
Dengan tangan bergetar, Ratu menghubungi Chalodra di tengah malam seperti ini. Air mata wanita itu tak kunjung berhenti. "Chalodra," katanya saat panggilan itu tersambung.
Chalodra yang sedang tidur terbangun, juga Hendery. "Ada apa, Ibu? Malam-malam seperti ini."
Ratu tidak menjawab, tangisannya semakin keras ditambah gemericik hujan. Chalodra mengerutkan dahi mendengarnya. "Ibu, semua baik-baik saja, kan?"
Namun, suara tangis Silvia membuat Chalodra semakin khawatir. Hendery di sampingnya, memeluk Chalodra dari samping.
"Sufia, Cha," lirih Ratu.
"Sufia? Sufia kenapa?!"
"Sufia meninggal."
Rasanya seperti mimpi. Baru saja dia bercanda tawa dengan adiknya itu, sekarang Chalodra mendengar kabar duka. Tentu saja ada rasa tidak percaya, pasalnya tadi Chalodra melihat Sufia baik-baik saja. "Ibu ... bercanda?"
"Lebih baik kamu ke sini, Cha. Ajak suami kamu juga!"
Suara parau wanita itu terasa mencengkram di telinga Chalodra. Seperti sebuah candaan yang dilakukan untuk menakuti. Mungkin saja Sufia berbohong, karena masih tidak terima dengan sikap Chalodra, yang menuduh kekasihnya.
Namun, rasa tidak percaya itu seakan hilang, berganti pedih dihujam ribuan jarum. Chalodra memeluk erat peti mati itu. Dia menangis keras, tidak peduli telinga siapapun yang mendengar. Chalodra kehilangan, bagaimana adiknya bisa meninggal dengan keadaan menyedihkan seperti itu?
Elusan lembut Chalodra rasakan di pucuk kepalanya. Hendery memeluknya dari samping, menguatkan istrinya yang tengah bersedih.
.....
"Ada suara ketukan pintu. Saat saya keluar, tidak ada siapapun. Hanya ada ... peti mati itu," kata Ratu. "Kulitnya pucat, darah ke luar dari kepalanya, seperti ditembak."
Mayat Sufia telah dikebumikan 20 menit lalu. Polisi sengaja dipanggil untuk menyelidiki. Ini adalah kasus pembunuhan.
"Adik saya datang ke rumah pukul 10, Pak," ujar Chalodra. Sekarang, adalah giliran Chalodra untuk diinterogasi karena sempat bertemu, sebelum korban tiada. "Pulangnya, sekitar jam 12 siang."
"Lalu, apakah anak Ibu pamit ke tempat lain?" tanya polisi itu.
Abra, polisi yang menjabat semenjak 15 tahun lalu terlihat gagah, meski umurnya dikatakan tua. Abra ditugaskan di daerah setempat dan sekarang mengajak seorang detektif andalannya untuk menyelidik kasus. Brata, adiknya yang jeli terhadap semua hal mencurigakan.
"Anak saya hanya pamit untuk pergi ke rumah Chalodra," jelas Ratu.
Pagi itu
Sufia terlihat memakai dress pink favoritnya. Helaian rambutnya yang lembut itu digerai sepunggung. Sepatu hak tinggi membuatnya tidak terlalu pendek. "Ibu, aku akan pergi ke rumah Kak Chalodra." Sufia menghampiri Ratu yang baru keluar kamar.
"Tumben, ada keperluan apa?"
"Ingin saja."
"Baiklah, hati-hati!"
"Aku usahakan." Sufia melenggang pergi.
Ratu menundukkan kepalanya, sorot matanya penuh kesedihan. Tidak ada seorang ibu yang tidak sedih, bila putri terkecilnya meninggal dengan tragis.
"Apa korban memiliki kekasih?"
Ratu mengangguk. "Namanya Egry."
"Apa korban sering pergi ke rumah kekasihnya?"
"Sering, bahkan setiap hari."
"Apakah korban memiliki masalah dengan seseorang? Atau dengan kekasihnya?"
"Ada, semenjak beberapa hari lalu."
"Adakah kemungkinan, pembunuhnya adalah kekasihnya korban?" Kali ini, Brata membuka suara, membuat semua atensi tertuju padanya.
Ruang tengah itu terasa mencengkram. Membahas hal serius, setelah menguburkan jenazah. Apalagi langit di luar mendung dan minim pencahayaan.
"Kami sempat berdebat masalah Egry. Laki-laki itu pernah menculik saya. Sufia sempat tidak terima saya mengatakan hal jahat, tetapi setelah saya mengatakan hal itu, dia memutuskan untuk menyelesaikan semuanya," jelas Chalodra.
"Tersangka pertama, Egry sebagai kekasih korban," ujar Abra dengan lantang. "Kami akan mulai menyelidik Egry."
Ting tong
Suara bel itu, mencairkan suasana. Baru saja dua orang dari hukum pergi. "Silvia saja," ucapnya lalu melangkahkan kaki.
Pintu besar itu, perlahan terbuka. Seorang lelaki paruh baya berdiri di depannya, tersenyum tipis pada Silvia. Pria itu mendudukkan pantatnya di sofa setelah mendapatkan izin pemilik.
"Kevin, polisi sedang menyelidiki kasus ini," ujar Ratu.
"Aku ingin orang itu dihukum mati."
"Ibu, siapa dia?" bisik Silvia.
"Ayah Sufia," jawab Ratu. "Seperti yang Ibu katakan, semua anak Ibu tidak ada yang dari rahim Ibu sendiri."
Semua anak Ratu sudah tahu, jauh dari Chalodra mengetahuinya. Namun, itu tidak membuat mereka membenci Ratu, karena wanita itu telah sabar dan penuh cinta membesarkan ketiga putrinya.
"Ibu dari Sufia meninggal saat melahirkannya. Kalian semua, mempunyai takdir yang hampir sama."
"Chalodra dititipkan pada Ibu, karena ada yang ingin membunuhnya. Sufia, Ayahnya tidak bisa menghidupi Sufia saat itu, karena usahanya bangkrut. Silvia, Ibumu mengidap TBC dan takut menular padamu," jelas Ratu.
Chalodra meneguk segelas teh yang hangat itu. Tidak terasa, bulir air mata kembali jatuh karena mendengar ucapan Ratu. Segera, Chalodra berhamburan memeluk sang ibu, melepaskan diri dari pelukan Hendery.
"Ibu kalian itu sangat baik," kata Kevin. Pria 48 tahun itu menyesap rokoknya, lalu menghembuskan asap putih.
"Pak, ada perempuan. Lebih baik merokok di luar," tutur Hendery pada pria di sampingnya itu.
Kevin menoleh sejenak, lalu mematikan putung tembakau itu. Pengusaha yang bangkrut dan kembali berdiri dengan usaha tas branded. Memang, dia bukan laki-laki baik, karena selingkuh di belakang istrinya, dengan Ratu saat itu. Namun, salah istrinya juga, sudah tahu sedang hamil, dia masih menjalani pekerjaannya sebagai kasir di sebuah diskotik.
"Aku tidak sebaik itu. Wanita yang baik, tidak akan menjual diri," pekik Ratu.
.....
Udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Bahkan Chalodra menutup tubuhnya dengan selimut. Rasanya seperti terjebak di kulkas. Sedangkan Hendery masih fokus dengan laptopnya.
Ini juga menjadi masalah Hendery, sebagai anggota keluarga, Hendery menyuruh beberapa anak buahnya untuk memantau tersangka. Apalagi melihat Chalodra seperti tersiksa dan merasa bersalah karena perdebatan kecil itu.
Hendery menutup laptopnya. Mereka sedang berada di kamar Chalodra, di rumah Ratu. Tidak terlalu luas, tetapi rapi. Melihat wajah tenang istrinya yang tidur, Hendery mengulas senyum tipis. Hendery berjongkok, mengamati ukiran sempurna itu.
Sadar diperhatikan, Chalodra membuka mata membuat Hendery terjatuh ke belakang. "Mas, sedang apa?" tanya Chalodra. Matanya masih menyipit, karena kantuk.
"Tidur!"
"CHA!"
"CHALODRA!"
Suara itu, teriakan Silvia dari lantai bawah. Chalodra bergegas, diikuti Hendery di belakangnya.
Di dapur itu, Silvia memangku tubuh Ratu yang tidak sadarkan diri. Silvia sudah menangis di tempat. "Cha, Ibu pingsan, Cha!"
"Mas, kita bawa Ibu ke rumah sakit."
Hendery dengan cekatan menggendong tubuh Ratu, untuk dibawanya ke mobil. Chalodra dan Silvia menangis hebat, melihat Ratu yang tidak berdaya.
Sesampainya di rumah sakit, Ratu dilarikan ke UGD, sebagai tindakan darurat, di tengah malam seperti ini.
Chalodra menyembunyikan wajahnya di dalam dada bidang Hendery, menumpahkan tangisnya di sana. Kulit Hendery terasa basah, karena air mata Chalodra menembus kaos hitamnya. Sesekali, Hendery mengelus dan mengecup kening Chalodra, agar istrinya tenang.
Silvia menangis sendiri di sana, menyembunyikan wajahnya di sela telapak tangannya. Kulitnya memerah, matanya membengkak karena menangis seharian. Terasa begitu berat, adik yang disayanginya telah pergi, dan sekarang ibunya dalam penanganan dokter.
Entahlah, terasa begitu berat untuk dijalani.
90 menit lamanya, dokter wanita itu keluar dengan stetoskop di tangannya. Melihat itu, Chalodra, Silvia, dan Hendery menghampiri. Chalodra antusias untuk bertanya. "Bagaimana keadaan Ibu saya, dokter?"
"Ibu Anda mengalami syok berat. Tensi darahnya menurun, detak jantungnya melebihi normal, dan tubuhnya kekurangan gizi membuat beliau tidak kuat menahan diri untuk tidak pingsan," jelas dokter.
"Apa yang harus dilakukan agar Ibu saya sembuh, dokter?" Kali ini Silvia yang bertanya. Gadis itu terlihat murung. Wajahnya membengkak di beberapa bagian.
"Istirahat cukup, makan dengan teratur, dan yang terpenting tidak benyak pikiran."