I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
60. Nona Chalodra



...SELAMAT MEMBACA!...


"Cha, lain kali saja tidak bisa? Mas. Tidak bisa temani kamu, loh." Hendery menahan tangan sang istri yang sudah siap dengan pakaian rapi.


"Mas, aku pengen jalan-jalan. Pergi sendiri tidak masalah, kok," ucap Chalodra.


"Aku suruh Bi Aya temani kamu, ya?"


"Bi Aya hari ini libur, kan?"


Hendery menghela napas kasar, memasang wajah melas untuk membatalkan rencana Chalodra. "Mas, aku bisa pergi sendiri, kok. Ada barang yang aku pengen dari dulu, sekarang sedang diskon," ujar Chalodra.


Hendery mengangguk singkat, akhirnya pasrah terhadap sikap istrinya yang pemaksa. Dia mengelus lembut pucuk kepala Chalodra dan mengecupnya singkat. "Ayo, Mas antar! Kalau sudah pulang kamu bisa hubungi Mas." Chalodra dengan semangat menarik tangan Hendery pergi.


Hendery tidak bisa menemani Chalodra berbelanja, dia sudah membuat janji dan tak bisa dibatalkan karena masalah begitu urgent. Sebenarnya Hendery masih takut bila harus membiarkan istrinya berada di luar sendiri.


Chalodra akhirnya mendapatkan barang impiannya. Sebuah gaun elegan yang nyaris langka. Beruntung, toko mengadakan diskon meski tidak terlalu besar. Dia mampir untuk membeli buku, mencari novel untuk dibacanya di waktu senggang.


Chalodra melebihi tujuannya. Dia tidak hanya membeli gaun elegan impiannya, melainkan ada sebuah rok untuk Bi Aya dan kaos yang akan diberikannya kepada sang suami.


Pergi berbelanja sendiri ternyata tidak terlalu menyenangkan. Tiada yang bisa diajak bicara oleh Chalodra, dia hanya akan mengobrol dengan kasir toko. Perempuan itu duduk di kursi tersedia, sembari meminum sebotol es cappucino. "Ah, sudah lama tidak belanja seperti ini," ucap Chalodra.


"Teman-teman aku apa kabar, ya? Aku tidak punya kontak mereka semua." Chalodra menghela napas panjang, segera menghabiskan minumannya untuk pergi.


Di tempat lain, jauh dari keberadaan Chalodra. Hendery bersandar di mobilnya, terdapat seorang pria tampan di depannya. Orang kepercayaan Hendery tersebut membuka kacamata hitamnya. "Saya sudah mencari tahu sendiri, Egry tinggal di kota ini," ucapnya.


"Sumbernya dari mana?" tanya Hendery.


"Media sosialnya masih aktif. Saya mencoba kemampuan saya untuk melacak, satu kota tapi tepatnya masih belum saya temukan."


Hendery mengangguk singkat. "Cari tahu tempat tinggalnya. Setelah ketemu, segera beri tahu saya!" Ponsel Hendery berdering, segera dia menerima panggilan dari istrinya tersebut.


Hendery melangkah beberapa dari mobil, membiarkan anak buahnya menunggu. "Sudah mau pulang?"


"Mas jemput sekarang. Tapi, kamu tunggu di dalam saja!"


"Kenapa seperti itu?"


"Tunggu di dalam saja pokoknya!"


"Aku tunggu di warung depan mal saja." Chalodra sudah mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Atau tidak Mas jemput?"


"Iya, iya!" Setelah itu Chalodra memutuskan panggilan. Dia berdecak kesal dan kembali duduk di kursi, yang terdapat di lantai dasar.


Hendery kembali pada pria itu, menepuk pundaknya dan menatap serius. "Setelah itu, awasi rumahnya!" pinta Hendery. "Saya serahkan semuanya sama kamu."


Pria itu mengangguk. "Pak, saya ingin mengatakan sesuatu."


Hendery mengangguk, mempersilahkan. "Maaf sebelumnya, tolong batasi istri Anda untuk bermain media sosial. Saya mengambil akun Bu Chalodra dan mendapatkan Egry suka membuka profil istri Anda."


"Benar seperti itu?"


"Maaf sudah berani untuk itu."


"Baik, Pak. Saya jamin tidak akan terbongkar."


Hendery menepuk pundak Roi. "Lalukan dengan baik!" Roi mengangguk kuat. Lalu, Hendery masuk ke dalam mobilnya.


Hendery melajukan mobilnya dengan sangat cepat, membelah jalan aspal. "Jarak ke mal, kan, lumayan jauh. Pasti Chalodra marahi aku nanti," ucap Hendery.


Semenjak kehamilan sang istri, Hendery tidak berhenti takut kepadanya. Chalodra yang mudah marah bisa-bisa menghabisinya kau sudah sangat kesal. Lihatlah! Hendery kasar dan tak punya hati telah berubah menjadi seorang pria takut istri.


Chalodra berdecak kesal, waktu berjalan dengan cepat, tetapi Hendery belum juga sampai. Padahal ada AC di sisi ruangan, tetapi dirinya merasa panas. Chalodra berdiri dari duduknya, melangkahkan kaki ke luar mal.


"Lama sekali, sih!" gerutu Chalodra, menghentakkan kaki ke tanah. Menghela napas berulang kali seperti orang putus asa, bahkan beberapa orang yang lalu mengarahkan pandangan kepadanya.


Sialnya, hak tinggi yang dikenakannya patah hingga Chalodra terjatuh. Dia meringis pelan, untung saja di depan mal tidak terlalu ramai, jadi Chalodra tak perlu menanggung banyak malu.


Barang belanjaannya jatuh ke tanah. Chalodra menepis kotoran yang menempel di telapak tangannya. "Gara-gara Mas Hendery!"


"Nona tidak apa-apa?" Seorang pria berjongkok di depan Chalodra. Mengenakan pakaian tertutup berwarna hitam. Wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh topi hitam. "Mari, saya bantu," ujarnya.


Dia menjabat tangan Chalodra untuk membantunya berdiri. Lalu, pria tersebut mengumpulkan paper bag yang jatuh dan memberikannya kepada Chalodra. "Apa terluka?" tanyanya.


"Tidak. Terima kasih." Chalodra mengangkat pandangannya, menangkap wajah pria yang menolongnya. "Egry?"


Jantung Chalodra seakan berhenti, tubuhnya mendadak gemetar.


"Iya, kenapa?" Egry membuka topi hitamnya. "Kamu takut sama aku?" Dia mengulas senyum tipis.


"A--Aku ...." Netra Chalodra teralih pada mobil yang berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri. "Mas Hendery?" gumam Chalodra.


Egry sontak memakai kembali topinya. "Sampai bertemu lagi," katanya, kemudian melenggang pergi meninggalkan Chalodra yang mematung.


"Cha! Mas suruh kamu tunggu di dalam, kenapa di luar?!"


"Ayo, kita pulang!" Chalodra menarik tangan Hendery untuk pergi.


Hendery sudah membacanya, ini adalah tanda-tanda istrinya akan marah. Dia menegang saat di dalam mobil karena Chalodra diam membisu. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Hendery.


Chalodra menggelengkan kepala. Lalu, kembali memandang ke arah luar melalui jendela mobil. Terus terputar ucapan Egry sebelum meninggalkan tempat itu tadi. 'Sampai bertemu lagi' entah mengapa terdengar bukan hanya sekadar kata di telinga Chalodra.


Chalodra sempat membeli pakaian untuk sang ibu, dia mengajak Hendery mampir ke rumah Ratu. Sang ibu rupanya sedang bersantai sendirian di rumah.


"Mas tinggal di luar ya, Cha. Kamu bicara-bicara saja dulu," ujar Hendery. Chalodra mengangguk membuat Hendery melangkah pergi.


"Kalian dari mana?" tanya Ratu.


Mereka duduk di sofa ruang tamu. Beberapa tempat telah direnovasi karena kejadian kebakaran yang lalu. Terlebih setelah Silvia menikah, banyak perubahan di dalam rumah ini.


"Aku abis belanja," jawab Chalodra. "Aku tadi beli baju buat Ibu, makanya mampir."


"Baju?" Chalodra mengangguk cepat, kemudian menyodorkan paper bag kepada wanita di depannya.


Ratu melihat isinya. Sebuah baju berwarna kulit dengan hiasan mutiara di sekelilingnya. "Bagus banget!" pekik Ratu. "Pilihan kamu memang tidak pernah gagal, Cha."