I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
56. Modus Hendery



Chalodra masih marah, bahkan ketika tidak sengaja saling bertatap mata, Chalodra langsung melengos dan berdecak. Hendery hanya mengelus dada, juga paham itu adalah hormon ibu hamil.


Hendery lalai, kaki kirinya yang memasuki kamar mandi terpeleset karena lantainya yang licin. Lelaki itu ambruk ke belakang, sontak Chalodra menoleh dan berlari ke arah Hendery. "Akh ...." Dia memegangi pinggulnya terasa nyeri. "Sakit, Cha," ungkapnya.


"Kenapa bisa, sih?!" gerutu Chalodra. Dia membantu sang suami berdiri dan membawanya ke ranjang.


Hendery merebahkan tubuhnya, bibirnya terus mendesis. "Cha, rasanya sakit." Mata lelaki itu menyipit karena nyeri menjalari tubuhnya.


"Aku ambil obat penghilang rasa sakit di bawah, ya? Aku panggilkan dokter juga!" seru Chalodra, hendak beranjak tapi pergelangan tangannya dicekal oleh Hendery. "Kenapa?"


Hendery memejamkan mata. "Tolong bantu pijat, saja," ucapnya.


Chalodra menautkan kedua alisnya, sedikit curiga akan suaminya itu. "Cha, ayo!" pinta Hendery.


"Iya, oke." Chalodra berserah diri. Dia naik ke ranjang, duduk di belakang Hendery. "Yang mana?" tanyanya sambil menyentuh daerah punggung Hendery.


Hendery meraba tangan Chalodra, menarik jemari itu dan menempelkannya di pinggang. "Di sini sakitnya," ujar Hendery. Chalodra berdeham singkat dan mulai memijat pelan.


Hendery menikmati, bahkan dia memejamkan mata merasakan sentuhan istrinya. Rasa nyeri itu tiba-tiba pergi. Tidak, sebenarnya memang tidak sakit dari tadi. Mana mungkin, hanya terpeleset akan membuat si kejam Hendery mati?


"Cha," panggil Hendery dengan suara manja.


"Apa?"


"Masih marah?" Chalodra menghentikan gerakan tangannya, menyorot tajam suami yang memunggunginya itu. "Cha, jawab Mas!"


"Jangan pikir karena Mas terluka, aku kasih maaf ke Mas," cecar Chalodra dengan yakin. Dia kembali memijat, tetapi lebih keras dari sebelumnya hingga membuat Hendery mengeluarkan rengekan.


"Cha, sakit! Kamu mau goda Mas?!"


"Siapa yang goda? Aku gak godain Mas!"


Hendery secepat kilat meraih tangan Chalodra, melingkarkan di perutnya. Lantas membuat Chalodra memberontak, tetapi Hendery tahan. Setelah itu, Hendery membawa tangan lain Chalodra menyatu. "Mas!" tegur perempuan tersebut.


Lebih marah dari sebelumnya. Wajah Chalodra merah, bahkan ingin mengigit Hendery dari belakang. "Mas, jangan buat aku tambah marah!"


Posisi Hendery diuntungkan, seolah-olah Chalodra memeluknya dari belakang, padahal itu adalah sebuah paksaan. Hendery mengukir senyum kemenangan. "Maafkan Mas dulu, baru Mas lepaskan," ujar Hendery.


"Gak mau. Mas buat aku semakin marah, tahu!" Chalodra mengerutkan dahi, wajahnya menyerupai preman yang marah. Chalodra tidak tahan. "Mas, lepaskan!" pinta Chalodra, mencoba melepaskan cengkeraman kuat itu.


"Cha, maafkan Mas dulu! Kamu marah karena wanita semalam, kan? Kenapa marah? Itu bukan Mas yang goda."


"Tetap salah Mas! Siapa suruh punya wajah tampan?! Kan, Mas jadi tontonan wanita di luar sana," gerutu Chalodra. Setelahnya, dia membuang muka dengan bibirnya yang mengerucut.


Hendery mengulas senyum tipis. Dengan cepat ia berbalik badan untuk menghadap Chalodra. "Cemburu?" Laki-laki itu menggoda membuat Chalodra mengerutkan dahi. Menyesal sekali.


"Siapa bilang cemburu? Tidak, nih," jawab Chalodra dengan percaya diri.


Hendery menghela napas panjang, memandang wajah merah sang istri. Secepat kilat, dia menarik Chalodra ke dalam pelukannya hingga Chalodra membulatkan mata. "Jangan seperti itu! Mas milik kamu," kata Hendery.


Chalodra mengigit bibir. Sudah satu tahun lebih, mungkin, tetapi lihat dia masih berdebar ketika dalam keadaan seperti ini. "Aku masih marah!" tegas Chalodra.


Chalodra menahan senyumannya agar tidak keluar. Dia mendorong tubuh Hendery hingga mundur. Lalu berdiri dan menatap tajam suaminya. Tak tertahan, senyum manis itu pun terukir di wajahnya. "Jangan macam-macam!" peringat Chalodra, kemudian berlari pergi.


"Cha! Mau ke mana?" teriak Hendery menghentikan Chalodra.


"Mau makan es krim," jawab Chalodra. Lalu, dia berlari meninggalkan kamar.


Tentunya Hendery merasa menang. Dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya. Lalu, memutuskan untuk menyusul sang istri. Makan es krim bersama, sepertinya menyenangkan.


Jalan-jalan pagi. Hendery dengan kaos putih lengan pendek menyita perhatian banyak orang. Chalodra dengan kaos hitam pink dan rambutnya dikunci dua. Chalodra terlihat bukan seperti istri, melainkan seorang adik.


"Kak, adiknya boleh untuk saya?" tanya seorang pria yang melewati mereka. Hey, kamu bisa mati pria tampan!


"Mau mati?!" Hendery melemparkan tatapan tajam, siap sekali untuk menghantam pria di depannya. "Dia istri saya."


Pria tersebut meneguk ludah kasar. Lalu, dia membungkukkan badan dan berlalu begitu saja.


Chalodra mematung menyaksikannya, wajah suaminya merah seperti tomat. Menahan tawanya, Chalodra takut melihat Hendery yang tengah marah. "Mas," panggil Chalodra, Hendery menoleh cepat. "Jangan seperti itu! Aku takut."


"Oh, maaf." Hendery mengacak-acak kecil rambut Chalodra. "Kenapa dikuncir seperti ini? Orang mengira kamu masih remaja," ucap Hendery.


"Lucu, kan?" Mendengar pertanyaan itu, Hendery menghela napas kasar dan mengangguk atau akan ada perang lagi.


Kini, sepasang suami-istri itu duduk di bangku taman. Meluruskan kaki karena baru saja lari dua kali mengelilingi taman. Napas Chalodra memburu membuat Hendery menatap khawatir. "Cha, kamu baik-baik, aja?" tanya Hendery.


Chalodra mengangguk cepat. "Iya, kenapa?"


"Napas kamu tidak beraturan."


"Wajar! Namanya selesai olahraga."


"Kamu tadi berlebihan. Tamannya luas, cukup satu kali. Tapi, kamu malah minta dua kali."


"Kecil." Chalodra meremehkan, tidak peduli suaminya itu mengomel atau apapun. Chalodra puas, Chalodra senang.


Hendery menggelengkan kepala melihat istrinya itu. Netra tajam Hendery tidak sengaja bertemu seorang lelaki yang berdiri tidak jauh darinya. Dia seperti mengamati Hendery sejak tadi, lantas membuat penasaran.


Setelah mengetahui dirinya ketahuan oleh Hendery, dia melenggang meninggalkan tempatnya berdiri.


"Cha, Mas tinggal beli minum dulu, ya?" Chalodra mengangguk membuat Hendery beranjak meninggalkan tempat.


Chalodra mengipasi tubuhnya yang panas. Taman sepi, orang-orang tidak menyukai olahraga, sepertinya begitu.


Hendery begitu penasaran, dia mencari keberadaan lelaki yang pergi tadi. Wajahnya pun tidak ditangkap oleh Hendery karena tudung hoodie menutupi. Sosok dengan pakaian serba hitam, menyerupai lelaki itu membuat Hendery mendekat.


Hendery melangkah mendekati. Menepuk pundak orang tersebut dan membuat lelaki itu menoleh. Namun, tidak seperti dugaannya. Hanya pria tua dengan wajah kusam. "Ada yang bisa dibantu? Saya kebersihan di sini," ucapnya.


"Maaf, salah orang." Hendery melenggang pergi, kembali ke tempat Chalodra menunggunya. Padahal, dia pikir itu adalah Egry yang menjadi pengintainya.


"Aku akan ambil Chalodra dari kamu. Dasar perebut," ucap pelan seorang pria yang memandang kepergian Hendery. Dia---Egry menjadi penguntit Hendery dan Chalodra selama kecelakaan itu. Sudah lama Hendery mencari, tetapi anak buahnya tak kunjung menemukan.