
Bahagia. Chalodra tidak berhenti tersenyum lebar sejak tadi. Dia memainkan alat dapur dengan wajah berseri-seri. Chalodra memasak menu spesial, sebagai pembukaan 'bebas bertindak apapun'.
Sepiring ayam sudah selesai digoreng, Chalodra mengambil wortel untuk membuat sup, sebagai lauk pendamping. Nasi sudah matang beberapa menit lalu. Chalodra membawa makanan itu ke meja satu per satu. Lalu dia menyiapkan piring untuk dirinya dan Hendery.
Kata Hendery, asisten rumah tangga akan datang hanya untuk membersihkan rumah. Memasak, akan menjadi pekerjaan Chalodra.
Chalodra berjalan riang menuju kamar. Saat membuka pintu, Hendery sedang mengaitkan dasi di kemejanya. Chalodra berjalan mendekat, membantu suaminya itu. "Mas, sarapan dulu, yuk! Sudah matang," ucap Chalodra.
Hendery tersenyum tipis sambil mengangguk, lalu mengenggam tangan Chalodra selama perjalanan menuju meja makan.
Benar-benar rumah ternyaman dari bangunan yang Chalodra tempati selama ini. Udara sejuk, suara deru angin, dan sinar matahari memasuki celah fentilasi. Chalodra mengambil nasi untuk Hendery.
Melihat Hendery tersenyum setelah memasukkan makanan, Chalodra melebarkan maniknya. "Enak, Mas?" tanya Chalodra. Hendery mengangguk.
Dua pasangan serasi itu melahap sarapan dengan semangat. Chalodra memandang wajah Hendery dari samping sesekali, tidak bisa dilewatkan.
"Mas pergi bekerja?" tanya Chalodra sambil membawa piring kotor ke tempat cuci piring.
Hendery menggeleng. "Mas kerjakan berkas di rumah," jawab Hendery. "Mas bantu, ya?"
Chalodra menolak, menjauhkan tangan Hendery dari tumpukan piring. "Biar aku sendiri, Mas."
"Oke. Kalau begitu, Mas ke atas sebentar, ya?" Chalodra mengangguk, lalu Hendery melenggang pergi.
Bukan hal yang sulit bagi Chalodra untuk mencuci piring. Hal itu telah menjadi kebiasaan saat masih tinggal di rumah Ratu, tempatnya tinggal dulu.
Pembunuh Sufia masih belum tertangkap, meski Egry menjadi tersangka. Setelah Ratu pulang dari rumah sakit, Hendery langsung mengajak Chalodra pindah. Kini, Ratu sudah tidak bisa bekerja seperti sedia kala, itu membuat Chalodra bahagia.
Setelah belasan menit mencuci piring dan membersihkan meja makan, Chalodra berniat untuk menonton televisi di ruang tengah. Ada sofa besar di sana, Chalodra mendudukkan pantatnya.
Remote di atas meja kecil itu diraih Chalodra, lalu menekan tombol untuk menghidupkan televisi. Tidak lama, layar hitam itu menyala. Pas sekali, siaran kartun tengah berlangsung, membuat Chalodra tersenyum bahagia.
15 menit lamanya, layar televisi tiba-tiba mati. Padahal Chalodra tidak melakukan apapun. "Kok mati?"
Chalodra mencoba menghidupkan kembali, tetapi tidak menyala. Chalodra berdecak kesal, lalu melempar remote ke sampingnya. Chalodra menyandarkan kepalanya di pinggiran sofa, tiba-tiba televisi menyala.
Manik Chalodra melebar. Dengan susah payah dia menelan ludah. Napas Chalodra tercekat. "Hantu?" gumam Chalodra. Ngeri.
Bulu kuduk Chalodra berdiri, dia menegakkan tubuhnya menatap layar televisi. Chalodra mengigit bibir bawahnya. Menakutkan.
"Mas Hendery!" teriak Chalodra memanggil, berharap laki-laki itu segera turun.
Tidak mendapatkan jawaban, Chalodra berjalan cepat menaiki tangga. Saat itu juga, layar televisi kembali gelap.
Chalodra berlari memasuki kamar, dia langsung memeluk tubuh Hendery yang duduk di sofa. Melihat wajah Chalodra ketakutan, Hendery mengerutkan dahi. Belum bertanya, Chalodra langsung mengadu. "Mas, di televisi ada hantu!"
Hendery mengangkat sebelah alisnya. "Tadi, aku lihat televisi, tiba-tiba mati. Waktu aku nyalakan kembali, tidak bisa. Tapi, tiba-tiba hidup sendiri. Televisinya ada hantunya, Mas!" Suara Chalodra bergetar, yang artinya istrinya bersungguh-sungguh.
Hendery pikir, Chalodra menonton film hantu dan hantu itu muncul. "Masa?" Chalodra mengangguk cepat.
"Mas lihat sendiri!" Chalodra menarik pergelangan tangan Hendery, mengajak suaminya melihat kejadian ganjal itu.
Televisi mati, itu yang dilihat Hendery. "Mas, tadi mati. Beneran!"
"Televisi di ruang tengah, apa baru?"
"Oh. Oke." Hendery menutup panggilan itu.
Hendery mengukir senyum tipis, lalu kedua tangannya memegang pundak Chalodra. "Televisinya rusak, belum diganti sama Taka," ucap Hendery.
Chalodra menghembuskan napas panjang. Mata besarnya dia pejamkan sesaat. "Aku takut," kata Chalodra seraya memeluk tubuh Hendery dengan erat.
Hendery mengelus rambut Chalodra dengan lembut. Sentuhan tangan besarnya terasa hangat oleh Chalodra. "Mas," panggil Chalodra, dia mendongakkan kepala. "Besok, aku buat kue, boleh?"
"Boleh," jawab Hendery. Chalodra tersenyum lebar dan mengeratkan pelukannya. "Ayo!" Hendery melepaskan pelukan itu, lalu menggenggam tangan Chalodra.
"Ke mana?"
"Belanja keperluan membuat kue?"
Manik Chalodra membesar, dia bersorak riang.
.....
Benda-benda itu tersusun rapi di atas rak. Tidak hanya satu, tetapi terdiri dari ratusan. Chalodra mengambil tepung, lalu memasukannya ke troli yang dibawa Hendery. "Apa lagi?" tanya Chalodra sambil melihat belanjaannya.
"Telur?" sahut Hendery.
"Iya!"
Berkeliling, berbelanja, dan membuat orang yang melihat merasa iri. Beberapa pengunjung lain menatap Chalodra berjalan bersama Hendery dengan tatapan aneh. Banyak dari mereka saling berbisik tentang ketampanan Chalodra.
Tampan sekali laki-laki itu. Aku akan mengambil foto
Saat itu juga, Chalodra menutupi wajah Hendery dengan jaket yang dibawanya. Melihat Chalodra cemburu, Hendery malah menjahilinya dengan melambaikan tangan pada gadis-gadis itu.
Untuk mengembalikan mood Chalodra, dan membujuk istrinya agar tidak marah, Hendery menaikkan tubuh kecil Chalodra ke troli. "Pengangan, Cha!" pinta Hendery.
Chalodra tersenyum lebar kala merasakan keseruan berada di dalam troli. Menyenangkan.
"Warna pink atau biru?" tanya Chalodra menyodorkan dua pewarna pada Hendery.
"Dua-duanya saja, Cha!"
"Oke."
Hendery kembali mendorong troli berisi Chalodra dan bahan pembuatan kue. Banyak orang melihat mereka, menertawai, dan menyapa. Namun, Hendery melemparkan tatapan tajam membuat mereka beralih dengan yang lain.
Cekrek
Seseorang mengambil foto sepasang suami-istri itu diam-diam. Pria itu tersenyum kecut, mengirim pada orang lain.
[Ikuti mereka dan cari tahu kediaman baru Hendery!]