
"Rasakan! Siapa suruh mengusik kehidupan Chalodra!"
"Dia sudah bahagia dengan Hendery, suaminya! Jika masih ingin hidup, maka jauh-jauh dari kehidupan mereka!"
"Kamu masih beruntung, karena hanya lengan kamu yang tertembak. Bukan jantung kamu." Seruan lantang dan melengking itu berasal dari laki-laki menggemaskan itu, Taka dengan hoodie kuningnya mengeluarkan tikus dari dalam kotak.
Egry mengigit bibir sambil memeluk tubuhnya sendiri. Dia bergidik ngeri melihat hewan menjijikkan berlarian di depannya. Kemeja putihnya menjadi lusuh dipenuhi noda debu. Terdapat lubang kotak di samping kiri ruangan kecil itu, Taka memasukkan lengan dan kepalanya ke dalam, untuk menyaksikan korban tersiksa. "Bagaimana? Rasanya menyenangkan, kan?" celetuk Taka.
"Ini tidak sebanding dengan apa yang kamu lakukan!"
Egry menendang tikus yang berjalan mendekatinya. Tidak hanya berukuran kecil, tetapi banyak yang besar. Taka tidak takut, karena semenjak bertemu Casandra, dia menjadi sering bermain ke tempat kotor.
"Minggir! Aku juga mau lihat!" seru Casandra sambil menarik tubuh Taka agar keluar.
Taka tersenyum lebar, lalu menyodorkan kotak yang dipegangnya kepada Casandra. Gadis itu dengan semangatnya, ikut melemparkan tikus ke tempat Egry terduduk lemas. "Berhenti! Aku mohon, berhenti!" ujar Egry.
"Apa kamu bilang?" tanya Casandra, karena telinganya memang sedikit kurang berfungsi.
"Aku mohon, hentikan ini." Manik mata Egry sangat berair. Sorot matanya yang sendu, telah menyentil hati mungil Casandra.
Casandra bergerak pelan, keluar dari lubang kotak itu. Egry tidak bisa kabur dari dalam sana, karena tangannya diikat begitu kencang. Casandra menatap Taka yang melihat kedua tangannya di depan dada. "Taka, lebih baik cukup dikurung, tidak usah memasukkan tikus itu segala," ujar Casandra.
"Kamu benar, aku juga kasihan melihatnya," jawab Taka. Casandra mengangguk-anggukkan kepalanya.
Taka melangkahkan kaki menuju pintu. Dia membukanya dan masuk ke dalam. Langsung saja, tikus-tikus itu berlari keluar. Taka menghentikan satu tikus, lalu mengangkatnya dengan tangan. "Tapi aku biarkan yang satu ini bersamamu," kata Taka.
Taka berjalan keluar, lalu melemparkan tikus itu pada Egry. Pintu yang terbuat dari besi itu, kian menutup rapat. Lubang kotak di samping, sudah ditutup oleh Casandra. Dua pasangan itu, berjalan meninggalkan ruangan kotak kecil, membiarkan Egry menangis sendirian.
Tepat di belakang rumah Hendery, tempat itu berasa. Terasa lebih menyeramkan karena suaranya senyap. Hanya ada melodi dedaunan yang saling bergesekan karena angin.
Siapapun yang melihat Taka dan Casandra, pasti akan menyimpulkan mereka sebagai adik-kakak karena kedekatannya. Casandra mengangkat baju bagian belakang Taka, agar laki-laki itu berjalan lebih cepat.
"Kak Hendery!" teriak Taka. Casandra dengan cepat membekap mulut kekasihnya itu.
"Ini rumah sakit!" seru Casandra penuh penekanan. Casandra melepaskan tangannya dari bibir Taka, tidak lupa mengelap dengan baju Taka. "Ada apa?"
"Kak Hendery ke sana," ucap Taka menunjuk ke satu arah.
"Mungkin mau ke toilet," jawab Casandra. "Ruangan Chalodra ada di sana, kan?" tanya Casandra, sambil menunjukkan ke arah lain. Taka mengangguk.
Bayu keluar dari ruangan Chalodra, setelah memeriksa kesehatan Chalodra. Dia dikenali sebagai dokter muda dan tampan, bahkan seringkali datang gadis yang ingin periksa, tetapi hanyalah untuk bertemu Bayu. Bayu menyapa Taka dan Casandra yang sampai di depannya dengan senyum.
"Apa Kak Hendery ada di dalam?" tanya Taka. Dia merasa aneh dengan Hendery yang dilihatnya tadi, seperti orang lain.
"Iya, dia ada di dalam menemani istrinya. Kemarin kondisi Chalodra benar-benar tidak baik, sampai-sampai mengusir suaminya. Setelah Chalodra menceritakan semuanya, keduanya kembali berbaikan," ucap Bayu.
Tentu saja Taka dan Casandra saling menatap penuh pertanyaan. Bayu mengulas senyum tipis, lalu berujar, "Lebih baik tanyakan sendiri kepada beliau dan bantu menyelesaikan kesalahpahaman ini." Taka setuju, lalu mengangguk.
"Kalau begitu, saya permisi," kata Bayu melenggang pergi.
Setelah punggung Bayu menghilang di balik tembok, Casandra memekik sambil memukuli lengan Taka. "Ganteng!" katanya dengan mata berbinar, terpesona akan ketampanan Bayu.
"Ganteng? Ya sudah, sana pacaran dengannya saja!" balas Taka dengan ketus.
"Eh, cemburu?" Casandra mendongakkan kepala, menatap laki-laki itu dengan mata bulat.
"Tentu saja tidak. Sana! Pacaran dengan dia saja!" Taka melenggang, meninggalkan Casandra.
"Taka! Aku hanya bercanda!"
"Lalu, siapa itu?" Taka mengangkat sebelah alisnya, sedangkan Hendery hanya menggelengkan kepala. "Amar?"
Manik mata Hendery membesar. "Kemungkinan. Tapi, bukankah dia bilang menetap di Turki?"
Dua laki-laki itu saling menatap tajam. Jika itu memang Amar, maka keadaan akan semakin runyam, sebab Carlon juga pernah mengincar Amar. Karena Carlon awalnya menyukai ibu dari Amar, tetapi ibu Amar lebih memilih ayah Amar, hingga Carlon memilih menikah dengan sahabat ibu Amar, yang merupakan mama dari Hendery.
Nea memiliki wajah yang sangat mirip dengan mama Hendery, sehingga mereka bersahabat. Namun, saat Nea melahirkan Amar, putra pertamanya, Carlon tiba-tiba datang dan mengancam tidak akan pernah membiarkan hidup mereka bahagia. Suami Nea memutuskan untuk mengajak keluarganya pindah ke Turki, agar terbebas dari keadaan yang tidak diinginkan.
Chalodra dan Casandra hanya bisa diam sambil mendengar cerita dari Hendery. Hendery juga menceritakan, dua tahun lalu Amar datang berkunjung karena wasiat ibunya, agar menemui Hendery.
"Saat Nea melahirkan Amar, Carlon emosi dan hampir membunuhku yang masih berusia lima hari. Tivani saat itu masih tinggal di rumah Nenek, jadi dia aman," jelas Hendery.
"Mas, aku minta maaf," ucap Chalodra.
Hendery mengulas senyum tipis, lalu melangkah mendekati Chalodra. "Bukan salah kamu, Cha."
Chalodra tidak bisa menahan air matanya agar tidak menetes, tetapi pelupuk matanya sudah penuh. Hendery dengan cepat menyeka butiran bening itu, sambil berujar, "Mas janji, akan selalu menjaga kamu lebih baik lagi, Cha."
"Kalian, kapan menikah?" tanya Chalodra.
Taka dan Casandra saling beradu pandang. Namun, Taka dengan cepat membuang muka dari Casandra. "Sandra mau menikah dengan dokter itu!" pekik Taka.
"Dokter Bayu?" tanya Chalodra, Taka mengangguk cepat.
"Tidak! Taka, aku hanya mengatakan bahwa dia tampan, itu bukan artinya aku menyukainya." Casandra merengek, berusaha membujuk Taka yang mengerutkan bibirnya. "Aku cintanya sama kamu."
Seorang Taka mendengar kalimat itu, tentunya saja pipinya langsung merah merona. "Aku tidak dengar."
"Aku cinta sama kamu," kata Casandra, lagi. Taka tersenyum lebar, lalu menatap Casandra dengan mata besar. "Tapi bohong!" lanjut Casandra.
Sontak Taka mendorong tubuh gadis itu dengan kesal. "Anjing," umpat Taka.
"Tidak jadi menikah, nih," celetuk Hendery.
"Mas!" tegur Chalodra. Bukannya kembali menyatukan, Hendery justru menjadi kompor.
"Kalau kalian menikah di bulan ini, aku akan kasih hadiah pernikahan yang istimewa," ujar Hendery.
"Apa itu?" tanya Casandra dengan cepat.
"Rahasia."
Casandra mendekati Taka, lalu bergelayut di lengan Taka. "Sayang, kalau minggu depan?"
"Menikah saja dengan dokter itu!" balas Taka lantaran masih kesal.
"Ayolah! Siapa tahu dapat mobil atau rumah baru."
"Hey, kamu kan kaya, kenapa mementingkan hadiah dari dia?"
"Ayolah! Kamu juga mau kan?!"
Memang benar, Taka hanya membuang muka untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
...❤❤❤❤❤...