
...SELAMAT MEMBACA! ...
...Banyak adegan kekerasan di bab ini! ...
Chalodra terbaring lemah di atas brankar yang didorong menuju ruang persalinan. Hendery hendak masuk, tetapi dihentikan oleh para perawat itu. Lalu, Hendery memutuskan berdiri di depan pintu selama mereka memeriksa keadaan sang istri.
Lama sekali, dokter itu tak kunjung keluar. Hendery mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu, menutup wajahnya yang hancur karena air mata. "Cha," lirih Hendery.
Di tempat lain, dua pria saling menatap tajam. Pras berada di atas tubuh Egry, mencengkram kuat kera baju laki-laki itu. "Aku masih ingat dengan yang kau lakukan dulu," ujar Pras penuh penekanan.
Egry tersenyum miring, berdecih pelan. "Lalu, sekarang kamu ingin balas dendam?" Wajahnya dipenuhi luka hingga darah menetes, tetapi dia masih menantang Pras yang jelas akan menang darinya.
Kondisi Egry sangat hancur. Baju putih yang dikenakan dipenuhi bercak darah dari wajahnya karana pukulan Pras. Tidak kuasa menahan esmosi, Pras kembali mendaratkan tinjuan, lantas membuat Egry meringis pelan.
"Lakukan sesukamu, rencana yang sudah matang, kini telah kacau," seru Egry.
Pundak Pras naik turun karena emosi yang meluap. "Sialan!" umpat Pras.
Plak
Plak
Tamparan keras hingga Egry menyunggingkan bibirnya. Mata Egry memerah, tetapi dia tidak kenal takut.
"Istriku yang tidak berdosa kamu bunuh dengan kejam seperti itu. Kamu pikir aku tidak tahu, kalau yang memotong kabel rem itu kamu? Sampai istriku kecelakaan tragis seperti itu."
"Semua itu gara-gara kamu!" sentak Egry. "Kamu merebutnya dariku."
"Aku tidak pernah merebutnya! KAMU YANG MENYAKITINYA!"
"SIALAN!"
"Aku habisi kamu hari ini juga," ucap Pras penuh penekanan.
Di dalam kamar itu, Pras berkuasa dan Egry kalah telak. Hanya ada suara pukulan Pras yang keras, bahkan dia sempat membenturkan kepala Egry di lantai hingga mengeluarkan banyak darah.
........ ...
Pintu terbuka membuat Hendery bangkit dari kursi, menatap dokter dengan wajah serius. "Bagaimana, Dokter?" tanya Hendery.
"Posisi bayinya sungsang." Manik Hendery membulat kala itu. "Istri Anda mengalami pendarahan, jadi harus segera dioperasi," imbuh dokter. Lantas membuat Hendery meneteskan air mata tanpa sadar.
Chalodra dilarikan ke ruang operasi, keadaan janin yang lemah membuat sang ibu pun tidak sadarkan diri. Beberapa orang di rumah sakit menyaksikan kepanikan itu. Hendery pasrah dengan keadaan, hanya menangis di luar ruangan sembari mengharapkan keduanya selamat.
Dokter keluar dari ruang operasi, memasang wajah penuh keraguan. "Mau diselamatkan janinnya atau ibunya?"
Hendery tidak bisa menjawab, hatinya seakan rapuh. Napanya tersengal karena sesak di dada. Hendery menggeleng pelan, kemudian meluruh ke lantai tanpa memberi jawaban.
Bayu datang dengan seragamnya, menepuk pundak Hendery untuk memberi semangat. "Jangan seperti ini!" tutur Bayu. Lalu, dia membawa Hendery agar duduk di kursi. "Dokter Puti pasti bisa menyelamatkan keduanya."
Hendery tidak memberi jawaban, hanya menangis sendu meratapi nasibnya.
Dokter bersama para pembatunya menangani Chalodra dengan cepat. Memutuskan akan menyelamatkan sang ibu. Kondisi ruangan tersebut tegang, saling membantu demi keselamatan pasien.
Sunyi, tetapi ramai di kepala Hendery. Penuh akan rasa takut, Hendery mengigit bibir bawahnya. "Cha," ucap Hendery, sudah ke sekian kali menyebut nama Chalodra.
........ ...
Pras bangkit dari tempatnya, beranjak mendekati nakas di dekat ranjang. Sesuatu menarik perhatiannya. Pistol yang tergeletak, segera ditodong kepada Egry hingga lelaki itu mematung.
Egry menelan saliva, tidak bisa bergerak karena kondisi dirinya yang benar-benar hancur. Dia hanya mengangkat kedua tangannya dan menarik kedua sudut bibir. "Kamu berbahaya sekali, Pras," ujar Egry.
Egry lagi-lagi tersenyum, padahal dia berada di ujung kematian. "Boleh."
"Tapi, di sana aku akan mendapatkan istrimu dan Chalodra sekaligus," kata Egry.
"Tentu tidak," sahut Pras. "Kamu akan berada di neraka, Egry."
Dor
Pras melepaskan peluru dari dalam pistol itu, terkena tepat di dada Egry hingga lelaki tersebut menutup mata tanpa sepatah kata lagi. Darah segar keluar dari tubuh Egry.
Pras menjatuhkan benda berbahaya itu dari tangannya, menatap Egry yang sudah tidak bernyawa dengan perasaan senang sekaligus sedih. "Pistol itu membunuh pemiliknya," kata Pras.
Tubuh Pras meluruh, sudah tidak tahan menegakkannya lagi. "Sayang, aku sudah membalaskan dendamnya kepada pembunuh kamu," ujar Pras, kedua sudut bibirnya tertarik menciptakan senyum kepuasan.
Tanpa tangisan, bayi Chalodra berhasil dikeluarkan dari perut si ibu. Perawat segera membawa bayi ke ruangan khusus. Akan tetapi, kondisi Chalodra semakin parah dan kritis.
Dokter itu menghela napas panjang, sedikit lega akan hasil dari usahanya. Dia berjalan keluar untuk menemui Hendery. Dua laki-laki itu lantas berdiri saat mendapati pintu dibuka. Dokter melepas maskernya dan mengulas senyum tipis. "Bayi Anda lahir dengan selamat," ujar dokter.
Hendery menghembuskan napas panjang, sesak di dadanya sedikit menghilang. "Lalu, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Hendery.
"Akan tetapi, kondisi ibu dari bayi saat ini kritis." Ekspresi wajah Hendery berubah dengan cepat, tidak sepenuhnya senang. "Kami akan memindahkan ke rumah ICU selama menunggu istri Anda sadarkan diri," jelas dokter.
Hendery hanya mengangguk pelan, kemudian Bayu menepuk pundak Hendery untuk menenangkan.
Brankar itu berjalan didorong oleh beberapa suster, dibawa keluar dari ruang operasi. "Cha," panggil Hendery pelan, melihat wajah pucat sang istri yang terbaring lemah di sana.
Hendery tidak kuat menahan tangisnya, pada akhirnya pecah dan membuatnya mundur, kemudian duduk di kursi itu. "Kamu sudah berusaha ya, Cha?" Sedangkan Bayu, dia menatap kepergian Chalodra dengan rasa iba.
Menangis sesenggukan di sana, tidak beralih dari tempatnya. Hendery menutup wajah dengan kedua telapak tangan, napasnya memburu. "Cha, terima kasih," ucap Hendery.
Hanya bisa melihat melalui kaca yang membatasi ruang ICU. Hendery menyentuh kaca itu dengan telapaknya, menatap sang istri di dalam sana tengah diperiksa oleh dokter, juga Bayu ikut serta. Air mata Hendery menetes tanpa terasa, bahkan matanya merah seperti tidak sehat.
"Cha, kamu harus bangun dan lihat anak kita bersama-sama!" Suara Hendery begitu lirih, bahkan tidak seorang pun bisa mendengar. "Kamu harus bangun!" kata Hendery.
"Hendery!" Suara seseorang itu tidak digubris oleh Hendery, lelaki tersebut melihat wajah kacau Hendery hingga ikut sedih. "Baca keadaan Chalodra?" tanya Pras.
"Kamu bisa lihat sendiri," jawab Hendery, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Pras ikut mengintip di sebelah Hendery, melihat Chalodra tengah dipasangkan beberapa alat medis. "Lalu, bayi kamu?" tanya Pras lagi.
"Selamat."
Hendery teringat sesuatu, segera dia menoleh dan menatap tajam Pras. "Egry bagaimana?!"
Pras sontak terkejut. Menghela napas berat dan menatap Hendery. "Dendam milikku sudah terbalas, aku menghabisinya," ungkap Pras.
Hendery membulatkan mata. "Benarkah?" Pras mengangguk singkat. Hendery seakan menunjukkan ketidak percayaan dengan ekspresi wajahnya.
"Aku menyuruh seorang teman untuk mengurusnya. Pasti bersih, kok," ujar Pras.
Hendery semakin pusing dengan ucapan lelaki di depannya itu. Tidak disangka, Pras tidak sebaik yang dilihat selama ini. Menyeramkan, seperti diam-diam menghanyutkan.
...GIMANA?! ...
...Bab ini menguras tenaga aku banget 😖...
...Bener-bener harus berpikir ekstrem...