I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
49. Memulai segalanya



"Maaf, Cha," lirih Hendery. Angin menerpa wajahnya dan mengibaskan rambutnya yang berantakan. Hendery memejamkan matanya, di atap rumah sakit tanpa pinggiran itu. Dia menghadap timur, matahari segera naik.


Tubuh Hendery bergetar, napasnya tersedu, benar-benar seperti dihujam ribuan batu. Kepala yang terasa berat, jantung berdetak lambat, dan mata perih membuat laki-laki kekar itu menangis. Untuk yang kedua kali, Hendery benar-benar merasa kehilangan. Setelah sang mama dan sekarang anak pertamanya yang belum diizinkan Tuhan melihat dunia. "Kenapa harus kamu?" tanyanya dengan suara begitu pelan. "Maafkan Mas, Chalodra!"


Hendery menundukkan pandangannya. Sekali saja dia melompat, tubuhnya akan terjatuh dan hancur. Itu yang Hendery inginkan. Namun, belum sempat melakukannya, seseorang menarik pinggang Hendery, lalu tubuhnya terjatuh.


Hendery membuka mata sembabnya. Wajah cantik, tetapi kusam itu membuat hatinya semakin teriris. Hendery menghembuskan napas berat, lalu mendudukkan tubuhnya. "Maaf, Cha," katanya lagi.


Chalodra tentunya merasa kesal, sedih, dan kecewa melihat suaminya seperti hancur melebur. "Mas, bukan cuman kamu yang kehilangan!" seru Chalodra. "Aku juga." Tubuhnya ambruk dan kepalanya bersandar pada dada Hendery.


Dengan tangannya yang bergetar, Hendery memeluk erat Chalodra. "Aku butuh kamu, Mas," lirih Chalodra.


"Cha, maaf," ucap Hendery.


Tangisan keduanya semakin pecah. Untuk yang pertama kalinya, dua orang ini, menjadi orang tua yang gagal. Chalodra merasa tidak berguna, begitu juga Hendery yang merasa sangat bersalah, karena berada jauh dari sisi Chalodra saat istrinya itu kesakitan.


Bayi itu telah pergi, selamanya. Dia tidak diizinkan melihat dunia ini dengan lama, tetapi Tuhan menjanjikan surga untuk kesuciannya yang masih utuh. Ikhlas, merelakan semuanya, itu perlu dilakukan. Karena akan ada yang lebih indah, dari sebuah kehilangan.


Chalodra menangkup wajah Hendery dengan kedua tangannya. "Dia pasti sudah di surga. Kita gak boleh sedih, supaya dia tenang di sana, ya?" tutur Chalodra. Hendery mengangguk dua kali.


"Maaf, Cha, seharusnya Mas gak pergi." Hendery menundukkan kepalanya. Butir air mata terus menetes.


"It's okay! Kita mulai dari awal, ya? Mulai sekarang, gak boleh ada rahasia, semuanya harus dilalui berdua, okay?"


Tidak mendapat jawaban dari Hendery, Chalodra mengecup lembut kening Hendery. "Mas?"


Hendery menatap dalam Chalodra. "Mas janji, gak akan pergi dari kamu, Sayang."


Senyum keduanya mulai larut, Hendery mendekap Chalodra dengan erat, menyalurkan setiap rasa dalam dirinya. Sebuah masalah, memang harus dilewati bersama, hingga selesai. Dengan begitu, hubungan hanya akan sekadar renggang dan tidak akan hancur.


Hendery mengecup kening Chalodra, membuat senyum terbit di bibirnya. Chalodra masih berada di ruang inap, untuk perawatan jahitannya yang masih belum kering. Hendery mengelus lembut kepala Chalodra, lalu pergi duduk di sofa.


"Kak, Tante Ratu katanya mau ke sini," ucap Taka, saat memasuki ruangan. Dia duduk di samping Hendery, lalu meminum kopi di dalam botol.


"Ibu mau ke sini?" sahut Chalodra. Dia begitu gembira sekarang. Begitu lama keduanya tidak bertemu.


"Cha, kamu mau makan siang apa?" tawar Hendery.


"Yang pedas-pedas," jawab Chalodra.


"Mau itu jahitan kamu keluar api?"


"Memangnya bisa?"


"Bisa. Mau coba?"


"Yang benar?" Chalodra tergelak tawa. Hendery menggelengkan kepala. "Mau jus tomat aja, Mas," ujar Chalodra.


"Taka, belikan, ya?" Hendery merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang. Dengan semangat, Taka mengambilnya. "Makanan sehat pokoknya!"


"Siap, Bos!" Taka melenggang pergi dengan langkah lebarnya.


Hendery berdiri dari duduknya, dia menyeret kursi dan didekatkan ke tempat tidur Chalodra. "Jahitan kamu sudah tidak sakit, Cha?" tanya Hendery. Chalodra menggeleng pelan. Hendery menghembuskan napas panjang, lalu menggenggam tangan Chalodra.


"Kita mulai lagi ya, Cha?" kata Hendery.


Chalodra mengangguk. "Asalkan sama kamu."


Senyum hangat Hendery, benar-benar Chalodra lihat terasa begitu tulus. Ketulusan yang sejak lama Chalodra inginkan. "Mas sayang sama kamu, Cha. Kamu ... cinta pertama Mas, yang bisa buat Mas segila ini," kata Hendery.


"Meskipun Mas bukan cinta pertama aku, tapi aku janji, Mas cinta terakhir Chalodra," sambung Chalodra.


"Chalodra Agatha, janji kita akan bersama selamanya?"


"Promise."


Tok tok tok


"Permisi!" Ratu mengetuk pintu, membuat keduanya tersentak kaget. "Maaf menganggu," katanya lalu melangkah masuk.


"Silakan Masuk!" ujar Hendery.


Ratu melangkah mendekati Chalodra, diikuti Silvia di belakangnya. Langsung saja Ratu memeluk erat putrinya dan mengelus punggung mungil Chalodra. "Yang kuat ya, Cha!" pinta Ratu. Chalodra hanya mengangguk.


Silvia tersenyum lebar. "Perempuan terkuat sedunia!"


Chalodra dibuat bahagia dengan kedatangan dua keluarganya. Dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Meski, perih itu masih terasa jelas di hatinya. Namun, agar orang terdekatnya tidak terlalu sedih, Chalodra selalu menunjukkan senyum manisnya.


Lima hari berada di rumah sakit, Chalodra merasa sangat bosan. Chalodra terlalu lemah, sehingga menginap di rumah sakit berulang kali. Hari ini, Chalodra berada di rumah setelah diizinkan dokter untuk pulang.


Chalodra duduk di kursi, tempat pertamanya merasakan cinta seorang Hendery. Setelah berpikir keras, Hendery memutuskan untuk tinggal di rumah. Karena juga ada Bi Aya, yang bisa memantau kesehatan Chalodra.


"Apa aku bisa lebih lama sama Mas Hendery? Kalau nanti Papa Carlon berhasil bunuh aku, bagaimana?" gumam Chalodra. Chalodra menunduk, lalu berujar, "Aku belum siap. Apalagi lihat Mas Hendery sama wanita lain."


"Cha! Jangan negatif think!"


"Percaya! Mas Hendery pasti bisa mengatasi semuanya."


"Mungkin aja, Papa Carlon akan menyerah dan menerima aku sebagai menantunya?"


"Mas Hendery pasti bisa!"


Yang paling Chalodra suka dari tempat ini, angin sejuk menerpa wajahnya. Bunga mawar yang dulu, masih segar karena Bi Aya selalu menyiramnya. Chalodra selalu menikmati keindahan dari atas rumah Hendery. Kekasih Bi Aya, selalu tersenyum kepadanya.


Satu minggu berlalu. Sejauh ini, tidak ada masalah yang datang. Terasa mendamaikan hati Chalodra. Kali ini, Chalodra tidak lagi dikurung oleh suaminya. Hendery lebih mementingkan, keinginan Chalodra agar istrinya itu bahagia.


Chalodra bersantai di ruang tengah, dengan Bi Aya di sampingnya. Bi Aya memijat tangan kanan Chalodra, yang sedang menonton televisi itu. Dia benar-benar sudah tertinggal banyak episode, dari film yang ditonton. Sedangkan Hendery, laki-laki itu duduk di teras membiarkan cahaya matahari menyinari wajah tampannya.


Langkah kaki berjalan mendekat, laki-laki setelan jas itu menatap Hendery dengan tajam. Hendery berdiri dari duduknya dan membuang putung rokok ke tanah. Orang itu tidak bergeming, wajahnya tidak asing bagi Hendery.


"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia," katanya penuh penekanan.


Hendery menautkan kedua alisnya. "Siapa?" Bukannya menjawab, orang itu tersenyum miring.


...Hahaha pasti gak ada yang nyariin Reyna kiyowok ini...