
Ting tong
Ting tong
Hendery mengusap pucuk kepala Chalodra sebelum pergi meninggalkan kamar. Chalodra menggeliat di atas kasur, entah mengapa kepalanya sangat pusing akhir-akhir ini. Chalodra beranjak turun, berjalan memasuki kamar mandi.
Hendery menuruni tangga dengan langkah lebar. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Hendery membuka pintu besar rumahnya. Semalam, Hendery membuat janji bersama seseorang.
Pria berkumis tebal dan tas besar di tangannya tersenyum tipis pada Hendery. "Benar, rumah Pak Hendery?" tanya orang itu. Hendery mengangguk singkat, lalu menyuruh tamunya masuk ke dalam.
Hendery menuntun pria berkumis itu menuju dapur. "Seperti yang saya katakan kemarin ...." Hendery menyandarkan punggungnya di dinding. "Beri cat pada bagian yang menjadi gelap!" pinta Hendery.
"Baik, Pak. Akan saya lakukan," jawab pria itu mendekati tempat terjadinya kebakaran kemarin.
"Saya tinggal ke samping, sebentar," ucap Hendery, dijawab anggukan oleh pria berkumis itu.
Hendery melenggang pergi. Terlihat Hendery keluar dari rumah. Seperti ucapannya, yang akan pergi ke samping rumah. Tentu saja untuk mengisi air untuk dirinya berenang nanti.
Pria berkumis itu mulai mengeluarkan beberapa benda dari dalam tasnya. Hendak melepaskan tirai yang tersisa, pria itu mengintip ke luar. Benar saja, Hendery sudah menceburkan diri di kolam renang. "Dia pikir aku budak?" pekik pria itu menyunggingkan bibirnya.
Chalodra menyegarkan tubuhnya di dalam bathub yang berisi air dingin. Chalodra tidak terlalu suka dengan hal yang panas, begitu membakar. Rambut yang digerai sudah basah dan berlumur busa.
Sekitar 20 menit Chalodra berendam, dia memutuskan untuk menyelesaikan semua. Chalodra mengaitkan handuk di tubuhnya, hingga menutup dada. Lalu, rambutnya diikat dengan jedai. Beberapa saat, Chalodra merasakan pusing dan mual bersamaan hingga membuat pandangannya kabur dan pingsan.
Pria berkumis itu menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Dia melepaskan masker dari wajahnya, lalu tersenyum miring. Pria misterius. "Sudah saya lakukan," ucapnya pada sebuah ponsel.
Pria itu mengemas barang-barangnya, bahkan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, sama sekali tidak. Dia melangkahkan kaki keluar rumah.
Hendery mengeringkan rambut dengan sebuah handuk kecil, pangelihatannya menangkap pria yang dipekerjakan itu. "PAK!" teriak Hendery memanggil, lalu menghampiri.
Pria itu menetralkan detak jantungnya yang memburu. Dia memberanikan diri menatap Hendery. "Apa sudah selesai?" tanya Hendery. Pria berkumis mengangguk singkat. "Kalau begitu, pembayarannya akan saya kirim pada atasan Anda," ujar Hendery.
"B-Baik, Pak." Lalu, pria itu melangkahkan kaki lebar dan cepat, meninggalkan kediaman Hendery yang berada di tengah hutan.
Hendery mengerutkan dahi, melihat pria itu tiba-tiba berlari. Kedua tangan Hendery mengepal. "EGRY!" teriak Hendery. "Kejar dia!" pinta Hendery pada penjaga yang berdiri di samping gerbang.
Tiga laki-laki bertubuh besar itu berlari mengejar Egry yang melarikan diri dengan mobil.
Hendery berlari ke dalam dengan umpatan yang keluar dari bibirnya. Namun, langkahnya terhenti saat menangkap dapur. Hendery mengerutkan dahi, melihat dindingnya masih gelap. "Sialan!"
Hendery berlari dengan telanjang dada menaiki tangga, menuju kamar. Jantung Hendery seakan berhenti, banyak asap mengepul dalam ruangan yang tertutup. Hendery menutup hidungnya menggunakan handuk kecil di tangannya.
Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Pintu tidak dikunci, Hendery segera melangkahkan kaki masuk. "CHALODRA!"
Wajah Chalodra pucat. Tubuhnya tersandar di samping bathub. Matanya yang terpejam membuat Hendery panik. Berulang kali Hendery menepuk pipi Chalodra, tetapi Chalodra tak kunjung bangun. Apalagi, tubuh mulus Chalodra hanya terbalut handuk.
"Egry sialan!" umpat Hendery.
Hendery membawa Chalodra ke rumah sakit, tetapi memakaikan baju pada istrinya itu terlebih dahulu. Chalodra dimasukkan ke dalam ruang UGD, melihat kondisinya seperti mayat.
Hendery tidak berhenti berdecak dan memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Dirinya sudah lalai menjaga Chalodra, membiarkan penyusup masuk ke rumahnya begitu saja.
.....
Chalodra mengerjabkan matanya untuk menetralkan cahaya yang menusuk. Ruangan putih dan terang, itu yang pertama Chalodra lihat. Tubuhnya seakan mati rasa, Chalodra tidak kuat menggerakkan anggota badannya. "M-Mas?" lirih Chalodra melihat Hendery di sampingnya mengukir senyum tipis.
"Kamu bangun, Cha," ucap Hendery, sangat lembut sambil mengelus kepala Chalodra.
"Aku kenapa?"
Hendery menghembuskan napas panjang, dia menundukkan kepala. "Kamu hampir saja pergi, Cha."
"Pergi?" Hendery mengangguk. Chalodra mengerutkan keningnya tidak paham. Seingatnya, dirinya tiba-tiba pusing dan mual, sebelum kehilangan kesadaran. "Aku pingsan?"
Hendery mengangguk. "Bahkan kamu hampir meninggal."
Chalodra terbelalak kaget. "Kamu menghirup gas beracun, Cha," ujar Hendery.
"Tukang yang Mas panggil, dia ternyata Egry."
"Sepertinya dia kasih gas itu di kamar, sampai masuk ke kamar mandi," jelas Hendery.
"Sekarang, Egry di mana?"
"Dia kabur, Cha."
"Mas, aku takut." Chalodra menunduk. Hendery bangkit dari duduknya, lalu memeluk Chalodra agar istrinya itu tenang. "Aku takut, dia bunuh aku secara langsung. Pasti, aku tidak bisa menghindar." Air mata Chalodra menetes, membasahi pipinya.
"Mas di sini. Mas janji, tidak akan tinggal kamu lagi, Cha."