
Chalodra melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu, dia duduk di sofa ruang tengah, mengerucutkan bibirnya dan menatap Hendery dengan kesal.
"Cha, Mas harus pergi sekarang. Boleh?" Hendery ikut duduk di samping sang istri, tetapi Chalodra justru menggeser tubuhnya. "Marah?" tanya Hendery.
Chalodra menghembuskan napas kasar, menatap Hendery. "Terserah." Lalu, Chalodra beranjak pergi menuju belakang, meninggalkan suaminya yang membeku itu.
Hendery tetap pergi, ada hal penting yang harus diselesaikan. Mungkin, istrinya itu memang butuh waktu sendiri agar tidak terlalu sensitif seperti ini. "Maaf, Cha. Tapi, Mas harus pergi sekarang atau tidak pernah selesai," ujar Hendery.
Setelan jas hitam, Hendery mengendarai mobil dengan kencang. Menerobos jalanan yang longgar itu. Melirik jam tangan di pergelangan kirinya, Hendery bergumam, "Karena Chalodra rewel, aku pasti telat sampai."
Hendery semakin menambah kecepatan mobilnya, tidak peduli teguran pengendara lain. Padahal, tak sedikit orang meng-klakson ketika Hendery melaju.
"Ish! Aku benci Mas Hendery!" Chalodra terus menggerutu, menghentakkan kakinya berulang kali. Bahkan, Bi Aya sampai dibuat kaget oleh tingkah Chalodra.
"Non, jangan seperti itu! Bahaya kalau bayinya ikut shock," ujar Bi Aya.
Chalodra melirik sekilas ke arah Bi Aya yang mengupas kentang. Lalu, dia mendudukkan tubuhnya di kursi dan meletakkan kepalanya di meja dapur. "Mas Hendery itu kenapa gak pernah mengerti aku? Padahal ini hari cuti panjangnya," pungkas Chalodra.
"Mungkin, ada urusan yang tidak bisa ditunda. Harus dimengerti karena suami pasti mempunyai kesibukan."
Chalodra mengangkat kepala, menatap Bi Aya dengan mata bulat. "Seperti itu?" celetuknya. Bi Aya mengangguk membuat Chalodra hanya menghela napas panjang. "Tapi, aku tetap kesal."
Chalodra merengek, memukuli meja di depannya. Membuat tingkah seperti anak kecil. "Aku marah!"
"Tidak peduli. Banyak yang menghambat, tetap lakukan sampai dapat!" Hendery memberi perintah kepada seorang kepercayaannya. "Dia membuat saya hancur," imbuh Hendery.
Pria di depan Hendery mengangguk kuat, menyatakan sanggup akan tugas yang diberikan kepadanya. "Saya usahakan ...."
"Maksud saya, saya pastikan akan mendapatkan orang tersebut." Pria tersebut melenggang pergi setelah mendapat perintah.
Pria kelahiran Pakistas---Roi yang menjadi kaki tangan Hendery selama setengah tahun ini. Sebagai pengganti seseorang sebelumnya karena telah ditugaskan Hendery ke sebuah kota, untuk menyelidik kasus perusak perusahaannya.
Perusahaan Hendery hampir bangkrut karena seseorang berkhianat. Pelaku belum ditemukan karena melarikan diri setelah membawa kabur setengah aset perusahaan. Beruntung Hendery turun tangan dan mengatasinya bersama Taka.
Langit berwarna biru itu terlihat cerah, awan mengambang di atas sana. Matahari pun tidak terlalu terik. Hendery menghentikan langkah kakinya saat merasakan getaran du dalam saku celana. Dia merogoh ponsel di dalamnya. Panggilan dari Taka, Hendery berdecak sebentar. "Apa?" tanyanya langsung.
Apa yang dikatakan Taka hingga Hendery memasang wajah kesal? Lelaki itu memasang kacamata hitam dan masuk ke dalam mobil, tetapi masih dalam panggilan. "Lalu, mau apa?"
"Sedang buru-buru, tidak bisa bantu ke sana. Coba cari bengkel atau hubungi montir biasanya," ucap Hendery.
"Tidak bisa, Chalodra bisa marah kalau aku ke sana."
"Tidak peduli dengan rencananya. Lebih baik pulang, tidak perlu mabuk!"
"Jangan melawan! Aku bilang pacarmu kalau mau mabuk."
"Hubungi montir kalau ban mobilmu rusak! Jangan aku, aku tidak bisa."
"Terserah, semoga beruntung." Hendery pun memutuskan sepihak panggilan tersebut.
Chalodra duduk di tepi kolam renang, melihat ikan peliharaannya di akuarium. Memasang wajah kesal dengan memajukan bibirnya. "Kenapa belum pulang? Pasti bosan sama aku," gumam Chalodra.
"Aku marah. Mas Hendery tidak ajak aku ke luar."
"Marah."
........ ...
"Belum. Tadi, saya dari kamarnya. Semenjak pergi, Non Cha terus bicara sendiri, seperti kesal."
"Dia juga bilang, kalau sedang marah dengan kamu."
"Hati-hati! Ibu hamil itu menakutkan." Bi Aya menunduk dan melenggang pergi meninggalkan Hendery.
Lelaki itu menelan salivanya dengan keras. Mendadak jantungnya berdetak kencang. Hendery mengigit bibir bawah dan memutuskan untuk pergi menghampiri Chalodra di kamar. Dia sudah bersiap akan kemarahan istrinya itu.
Hendery membuka pintu pelan, takut menganggu. Rupanya Chalodra tengah bersiap untuk tidur, dia merapikan seprai. Seakan tidak peduli akan kehadiran Hendery. "Cha," panggil Hendery sambil menutup pintu.
Chalodra tidak menggubris. Hendery mencoba mendekati dan meraih tangan Chalodra. Namun, perempuan itu melengos melewati Hendery. "Cha," panggilnya lagi.
Chalodra malah merebahkan tubuhnya dan menutupi dengan selimut tebal itu. "Aku marah. Jangan tidur di kasur! Tidur di sofa atau di luar, terserah!" seru Chalodra.
Hendery terbelalak kaget, dia menarik napas dalam dan menghembuskan pelan. "Aku tidur di sofa," ujar Hendery. Lalu, mengambil bantal miliknya dan pergi ke sofa di sudut ruangan.
Malam yang dingin, Hendery merengkuh di atas sofa karena kedinginan. Bahkan, sang istri memunggunginya. "Aku salah ya, Cha?" gumam Hendery.
Menghela napas panjang dan mencoba memejamkan mata. Namun, ada yang aneh hingga membuatnya tidak bisa tidur. "Cha, di sini dingin," ujar Hendery, tetapi tak ada sahutan dari sebrang sana.
Hendery mencoba memejamkan mata lebih rapat. Memeluk tubuhnya sendiri dalam kesunyian malam. Sedangkan Chalodra, dia sebenarnya belum tidur.
Chalodra mengedipkan mata, merasakan sedikit sesak dalam dadanya. Seperti rindu, padahal seseorang itu ada di dekatnya. Chalodra berbalik, memandang dari kasurnya, Hendery terlihat butuh rasa kasihan.
Mirip orang yang lontang-lantung di jalan. Hendery kedinginan, tanpa selimut, tetapi AC menyala.
Chalodra memutuskan bangun, berjalan pelan mendekati Hendery. Mengusap pelan surai hitam milik suami, memandang wajah tampan itu. "Mas, ayo pindah ke kasur!"
Sepertinya Hendery telah lelap, dia masih tidak menjawab. Chalodra menyentuh pipi tirus Hendery hingga lelaku itu membuka mata dengan lebar. "Cha?"
Chalodra tersenyum tipis. "Ayo, pindah ke kasur!" ajak Chalodra. Hendery pun mengangguk.
Salah, ini bukan malam yang dingin, tetapi hangat. Hendery mengelus kepala Chalodra dalam dekapannya. Chalodra menikmati aroma khas dari tubuh suaminya itu. "Maaf, Cha," kata Hendery.
"Maaf juga."
Hendery mengecup pucuk kepala Chalodra dan menenggelamkan Chalodra semakin dalam ke pelukannya. Wanita itu pun menggosokkan wajahnya ke dada bidang Hendery. "Cha," panggil Hendery.
"Ya?"
"Jangan marah seperti itu lagi. Mas tidak janji bisa melewatinya lain kali."
"Kalau begitu, Mas harus manjakan aku."
"Seperti?"
"Terserah. Yang terpenting, jangan pergi seperti itu lain kali!"
"Iya, Mas salah. Tapi, tadi itu penting sekali."
"Lupakan, Mas!"
Hendery kembali mengecup pucuk kepala Chalodra, tetapi kali ini begitu lama bibirnya menempel. Sampai keduanya mulai memejamkan mata untuk ....
Tidur karena hari sudah larut.