
...SELAMAT MEMBACA...
"Cha, sudah semuanya?" ujar Hendery bertanya pada Chalodra, yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper.
Hendery melangkah masuk, setelah memandangi Chalodra dari pintu. Hendery mengukir senyum tipis, sembari mendekatkan tubuhnya dengan Chalodra. "Cha, Mas yang berat untuk melakukan ini," katanya.
Chalodra mendongak, menghentikan aktifitasnya. Lalu berdiri, menatap Hendery dengan tatapan yang amat mendalam. Chalodra menangkup kedua pipi Hendery. "Why?" tanya Chalodra.
Hendery menghembuskan napas berat. "Nanti kita tidak bisa melakukan kemesraan dengan bebas seperti ini."
Bibir Hendery berkerut, layaknya bayi yang merasa sedih. "Rasanya berat, Cha," ucapnya pelan.
"Aku juga. Mas sendiri yang awalnya maksa," jawab Chalodra.
"Ini demi kebaikan kamu, Cha. Mereka sudah tahu tempat tinggal kita."
Tangan Chalodra turun ke pundak Hendery, lalu menepuknya pelan. "Kita pulang ke rumah yang sebelumnya saja, bagaimana?"
Hendery menggeleng cepat. "Kita tinggal di rumah Tivani saja dulu. Setelah rencana Mas berhasil, kita kembali."
Alis Chalodra saling bertautan, pertanyaan melintas di benaknya. "Rencana?"
"Mas tidak bisa cerita." Hendery menarik kepala Chalodra ke dalam dada bidangnya. Mengelus rambut panjang Chalodra dengan lembut, sambil mengecupnya lama. "Mas masih belum bisa memastikan kamu aman, Cha."
"It's okay. Aku percaya dengan Mas," balas Chalodra dengan tulus. Kembali teringat dengan yang lalu, Chalodra menenggelamkan wajahnya di dada bidang Hendery. Dia mencoba melupakan, tugas awal suaminya.
Memastikan istrinya aman di kediaman Tivani, Hendery membuat janji temu dengan sang adik. Di sebuah taman yang jarang dikunjungi, Hendery mengedarkan pandangan sembari berbicara dengan Taka. Matahari sudah berada di tengah kepala, membuat si tampan Taka memakai kacamata.
"Apa pengelihatan tidak hitam, memakai kacamata seperti itu?" celetuk Hendery. Rasanya Taka sangat tidak pantas memakai benda itu.
"Ini untuk kesehatan mataku. Mengindari sinar matahari masuk ke dalam indra pengelihatan," jawab Taka dengan ketus.
"Tapi, kau membiarkan kekasihmu kepanasan di tepi jalan." Hendery mengangkat sebelah alisnya, menunjuk tempat di mana Casandra berjongkok.
"Biarkan saja."
"Di mana mobilmu?"
"Rusak dan aku membuangnya." Taka acuh, lalu mengulas senyum tipis. "Belikan lagi, ya?"
"Minggu lalu sudah kuberikan uang, bukan?"
"Itu untuk kebutuhan hidup. Untuk keinginan, aku meminta pada Kakak."
"Terserah. Kerjakan dulu tugas itu."
"Aku laksanakan hari ini juga." Taka berdiri dari duduknya, menghampiri Casandra yang berjongkok di tepi jalan. "Hei cebol!"
Refleks, Casandra menoleh. Ketika sadar akan panggilan itu, Casandra membulatkan matanya. "Jelek! Miskin! Gak punya mobil, mau putus?!" bentak Casandra.
"Sayang, aku bercanda. Lagian, kamu memang pendek." Taka panik, segera melepas kacamata hitamnya. "Mau cari baju diskon?"
Manik Casandra berbinar, lalu dengan cepat dia mengalungkan tangannya di leher Taka. "Aku tahu tempatnya. Sekarang?" Taka mengangguk cepat.
Keduanya melangkahkan kaki dengan riangnya, menyusuri trotoar. Casandra berjalan dengan menggandeng lengan Taka. Terlihat sangat saling menyayangi. Dari kejauhan, Hendery hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya itu.
Hari semakin menjelang malam. Beberapa penjaga sudah pulang untuk istirahat, hanya bersisa dua dan satu satpam rumah Tivani. Keduanya sedang bersantai menonton televisi di ruang tengah. Lampu yang redup menjadi penerangan ruangan luas ini.
Tivani tinggal sendiri di dalam rumahnya yang besar itu. Semua anak dari Carlon, memiliki tempat tinggal sendiri dan tentunya dari jerih payah tanpa meminta pada sang ayah. Andre sering datang untuk menginap, sekadar menemani Tivani bila merasa tidak nyaman. Andre sudah menjadi penjaga Tivani sejauh ini, layaknya menjadikan Tivani seperti ratu.
Bulan terlihat berbentuk seperti cabai, dengan cahaya minim. Bintang pun bersembunyi di balik awan gelap dan tebal itu. Hanya ada suara televisi yang menggema. Chalodra menguap untuk kesekian kalinya, rasanya bosan bila melihat drama percintaan.
"Kak, aku ke kamar, ya?" ucap Chalodra, Tivani menoleh dan mengangguk.
Chalodra berusaha berdiri dari duduknya, kakinya terasa berat hanya untuk melangkah. Matanya itu tidak sabar ingin menutup.
Chalodra menutup pintu dengan gusar. Kamarnya terletak di bawah tangga, yang merupakan kamar tamu. Rumah Tivani memang besar, tetapi minimalis. Hanya terdapat tiga kamar, yaitu kamar utama, kamar tamu, dan kamar tidak terurus.
Chalodra merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, lalu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Kebiasaan Chalodra, tidur di sebelah kanan dan menghadap kanan, kebetulan membelakangi jendela.
Rasa kantuk sudah tidak bisa Chalodra tahan, langsung saja dia terlelap dalam tidurnya. Namun, napas terasa susah untuk dihembuskan, dada sesak, dan aroma aneh Chalodra hirup. Untuk membuka mata saja, rasanya berat. Tiba-tiba, tubuh mati rasa dan Chalodra pingsan.
Seseorang mengangkat kain dari wajah Chalodra, dia tersenyum puas dengan ulahnya.
Seperti ada jutaan burung yang berputar, bebatuan besar seakan menghantam kepalanya. Chalodra memejamkan matanya semakin erat. "Aku di mana?" Suara Chalodra bergumam, hampir tidak terdengar.
Ruangan asing dengan cahaya lampu yang terang, hingga membuat pengelihatan Chalodra semakin buram. "Bukan di kamar," gumamnya. Chalodra duduk sambil memijat pelipisnya.
Desis beberapa kali keluar dari bibir tipis Chalodra, mata besarnya sayu. Detak jantungnya berdegup kencang, seakan ada hal yang menakutkan.
"Sudah bangun, Chalodra?" Suara berat dari samping kanan Chalodra, membuat gadis itu tersentak kaget. Lelaki itu berjalan mendekat, lalu mendudukkan tubuhnya di samping Chalodra. "Maaf, sudah membuat kamu pusing."
Seuntai senyum tipis menyeramkan yang Chalodra lihat. Rahang kokoh itu berada jelas di depan matanya. Lelaki tampan dengan wajah dekat dengannya, membuat Chalodra berpaling ke arah lain.
"Tenang, Cha! Aku menculik kamu, atas kemauan aku sendiri. Bukan perintah Carlon," kata lelaki itu dengan suara tajam. Maniknya mengintimidasi wajah cantik Chalodra. "Jujur, aku masih ada rasa sama kamu."
Chalodra tidak menggubrisnya, sama sekali. Ucapan itu terasa hambar. "Egry, maaf kalau aku ada salah sama kamu. Tolong, lepaskan aku!" Suara lirih Chalodra, membuat senyum miring terukir di wajah Egry, laki-laki itu.
"Kita tunggu pahlawan kamu datang ya, Cha." Dia beranjak, mengambil sebuah benda yang tergeletak di atas nakas, sebelah kiri ranjang. "Sebelum dia bawa kamu pergi, aku mau menunjukkan sesuatu sama kamu, Cha."
Egry kembali, mendekati Chalodra. Rasanya seperti ditemani seorang iblis yang haus akan penderitaan. Kenapa pria baik itu, berubah menjadi monster?
Egry memainkan ponselnya, lalu menyodorkan layarnya pada Chalodra. Awalnya, Chalodra memalingkan wajahnya, tetapi setelah Egry memanggil dan menyuruhnya melihat, Chalodra pasrah.
Jantung yang awalnya berdetak cepat, kini seakan berhenti. Pupil mata Chalodra membesar. Layar terang dari ponsel Egry, telah membuat hatinya retak.
Sebuah foto, seorang pria tinggi memiliki wajah mirip Hendery, tengah menggendong gadis kecil, ditemani wanita yang menggandeng lengannya. Keluarga harmonis, layaknya rumah tangga lainnya.
"Mas Hendery?" lirih Chalodra. Tanpa sadar, cairan bening membasahi pelupuk matanya. Tidak kuat membendung, air mata Chalodra menetes.
"Cha, jangan nangis! Hey," ucap Egry menepis air mata Chalodra dengan ibu jarinya.
Chalodra dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak, hingga napasnya sesenggukan. "Itu editan," celetuk Chalodra.
Egry tersenyum getir. "Ck, ini real!"
Wajah Egry terlihat serius, saat Chalodra menatapnya memang tidak terlihat kebohongan di titik mana pun. "Bohong!" bentak Chalodra, dengan suara serak.
"Nangis sepuas kamu, Cha. Aku menculik kamu hanya ingin kamu memperlihatkan ini."
"Sebenarnya, aku rindu. Tapi, aku bukan orang jahat yang memaksakan kehendak," sambung Egry.
Lelaki itu berdiri tegak. "Panggil pelayan di depan pintu itu, kalau kamu butuh sesuatu," ujar Egry, lalu melenggang pergi. Bayangan laki-laki itu hilang di balik pintu.
Saat itu juga, tangisan Chalodra pecah dan dirinya menyadari akan suatu hal. "Ini di rumah?!" pekik Chalodra.
LIKE! GAK ADA LIKE, GAK ADA NEXT PART.