
Egry yang ingin menolong, sekarang malah ikut dijerat dengan besi itu. Keduanya tidak bisa bergerak, bahkan bernapas saja tidak kuat, karena ruangan yang lembab.
"Saya sudah bilang kepada seseorang, jika dalam satu jam saya tidak kembali, maka dia akan datang menolong," ujar Egry.
"Siapa?" tanya Carlon. Setahunya, tidak ada lagi yang berpihak kepadanya, hanya Egry dan anak buahnya.
"Seseorang dari keluarga Anggara."
Carlon menautkan kedua aslinya, dia mencoba berpikir dengan keras. Namun, Calron tidak mengingat orang lain.
Satu jam itu berlalu dengan cepat. "Sebentar lagi," ujar Egry setelah melihat jam tangan di tangannya.
Ini malam hari, tentu saja seluruh anak buah Hendery tengah tidur, di luar bangunan. Di tempat yang sama, atap seng itu bergerak perlahan. Egry dan Carlon mendongak. Egry menarik sudut bibirnya, sedangkan Carlon menebak orang itu.
"Saya datang," kata pria itu. Dia melompat turun dan bergerak cepat membuka besi yang menjerat tubuh mereka, dengan sebuah alat mirip gunting besar.
Berhasil, seseorang menarik mereka dari atas, satu per satu. Keempatnya melompat turun dan berlari cepat menuju hutan. Namun, salah satu penjaga membuka mata kalau mendengar suara langkah kaki. "Bangun! Carlon dan Egry kabur!" teriaknya lantang. Sontak semuanya terbangun dan berlari menaiki mobil untuk mengejar.
Di dalam kegelapan hutan, tengah malam ini, enam pria mengejar satu mobil hitam yang melaju. Pohon menjulang menjadi rintangan mereka. "Tahanan telah kabur, Pak. Mereka diselamatkan putra dari Anggara," katanya di dalam telpon.
Di sana, Hendery naik pitam. Tangannya mencengkram kuat handphonenya, Hendery melirik ke arah Chalodra yang terlelap di atas kasur. Sialan," umpat Hendery.
Hendery melangkah perlahan ke arah almari dan mengambil senjata dari dalam jasnya. Lalu dia mendekati Chalodra untuk mengusap lembut kening istrinya. "Cha, maaf," gumam Hendery, kemudian melenggang pergi.
Kaki panjang Hendery berjalan cepat menuruni tangga, dia menggedor pintu kamar Taka dan masuk begitu saja. Taka terbangun dengan sayup matanya. "Taka, Carlon dan Egry kabur, Kakak akan mengejarnya. Kamu harus jaga Kakak ipar kamu!" pinta Hendery.
Taka yang masih setengah sadar hanya mengangguk, membuat Hendery segera pergi. Setelah sepenuhnya sadar, Taka tersentak kaget. "Apa?!"
.....
Chalodra berkedip, pukul tiga pagi dia terbangun. Perutnya terasa melilit, ada rasa sakit yang menjalar. Pandangan Chalodra kunang-kunang. Diam mencoba memanggil, seseorang tidak ada di dekatnya. "Mas Hendery!" teriak Chalodra.
Chalodra mencengkram kuat perutnya. Dia meringis kesakitan. Taka yang berada di ruangan sebelah kamar Chalodra, mendengar dan bergegas pergi. Taka membuka pintu, maniknya membesar melihat keadaan Chalodra.
Kasur pada bagian Chalodra dipenuhi darah. "Kak, Kakak kenapa?" tanya Taka panik.
"Sakit, Taka." Chalodra melirih. Darah keluar dari dalam dan membasahi kakinya.
"Kita ke rumah sakit." Taka menggendong Chalodra, membawanya ke mobil.
"Mas Hendery ke mana?" tanya Chalodra dari belakang sana. Taka tidak menjawab, dia menancapkan gas.
Taka panik, dia mondar-mandir di depan pintu ruang bersalin sambil mencoba mengubungi Hendery. Namun, ponsel laki-laki itu hanya memanggil, sepertinya Hendery sedang mengemudi. Taka menggigit bibir bawahnya, tentu saja bingung dengan apa yang harus dilakukan.
Taka sempat menghubungi Casandra, gadis itu tengah duduk di kursi tunggu sambil menggigit jari. Seorang perawat membuka pintu, membuat Taka dan Casandra mendekat.
"Air ketuban Bu Chalodra sudah pecah, jadi Bu Chalodra akan melahirkan secara prematur," katanya.
"Prematur?" tanya Taka memastikan, perawat itu mengangguk.
"Mari ikut saya, untuk surat persetujuan," ucap perawat, lalu menuntun Taka.
Di ruang serba putih, Chalodra memejamkan matanya. Dokter dan para perawat melakukan tindakan untuk mengeluarkan bayi Chalodra. Usia kandungannya yang masih 32 minggu atas 8 bulan, membuat Chalodra harus melahirkan secara prematur.
Hari ini penuh ketegangan, Hendery memimpin mobil para anak buahnya. Mereka semua tengah mengejar kendaraan Carlon. Hendery sudah siap dengan pistol di tangan kanannya. Melewati jembatan, melalui jalanan rimbun pepohonan dan gelap membuat mereka melaju kencang.
Sasaran Hendery meleset, mobil Carlon semakin gesit untuk menghindar. Pria tua itu mengemudi dengan lincah, tanpa berat hati menginjakkan gas.
Jembatan besar sedang mereka lalui. Banyak kendaraan lain yang melintas, tetapi tidak mereka pedulikan. Hendery mencengkram kuat stir mobilnya, sedangkan Carlon menekan dadanya karena sesak. "S-Sakit," rintih Carlon.
Egry di samping Carlon hanya menatap bingung. "Kenapa, Pak?" tanya Egry.
Carlon tidak menjawab, dia semakin mencengkram dadanya. Lalu, karena tidak tahan dengan rasa sakitnya, Carlon membanting stir hingga mobilnya melompati pembatas jembatan. Egry dan rekannya hanya berpegang seatbelt dengan napas memburu. Mobil hitam itu, tercebur ke sungai besar saat menjelang pagi.
Hendery membulatkan matanya, melihat mobil lawannya jatuh ke bawah. Karena mendapatkan banyak panggilan dari Taka, Hendery melajukan mobilnya pergi.
.....
"Maaf, jantung bayi Bu Chalodra tidak berfungsi. Sekali lagi, kami meminta maaf karena tidak bisa menyelamatkannya," kata dokter itu.
Setelah sadar dari obat bius, Chalodra menanyakan bayinya kepada Taka. Namun, Taka tidak bisa menjawab dan memanggil dokter. Jantung Chalodra seakan berhenti berdetak, napasnya terjerat, bahunya terasa begitu berat. Air mata tidak berhenti menetes dari manik Chalodra. "Bayiku!"
"Kalian bohong! Kalian bercanda! Bawa bayiku kemari!" teriak Chalodra. Suaranya yang bergetar, menggema, terdengar begitu menyakitkan. "Taka, bayi Kakak sama Mas Hendery, ya?"
Taka menggeleng kuat, tetapi dengan cepat Chalodra memukul dada laki-laki itu. "Kakak mau lihat bayi Kakak, Taka!"
Suara Chalodra yang lembut dan memenangkan, sekarang tidak ada. Dia menangis histeris. "Kalian jahat. Bawa bayi saya ke sini, suster!" Nada bicara Chalodra meninggi, ini menyakitkan.
"Tolong! Bawa bayi saya ke sini!" pinta Chalodra, kali ini terdengar lirih. "Tolong!"
Pundak Chalodra naik turun, napasnya tersengal. Lembutnya elus tangan dari Casandra sama sekali tidak membuatnya tenang. Chalodra menunduk, matanya memerah, kantung matanya membesar dan menghitam.
Seperti apa yang Chalodra minta, perawat membawa bayi Chalodra yang sudah dibedong dan dia letakkan di atas keranjang bayi, tepat di sisi kiri brankar Chalodra. Saat itu juga, tangis Chalodra semakin pecah. Chalodra turun dan mengelus wajah pucat bayinya. "Sayang, Mama belum dengar suara kamu," lirih Chalodra.
"Ayo bangun! Kamu gak mau main sama Mama? Sama Papa?"
"Sayang, kamu belum bicara sama Mama."
"Anak Mama," katanya sambil mengangkat bayi yang sudah tidak bernyawa itu. Chalodra menimangnya dengan lembut, seuntai senyum terlukis di wajahnya. "Sayang, Mama belum dengar suara kamu."
"Anak Kakak mana, Taka?" Hendery datang, dia membuat Taka mendongak lalu berdiri. Melihat tatapan Taka yang sendu, senyum lebar Hendery sirna. "Di dalam, ya?" tanya Hendery, Taka mengangguk.
Dengan semangat, Hendery membuka pintu. Namun, pemandangan seperti itu membuat napas Hendery tercekat. Chalodra memeluk tubuhnya sendiri di bawah brankar. Hendery berjalan perlahan mendekati Chalodra. "Cha," panggil Hendery.
Tidak mendapat jawaban, sekali lagi Hendery memanggil. "Sayang."
Chalodra menghembuskan napas panjang, lalu menghapus air mata di pipinya. "Apa?" tanyanya, ketus.
"Cha, kenapa kamu nangis? Bayi kita mana?" Hendery membelai pipi Chalodra yang basah. Namun, dengan cepat Chalodra menepisnya.
"Dari mana saja kamu?!"
"Aku sakit, Mas," sambung Chalodra lirih.
"Cha, kamu kenapa?" Hendery semakin dibuat khawatir, apalagi ucapan Chalodra seperti itu.
"Bayi kita, sudah pulang, Mas." Chalodra menunduk dalam. Air mata kembali menetes memenuhi pelupuknya.
"Cha?"