Chalodra, perempuan yang mudah memikirkan sesuatu, Chalodra menyuruh Casandra membelikannya alat tes kehamilan. Dan hari ini, Chalodra akan mencobanya tanpa sepengetahuan suaminya.


Taka berjalan menuju dapur, tetapi dia merasa ada yang merambat di pantatnya. Taka berhenti, menggaruk pantatnya yang gatal.


Cekrek



...PICT TAKA BY CASANDRA...


Taka berbalik dengan cepat. Ternyata Casandra memfoto dirinya dengan pose seperti itu. Casandra tergelak tawa seraya memandangi foto itu. "Bikin story!"


Tidak melihat Taka, Casandra benar-benar akan memposting foto itu di media sosialnya. Dia sangat suka membuat kekasihnya kesal, sekalipun marahnya Taka menakutkan. Casandra tidak gentar untuk menjahili laki-laki itu.


Taka sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi, dia berkaca merapikan rambutnya. "Potong rambut, ah," katanya. "Apaan itu?"


Taka mendekati, memicingkan matanya. "Testpack?" Taka melebarkan matanya dan mengambil benda kecil itu. Lebih kagetnya lagi, benda itu mempunyai dua garis merah. "Bukannya, tadi Sandra yang ke kamar mandi?" Taka menutup mulutnya.


"CASANDRA!" Taka melangkahkan kaki lebar dengan napas yang menggebu-gebu.


Casandra yang sedang minum di meja makan tersentak kaget. "Apa?"


"Kamu lakuin sama siapa?!"


Casandra mengerutkan dahinya. "Apa?"


"Ini punya kamu 'kan?!" ucap Taka penuh penekanan, sambil menyodorkan benda itu kepada Casandra.


Casandra menyipitkan matanya. "Positif?!" Casandra bersorak senang, semakin membuat Taka mengepalkan kuat tangannya.


"Kamu lakuin sama siapa?!"


"JAWAB!" bentak Taka.


"Ada apa ini?" tanya Chalodra, datang bersama Hendery.


Hendery melipat kedua tangannya di depan dada. "Lihat! Dia positif hamil. Padahal aku gak pernah lakuin itu, Kak," kata Taka sedikit sesenggukan.


Chalodra membulatkan matanya, begitu juga dengan Hendery. "Positif?" gumam Chalodra, lalu dia merebut testpack dari Taka. "Ini punya aku." Namun, Chalodra mengatakannya dengan suara pelan.


"Punya aku, Mas," ucap Chalodra pada Hendery.


Hendery mengangkat kedua alisnya. "Apa, Cha?"


"Jangan bohong, Kak Cha!" tegur Taka. "Kamu lakuin sama siapa, San?!"


"Sama Sugar Daddy, kenapa?" balas Casandra. Dia berkacak pinggang, sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Taka mengepalkan kedua tangannya semakin kuat. Otot-otot kebiruan miliknya pun menonjol, rahang Taka mengeras, dia mengangkat kepalan tangannya hendak memukul Casandra. "Taka, ini punya aku," ujar Chalodra.


"Kak Chalodra jangan belain dia!" tegur Taka. Sedangkan Hendery, dia justru menikmati pertengkaran adiknya itu. "Aku kurang apa, San?!"


"Bilang! Aku kurang apa?"


"Kamu? Kurang minum air?" jawab Casandra semakin menggoda laki-laki di hadapannya itu. Memang, Casandra sama sekali tidak takut. Pasti nanti ujungnya Taka meminta maaf. Lihat saja!


"Jangan bercanda." Namun, suara Taka yang penuh penekanan membuat Casandra meneguk ludah susah payah. "Apa susah kamu jujur sama aku?"


"Ya kamu, aku jujur malah gak percaya." Casandra memutar bola matanya malas. Percayalah, gadis itu merinding sekarang.


"Taka, stop!" Casandra menengahi dua remaja itu, lalu menatap tajam keduanya dengan bergantian. "Ini beneran punya aku."


"Kamar mandi di atas lagi dipakai Mas Hendery. Jadi, aku ke kamar mandi bawah," jelas Chalodra.


"Serius?" tanya Taka memastikan, Chalodra mengangguk cepat. Lalu, laki-laki itu melihat Casandra yang membuang muka. "San." Tidak mendapat jawaban, Taka memanggilnya sekali lagi, "Casandra."


"Apa?! Malesin banget kamu. Udah, ah, aku mau ke Sugar Daddy aku." Casandra melengos, melenggang meninggalkan ketiga orang itu.


"Sayang!" teriak Taka menyusul Casandra.


"Cha," panggil Hendery.


Casandra menoleh. "Kamu serius 'kan?" tanya Hendery, suara beratnya terdengar sangat halus.


"Mau cek?" Hendery mengangguk-angguk dengan cepat.