
...SELAMAT MEMBACA! ...
"Lucu banget bayinya!" Chalodra berujar sambil mencolek gemas pipi bayi di gendongan Tivani. "Mirip kayak Kakak," ungkapnya.
"Iya, dong, anak aku. Kalau mirip orang lain, beda cerita, Cha," balas Tivani.
"Aku boleh gendong?" tanya Chalodra dengan nada memohon.
"Boleh. Aku juga mau ke kamar mandi. Nitip, ya." Tivani memberikan bayinya kepada Chalodra dengan perlahan. Lalu wanita itu melenggang pergi ke kamar mandi, di sudut ruangan.
Keluarga Tivani dipenuhi kebahagiaan atas kelahiran putri mereka. Dia langsung mengubungi Hendery satu menit setelah melahirkan. Bahkan Chalodra sangat bersemangat untuk datang. Sedangkan suami Tivani, lelaki tersebut kebingungan mencari nama.
"Nanti kamu kalau sudah besar main-main sama anak Tante, ya?" ucap Chalodra, menimang pelan bayi di gendongannya. "Tante gak sabar lihat kalian main."
Bayi Tivani berkulit putih, matanya sipit karena masih kecil. Bibir merahnya tipis pada bagian atas dan tebal di bagian bawah. Alisnya tebal, tetapi rapi. Jika besar, pasti akan sangat cantik. Perpaduan antara Tivani dan Andre.
Usia kandungan Chalodra sudah empat bulan, dia tidak sabar menantikan kelahiran bayinya. Chalodra dan Hendery sudah menuliskan banyak nama di sebuah buku, tetapi masih belum ada yang cocok. "Cha," panggil Hendery, memasuki kamar Tivani.
Chalodra lantas mengangkat pandangannya, melihat sang suami berjalan mendekat ke arahnya. Hendery mendudukkan pantatnya di samping Chalodra, memandang ke arah bayi yang digendong istrinya. "Cantik, ya?" pungkas Hendery.
"Iya, mirip Kak Tivani," jawab Chalodra.
"Nanti kamu maunya perempuan atau laki-laki?" Hendery mendongak, menatap wajah sang istri begitu dekat dan dalam.
"Apa aja. Kalau laki-laki maunya ganteng kayak kamu. Kalau perempuan juga gak masalah, yang penting sehat."
Hendery tersenyum tipis, tangannya bergerak mencubit pipi Chalodra dengan gemas. "Aku mau kasih tahu, kalau Ibu kamu ada di rumah," ucap Hendery.
"Kata siapa?"
"Bi Aya telpon tadi."
"Anakku kalian apakan itu?!" pekik Tivani keluar dari kamar mandi. Dia memasang wajah marah hingga Chalodra menggelengkan kepala berulang kali. "Mesra-mesra di depan anak kecil. Gak boleh!"
Hendery menghela napas panjang. "Chalodra suka anak kamu, aku bawa pulang boleh?"
"Kamu pikir itu boneka, Hen?" Tivani berjalan sembari mengikat rambutnya. "Kakak ipar kamu ke mana?" tanya Tivani.
"Masih di bawah. Bingung cari nama," jawab Hendery. Dia asik dengan mainan barunya, menggemaskan sekali.
"Padahal sudah aku kasih banyak rekomendasi. Memang dari sananya itu orang banyak maunya." Tivani menggerutu, berjalan keluar kamar meninggalkan sepasang kekasih itu bersama putrinya. "Eh! Jangan apa-apakan bayiku, ya!"
Chalodra tidak sabar untuk pulang. Sudah lama menantikan pertemuannya dengan sang ibu. Dia duduk di samping Hendery sembari melihat ke arah jendela. "Mas, mampir di toko kue dulu, ya," ujar Chalodra. "Mau beli kue coklat untuk Ibu."
"Siap," jawab Hendery. Lalu mengacak-acak kecil rambut sang istri. Setelah itu, Hendery menancapkan gas membuat Chalodra semakin senang.
"Ibu!" Chalodra berteriak, membuka pintu utama dan masuk ke dalam dengan melangkahkan besar kakinya. "Chalodra pulang," teriaknya.
Hendery geram, lantas menahan lengan Chalodra hingga istrinya itu berhenti. "Cha, jangan lari-lari!" peringat Hendery dengan wajah kesal. "Jalan pelan! Ibu kamu pasti gak akan kabur."
Melihat wajah seram sang suami, Chalodra meneguk ludah dan mengangguk cepat. Kini dia melangkah pelan, jalan sejajar dengan Hendery. "Ibu di mana, ya?" tanya Chalodra sambil celingukan.
"Kata Bi Aya ada di kamar tamu, bukan?" Chalodra mengangguk.
"Kalau begitu, aku langsung ke Ibu, ya? Mas Hendery istirahat dulu saja!" Chalodra mendorong tubuh besar Hendery agar lelaki tersebut pergi.
"Ibu!" sapa Chalodra dengan riang. Dia membuka pintu tanpa permisi, menghampiri Ratu dan memeluknya cepat. "Lama tidak bertemu."
Ratu membalas pelukan Chalodra, mengelus lembut punggungnya. "Ibu kangen," katanya.
"Kangen tapi gak pernah main!" Pelukan itu mengendur, lantas kedua duduk di kasur. "Kak Silvia bulan madu, bukan?" tanya Chalodra, sedikit penasaran akan hal itu.
Ratu mengangguk cepat. "Setelah periksa dan dinyatakan sulit mempunyai keturunan, suaminya ajak dia berlibur. Soalnya Silvia jadi pemurung." Ratu menghela napas panjang, menatap dalam Chalodra di depannya. "Ibu kasihan," ungkapnya.
Chalodra menggapai tangan sang ibu, menggenggamnya. "Chalodra ikut sedih. Tapi, suatu saat pasti bisa, kok."
Silvia---kakak Chalodra dan Erlangga menikah satu bulan yang lalu. Sempat dinyatakan hamil, tetapi tes kehamilan yang digunakan ternyata rusak. Hingga kedua pasangan tersebut memeriksakan ke dokter. Namun, Silvia malah dinyatakan tak bisa punya keturunan. Membuat satu keluarga sedih, terutama Silvia. Beruntung Erlangga begitu mencintai Silvia, keduanya pun saling menguatkan.
"Ibu kesepian sekali di rumah. Dua hari lalu mereka pergi, rasanya tidak ada teman," pungkas Ratu.
"Kenapa tidak langsung ke rumah Cha? Padahal boleh."
"Ah, itu ... Ibu pikir kamu sibuk dengan suamimu. Hendery juga jaga aktivitas kamu, apalagi di luar rumah."
"Itu dulu, Bu! Sekarang, Mas Hendery super baik. Setiap pagi kami lari pagi di taman."
"Oh, ya? Hendery yang galak itu?" Chalodra mengangguk cepat.
Chalodra terpaksa pergi karena Hendery terus memanggilnya dengan nada marah. Menyeramkan. Chalodra harus membersihkan kamar yang berantakan karenanya sendiri. "Iya, Mas, aku bersihkan. Lagi pula, kenapa Mas tidak bantu?"
"Cha, lihat di balkon! Di sana sudah aku bersihkan. Banyak semut karena jajan kamu semalam." Hendery menggerutu, dia melenggang keluar kamar.
"Iya, salah aku juga." Chalodra menggaruk tekuk lehernya, melihat kamar yang kotor berserakan bungkus jajan.
Semalam Chalodra berpesta sendirian. Memakan makanan manis sambil jalan-jalan menjelajahi kamar, padahal Hendery sudah melarangnya membuang sampah sembarangan. Kotor karena Hendery mengajaknya secara tiba-tiba mengunjungi rumah Tivani.
"Aduh! Mana banyak banget," rengek Chalodra sambil memegangi punggungnya. "Dek, kamu cepetan lahir! Supaya bisa bantu bersih-bersih."
"Eh?" Chalodra mengerutkan keningnya, mencengkram perutnya kuat hingga sapu dan cikrak di tangannya jatuh. "Sshh ...."
Chalodra meluruh ke lantai, perutnya seperti dililit. Dia meremas kuat kasur di belakangnya. "MAS!"
Tidak lama Hendery datang menghampiri, tetapi dengan santai. "Apa?" celetuk laki-laki itu saat belum sadar. Namun, setelah melihat Chalodra, dia berlari dan langsung mengangkat Chalodra menuju kasur. "Kenapa?"
Raut wajah Chalodra berubah, dari yang kesakitan menjadi seperti menahan geli. "Bayinya, Mas," kata Chalodra.
"Kenapa, Cha? Kamu baik-baik aja, kan?!"
"Bayinya nendang!" Chalodra kesenangan, membawa tangan Hendery ikut menyentuh perutnya.
"Eh, eh, Cha!" pekik Hendery. Ikut merasakan pergerakan yang aneh di perut Chalodra, Hendery mengulas senyum tipis. "Apa tidak sakit?" Chalodra menggeleng.
Chalodra mengelus lembut rambut sang suami, membuat Hendery mengecup perut Chalodra sekilas. "Terima kasih, Cha," ujar Hendery.
...Huhuhuhu lama banget ya gak update...
...aku sampai lupa sama alur, harus baca ulangಥ‿ಥ...
...JANGAN LUPA LIKE! FOLLOW JUGA YA! KOMEN DONG😍...