I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
50. Gadis kecil



"Leon Charleston, putra sulung Charleston Anggara," katanya sambil menyunggingkan senyum. Dia mengulurkan tangannya membuat Hendery menatapnya tajam. "Bisa dibilang, saya Kakak tiri istri Anda, Chalodra."


Hendery masih menatapnya tajam, tentu saja karena menebak kedatangan laki-laki itu. "Ada urusan apa?" tanya Hendery.


"Saya di sini hanya untuk menyampaikan. Jangan harap kehidupan Anda dan istri Anda tenang, setelah membuat Papa saya terkena kangker hati." Ucapan penuh penekanan, tatapan tajamnya menatap Hendery sebagai mangsa. "Dan tolong sampaikan pada istri Anda, dia harus mengganti semuanya," katanya.


Dia tidak menunggu balasan dari Hendery, Leon melenggang pergi seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Mata sipit dengan tatapan tajam, membuatnya terlihat tegas. Tubuhnya terbilang sama seperti Hendery, juga rahang kokohnya yang membuatnya bringas.


"Tidak semudah itu," ucap Hendery pelan, sambil mengamati kepergian lawan main barunya itu. Hendery menghembuskan napas panjang, lalu masuk ke dalam rumah.


Chalodra mendudukkan tubuhnya di tempat tidur, seseorang membuka pintu membuat senyumnya mengembang. Gadis mungil berlari ke arahnya dan memberikan setangkai bunga kepada Chalodra. "Permisi," katanya sopan.


"Bunga Kakak, dari bawah."


Chalodra mengambil bunga mawar putih itu dari tangan Anya, lalu mengelus lembut pucuk kepala gadis itu. "Bukannya, ini namanya mencuri? Mengambil bunga milik orang, tanpa sebuah perizinan?" ucap Chalodra.


Anya nyengir menunjukkan deretan giginya, masih ada yang belum tumbuh. "Sudah izin ke Papa."


"Ada apa Anya ke sini? Menemui Kakak?" tanya Chalodra. Dia mengangkat gadis itu, agar duduk di atas pangkuannya.


Anya mengangguk dengan gemas. Rambut kuncir duanya membuat wajahnya bulat, pipinya penuh dan mengembang seperti bakpao. "Anya akan pulang," katanya, masih tertatih. Anya memeluk erat Chalodra, membuatnya tersenyum tipis.


"Kakak tidak diajak?"


Anya mendongak, menatap Chalodra dengan mata bulatnya. "Boleh ikut!"


"Kenapa Anya tidak tinggal di sini saja, bersama Kakak?"


"Harus pulang." Seketika, wajah gadis itu berubah, bibirnya mengerucut dan kedua tangannya dilipat di depan dada. "Cati menungguku," ucapnya.


"Cati? Temanmu?"


"Anjing putih lucu di rumah Anya. Mau lihat?" Anya sumringah, bibir mungilnya terbuka dengan lebar.


"Mungkin nanti, Kakak akan berkunjung ke rumah Anya."


"Benar, ya?" Chalodra mengangguk. Anya memeluk Chalodra dengan erat, pelukan hangat itu membuat Chalodra mengingatnya. Air mata Chalodra menetes, sedikit perih untuk saat ini. "Anya mau buang angin!" celetuknya.


Chalodra tersentak kaget, pahanya terasa seperti ada hembusan angin. Namun, Anya membulatkan matanya. Gadis itu menutup mulutnya, lalu berucap pelan, "Anya tidak tahan."


Chalodra langsung menyemburkan tawanya, sambil mengelus pucuk kepala Anya.


Hendery tidak mengizinkan Chalodra melakukan pekerjaan yang berat, alhasil Chalodra hanya berdiam diri di kamar setelah makan. Bi Aya sering berkunjung ke kamar Chalodra, menceritakan akan menikah bulan depan.


Saat hendak melangkah keluar kamar, Chalodra membuka pintu dan dikagetkan Hendery sudah berada di depannya. Hendery mengulas senyum tipis, menatap tajam sang istri. Hendery membuat Chalodra melangkah mundur, lalu mengunci pergerakan Chalodra di balik pintu.


Hendery tersenyum miring. "Mau liburan?" tanya Hendery, dia berbisik di balik telinga Chalodra, membuat Chalodra memejamkan mata. "Ke mana?"


Kini keduanya menatap satu sama lain. "Beneran?" tanya Chalodra memastikan. Hendery mengangguk. "Jepang?"


Hendery mencoba berpikir, lalu memeluk Chalodra erat dan dagunya bertumpu pada pundak Chalodra. "Okay. Dua tiket bulan madu ke Jepang, langsung berangkat lusa," ucap Hendery.


"Eh? Lusa? Aku tidak punya pasport loh, Mas," sahut Chalodra.


"Lima hari lagi, pengurusan paspor hanya tiga hari."


"Secepat itu?"


"Tapi aku setiap hari healing, di teras kamar," jawab Chalodra. "Mas, tidak jadi Jepang, Bali saja, bagaimana?"


"Coba pikirkan lagi, ke mana pun pilihan kamu, kita akan berangkat satu minggu ke depan," ujar Hendery. Dia menuntun Chalodra, membawanya duduk di tempat tidur.


"Bali saja, aku sedang ingin melihat pantai."


"Hanya ingin melihat pantai? Di sini juga ada, Cha."


Chalodra melebarkan matanya. "Di rumah kita ada pantai?"


Hendery mengangguk cepat. "Kamu bisa melihat luasnya lautan cintaku padamu."


Chalodra memekik, hampir menyemburkan tawanya. "Mas Hendery benar-benar berubah!"


"Berubah bagaimana? Jelas-jelas wajahnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya.".


"No, bukan itu." Chalodra terkikik geli, membuat Hendery tersenyum tipis. Suaminya itu sangat percaya diri, dengan apa yang dikatakannya. Chalodra merasakan air mata di sudut matanya, tentu saja karena tertawa. "Aku mau makan durian," celetuk Chalodra.


"Durian? Kamu suka durian?" Terlihat dari kondisi muka Hendery, laki-laki itu sepertinya jijik dengan buah berkulit ganas.


"Biasa aja. Aku udah lama gak makan durian, Mas. Belikan ya?"


"Besok ya? Mas mau berduaan sama kamu hari ini." Lagi-lagi Hendery memeluk Chalodra erat, menyusupkan wajahnya di dada Chalodra. "Mas kangen kamu, Cha," ujarnya.


"Kamu harus tetap senyum ya? Mas suka itu. Maaf, dulu selalu buat kamu menangis, Mas memang kejam sekali," katanya.


"Semua orang punya kesalahan. Mas beruntung melakukan itu padaku, karena aku orangnya muda memaafkan," jawab Chalodra, dia mengukir senyum tipisnya sambil mengelus kepala Hendery.


"Kamu benar, Mas beruntung bisa mendapatkan kamu, Cha. Laki-laki kejam menikahi gadis lugu."


"Tidak, aku tidak lagi lugu. Tapi baik hati!"


"Terserah kamu, Cha," kata Hendery. Dia semakin mengeratkan pelukannya dan menikmati nyamannya bersandar pada dada Chalodra.


Dalam dua minggu terakhir, Hendery masih belum mendapatkan kabar tentang mobil yang membawa papanya terjun ke sungai. Hingga sebuah panggilan membuat Hendery pusing. "Mobilnya masih belum ditemukan tim, kemungkinan penumpang sudah taida," kata orang itu.


Hendery memijat pelipisnya, dia meminum segelas air putih hingga habis. Orang yang datang kemarin, membuat Hendery tidak berhenti berpikir. Lantas, siapa yang menolong Carlon dan Egry kabur? Jikalau Leon, bukannya dia ikut terjun di dalam mobil itu.


Hanya itu yang Hendery pikirkan, karena akhir-akhir ini otak Hendery tidak berjalan lurus. Mungkin juga karena umur dan masalah hubungannya dengan Chalodra. Hendery membuka ponselnya, mengamati lockscreen gambar pernikahannya.


Dalam lamunannya, manik Hendery tiba-tiba membesar. "Sudah lewat?" pekiknya. "Aku bahkan lupa aniversary kita terlewat dua bulan." Hendery memukul kecil kepalanya. "Sepayah itu aku menjadi seorang suami," tegurnya pada dirinya sendiri.


Malam ini begitu dingin, bulan sabit tidak terlalu menerangkan cahayanya. Bagaikan mati lampu, langit gelap membuat Hendery mendongak. Laki-laki itu berdiri di halaman rumah, sengaja berpikir di sana untuk membelikan hadiah istrinya. "Apa besok aku belikan kue saja? Atau dinner malam dan check-in hotel?" Hendery menggelengkan kepalanya.


"Kue dan buket bunga yang besar, sepertinya bagus. Bagiamana kalau gelang yang cantik? Pasti Chalodra terlihat lebih indah!" Sambil berandai-andai, dia menyesap rokok di sela jemari berototnya.


Brugh


Tubuh Hendery dibuat terjungkal ke depan. Laki-laki itu merasakan dilempar di punggungnya. Hendery melirik ke kanan, sebuah batu besar berwarna putih membuat dahinya berkerut. Hendery mencoba mencari pelakunya, tetapi semuanya gelap dan Hendery tidak bisa menemukannya.


"Sialan," umpat Hendery kala melihat tulisan di kertas, yang melapisi batu itu.


Jangan harap bahagia. Kalian akan membayarnya semuanya dan saya akan membalas semuanya.


Ancaman itu mengingatkan Hendery kepada Leon, yang datang tadi pagi. Hendery juga sudah menyuruh anak buahnya menggali informasi lebih dalam laki-laki itu.