I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
68. Dipermalukan



...SELAMAT MEMBACA...


Tangan Hendery mengudara, melayangkan pukulan di rahang Egry hingga lelaki itu tersungkur. "Sialan!" umpat Hendery, dia merunduk di atas Egry dan memukuli wajahnya.


Egry tidak mampu membalas karena posisinya di bawah, hanya bisa menerima pukulan Hendery. Pergerakannya terkunci, kedua tangan ditahan oleh Hendery dan lelaki itu meringis pelan merasakan nyeri.


Chalodra mematung melihatnya. Mulutnya terbuka dan ditutup dengan tangan yang bergetar. "M-mas Hendery," panggil Chalodra lirih. "Mas, cukup!" Merasa kasihan terhadap Egry, tetapi pun merasa senang menyaksikannya.


Hendery tidak henti mendaratkan tangan besarnya di wajah Egry. Bahkan, tubuh pria di bawah Hendery tersebut melemah. "C-cukup!" gumam Egry. Setelah mengatakan itu, Hendery melayangkan pukulan terakhir karena Chalodra menarik kera bajunya.


"Sudah, Mas! Cukup!" ucap Chalodra.


Hendery mengusap wajahnya yang penuh keringat. Dia menatap tajam Egry yang masih tiduran di lantai. "Pergi dari sini sekarang?! Atau tidak sama sekali," seru Hendery. Lalu, tubuh Chalodra dipeluk oleh Hendery dari samping dan dibawa masuk.


Egry memegangi dagunya yang nyeri. Memar di sudut mata, bibir, bahkan wajahnya berwarna merah padam. Dia berdecak kesal, mencoba bangkit dari kekalahannya. Egry menatap pintu rumah itu, berdecak kesal dan melenggang pergi.


Hendery mengajak Chalodra langsung memasuki kamar, membanting pintu hingga membuat Chalodra merasa takut. Lalu, Hendery mendudukkan tubuhnya di atas kasur dan menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.


Chalodra mengelus punggung lebar Hendery, mencoba menenangkan suaminya yang bernapas dengan cepat. Dilihatnya wajah penuh amarah Hendery, Chalodra paham akan rasanya. "Mas," panggil Chalodra.


Hendery menoleh, sekilas melihat wajah ketakutan sang istri. Dia merasa tidak baik karena melupakan Chalodra yang pasti juga merasakan takut. Hendery menghela napas panjang. "Maaf, Cha," ucap Hendery sembari mengelus punggung tangan Chalodra.


Chalodra mengulas senyum tipis saat Hendery menatapnya. "Tidak apa-apa, Mas," ujar Chalodra.


"Maaf karena Mas pergi, kamu jadi didatangi Egry."


Chalodra menggeleng pelan. "Tidak apa. Mas Hendery sudah lindungi Cha, kan?" Dia menggapai wajah sang suami, membelainya penuh cinta. "Mas tidak luka, kan?" tanya Chalodra.


"Tidak," jawab Hendery. Dia meletakkan kepalanya di paha Chalodra, sambil menggenggam jemari tangan lembut milik sang istri. "Mas takut kamu diambil dia, Cha."


Chalodra memainkan rambut tebal Hendery, mengelusnya lembut. "Tidak akan, selagi Mas ada untuk aku," katanya.


"Mas janji, setelah ini akan jaga kamu."


Keduanya pun terlarut dalam pikiran masing-masing. Dalam kamar yang sunyi itu, terdapat sebuah kekacauan, tetapi tidak terlihat. Chalodra takut, Egry datang kembali pada saat suaminya pergi.


'Gara-gara Roi ikut aku, jadi tidak ada yang jaga Chalodra saat itu.' Batin Hendery. Sedikit merasakan penyesalan karena lupa akan keamanan sang istri.


Achim


Chalodra bersin membuat suasana hening pecah. Dia menggaruk hidungnya yang terasa tidak nyaman. "Cha?"


"Tidak apa-apa kok, Mas."


Kebetulan, tadi satpam di rumah sudah pulang lebih awal karena merasa tidak enak badan. Jadi, hanya ada Chalodra dan Bi Aya, tetapi Bi Aya telah tidur.


"HENDERY SIALAN!" Egry melemparkan bantal sofa ke lantai. Emosinya telah memuncak, bahkan kini dia menggenggam vas bunga dan meremasnya. "Beraninya dia permalukan aku di depan Chalodra," ucapnya.


Pyar


Vas bunga yang terbuat dari beling itu jatuh hingga serpihannya berserakan. Egry mengusap darah menetes dari bibirnya. "Tunggu balasanku!" ucapnya penuh penekanan.


Egry mendudukkan tubuhnya di sofa, mengangkat kaki dan diletakkan di atas meja. Dia menatap lurus ke depan dengan tatapan sinis. "Ubah rencana." Sudut bibirnya tertarik. "Rencana kedua," katanya.


Egry sudah menyiapkan beberapa rencana selama dia pergi. Tidak akan pernah membiarkan orang lain menang di atasnya, Egry akan mendapatkan Chalodra kembali dengan caranya. Disebabkan yang pertama telah gagal, dia akan menggunakan lainnya.


Egry hidup sendiri di rumah barunya, sebenarnya dia tidak punya siapa-siapa. Mungkin, psikologisnya terganggu.


Pagi yang cerah, seperti yang dikatakan Hendery beberapa waktu lalu, bahwa dirinya akan pergi ke luar kota dua minggu lagi. Tepatnya saat ini, Hendery akan meninggalkan rumah dan Chalodra. Tidak lupa, penjagaan di luar sana dijaga ketat oleh beberapa anak buah Hendery


Sarapan sebelum pergi, Hendery begitu manja ingin disuapi Chalodra, jika menolak Hendery tidak mau makan. Ah, bos yang dingin itu benar-benar luluh dengan sihir manis Chalodra. Keajaiban.


Hendery menganggukkan kepala saat merakan makanan enak itu. "Cha, aku tidak jadi pergi, deh," celetuk Hendery.


"Kenapa?"


"Takut rindu sama kamu." Chalodra menahan tawa mendengarnya. "Mas tidak bisa jauh dari kamu," kata Hendery.


"Kenapa tidak ajak aku sekalian?" sahut Chalodra, Hendery sontak terkejut.


"Tidak, kamu tidak bisa ikut. Berbahaya."


"Em ... bukan urusan perusahaan yang itu, ya? Tapi ileg---"


"Iya." Jawaban Hendery membuat Chalodra menelan ludah. Suami mafia dengan bisnis ilegal, mengerikan. Lalu, bagaimana nasib Chalodra bila Hendery ditangkap oleh hukum? Tidak bisa dibayangkan.


Achim


"Cha, are you okay?"


Chalodra mengangguk singkat. Lalu, dia kembali menyuapi Hendery untuk suapan sendok terakhir.


"Kamu sekarang sudah paham ya, Cha?" Hendery meminum segelas air putih yang disuguhkan. Chalodra menganggukkan kepala. "Mas percaya kamu, jangan beritahu siapapun soal itu! Oke?"


........ ...


Hendery melambaikan tangan dari dalam mobil, melemparkan cium jauh kepada Chalodra. Lalu, dia melajukan mobilnya pergi meninggalkan rumah.


Kini, Chalodra tidak ditemani Hendery. Sendirian duduk melamun di balkon. Memikirkannya, membuat Chalodra pusing. "Jadi, Mas Hendery itu direktur utama di sebuah perusahaan? Perusahaan itu juga tempat kerja Taka."


"Lalu, bisnis satunya lagi adalah ilegal. Mas Hendery berstatus mafia?"


"Jadi, suamiku mafia dan direktur?"


Chalodra diam sejenak, memikirkan apa yang dikatakannya tadi. "Tidak peduli, deh." Dia pun duduk di kursi, meneguk teh rasa matcha.


Achim


Chalodra tidak tahu mengapa hidungnya begitu menganggu sejak semalam.


Siang ini mendung, Chalodra tidak perlu takut terkena sinar matahari yang biasanya panas itu. Terlihat Bi Aya masuk karena pintu terbuka. "Bi Aya bawa apa?" tanya Chalodra.


"Puding," jawab Bi Aya, meletakkan piring dengan dua potong puding di atas meja. "Puding mangga buatan Bibi. Bisa Non makan untuk ganjal perut."


"Wah, pasti enak." Chalodra menyuapi mulutnya hingga penuh, kemudian menganggukkan kepala merasakan manis menempel di lidah. "Makasih, Bi," ujar Chalodra.


Bi Aya mengamati Chalodra, sebab wajah itu terlihat tidak biasa. "Non sakit?" tanya Bi Aya.


"Tidak, kok," jawab Chalodra. Lalu, Chalodra bersin karena hidung yang gatal. "Tadi tidak apa-apa."


"Hidungnya merah banget. Bibirnya juga pucat. Non mau sakit, lebih baik istirahat."


"Iya, selesai makan ini."


...Defresi ...


...🐰...