
...KOMEN sama LIKE jangan dikasih kendor! ...
...Mau kasih tahu IG Reyna, nih. ...
...Reyy_hstagram follow ya but masih gak ada apapa di sana hehehe...
...SELAMAT MEMBACA! ...
"Kamu mau menyerahkan diri, ya?" kata Carlon, dia berusaha berdiri.
Amar berjalan mendekat sambil menarik sudut bibirnya. "Anda seharusnya ingat umur dan ingat kebahagiaan anak Anda."
"Itu bukan urusanmu. Jadi, mau sekarang?" Carlon tersenyum miring. Otot-otot di tubuhnya menonjol, dia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan sebuah pistol. "Saya masih punya cadangan," katanya sambil mengangkat pistolnya ke atas.
Hendery lengah, Carlon menarik pergelangan tangan Chalodra hingga tertarik. Carlon membekap tubuh Chalodra, dengan sebelah tangannya.
DOR
"CHALODRA!" Hendery berteriak lantang. Carlon menembak lampu besar di atas, membuat beberapa biji pecah dan jatuh mengenai wajah Chalodra.
Chalodra meringis pelan, sudut matanya tergores pecahan beling. Darah mengucur membasahi pipi Chalodra, Hendery manarik tubuh Chalodra dengan keras dari Carlon. Sedangkan Carlon, dia berlari pergi sambil mengangkat tangan.
Hendery mengigit bibir bawahnya, dia mengelus pelan pipi Chalodra. "Cha," lirihnya.
"Bawa ke rumah sakit, Hendery!" pinta Amar.
Hendery mengangguk, dia menggendong tubuh Chalodra. Darah tidak berhenti menetes, membuat Chalodra sudah sesenggukan. Hendery panik membawa Chalodra ke rumah sakit. Sepertinya bukan hanya tergores, tetapi kaca itu masuk ke dalam ekor mata Chalodra.
Hendery sedikit mengeluarkan air mata melihat Chalodra kesakitan. Dia benar-benar tidak tega, apalagi dengan keadaan Chalodra hamil, pasti bayinya juga ikut sedih.
Sampai di rumah sakit, Chalodra dibawa ke ruang UGD. Setelah diperiksa, ternyata benar, ada sedikit beling yang masuk membuat Chalodra dipindahkan ke ruang operasi. Hendery naik pitam melihat Chalodra terus kesakitan, ini juga karena kelalaian dirinya.
Taka datang, menghampiri Hendery yang terus menundukkan kepala dengan pundak naik turun. Dapat dilihat jelas, Hendery menahan emosinya agar tidak keluar. Taka mengelus pundak sang kakak agar tenang. Namun, rupanya itu semakin membuat Hendery kesal.
Dia berdiri tiba-tiba, otot kebiruan terpampang jelas di kulit tubuhnya. Kedua tangan Hendery mengepal, sambil mengigit gigi-giginya. "Aku sudah tidak tahan lagi," gumamnya. Hendery melangkahkan kaki lebarnya, tanpa menggubris panggilan Taka.
Beberapa saat setelah Hendery pergi, Amar datang membawa Maria. Taka segera menghampiri Amar, "Aku mau mengejar Kak Hendery, kalian tolong jaga Kak Chalodra, ya?" kata Taka.
Amar mengangguk. Taka segera pergi mengejar Hendery, karena tahu kemarahan kakaknya pasti akan menimbulkan suatu masalah. Amar dan Maria memilih untuk duduk di kursi tunggu, di depan ruang operasi.
Maria menitipkan putrinya kepada asisten rumah tangganya. Untuk pergi dari rumah, Maria harus membuat Anya tertidur terlebih dahulu, tidak mungkin untuk mengajak Anya dalam suasana runyam seperti ini. Maria mengelus pelan punggung Amar, mencoba menenangkan suaminya itu.
Amar paling takut dengan suara keras yang datang tiba-tiba, dia selalu menunduk ketika mendengarnya. Namun, ketika suara itu berasal dari dirinya sendiri, Amar akan biasa-biasa saja.
Taka mengejar mobil Hendery yang melaju kencang, Hendery melampaui batas kecepatan. Sambil menggerutu, Taka ikut membelah jalan. Hingga Hendery menghentikan mobilnya di depan rumah. Laki-laki itu berjalan cepat, entah mau melakukan apa.
Bi Aya yang sedang membersihkan rumah, menyapa Hendery. Namun, Hendery tidak menggubrisnya dan Taka menyuruh Bi Aya agar pergi ke dalam. Hendery masih tidak mendengarkan panggilan dari Taka, seakan tuli.
"Kak!"
Hendery memasukkan benda itu ke dalam saku jasnya. Kali ini, panggilan Taka mengehentikan langkah Hendery. "Jangan halangi!" peringat Hendery.
Hendery mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. "Cepat, lakukan sekarang juga! Tangkap Carlon!" perintah Hendery kepada orang di balik telepon. Lalu, dia kembali berjalan menuruni tangga.
"Kakak yakin untuk menyerang Papa?" tanya Taka, saat sudah di dalam mobil. Dia memilih untuk ikut di mobil Hendery, agar bisa lebih mengendalikan emosi kakaknya itu. "Dengan keadaan Kak Chalodra sekarang?"
Damn!
Hendery tersentak kaget. Ini sudah di luar nalarnya. Bagaimana dia bisa tega meninggalkan istrinya, dalam kondisi seperti itu. Chalodra yang merintih kesakitan, Hendery wajib dicap sebagai suami tidak berhati.
Hendery menepikan mobilnya, lalu membenturkan sekali kepalanya ke setir. "Bodoh. Hen, kamu bodoh," gumamnya.
Taka melihat kakaknya dengan sendu, miris. "Kakak akan lebih bodoh, kalau tidak memperdulikan Kak Chalodra," ujar Taka.
Hendery menghembuskan napas panjang. "Kamu benar. Kakak kamu ini bodoh, gak pernah bisa suami yang baik."
"Aku gak berguna ... sama sekali," sambungnya.
Taka mengulurkan tangannya, menepuk pelan pundak Hendery. "Kita temani Kak Chalodra di rumah sakit saja, ya?"
Tanpa jawaban, Hendery kembali melajukan mobilnya. "Akan aku balas, jika Chalodra sudah melahirkan," gumam Hendery, begitu pelan.
Hendery melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Chalodra, dia diberitahu Amar saat di jalan tadi. Beberapa orang menatap ke arahnya. Siapa yang tidak ngeri melihat wajah tampan itu memasang wajah marah?
Hendery segera memasuki ruangan Chalodra, istrinya itu ternyata sedang tidur. Amar dan Maria yang tadinya berada di dalam, pergi keluar setelah melihat kedatangan Hendery. Dia berjalan pelan mendekati Chalodra, lalu mengusap pelan kepala Chalodra.
Merasakan sentuhan, Chalodra membuka mata. Keduanya melemparkan tatapan yang begitu dalam. Sebelah kiri mata Chalodra diperban, dokter telah mengeluarkan pecahan beling yang sedikit masuk.
Manik kanan Chalodra meneteskan air mata, hatinya terasa begitu sesak untuk merasakan sakit seperti ini. Hendery membelai pipi Chalodra dengan lembut. "Cha, it's okay?" tanya Hendery.
Chalodra mengangguk pelan. Lalu, dia harus menjawab apalagi, selain merelakan apa yang telah terjadi? "Mas, jas kamu ada daunnya," ucap Chalodra.
Hendery melepas jasnya, dia lupa, kalau dirinya menyimpan pistol di dalamnya. Dan, pistol itu jatuh ke lantai menyebabkan bunyi nyaring. Chalodra melebarkan matanya dan menatap tajam Hendery. "Mas?"
Hendery tidak bisa berujar, dia segera kembali menyimpan senjata itu. Ponsel di sakunya berdering, Hendery segera mengangkatnya. Mendengar sedikit keributan, Taka masuk ke dalam ruangan. "Aku akan segera ke sana." Itu yang Hendery katakan.
Taka mengerutkan dahi mendengarnya. Tanpa sepatah kata hanya untuk sekadar berpamitan, Hendery melenggang begitu saja.
"Taka, Mas Hendery kenapa? Dia tadi bawa pistol," ucap Chalodra panik.
Taka membulatkan matanya. Taka menebaknya, Hendery pergi untuk Carlon.
Taka memberikan segelas air di atas nakas kepada Chalodra, kakak iparnya itu sedang panik. Apalagi dalam keadaan hamil, itu sangat tidak baik untuk janin. "Kak Chalodra tenang saja, ya!" ujar Taka menenangkan.
"Mas Hendery mau kemana, Taka? Mas Hendery baik-baik saja 'kan?"
"Aku tidak tahu Kak Hendery mau kemana, tapi Kak Hendery pasti segera kembali."