I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
22. Pulang



Chalodra membiarkan terik matahari menyapu wajahnya. Air matanya bahkan sudah kering, bibirnya sudah kaku untuk sekadar berucap. Napas Chalodra tersengal, menerima kenyataan di hidupnya.


Kamar ini menjadi saksi, bahwa Chalodra mengharapkan kedatangan Hendery. "Mas, sepertinya ... aku mau sama kamu saja," gumam Chalodra.


Chalodra menumpahkan semua tangisnya dengan tubuh terduduk di lantai, tepat di sebelah jendela kaca yang mengarah ke luar. Lebih dari satu orang bertubuh berdiri di depan rumah. Penjagaannya sangat ketat.


"Aku mau pulang," rengek Chalodra. "Di sini lebih menyiksa."


"Apa Mas Hendery tidak mencari aku, ya?"


"Mungkin, dia sudah lelah denganku."


Chalodra menundukkan pandangannya. Rambutnya terikat begitu tidak rapi. Bibir Chalodra sudah memutih, kehabisan lipstik. Rasanya seperti dihujam jutaan batu, dadanya terasa begitu sesak.


Saat Chalodra mengangkat pandangannya, netra cokelat Chalodra menangkap sosok Egry. Chalodra memicingkan mata, untuk melihat lebih jelas.


Egry dengan tubuh gagah berpakaian setelan jas itu, terlihat sedang mengobrol dengan salah seorang anak buah. Saat hendak memasuki mobil, pergerakan Egry terhenti saat ada mobil hitam berhenti di depan rumahnya.


Dua tubuh menjulang tinggi itu berjalan mendekat. Salah satunya langsung mendaratkan pukulan keras di rahan Egry.


Chalodra yang melihat dari atas semakin memicingkan matanya. Postur tubuh itu sangat familiar di benak Chalodra. "Mas Hendery!" pekik Chalodra.


Hendery berulang kali mendaratkan kepalan tangan pada wajah Egry. Para anak buah yang berada di sana tidak terima, mereka ikut menghajar Hendery bersama Taka.


Lima orang bertubuh besar, juga Egry sudah terkapar di tanah. Hendery menduduki tubuh Egry dan mengangkat kera kemeja Egry. "Di mana Chalodra?!"


"Dia tidak bersamaku," jawab Egry.


"Katakan! Di mana Chalodra?!" Hendery semakin mengencangkan cengkeramannya, membuat napas Egry sesak.


Chalodra mencoba menegakkan tubuhnya. Chalodra melambaikan tangan dari atas, berharap Hendery melihatnya. "Mas! Chalodra di sini!" Namun, jenis kaca itu membuat Chalodra tidak bisa terlihat dari luar.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, Hendery membanting tubuh Egry ke samping. "Taka, tunggu di sini! Aku akan mengecek di dalam."


"Baik, Kak," sahut Taka.


Hendery melangkahkan kaki lebarnya ke dalam rumah Egry. Tidak ada siapapun di dalamnya, beberapa perabotan rumah juga tidak. Hanya ada sofa, di ruang tengah. Hendery menaiki tangga yang membuatnya yakin, Chalodra ada di atas.


"Mas! Aku di sini!" Chalodra menggedor pintu dengan keras, sambil sesekali berteriak. "Mas!"


Sayup Hendery mendengarnya, dia mengerutkan dahi. "Cha?"


Suara gedoran itu membuat Hendery melangkah ke arahnya. Pintu berwarna putih. "Cha, kamu di dalam?"


"Mas! Aku di dalam!" teriak Chalodra antusias.


Mendengar suara Chalodra di dalam, Hendery mengembangkan senyumnya. "Cha, menjauh dari pintu! Mas mau dobrak," ujar Hendery.


Chalodra mundur beberapa langkah. Ada suara keras di luar sana, pasti Hendery kesusahan membukanya. Hingga, dentuman keras dari pintu membuat Chalodra bernapas lega. "Mas!" Chalodra berhamburan memeluk tubuh Hendery dengan erat.


Hendery pun mendekap Chalodra sambil mengelus punggung istrinya. Ada perasaan takut tidak bisa bertemu lagi, saat Chalodra menghilang dari hadapannya. "Kamu gak apa-apa kan, Cha?" Hendery melepaskan pelukan di antaranya, membelai lembut pipi Chalodra.


Chalodra mengangguk dalam. "Aku baik, Mas. Tapi ... aku takut," ucap Chalodra dengan tangisnya yang menggebu. Hendery mengukir senyum tipis, lalu menarik tubuh Chalodra kembali ke dalam dada bidangnya itu.


"Kamu seperti gembel, Cha," celetuk Hendery sambil mengikat rambut Chalodra.


"Kamu mirip duda yang ditinggal istrinya," balas Chalodra. Namun, tidak bisa diterima Hendery.


Hendery menarik pundak Chalodra, membuat Chalodra mendongak. "Jangan bilang seperti itu! Mas gak suka."


"Mas tidak akan membiarkan kamu pergi lagi," sambung Hendery.


Pipi Chalodra memanas, ada awan yang membawanya terbang. "Kita bisa pulang? Aku lapar," titah Chalodra membuat Hendery tersenyum gemas.


.....


"Aku senang sekali Kak Chalodra baik-baik saja," ujar Taka. Dia tengah menjadi pengemudi, seperti seorang supir yang membawa majikannya. "Tapi, Kak, aku menjadi supir."


"Hari ini saja. Tenang, nanti aku kasih tips," sahut Hendery.


"Kalau seperti itu, aku tidak keberatan."


"Cha, sepertinya dalam waktu dekat, kita akan pindah," ujar Hendery.


"Aku ingin segera pindah." Chalodra tersenyum lebar tanpa sadar. Rasanya senang sekali bila harus pindah rumah, kerena Hendery bilang dia akan membiarkan Chalodra bebas keluar-masuk.


Setelah menempuh waktu perjalanan sekitar setengah jam, Hendery menuntun Chalodra agar istrinya berbaring di kamar. Chalodra merasakan pusing dan nyeri pada lukany, karena belum minum obat.


Tidak lama, Bi Aya datang dengan nampan di tangannya. "Bibi senang, Non Chalodra pulang," ujar Bi Aya.


"Iya, Bi Aya," jawab Chalodra.


"Bibi pergi dulu, ya." Chalodra mengangguk.


Hendery tengah pergi ke kamar mandi. Pertengkaran tadi membuat hidungnya mengeluarkan sedikit darah. Hendery keluar dan menghampiri Chalodra. "Sini, aku suapi!"


Chalodra menyodorkan mangkuk bubur itu pada Hendery. Mulut Chalodra masih penuh, rasanya sangat amat lapar. "Buka mulutnya, Cha!" pinta Hendery.


Chalodra membuka mulut lebar-lebar, membuat Hendery mengerutkan dahi. "Cha, biasa saja mangapnya!" cetus Hendery.


Chalodra tersenyum lebar, membuat matanya menyipit. Chalodra mengunyah bubur buatan Bi Aya yang lezat dengan cepat. Setelah semua isi mangkuk habis, Chalodra meneguk segelas susu. "Mas mau?" tawar Chalodra menyisakan setengah susu.


Hendery menggeleng. "Mau punya Cha, boleh?"


"Gak!" bentak Chalodra, lalu kembali meminum susu putih itu.


"Obatnya jangan lupa! Mas mau ke luar sebentar," ucap Hendery.


"Ke mana?"


"Sebentar. Ke ruang depan."


"Oke."


.....


Matahari sudah berganti bulan, langit yang terang itu telah pergi. Malam ini, seperti biasa, Chalodra duduk di kamar. Namun, tidak sendiri. Chalodra baru saja meminum obat dibantu oleh Tivani.


Andre duduk di sofa kamar sambil menikmati secangkir kopi. Beda dari biasanya, pintu kamar Hendery dan Chalodra terbuka lebar. Chalodra tidak bisa kemana-mana karena pusing, mungkin pengaruh obat bius itu masih ada.


"Hen, Taka ke mana?" tanya Tivani.


"Sedang di jalan. Dia bilang akan mengajak kekasihnya ke sini," jawab Hendery.


"Apa? Anak konyol seperti itu punya pacar?! Pasti kekasihnya tidak jauh beda," kata Tivani sambil menggelengkan kepala.


"Memangnya Taka kenapa?" tanya Chalodra.


"Kamu harus tahu ini, Cha," ujar Tivani antusias. "Dia suka buang angin sembarangan, kalau tidur malam masih suka ngompol, dan ****** ******** masih gambar ironman."


Sungguh kenyataan yang mengagetkan, Chalodra tidak bisa berkata-kata. Sedangkan Tivani sudah tergelak tawa. Perempuan tomboi itu ternyata mempunyai selera humor yang tinggi. "Kalau Kak Tivani?" pekik Chalodra membuat Tivani bungkam.


Hendery berjalan mendekat, duduk di samping kiri Chalodra. "Kak Tivani kalau tidur air liurnya belepotan, sampai basahi bantal," ucap Hendery.


Tivani tidak suka, dia melotot ke arah Hendery. Tivani malu setengah mati, karena pembicaraannya pasti didengar Andre. Sedangkan adiknya yang durhaka itu tertawa keras.


Ini, kali pertama Chalodra melihat Hendery tertawa seperti itu. "Mas, gigi kamu ada cabainya," celetuk Chalodra. Sebuah titik hitam menempel di gigi depan Hendery.


Sontak, laki-laki itu beranjak turun dari kasur dan berlari ke meja rias. Benar, pasti cabai sisa makan tadi.


Chalodra tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Matanya menjadi sipit, seakan dihilangkan kebahagiaan.


"Halo! Taka dan pacarnya datang!"


Tivani yang menduga kekasih Taka tidak jauh berbeda dari laki-laki itu, menganga tidak percaya. "Mafia mana itu?!" pekik Tivani.


Gadis berperawakan sedang, tidak melebihi Taka, mirip seperti Chalodra. Namun, dia berpenampilan seperti laki-laki, rambut ikal gaya sebahu, dan pakaian serba hitam. Taka dengan bangga membawa kekasihnya masuk.


"Sandra," ucap gadis itu membungkukkan sedikit badannya.