
...SELAMAT MEMBACA! ...
...🐰...
...Kamu ... apa kabar? ...
...Kalau aku baik;) ...
Sore ini Chalodra menyirami tanaman seperti biasa. Berbalut kaos lengan pendek berwarna hitam milik sang suami, juga rok pendek selutut. Dia begitu menyayangi tumbuhan miliknya, apalagi mawar merah kesayangan itu.
Seorang anak perempuan masuk ke dalam halaman rumah, mengambil bola yang menggelinding, menyita perhatian Chalodra. Tidak pernah melihatnya sebelumnya, Chalodra bertanya-tanya dalam hatinya. Siapa dia? Sedang apa? Anak siapa, ya?
Anak perempuan rambut keriting tersebut menoleh ke arah Chalodra, menarik kedua sudut bibirnya dan berlari mendekati Chalodra. "Halo, Kak!" sapa anak tersebut.
"Halo," balas Chalodra. Lalu, dia berjongkok menyamakan tubuhnya dengan tinggi gadis itu. "Kamu anaknya siapa? Tidak pernah lihat kamu sebelumnya."
"Aku Bunga, baru pindah di sebelah rumah Kakak," ucapnya.
Chalodra mengangguk paham. "Dengan Mama dan Papa?"
Bunga menggelengkan kepala. "Hanya Papa."
"Kamu sedang bermain bola?" Bunga menganggukkan kepala. "Mau bermain bersama?" tawar Chalodra.
"Boleh!" pekik Bunga kesenangan. Dia pun menarik tangan Chalodra, mengajaknya turun ke halaman. Bunga mematung kala melihat perut Chalodra yang buncit. "Kakak hamil?"
"Iya, ada adiknya di sini."
"Wah! Pasti lucu kalau sudah lahir." Dia membuka lebar mulutnya, seakan terpesona dengan perut Chalodra. "Adiknya ... boleh main dengan Bunga kalau sudah besar?" tanyanya, seperti sangat memohon.
"Boleh, dong," jawab Chalodra. "Bunga umur berapa, ya?"
"Kelas dua! Kata Papa, Bunga tidak bisa tinggi." Bibirnya mengerucut, memeluk bola sepak dengan tangan kecilnya.
"Tidak boleh seperti itu. Kalau Bunga rajin olahraga, pasti bisa tinggi."
Bunga hanya menganggukkan kepala. Menepuk pucuk kepala gadis itu, lalu berujar, "Jadi main bola atau tidak?"
"Jadi, dong!" sahut Bunga. Dia menurunkan bolanya, bersiap dengan tendangannya.
Bunga tidak seperti anak pada umumnya. Dari fisik, dia seperti anak lima tahun, tinggi tubuh, besar tubuh, dan wajahnya tak terlihat berumur 8 tahun. Pindah dari Korea setelah satu tahun menetap, kini sang papa membawanya kembali ke kota kelahiran.
Papa Bunga merupakan seorang pebisnis, yang mempunyai kesibukan dan sering ke luar kota, bahkan luar negri. Sang istri meninggal saat Bunga berusia lima tahun, disebabkan oleh dendam mantannya.
Mantan dari ibu Bunga, begitu benci karena telah ditinggalkan hanya demi papa Bunga. Padahal, masalah asmara itu terjadi saat di bangku SMA. Begitu kejam kasusnya hingga papa Bunga meminta agar ditutup.
Chalodra dan Bunga merasa lelah karena bermain sepak bola, ditambah panasnya matahari yang masih bertengger di atas. Mereka duduk di lantai teras, meluruskan kedua kaki. Napas keduanya memburu.
"Kamu mau minum?" tawar Chalodra.
Bunga menggelengkan kepala. "Aku mau pulang aja, Kak," jawabnya.
"Ya sudah kalau begitu."
Bunga pun berdiri dari duduknya, diikuti oleh Chalodra. "Bunga!" Suara lantang seseorang lantas membuat mereka menoleh. Pria bertubuh tinggi dan besar menatap ke arah mereka dengan sinis. Namun, Bunga melambaikan tangan kepadanya.
Pria tersebut berjalan mendekat, menatap Bunga, kemudian Chalodra secara bergantian. "Kamu main tidak bilang sama Papa. Papa khawatir!" cecarnya.
Bunga hanya cengengesan memperlihatkan barisan gigi kecilnya. "Maaf," ucapnya.
Pria tersebut menggelengkan kepala melihat tingkah sang putri. Lalu, dia menatap Chalodra dan membeku. Bibirnya sedikit terbuka, dia berujar, "Chalodra, ya?"
Chalodra membulatkan mata, bagaimana bisa mengenalnya? "Kamu siapa? Kenal aku dari mana?" tanya Chalodra.
Pria tersebut menarik sudut bibirnya, seakan menertawai Chalodra yang pelupa. "Aku Pras, kamu lupa?"
Bibir Chalodra semakin terbuka lebar. "Oh, Pras, berubah banget kamu! Aku sampai tidak mengenalinya," ungkap Chalodra.
Pras tersenyum lebar. "Kamu juga berubah," ucap Pras. "Terakhir bertemu itu ... wisuda SMA!"
"I-iya, tidak mengundang banyak orang." Tidak mungkin dirinya jujur bahwa pernikahan ini sebenarnya bukan keinginannya.
Chalodra dan Pras saling melemparkan senyum, sedangkan Bunga hanya mendongak menatap dua orang dewasa tersebut. "Pa," panggil Bunga, begitu pelan.
Pras mendengarnya, lantas menunduk menatap sang putri. "Ada om-om nyeremin," ucap Bunga, seakan berbisik. Pras pun mengikuti arah pandangan Bunga, mengarah pada belakang Chalodra.
Chalodra membalikkan badannya, ikut menatap Hendery yanga tengah berdiri dan memasang wajah datarnya, sehingga terlihat marah. "Mas?"
"Siapa, Cha?" tanya Hendery.
"Oh, ini tetangga baru kita. Kebetulan dia teman SMA aku," jelas Chalodra.
Hendery dan Pras saling melemparkan tatapan tajam, membuat Bunga bergidik ngeri hingga bersembunyi di belakang kaki Pras. "Salam kenal, aku Hendery, suami Chalodra." Dia mengulurkan tangan. Lalu, Pras menjabatnya.
"Aku pras, seperti yang dikatakan Chalodra." Mengulas senyum tipis, dia merasa ada hawa lain dengan pria di depannya. "Ini Bunga, putriku," ujar Pras, memperlihatkan Bunga pada Hendery.
Hendery menatap gadis kecil itu. "Usia lima tahun, ya?" celetuk Hendery, lantas membuat Bunga melebarkan mata.
"Om! Jangan sembarangan, ya, kalau bicara!" bentak Bunga. "Bunga ini sudah kelas tiga, sebentar lagi kelas empat!" Lalu, dia melipat kedua tangannya di depan dada dan membuang muka.
"Oh, maaf. Soalnya---"
"Iya! Bunga tahu, kok. Bunga memang pendek, tapi jangan sembarangan, Om!"
Hendery seketika meneguk ludahnya kasar. Baru kali ini, seorang mafia sepertinya dibentak anak kecil, terlebih gadis di depannya itu terlihat tidak takut sama sekali kepadanya.
"Bunga, tidak boleh seperti itu!" tegur Pras kepada putrinya.
"Gak mau! Om ini ngeselin!" Bunga menggerutu, mencebikkan bibirnya.
"Lagian, saya tidak salah mengira kamu masih lima tahun," celetuk Hendery.
"Mas!" tegur Chalodra, seketika membuat Hendery bungkam.
Hendery menghela napas panjang, kemudian berjongkok di depan Bunga yang ingin menangis. Mata anak itu sudah berair. "Bunga, maaf, ya?" kata Hendery.
Chalodra membelalakkan matanya. Suaminya itu kemasukan apa?
"Oke, Bunga maafin. Tapi, Om harus jadi teman main Bunga!" kata gadis itu, menunjukkan senyum terbaiknya.
"Oke. Tapi, kamu harus cium Om dulu!"
Bunga terbelalak kaget, begitu juga dengan Chalodra dan Pras. "Tidak mau!" tolak Bunga.
"Ah, Om hanya bercanda." Hendery berdiri, kemudian menatap Chalodra. "Ajak dia main! Aku mau ajak Papanya bicara sebentar," ucap Hendery.
Chalodra mengangguk singkat. Lalu, mengajak Bunga masuk.
Tidak perlu basa-basi untuk seorang Hendery. Dia menepuk pundak Pras. "Bicara sebentar, tidak apa?" tanya Hendery.
Pras mengerutkan dahi. "Kamu ... Om-om cabul? Mau mesum sama anak aku?! Kamu sudah punya istri, ingat!" hardik Pras.
Hendery menarik sudut bibirnya, berdecih pelan. "Saya bukan orang seperti itu." Hendery mengangkat pandangannya, menatap Pras dengan serius. "Apa hubungan kamu dengan Chalodra di masa lalu?" tanyanya.
Pras semakin dibuat bingung. "Maksudnya?"
"Kamu tahu apa soal masa lalu Chalodra?"
"Tentang?"
Hendery menghela napas panjang. "Kenal Egry tidak?" Hendery tidak tahu, tetapi Pras langsung membulatkan mata saat Hendery menyebutkan nama Egry.
Hendery pun merasa curiga melihat reaksi lawan bicaranya. "Kenal, ya?" tanya Hendery lagi.
...🐰...