
...SELAMAT MEMBACA ...
...I am comeback...
...Aku abis sakit, jadi ndak bisa mikir...
...Maybe, cerita ini akan tamat di episode 50...
Silvia dilarikan ke ruang UGD. Dokter sedang menangani luka bakarnya. Sudah satu jam yang lalu dokter keluar, tetapi Silvia masih tidak sadarkan diri. Kata dokter, Silvia terlalu banyak menghirup asap hingga pingsan. Di lengan kiri Silvia, sudah diperban karana terkena api. Silvia hanya ditemani Ratu di dalam, sedangkan Chalodra bersama lainnya berada di ruang tunggu.
Hendery melipat kedua tangannya di depan dada, ada sesuatu yang janggal menganggu pikiran Hendery sejak tadi. Hendery melirik Chalodra di sampingnya, istrinya itu terlihat sedang minum air. Berjarak dua kursi, Anggara duduk di sana. Aroma dari tubuh pria itu, beberapa kali membuat Hendery berpikir.
Hendery beralih, menatap Erlangga yang duduk di kursi lain. Tepat saat Hendery memandang Erlangga, laki-laki itu curi pandang terhadap Anggara.
Dua bulan putus dengan kekasihnya, Silvia menjadi dekat dengan Erlangga, yang dulunya cuek terhadap Silvia. Pasalnya, Erlangga menyukai Silvia sejak di bangku SMA. Namun, cintanya itu bertepuk sebelah tangan, dan mengharuskannya menunggu hingga gadis pujaan hatinya mengerti dengan sendirinya.
Chalodra menyandarkan kepalanya di bahu Hendery. Chalodra menghembuskan napas panjang, Hendery meraih tangan Chalodra dan menggenggamnya erat. "Tidur saja, Cha," ucap Hendery.
Chalodra menggelengkan kepala. "Mas, Mas bau bensin tidak?" tanya Chalodra dengan suara pelan.
"Kamu juga, Cha?" Chalodra mengangguk. Hendery kembali menoleh, melihat Anggara memainkan ponselnya dengan serius. "Mas curiga dengan Anggara. Tadi, Mas lihat dia buang alat pemantik, waktu Silvia dibawa keluar."
"Mas juga lihat?" Chalodra terbelalak kaget, ternyata suaminya itu melihat hal yang sama.
"Laki-laki itu juga," ujar Hendery sambil mengangkat kepala, menunjuk Erlangga.
"Erlangga? Dia memang pernah menjadi detektif, tetapi karena gagal menjalankan misi yang serius, Erlangga diberhentikan. Sekarang, dia menjadi pengacara," kata Chalodra.
Seketika, pupil mata Hendery membesar. Hendery menghela napas berat. "Dia Ayah kamu, Cha. Apa lebih baik kamu tanyakan?"
"Aku takut, Mas."
"Cha, jika benar Anggara pelakunya ...."
"Pasti ada yang menyuruhnya," potong Chalodra. "Baik, aku tanyakan sekarang?" Hendery mengangguk pelan.
Chalodra menegakkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati Anggara. Chalodra mendudukkan pantatnya di samping Anggara, membuat laki-laki itu menyimpan ponselnya. "Ada apa, Cha?" tanya Anggara.
Chalodra mematung, jantungnya berdebar. Merupakan hal yang berat bagi Chalodra, menuduh orang tuanya sendiri. Namun, Chalodra memiliki keyakinan, Anggara mempunyai hubungan dengan semua kejadian ini.
Erlangga dan Hendery saling melemparkan tatapan tajam, lalu keduanya melihat Chalodra yang berbincang dengan Anggara.
"Chalodra ingin bertanya sesuatu ... Papa." Bibir Chalodra bergetar hebat, dirinya merasa sedang melakukan sidang. "Apa Papa ada hubungannya dengan kebakaran di rumah Ibu?"
Anggara tidak berkutip, dia bergeming memandang Chalodra dengan datar. Matanya yang membulat, membuatnya jelas sedang terkejut. "Chalodra mohon, Papa jujur dengan Chalodra!"
"Chalodra yakin, jika memang Papa yang melakukan, pasti bukan kemauan Papa sendiri. Ada yang menyuruh Papa, kan?"
Chalodra, merupakan anak kesayangan Anggara meskipun tidak bertemu selama belasan tahun. Namun, karena perpisahan itu, Anggara lakukan agar Chalodra selamat dari buronan musuhnya. Anggara menunduk dalam. Hati Chalodra menggerakkan tangannya agar mengelus pundak Anggara. "Papa, benar?"
Karena, sejatinya seseorang menuduhkan kebenaran, orang yang dituduh akan diam dan berucap jika tidak melakukan.
Anggara mengangguk pelan, semua mata yang menyaksikan melebar. Chalodra menutup mulutnya dengan tangan. "Papa disuruh Egry."
Benar, kejadian berencana seperti ini pasti tidak jauh dari dua nama orang, Egry dan Carlon.
Mendengar mengakuan Anggara, Erlangga berjalan mendekat. Tubuh tingginya menjulang. "Apa ada ancaman?"
Anggara mengangguk. "Dia mengancam akan membunuh Chalodra andai saya tidak menjalankan perintahnya," ucap Anggara dengan suara berat, tetapi pelan.
"Apa ada masalah? Sebuah dendam? Maaf, saya tidak berniat untuk ikut campur."
"Sebuah bukti tidak mengarah kepadanya, karena itu beliau dibebaskan," sambung Hendery. "Egry juga menjadi tersangka pada pembunuhan adik dari Chalodra."
"Ini sudah sangat parah, harus ada hukum yang menangani. Jika tidak, akan ada lebih banyak korban," seru Erlangga.
"Saya akan membantu. Saya tidak mau istri saya terluka, lagi," ujar Hendery mengelus pucuk kepala Chalodra.
Chalodra tersenyum tipis, suaminya sudah berubah dari yang sebelumnya. Chalodra tidak peduli, apa alasan Hendery selalu menyakitinya, dulu. Mungkin, ada suatu hal yang seharusnya tidak dirinya ketahui, daripada kehangatan ini akan hancur.
.....
Dalam sejuknya angin bergulir malam ini, Hendery bersama Erlangga duduk di kursi taman. Sembari menikmati kopi yang dibeli Chalodra di kantin rumah sakit tadi.
Silvia sudah sadar dan dipindahkan di ruang rawat, ditemani Chalodra dan Ratu. Sedangkan Anggara, berpamitan pulang karena salah satu anaknya melahirkan di rumah sakit lain.
Dua laki-laki tampan itu tengah bersantai dan membicarakan hal yang biasa. Erlangga terlihat ramah di mata Hendery, lelaki berperawakan tinggi dan ramah senyum.
"Hendery? Nama kamu Hendery?" Hendery hanya mengangguk, menanggapi pertanyaan Erlangga. Namun, di mata Erlangga, Hendery terlihat cuek karena tidak banyak bicara, mungkin akan berbeda bila bersama istrinya. "Kamu kerja apa?"
Pertanyaan itu, membuat Hendery tersedak kopi. Tenggorokannya terasa panas dan membakar, begitu juga dengan tubuhnya di bawah angin dingin ini. "A-Aku CEO," jawab Hendery.
Manik Erlangga berbinar. "Wah, karena itu kamu dingin," celetuk Erlangga.
"Apa?!"
"Tidak apa, tidak."
'Mau dipatahkan leher pengacara ini?' Batin Hendery. Tidak mungkin jika dia harus membuka pekerjaannya yang sebenarnya bukan?
.....
Hendery merogoh saku celananya, mengambil handphone dari dalamnya. "Taka, besok kamu ke rumah!"
"Untuk apa?"
"Untuk apa kamu bertanya?"
"Untuk apa Anda menyuruh saya? Berkunjung?"
"Banyak bicara. Ada hal yang ingin aku katakan."
"Apa itu?"
"Karena itu datang saja!"
Dengan kesal, Hendery mematikan panggilan. Adik laki-lakinya itu, selalu saja banyak bicara. Namun anehnya, Taka mendapatkan kekasih. Hendery menyimpan ponselnya dengan acuh. Hari ini terasa begitu panas dengan insiden kebakaran tadi. Begitu rumit masalah dendam yang dihadapinya. Carlon, dia tidak akan berhenti sebelum mencapai sebuah tujuan.
Takdir memang seperti itu, kadang menyenangkan dan juga lebih banyak menyakitkannya.
Chalodra dengan wajah kusut keluar dari ruangan. Dia menyeret kakinya mendekati Hendery. Bibir Chalodra berkerut, mata lebarnya itu menjadi sipit kali ini. "Mas, kangen," rengek Chalodra.
"Hm?" Hendery menarik bibirnya, membuat seuntai senyum terukir. Hendery merentangkan tangannya, mengajak Chalodra ke dalam pelukannya. "Sini! Tidur di pelukan Mas."
"Ih, Mas pikir aku kangen Mas?!" Sepasang mata Hendery melebar, kedua alis Hendery terangkat. "Aku kangen Bi Aya, Mas!"
Sontak, Hendery berdecak kesal. Padahal dirinya sudah sangat percaya diri. "Telpon saja!" pinta Hendery acuh tak acuh.
"Mana handphone?"
Hendery memberikan Chalodra ponselnya, laki-laki itu menjadi sangat mengemaskan.