I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
67. Chalodra bosan



"Buang itu, Cha!" Mendengar perintah Hendery, Chalodra mengerutkan dahi. "Buang!" pinta Hendery sekali lagi.


Chalodra bergeming, menatap Hendery dengan mata bulat. Tidak mendapat tindakan dari istrinya, Hendery merebut paksa buket bunga tersebut. Lalu, lelaki itu pergi keluar untuk membuang bunga.


Chalodra masih mematung di tempat, bahkan saat Hendery kembali. "Ada apa, Mas? Kenapa dibuang?" tanya Chalodra.


Hendery menghela napas panjang, tidak bisa jujur. "Bukannya tidak ada nama pengirimnya? Bagaimana kalau itu dari orang yang berniat jahat?" ucap Hendery.


"Oh, begitu." Chalodra menganggukkan kepalanya, sedikit tertegun dengan sikap suaminya tadi. "Tidak apa-apa," kata Chalodra.


"Maaf, Cha. Mas hanya takut." Hendery menundukkan kepalanya, sedikit merasa bersalah karena merebut paksa barang sang istri. "Nanti Mas belikan bunga sendiri, ya?"


Hendery mengelus pucuk kepala Chalodra. Lalu, mengecup singkat kening sang istri. Keduanya saling melemparkan senyuman lebar.


Meski saling merasa sebuah ketakutan, sepasang kekasih itu mengatasinya dengan baik. Chalodra tidak berani bila harus jujur, bahwa dirinya bertemu Egry. Begitu juga dengan Hendery, tak bisa jujur kalau Egry berusaha mengambil Chalodra.


Demi menghilangkan rasa takut itu, Hendery pergi untuk mengawasi rumah Egry. Bukan hanya ke sana, tetapi mengunjungi sebuah bar. Seorang mafia, lekat dengan tempat itu dan tidak bisa jauh dalam waktu yang lama. Entah, Chalodra masih ingat atau sudah lupa, bahwa suaminya merupakan orang ilegal.


Hendery meneguk segelas alkohol, ditemani Roi di sampingnya. Lelaki mudah tersebut pun mengikuti tuannya untuk menikmati. Lampu itu bergoyang di atas para wanita berpakaian kekurangan bahan. Beberapa mengedipkan mata kepada Hendery, tetapi dicueki olehnya.


Hendery tidak tertarik dengan hal seperti itu. Dia pergi hanya untuk menikmati minumannya dan menghilangkan sejenak beban pikirnya.


Chalodra merasa bosan karena tidak ada kegiatan, oleh karen itu dia memutuskan untuk menyapu ruang tengah. Namun, Bi Aya malah datang dan merebut sapu itu darinya. "Bi?!" tegur Chalodra.


"Biar Bibi saja," ucap Bi Aya.


"Bi, aku bosan. Mau bantu-bantu sedikit saja." Chalodra memohon agar wanita di depannya itu mengembalikan sapu. Namun, Bi Aya menggelengkan kepala.


"Tidak boleh banyak aktivitas, kasihan bayinya!"


"Bi." Chalodra merengek, tetapi Bi Aya cuek padanya dan melenggang pergi untuk memulai menyapu.


Chalodra menggerutu, menghentakkan kakinya ke lantai. Tidak pernah diperbolehkan untuk membersihkan rumah, Chalodra jadi lupa cara mengepel. Dia benar-benar dijadikan seorang ratu di dalam rumah ini, hanya tidur, masak, dan makan. Memasak pun dibantu oleh Bi Aya.


"Apa aku main ke rumah Bunga saja, ya?" gumam Chalodra.


Chalodra celingukan di depan rumah Bunga, tepat di samping rumahnya. Lalu, dia mendapati Bunga tengah bermain boneka di teras. "Bunga!" teriak Chalodra memanggil.


Bunga lantas menoleh, berdiri dari duduknya dan melambaikan tangan. "Sini, Kak!" pinta Bunga.


Chalodra pun masuk, membuka gerbang yang tidak dikunci. Dia pun duduk di samping Bunga, mengamati gadis itu mengikat rambut boneka barbie. "Boleh ikut main?" tanya Chalodra.


Bunga mengangguk cepat. "Ini Kakak." Bunga memberikan Chalodra boneka barbie yang berkulit gelap. "Itu kesukaan aku dari yang lainnya," ujar Bunga.


"Lalu, kenapa diberikan Kakak?"


"Kakak pasti bisa menjadikan dia lebih cantik." Bunga mengulas senyum tipis, kemudian mengambil keranjang di sampingnya dan memberikan kepada Chalodra. "Ini. Dirias yang cantik, ya!" ujar Bunga.


Chalodra menarik kedua sudut bibirnya dan menganggukkan kepala.


Bermain di siang hari, dengan angin sepoi dan terik matahari. Chalodra tidak lagi merasakan bosan karena bermain dengan Bunga.


"Chalodra?" Suara berat seseorang datang dari dalam rumah, membuat Bunga dan pemilik nama mendongakkan kepala.


"Hai," sapa Chalodra. Pras ikut mendudukkan tubuhnya di samping sang putri. "Aku bolehin main sama Bunga, ya?"


"Iya, boleh," jawab Pras. Lelaki itu membawa piring berisi sepotong kue keju dan diberikan kepada Bunga. "Makan dulu, Bunga!"


Bunga berbinar melihat kue kesukaannya itu dan segera menyuapi mulutnya. "Kakak mau?" tawar Bunga.


Chalodra menggelengkan kepala. "Tidak, kamu habiskan saja."


"Boleh. Soal apa?"


"Jangan di sini." Pras berdiri dari duduknya. "Bunga, Papa tinggal ke depan sebentar, ya?" Bunga menganggukkan kepala.


Pras menatap Chalodra dengan serius, kemudian berjalan ke kursi tengah halaman. "Duduk, Cha! Panas tidak apa, ya?"


"Iya." Chalodra pun duduk di kursi kayu itu. Dia sedikit memicingkan mata karena sinar matahari.


"Soal Egry," ujar Pras. Bunga sontak membulatkan mata, terlebih wajah Pras terlihat begitu tegang. "Waktu itu suami kamu tanya soal Egry ke aku."


"Lalu, kamu jawab apa?" tanya Chalodra.


Pras menggelengkan kepala. "Aku tidak jawab apa pun."


Keduanya saling diam sejenak hingga Pras kembali membuka suara. "Istriku meninggal karena Egry." Chalodra semakin terkejut, maniknya membulat sempurna.


"Lima tahun lalu, istriku kecelakaan dengan tragis. Sebelumnya, dia ancam aku akan membunuh istriku karena aku sudah rebut darinya."


"Aku lihat CCTV rumah, Egry putus kabel rem. Sampai ... mobil istriku bertabrakan dengan kereta api," jelas Pras.


"Oke, aku paham. Tidak usah dilanjutkan, tidak apa," celetuk Chalodra. Ngeri sekali mendengar cerita Pras, pasti dia dan Bunga sangat terpukul akan hal itu.


"Aku pernah punya hubungan dengan Egry," ujar Chalodra. "Tapi, semuanya selesai setelah aku menikah dengan Mas Hendery."


"Jadi, Egry menghilang sampai saat ini. Tapi, aku lihat dia beberapa waktu lalu," ungkap Chalodra. "Jangan beritahu suamiku!"


"Omong-omong, kalian bisa menikah kenapa? Kan, kamu berpacaran dengan Egry."


Chalodra diam sejenak, memikirkan betul jawabannya. "Perjodohan." Tidak perlu menceritakan masa lalu yang menyeramkan itu, Chalodra bisa pingsan bila harus menjelaskannya kembali.


.....


Chalodra bergidik ngeri. Di malam penuh gemuruh angin ini, Egry datang ke rumahnya. Tubuh Chalodra bergetar melihat sosok yang begitu jelas di depannya. "Mau apa?" tanya Chalodra.


Egry menarik sudut bibirnya. "Hanya ingin bertemu. Aku rindu, Cha," katanya.


Nada bicara Egry seketika membuat jantung Chalodra berdebar, menyeramkan sekali. Suara petir menjadikan malam ini begitu mencengkam. Bi Aya sudah tidur, Chalodra membuka mata sendirian.


Chalodra mengepalkan kedua tangannya. "Kalau tidak ada yang penting, lebih baik kamu pulang." Chalodra berbalik badan dan hendak masuk, Egry menahan pergelangan tangannya, tetapi dengan cepat ditepis olehnya.


"Jangan takut, Nona Chalodra!"


"Kamu jangan macam-macam, Egry!"


Bibir Egry terbuka sedikit, matanya melebar. "Sudah lama aku tidak mendengar kamu memanggilku," ujar Egry.


"Lebih baik kamu pulang sebelum Mas Hendery pulang." Seketika Chalodra sadar akan ucapannya, tidak seharusnya mengatakan bahwa suaminya tengah pergi ke luar.


"Oh, jadi suami kamu tidak ada di rumah, Cha?" Egry ingin membelai pipi Chalodra, tetapi tangannya dengan cepat disingkirkan oleh Chalodra. "Cha, kalau aku tidak bisa memiliki kamu, artinya orang lain juga tidak," katanya.


"Kalau sampai satu minggu aku belum mendapatkan kamu, aku akan buat orang lain kehilangan kamu," ucap Egry.


Bulu kuduk Chalodra meremang, apa artinya dia akan dibunuh jika tidak bisa bersama Egry.


"Jadi, bagaimana?" Tangan Egry menggapai wajah Chalodra, membuat Chalodra merengek pelan.


Plak


Tubuh Egry jatuh ke lantai. Pukulan keras mendarat di rahangnya hingga terasa nyeri menjalar.