I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
55. Gara-gara Tante



Malam ini Hendery membawa istri dan ibu mertuanya ke sebuah rumah makan. Mereka sampai dan telah memesan berbagai menu makanan. Bi Aya tidak lupa diajak, ia ikut serta dalam acara kecil keluarga tersebut.


Ayam panggang, kepiting saus merah, dan kue stroberi berada di atas meja. Mereka memilih duduk lesehan di sudut ruangan, menikmati kolam ikan di samping melalui kaca yang menjadi pembatas. Chalodra terlihat kesenangan, dia pun mulai merengek memintanya. "Mas, belikan ikan yang seperti itu, ya? Satu saja," ucap Chalodra.


Hendery yang menikmati suapan nasi itu hanya mengangguk singkat. Namun, Chalodra menghela napas panjang. "Gak boleh, ya?" ungkap Chalodra, ia menjadi lesu dan lemas ketika menyantap makanannya.


"Iya, nanti Mas belikan."


"Bohong." Chalodra mengerucutkan bibirnya membuat Hendery menjadi kesal setengah mati, padahal dirinya sudah mengiyakan.


"Besok, Mas belikan satu yang seperti itu. Janji." Chalodra menoleh cepat, membulatkan mata besarnya dan berkedip berulangkali. "Jangan marah!" ucap Hendery sembari mengelus pipi Chalodra.


"Mas!" pekik Chalodra, menepis tangan besar sang suami. "Dilihat Ibu sama Bi Aya, tuh!"


Hendery sampai lupa bahwa ada orang lain di bangku mereka. Sedangkan Ratu dan Bi Aya hanya menertawai mereka sambil menutup mulut. "Tidak apa, lanjutkan saja!" ujar Ratu, menggoda sang putri yang mulai merasa malu.


"Aku ke toilet." Hendery berdiri dari duduknya, lalu melenggang pergi ke belakang.


"Suami kamu malu-malu, Cha," cecar Ratu.


"Ibu, jangan goda Chalodra!" peringat Chalodra kepada ibunya yang masih menahan tawa. Gara-gara kehamilannya, dia sulit mengontrol diri.


Hendery mencuci tangannya yang berkeringat, meski malam begini, berada di dekat Chalodra sangat membuat gerah. Dia pun sedikit membasahi rambut hitamnya dan menyisirnya ke belakang. "Memangnya tempat jual ikan di mana?" tanyanya. "Memang, aku tahu setiap tempat di kota ini. Tapi, tidak pernah lihat penjual ikan selain ikan mati atau yang sudah dimasak."


Hendery berjalan keluar dari toilet yang sepi itu, setelah mendengar suara menyahuti monolognya. Seketika tubuhnya meremang dan bergidik ngeri. Kurang fokus, Hendery tidak sengaja menyenggol seorang wanita yang berjalan melawan arahnya. "Maaf," kata Hendery.


Wanita itu menanggapi dengan baik, mengukir senyum menggoda dan mulai mengedipkan sebelah matanya. "Tampan," ucapnya, memajukan bibir seakan ingin mencium Hendery.


Hendery mengerutkan dahi, lantas mendorong kecil tubuh wanita yang terbilang seksi di depannya. Namun, laki-laki itu merasa geli dan kurang suka melihat dandanan tebalnya. "Saya sudah beristri." Lalu dia melenggang pergi melewati perempuan tersebut.


Wanita itu menatap kepergian Hendery, menampilkan ekspresi kecewanya. Kurang beruntung, dia pun melenggang pergi.


Kacau. Hendery menangkap ekspresi kesal Chalodra. Istri itu mencengkram sendok di tangan dan menatap elang ke arahnya. "Cha? Kamu ... itu ... lihat itu?" Hendery gagap, langsung menggenggam tangan Chalodra.


"Cha, lagi pula Hendery tidak menanggapinya," ujar Ratu, mencoba meredakan emosi Chalodra.


"Pergi aja kamu sama Tante yang tadi!" Chalodra mendorong tubuh Hendery, membuang muka ke arah lain. "Dasar," umpatnya.


"Cha, Mas sudah bilang ke dia---"


"Bilang apa?! Mau bertemu lagi di belakang aku?!" Pundak Chalodra naik turun, wajahnya pun merah padam. Setelah mengatakan itu, dia memunggungi Hendery.


"Cha, Mas tidak sengaja menabraknya tadi," ucap Hendery.


"Hen, sudah! Hormon ibu hamil, tidak akan bisa kamu paksa. Nanti juga berubah sendiri," ujar Ratu.


"Cha," panggil Hendery. Kali ini dia mencoba memegang lengan Chalodra, tetapi malah ditepis.


"Aku mau pulang. Makannya sudah selesai, kan?" Chalodra berdiri dari duduknya, mengambil tas dari meja. "Aku tunggu di luar," ucapnya dengan nada marah.


"Cha!" Chalodra sudah tidak menggubris panggilan Hendery. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dan mengelus dada.


Dari kejadian semalam, sampai pagi ini Hendery tidak berhasil membujuk Chalodra. Bahkan tadi malam, Chalodra tidur di kamar tamu bersama Ratu. Kini, keduanya kembali bertemu di ruang tengah. Wanita hamil tersebut tengah mengupas mangga untuk dirinya makan. "Pergi sendiri saja," balas Chalodra ketus.


"Ayo, Cha! Sekalian kita beli ikan yang kamu kamu." Hendery berjongkok di depan Chalodra, menggoyang-goyangkan istrinya. "Cha!" rengek Hendery.


"Gak mau. Pergi sendiri!" Chalodra melenggang pergi membawa buah manganya.


"Astaga. Lihat! Dia berubah secepat ini?" Hendery mengusap kasar wajahnya. "Oke, aku pergi sendiri," gumamnya.


Jika harus menunggu Chalodra mau, pasti tidak jadi berangkat hari ini. Hendery pun membutuhkan barang untuk keperluan kerjanya. Sudah lama membutuhkan, tetapi baru sempat membeli sekarang. Dia pergi membawa mobil hitam, mengendarainya perlahan.


Mengenai sang adik, dia jarang sekali menampakkan diri. Taka mengurus semua hal yang ada di perusahaan Hendery, bahkan Hendery tidak perlu selalu berada di kantor. Soal hubungannya dengan Casandra, mereka berencana menikah tahun depan, padahal itu terlalu lama.


Hendery mengambil beberapa es krim di supermarket, memasukkannya ke dalam keranjang belanja. Benda yang diperlukannya, juga sudah berada di dalam. Makanan ringan, coklat, dan susu untuk sang istri. Tentunya sebagai bujukan.


Menyelesaikan semuanya dengan cepat, Hendery membawa belanjaannya ke kasir. Perlu menunggu seseorang selesai di depannya. Pria berpakaian tertutup, wajahnya penuh luka ketika Hendery mengamati. Lalu laki-laki tinggi tersebut pergi dengan kantong plastik di tangannya.


Hendery mengerutkan dahi melihat kepergiannya, seperti ada yang tidak asing. "Siapa, ya?" gumamnya.


.....


"CHALODRA!"


"MAS PUNYA ES KRIM!" Suara Hendery melengking memenuhi seisi rumah. Hening seketika, hanya suara decakan Hendery. "Cha, kamu di mana?" teriaknya.


Pergi ke kamar, tetapi tidak melihat keberadaan sang istri. Hendery menggaruk tekuk lehernya, bingung sekali mencarinya. Lalu dia pergi ke halaman dan melihat Chalodra berjongkok di depan sebuah akuarium kecil. "Cha, kamu sedang apa?" tanya Hendery.


Hendery menghampiri Chalodra, berjongkok di sampingnya. "Eh, ikannya siapa itu?" tanya Hendery.


"Jangan lihat!" Sontak dia menutupi akuarium kecil itu dengan tangan, tidak mengizinkan Hendery melihat. "Ini ikan aku dibelikan Bi Aya. Mas jangan lihat!" ketus Chalodra.


"Oh, dibelikan Bi Aya. Mas tadi belikan kamu es krim banyak, loh, mau?"


"Ditolak. Cha masih marah."


Hendery mendengus kesal, dia kembali berjongkok dan menempelkan tubuhnya pada Chalodra. "Maaf, Cha," bisik Hendery. "Mas tadi beli susu, coklat, jajan, sama es krim banyak. Masa masih marah?"


"Mas pikir hanya dengan itu hati aku yang rapuh ini membaik?" Chalodra mengangkat alis. Lalu menggeleng kuat. "Kasih itu semua sama Tante yang kemarin!" celetuknya. Dia berdiri membawa akuarium kotaknya pergi.


"Jangan temenan sama dia! Dia jahat," ucap Chalodra pada ikan koi di dalam akuarium itu.


"Cha! Es krimnya mas habiskan, loh!" Hendery berteriak, berharap Chalodra menghentikan langkahnya dan kembali.


Tidak seperti bayangan Hendery. "Habiskan saja!" jawab Chalodra.


...Dasar Hendery! ...


...eh? yang salah Hendery kan? ...


...iya dong! ...