
"Mas Hendery, makan di luar, yuk!" ajak Chalodra, menghampiri Hendery dan ikut duduk di sofa.
Hendery yang tengah menatap layar laptop, beralih pada Chalodra. "Kamu ganti baju dulu, Mas mau menyelesaikan sedikit lagi," jawab Hendery.
"Oke." Chalodra beranjak mengambil pakaian dari almari. Dia pergi ke kamar mandi untuk menganti piyama yang dikenakannya. Chalodra takut jika berganti di depan Hendery, nanti malah tidak jadi makan malam.
Malam ini akan menjadi sebuah dinner. Chalodra dengan kemeja putih dan rok abu-abu selutut berjalan berdampingan, dengan Hendery yang mengenakan sweater hitam. Keduanya membuat atensi Taka teralih dari meja makan. "Wih! Mau kemana?" katanya sedikit berteriak.
Hendery dan Chalodra berjalan mendekati Taka. "Mau makan malam di luar, kamu mau ikut?" ujar Chalodra.
Taka menggeleng cepat. "Aku baru makan. Nih! Piringnya belum aku cuci," ucap Taka menunjukkan mangkok kosong.
"Kebanyakan spaghetti gak makan nasi, nanti tubuhmu jadi panjang," gerutu Hendery. "Ayo, Cha!" Hendery melenggang meninggalkan Chalodra.
"Mau titip sesuatu?" tawar Chalodra pada Taka.
"Roti rasa jeruk, kalau ada."
"JANGAN ANEH-ANEH!" teriak Hendery dari ruang tengah. "AYO, CHALODRA!"
"IYA!" Chalodra menghembuskan napas panjang. "Kakak pergi dulu, ya."
"Hati-hati!"
Aneh, Taka itu selalu membuat orang lain kesal. Anak manja satu itu, tidak pernah bosan menjahili seseorang, tanpa terkecuali. Meski takut kepada Hendery, tetapi Taka selalu menantangnya. Lagian Hendery tidak akan berani kasar kepadanya.
Mobil hitam Hendery berhenti di sebuah restoran mewah, padahal Chalodra hanya ingin ke sebuah cafe untuk makan kue. Namun, Hendery memaksa dan akan menjadikan ini acara dinner. Restoran mewah dan tentunya di dalan gedung yang tinggi, juga banyak mobil bermerk terparkir.
Chalodra berjalan menggandeng lengan Hendery yang terasa keras. Sambil melemparkan tatapan dalam sesekali, Hendery dibuat salah tingkah oleh Chalodra. Senyum perempuan yang satu ini, tidak pernah gagal membuat hati Hendery luluh.
Di sebuah meja yang sudah dipesan khusus, Hendery dan Chalodra dilayani dengan sopan. Mereka berdua memesan daging sapi dan tentunya ekstra nasi. Dengan garpu dan pisau keduanya menikmati. Musik anggun itu juga diputar pelan sebagai hiburan di tengah kesunyian.
Chalodra meminum segelas jus lemon, lalu mengelap sisa makanan di bibirnya dengan tisu. Hendery sudah menghabiskan makanannya terlebih dahulu, dia pergi ke tempat di belakang Chalodra untuk melihat pemandangan kota.
Disediakan sebuah tempat untuk melihat pemandangan melalui dinding kaca, Hendery sengaja memesan kursi dekat spot itu. Lampu-lampu gedung di bawah, lampu kendaraan, dan orang berlalu-lalang dapat dilihat sama-sama dari atas.
Chalodra menarik napas dalam-dalam, hendak berdiri untuk menghampiri Hendery, tiba-tiba kepalanya terasa berat. Decitan dari meja yang Chalodra gunakan untuk menumpang, membuat Hendery menoleh dan segera menghampiri. "Kamu kenapa, Cha?" tanya Hendery, dengan segera dia mendudukkan tubuh Chalodra kembali.
"Kepala aku tiba-tiba pusing, Mas," kata Chalodra.
"Ke rumah sakit, ya?"
Chalodra menggeleng sambil memijat pelan pelipisnya. "Kita pulang saja, Mas."
Siapa yang tidak terkejut, melihat orang terdekat tiba-tiba pusing? Bahkan Chalodra hampir pingsan. Hendery langsung membawa Chalodra keluar restoran.
"Tadi siang sudah minum vitaminnya 'kan, Cha?" tanya Hendery selama di perjalanan.
"Sudah, kok," jawab Chalodra lemas.
Setiba di rumah, Hendery menggendong Chalodra hingga ke kamar dan menidurkan Chalodra di kasur. "Istirahat!" pinta Hendery.
"Mas juga tidur!" rengek Chalodra.
Hendery mengangguk sambil tersenyum. Lalu dia menutup pintu kamar dan ikut tidur di samping Chalodra. Tangan kiri Hendery, dia gunakan untuk bantal Chalodra, sedangkan tangan kanan mengelus kepala Chalodra.
"Besok kita periksa, ya?" ujar Hendery. Chalodra pasrah, dia hanya mengangguk.
Nyaman, aman, dan hangat ketika Chalodra menyusupkan kepalanya di dada Hendery. Aroma daun mint membuat Hendery lebih terasa keren, sedangkan Chalodra lebih cenderung dengan bau bunga.
Mengandung buah hati selama empat bulan tanpa diketahui, membuat Chalodra seringkali berpikir, kenapa dia bisa tidak merasakannya? Hingga tiba-tiba pusing. Dan setelah kejadian melihat senjata api Hendery, pertanyaan di benak Chalodra bertambah. Jika saja, dia bisa dengan mudah menanyakannya, tetapi Chalodra tidak berani.
Waktu terus berjalan, detik terus berdetak, jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Chalodra merasakan tubuhnya segar bugar hari ini, meski sedikit nyeri. Sambil memotong bawang, Chalodra sedikit meregangkan otot lehernya. Dia berniat untuk memasak nasi goreng.
Bawang yang ditumis Chalodra sudah tercium harum, dia memasukkan nasi ke wajan. Chalodra juga menggoreng telur ceplok dan memotong mentimun. Nasi goreng begitu mudah dimasak, Chalodra menuangkannya ke atas piring.
Setelah menyelesaikan acara memasaknya, Chalodra mencuci alat masaknya hingga bersih. Chalodra meneguk segelas air, tenggorokannya terasa kering. Sinar matahari yang masuk melalui jendela cukup terang, hingga tidak perlu menyalakan lampu.
Chalodra membawa piring berisi nasi goreng ke meja makan. Ada tiga piring, untuk Hendery, Taka, dan juga Chalodra sendiri. "Mas, tahu aja kalau sudah matang," ucap Chalodra melihat Hendery menuruni tangga.
Hendery mengukir senyum tipis, lalu mengecup kening Chalodra. "Kamu panggil Taka dulu ya, Mas," pinta Chalodra. Hendery mendengus, lalu mengangguk.
Melihat punggung Hendery menghilang, Chalodra berjalan menuju dapur. Mereka masih tinggal di rumah Taka, tetapi pindah di kamar atas. Sedangkan Taka, dia tetap di lantai bawah, karena takut jika di lantai atas.
Chalodra mengernyitkan dahinya, rasa sakit itu kembali lagi. Perutnya terasa mulai di pagi hari seperti ini, langsung saja Chalodra mendekati wastafel untuk memuntahkan semuanya. Namun, hanya air yang keluar. Chalodra memijat pelipisnya, kepalanya kembali berat seperti semalam.
Semakin berat saat Chalodra menggerakkan tubuhnya, hingga tidak mampu menopang tubuhnya. Chalodra ambruk dan pengelihatannya hanya gelap. Chalodra pingsan.
"Chalodra!" pekik Hendery.
Ucapan Bayu tadi membuat Chalodra dan Hendery tetap diam tidak berbicara. Keduanya melihat diam-diam dan langsung berpaling ketika tatapannya bertubrukan. Chalodra hanya menunduk di atas brankar rumah sakit. Taka datang membawa paper bag dan mengeluarkan kotak bekal, yang berisi nasi goreng tadi.
"Kak," panggil Taka memberikannya pada Hendery.
Hendery menyodorkan sesendok nasi kepada Chalodra, dengan pelan Chalodra melahapnya. Hingga nasi itu habis dan Chalodra meminum obat dari Bayu. "Kamu memikirkan apa, Cha? Jujur sama Mas!" ujar Hendery.
Chalodra menunduk, masih tidak berani untuk jujur. Mengingat ucapan Bayu tadi, membuat sepasang suami istri ini terlihat seperti bertengkar. "Pusing memang hormon Ibu hamil, tetapi kalau sampai pingsan, aku harus bilang kalau Chalodra sedang banyak pikiran."
Bayu juga meninggalkan sebuah pesan untuk Chalodra. "Kalau ada sesuatu atau masalah sama suami kamu, harus segera kamu selesaikan. Kasihan bayi kamu, Cha."
Chalodra mengigit bibir bawahnya. "Sebenarnya, saat kita pulang untuk mengambil baju pesta, aku masuk ke dalam ruangan Mas."
Hendery tercekat, tetapi dia tidak boleh bereaksi cepat. "Aku lihat banyak pistol dan senjata tajam di sebuah kotak," lanjut Chalodra. Dan kali ini, tangan Hendery tiba-tiba mencengkram lengan Chalodra, hingga pemiliknya tersentak kaget.
...LIKE FOR NEXT PART! ...