
...SELAMAT MEMBACA! ...
Ruangan gelap, senyap, tanpa adanya cahaya sedikit pun. Terdapat jas tergeletak di atas kasur, seorang pria berdiri di dalam kegelapan, ia melihat secarik kertas di tangan. Lalu, Hendery menyimpannya di saku celana.
Hendery mendudukkan tubuhnya di sofa, kemudian menyalakan layar ponsel untuk menghubungi Chalodra. "Pagi, Sayang," sapa Hendery.
"Pagi."
"Sedang apa?" tanya Hendery.
"Mau berolahraga." Di sebrang sana, Chalodra tengah memakai sepatu putihnya. Dia sudah siap dengan setelan pakaiannya olahraga.
"Memangnya sudah sembuh?"
"Sudah. Aku bilang juga apa? Aku baik-baik saja."
"Sudah ke dokter?"
"Sudah, tapi katanya tidak ada masalah, hanya masuk angin."
"Jangan terlalu lelah, Cha!" Hendery meneguk segelas kopi di meja.
"Iya. Kapan pulang? Aku sudah rindu, Mas."
"Besok pagi sudah sampai di sana."
Chalodra membulatkan mata. "Yang benar?!"
"Iya, Sayang."
"Oke, kalau begitu besok aku masakin banyak makanan untuk Mas."
"Iya, Sayangku." Hendery mematikan panggilan itu. Lalu, dia beranjak ke luar kamar sambil menenteng jasnya. Sebuah kejutan, sebenarnya Hendery akan terbang hari ini juga dan kemungkinan sampai di malam hari.
Chalodra melangkahkan kaki ke luar rumah, berdiri dengan matahari menyorot ke arahnya. Udara sejuk dihirup oleh Chalodra, kemudian dia melakukan pemanasan sebelum mulai berlari.
Saat sudah selesai, Chalodra mulai meninggalkan rumahnya. Berlari kecil mengangkat kakinya untuk memutari komplek. "Segar," ujar Chalodra.
Awan putih mengudara menutupi matahari, membuat perjalanan Chalodra tidak perlu sudah karena mendung. Burung terbang dan berkicau seakan menyapa. Chalodra menarik sudut bibirnya merasakan tenang di sekitarnya. Tanpa disadari, seorang lelaki mengikutinya diam-diam.
"Istrinya Bos lucu. Hebat sekali, dia bisa meluluhkan hati keras Tuan Hendery." Itu Roi, berlarian mengikuti Chalodra dan bersembunyi di balik semak agar tidak ketahuan.
Tidak menemui satu orang pun saat joging, Chalodra menjadi heran dengan tempat tinggalnya. Meski komplek terdapat banyak rumah, tetapi jarang orang yang keluar. Mungkin, mereka sibuk dengan pekerjaan. Pun nyata, Chalodra tidak pernah tegur sapa dengan mereka.
Selesai berlarian, Chalodra meluruskan kakinya di teras. Menarik napas dalam, kemudian menghembuskan pelan. Chalodra menggunakan telapak tangannya sebagai kipas. Dia memejamkan mata, merilekskan dirinya.
Ketika membuka mata, Chalodra mendapati Bunga tengah berlari ke arahnya. Lalu, gadis kecil itu berdiri di depan Chalodra. "Hai, Kak!" sapanya dengan memperlihatkan senyum lebar.
"Habis olahraga, ya?" tanya Bunga, kemudian dia duduk di samping Chalodra.
"Iya," jawab Chalodra. "Kamu sendiri, ada keperluan apa?"
"Aku cuma mau ajak Kakak untuk makan malam di rumah. Soalnya, mulai besok aku sekolah," ucap Bunga.
"Oh, ya?" Bunga menganggukkan kepala. "Kakak akan datang malam ini. Terima kasih undangannya," jawab Chalodra.
"Sama-sama." Bunga terlihat begitu senang dengan binar matanya. "Kalau begitu, aku tunggu di rumah, ya!" pekiknya sembari berdiri.
"Siap!" jawab Chalodra. Lalu, gadis itu melambaikan tangan dan pergi.
Chalodra mengelap keringat yang menetes dengan tangannya. Dia mengulas senyum tipis kala mengingat suaminya akan pulang. "Stok makanan masih ada. Jadi, aku tidak perlu belanja untuk besok," ucapnya. Lalu, Chalodra berdiri dari duduknya untuk masuk ke rumah.
Chalodra datang untuk sarapan, Bi Aya sudah menunggunya di dapur. Lalu, menyapa wanita rentan itu. "Bi, Mas Hendery akan pulang besok pagi," ujar Chalodra.
Bi Aya menyodorkan piring berisi makanan untuk Chalodra. "Iya, tapi jangan pulang terlalu larut ya, Non!" tutur Bi Aya.
"Iya, Bi." Lalu, Chalodra beranjak pergi untuk makan di meja makan. Namun, dia menghentikan langkah dan berbalik. "Bi Aya, buatkan jus jambu, dong! Aku lagi pengen," katanya.
"Siap!"
Wanita hamil itu menyantap sarapannya dengan lahap. Sepotong paha ayam yang digoreng, dengan sup wortel menu kesukaan. Chalodra menggapai air putih di depannya, kemudian meminumnya setengah. "Kenapa aku haus sekali, ya?" gumam Chalodra. "Mungkin karena olahraga tadi."
Sepi rasanya bila tanpa kehadiran Hendery di rumah. Tiada yang dapat Chalodra ganggu, marahi, dan teman bermain. Seperti, tak ada kehidupan. Chalodra rindu, dia memandangi foto pernikahan mereka di sebuah pigura. "Kalau tanpa Mas Hendery, kenapa rasanya lama?" ucapnya.
"Kenapa aku jadi khawatir?" Chalodra memegang dadanya yang timbul hal aneh di dalamnya, seperti ada pusaran air membawanya hingga tenggelam.
........ ...
Seorang lelaki tampan menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga. Lalu, dia keluar dengan kacamata hitam. Tampan dan keren. Dia masuk, kemudian melihat sekelilingnya penuh bunga berwarna.
Warna yang cantik dan cocok untuk diberikan kepada pasangannya. Hendery, dia membuka kacamata dan menyimpan di saku celana. "Sepertinya ini cocok," katanya. Hendery mengambil bunga mawar merah, putih dan pink, juga jenis edelweis. Lalu, Hendery menyatukannya dan memberikan kepada pegawai. "Buat buket dengan jenis bunga ini! Tolong, buat yang indah!"
"Baik, Kak," jawab pegawai itu.
Hendery berdiri untuk menunggu, melihat bunga di sekelilingnya. Sehingga, memunculkan ide di kepala Hendery untuk mengajak istrinya ke tempat penuh bunga suatu saat nanti. Lalu, pegawai tadi datang untuk memberikan bung.
Hendery masuk ke dalam mobilnya, mengulas senyum tipis. "Indah dan cantik, seperti pemiliknya," kata Hendery.
Bintang lebih banyak dari biasanya, menemani langkah Chalodra. Dia smpai di kediaman Bunga dan disambut hangat oleh pemilik rumah.
"Makanannya terlihat enak," celetuk Chalodra, melihat dengan takjub makanan di atas meja di depannya.
"Itu Papa yang masak, loh!" sahut Bunga.
"Kamu masih suka masak?" tanya Chalodra.
"Hobi aku. Karena itu dulu aku ikut tata boga," jawab Pras. "Ayo, dimakan!"
Chalodra mengangguk cepat, kemudian menyuapi mulutnya dengan steak sapi itu. Maniknya membulat merasakan bumbu yang meresap. "Lezat! Makanan mewah ini!" ujar Chalodra.
"Masakan Papa memang terbaik! Tapi, masakan Mama gak kalah enak," cecar Bunga.
Seketika keheningan mengudara. Pras dan Chalodra saling menatap, kemudian Pras melirik ke arah Bunga yang memakan makanan. Sejenak suasana terasa haru. "Tapi sayangnya, Papa tidak masak makanan favorit Bunga," ucap Bunga.
"Memangnya, makanan favorit Bunga apa?" tanya Chalodra.
"Puding wortel!"
Chalodra sedikit terkejut. "Memang enak?" Bunga mengangguk cepat.
Hendery sampai, menghentikan mobilnya di pekarangan rumah. Lalu, dengan cepat dia beranjak untuk masuk. Namun, tidak terlihat siapa pun di sana. "Cha!" panggil Hendery dengan berteriak.
"Chalodra!"
"Eh? Tuan?" Bi Aya terlihat terkejut, dia berjalan mendekati Chalodra. "Katanya Non Chalodra, Tuan pulang besok pagi?"
"Saya mau buat kejutan, Bi." Hendery menunjukkan buket bunga itu kepada Bi Aya.
"Cantik. Tapi, Non Chalodra diundang makan malam di rumah sebelah."
"Rumah sebelah? Rumahnya Bunga?" Bi Aya mengangguk. Hendery kesal, mencengkram kuat bunga di tangannya.
Hendery tanpa ekspresi naik tangga, pergi ke kamarnya. Dengan jelas, Bi Aya mendengar suara pintu kamar dibanting oleh tuannya.