I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
30. Pesta Silvia



"Mas, lihat lipstick aku?" tanya Chalodra. Dia berdiri menghadap meja rias.


Hendery yang sedang memakai dasi, menggeleng. "Tidak," jawab Hendery. "Kamu letakkan di mana?"


"Kalau aku tahu, aku tidak tanya!" Chalodra menggerutu sembari mengecek meja riasnya, juga laci. Namun, benda yang dicarinya tak kunjung terlihat.


"Cha, pasangin dasi Mas! Mas tidak bisa." Hendery melepas-pasang dasi hitamnya. Meski sering memakai jas, Hendery tidak bisa mengikat dasi dengan benar. Chalodra berdecak kesal, lalu menghampiri Hendery dengan dress birunya.


Chalodra mengikat dasi di leher Hendery tanpa menatap laki-laki itu sedikit pun. "Belum ketemu lipstick-nya?" tanya Hendery. Chalodra menggeleng. "Mau pemerah bibir alami, Cha?"


Chalodra mendongak. Alisnya berkerut tidak mengerti dengan ucapan Hendery. "Jelek!" pekik Chalodra.


"Siapa yang jelek?"


"Mas."


Hendery mengulas senyum tipis, lalu mengangkat dagu Chalodra agar menatapnya. "Bagaimana? Mau pemerah bibir alami?" Hendery membelai bibir Chalodra, membuat bulu kuduk Chalodra berdiri.


Chalodra mengerucutkan bibirnya kesal. Dia memalingkan wajah ke arah lain. Tanpa Chalodra sadari, Hendery mengikis jarak wajah di antara keduanya. "Aku punya ide!" pekik Chalodra, mendorong dada Hendery.


Chalodra berlari keluar kamar, menuju dapur. Sedangkan Hendery menghela napas berat, tidak mendapatkan ciuman dari Chalodra.


Dua pasangan itu sedang bersiap untung menghadiri sebuah pesta. Chalodra dengan dress berlapis puring berwarna biru tua terlihat anggun, sesuai dengan kulit putihnya. Hendery mengenakan kemeja biru muda, sama seperti anting yang dikenakan Chalodra, dan jas berwarna selaras dengan Chalodra.


Chalodra membuka almari es, mengambil buah berwarna merah lalu membawanya ke meja. Chalodra membelah menjadi dua, lalu mengambil bagian daging. Buah naga mempunyai warna merah yang lumayan tahan lama. Jadi, Chalodra akan menggunakan sebagai pemerah bibir. Agar terlihat lebih manis.


Chalodra menempelkan sepotong daging buah naga ke bibirnya, mengoleskannya dengan rata. "Siap!"


.....


Rumah Ratu sudah disulap menjadi sebuah gedung megah, dengan pernak-pernik yang menyinari ruangan. Lantai bawah terdapat meja dan kursi untuk para tamu, kue bertingkat berada di tengah-tengah, dan balon digantung di atas.


Ratu menuntun Silvia berjalan menuruni tangga. Gaun pesta panjang berwarna biru muda memukau, menyinari malam ini. Seluruh tamu bersorak dan bertepuk tangan untuk Silvia. Acara ulang tahun Silvia bertema biru, gadis tinggi dan cantik yang menyukai air. Bahkan, dalam satu hari, Silvia mandi hingga tujuh kali. Terkadang, hanya untuk melihat birunya air.


Happy birthday to you


Happy birthday to you


Happy birthday


Happy birthday


Happy birthday Silvia


"Yey!" sorak para tamu.


Chalodra berdiri di samping Silvia, sambil bertepuk tangan kecil. Silvia beberapa kali menoleh untuk tersenyum pada Chalodra. Meski tidak terlalu dekat dengan Chalodra, kini adik dari Silvia hanyalah Chalodra.


Ratu mengelap air matanya yang membanjiri pelupuknya. Dengan senyum tipis, dia membelai rambut Silvia.


28 tahun, Silvia beranjak dewasa. Besar tanpa seorang ayah, tidak terlalu berat karena mempunyai Ibu hebat. Silvia meniup lilin setelah para tamu undangannya menyanyikan lagu yang menyayat hati.


Para tamu saling mengobrol, bertukar cerita setelah acara tiup dan potong kue selesai. Pesta yang sangat ramai hanya dihadiri teman Silvia dan sahabat dekat Ratu. Namun, keduanya mengenal banyak orang dan berhubungan baik dengan semuanya.


Hendery menyuapi mulutnya dengan sepotong kue yang tadi diberikan Chalodra. Sebenarnya, Hendery tidak terlalu suka hal manis, kali ini Chalodra memaksa dan Hendery menurut. Sedangkan Chalodra, perempuan itu sibuk dengan tamu lainnya.


Dor


Dor


Dor


"Semuanya, cepat keluar!" teriak seorang pria, merupakan sahabat dekat Silvia.


Seluruh tamu berhamburan ke luar rumah, dilanda kepanikan. Ratu mengajak para sahabatnya keluar. Hendery menegakkan tubuhnya, netranya mencari seorang Chalodra. "Cha!" pekik Hendery melihat Chalodra berlari ke arahnya.


Asap mengepul memenuhi ruangan. Api sudah melahap lantai atas. "Mas, Kak Silvia ada di atas," ujar Chalodra dengan napas memburu.


Hendery berdecak, menarik lengan Chalodra. Namun, Chalodra menahan langkahnya. "Kak Silvia ada di atas, Mas!" gerutu Chalodra.


"Kamu keluar dulu, Cha, biar Mas yang jemput Silvia, ya?"


Manik Chalodra berkaca-kaca. Penglihatannya terasa panas dan buram karena air mata. "Biar aku yang selamatkan Silvia!" Suara berat seseorang dari belakang mereka, membuat keduanya menoleh. "Kalian lebih baik keluar."


Laki-laki bertubuh tinggi dan gagah itu melangkahkan kaki lebar menaiki tangga. Bahkan, pria berambut pirang itu tidak memperdulikan api di dekatnya mencari mangsa.


"Kita keluar, Cha!" ajak Hendery, menuntun Chalodra.


Chalodra dan Hendery keluar membuat atensi semua orang teralih. "Cha, Kakak kamu ada di atas!" seru Ratu. Chalodra hanya bisa mengangguk.


Hendery menjauhi kerumunan orang-orang yang menghawatirkan Silvia. Entah mengapa, Hendery merasa janggal dengan seseorang. Anggara, laki-laki itu membuang korek ke dalam tong sampah. Hendery hanya memandanginya dalam diam.


Silvia batuk-batuk karena asap memenuhi kamar, sebelum dia tidak sadarkan diri. Erlangga, laki-laki pantang menyerah mencari keberadaan Silvia. Tentu saja, Erlangga tidak tahu letak kamar Silvia.


Erlangga memasuki sebuah kamar, yang sebenarnya milik Chalodra. Hasilnya, nihil. Silvia tidak berada di dalamnya. Lalu, Erlangga tepat berdiri di pintu kamar Silvia. Api membara, membakar permukaannya. Erlangga mendorongnya dengan kaki, karena tidak mungkin harus menyentuh api itu.


Benar saja, tubuh Silvia terbaring di atas lantai. Api membakar tempat kasur, menyisakan ranjang. Erlangga mendekati Silvia, lalu menggendongnya keluar. Beruntung, tidak ada api lagi yang menyebar dan menghalangi.


Semua orang yang menanti, tersenyum lebar melihat Erlangga berhasil membawa Silvia keluar, meski dalam keadaan pingsan. Chalodra memberikan minum pada Erlangga, laki-laki itu terlihat sesak dengan napasnya.


Hendery mendekati Erlangga, membisikkan sesuatu, "Di dalam ada yang aneh?"


Erlangga mengangguk, membuat napas Hendery tercekat. "Dapur ada di bawah, jika gas bermasalah, seharusnya kebakaran di lantai bawah. Tapi, aku tidak melihat jendela terbuka sedikit pun, yang artinya ini direncanakan," jelas Erlangga.


"Dan pelakunya adalah orang dalam?" tanya Hendery memastikan, apa kecurigaannya terhadap seseorang besar kemungkinan, benar.


Erlangga mengangguk. "Aku akan bantu menyelidik ini. Silvia hampir kehilangan nyawanya."


"Aku mencurigai seseorang," gumam Hendery, masih bisa ditangkap pendengaran Erlangga.


Kedua pria itu berada jauh dari kerumunan orang-orang, sehingga terlihat pembicaraan yang serius.


Beberapa menit kemudian, Silvia sadar dan dibawa ke rumah sakit. Sebelum kembali pingsan, karena kaget karena sesuatu.


Apa benar dugaan Hendery, kalau Anggara dibalik semuanya?


Atau Erlangga, yang padahal dalangnya?


Apa Silvia sendiri yang bakar rumah, karena mau nyusul adik kesayangan?


Komen!!! Like!!!