I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
38. Gembel kaya



"Kita pulang kemana, Mas?" tanya Chalodra seraya turun dari brankar.


Hendery yang sedang memasukkan baju ganti Chalodra, menghentikan aktivitasnya, lalu mendekat dan mengelus pucuk kepala Chalodra. "Kita menginap di rumah Taka dulu, ya?" kata Hendery.


Chalodra menghembuskan napas panjang, lalu mengangguk. "Aku merasa jadi orang gembel, yang pindah-pindah rumah. Lebih tepatnya kayak gak punya rumah," ucap Chalodra dibarengi tawa kecil.


"Iya juga, Cha. Padahal Mas ini kaya raya." Hendery membusungkan dadanya dengan sombong.


"Tapi kayak gembel," celetuk Chalodra.


Hendery mencibir, mengerutkan bibirnya membuat Chalodra gemas. "Cute!" pekik Chalodra.


Hendery melotot pada Chalodra. "Apa kamu bilang? Cute?" Chalodra mengangguk. "Handsome! Don't cute, Cha."


"Oke, my brutal husband is handsome," kata Chalodra.


"Maaf, Cha." Tentu saja Hendery merasa sedikit tersentak dengan ucapan Chalodra. Mengingat perbuatannya dahulu, sangat tidak manusiawi.


Chalodra mengalungkan kedua tangannya di leher Hendery, membuat suaminya itu bergidik ngeri. "Sudah terjadi. Yang terpenting sekarang, kita harus bahagia," kata Chalodra dengan senyum lebarnya. "Mau kiss, boleh?"


Belum juga Hendery menjawab, Chalodra sudah menyambar bibir Hendery dengan cepat. Ciuman satu detik membuat Hendery membulatkan matanya. "Cute," ucap Chalodra sambil mencubit hidung Hendery.


Rumah Taka selalu terbuka untuk Hendery, pasalnya kehidupan Taka juga masih bergantung dengan Hendery. Jikalau, Hendery tidak memberikan gaji tambahan untuk pekerjaannya, maka Taka tidak bisa menikmati hidupnya. Menjadi CEO, membuat Taka cukup berkuasa, dan juga dibutuhkan oleh Hendery.


Direktur utama yang jarang meng-handle pekerjaannya, Hendery terlalu sibuk dengan urusan pribadinya. Dunia gelap, Hendery nyaman berada di dalamnya, menjadi salah satunya di antara yang berkuasa. Namun, semenjak kedatangan Chalodra, Hendery menyerahkan pekerjaan gelap itu kepada tangan kanannya.


"Permisi, pasangan gembel kembali!" ujar Chalodra dengan suara keras.


Hendery yang berdiri di samping Chalodra hanya bisa menggelengkan kepala. Tidak lama, Taka turun menaiki tangga sambil melambaikan tangan. "Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya!"


Hendery merangkul pundak Chalodra dan menuntun istrinya untuk duduk di sofa. "Mau sesuatu?" tawar Hendery.


"Soda, boleh?" Chalodra membesarkan pupil matanya, membuat wajah gemas.


Hendery menggeleng cepat. "Jus jeruk, mau?" tanya Hendery. Chalodra mengangguk, lalu Hendery mengelus kepala Chalodra dengan lembut. "Taka, buatkan jus jeruk!" pintanya.


Taka yang hendak menyalakan televisi terkejut, dia menautkan alisnya. "Kakak yang nawarin, kenapa aku yang disuruh buat?" gerutu Taka.


"Tidak mau?"


Taka berdecak kesal, lalu melemparkan remote ke sembarang arah. "Baiklah, Tuan." Taka melenggang, meninggalkan Hendery dan Chalodra di ruang utama.


"Aku ke kamar sebentar, ya? Menyimpan pakaian ini," ujar Hendery.


"Iya, Mas. Aku mau menonton televisi dulu," jawab Chalodra.


Hendery melangkahkan kaki, menuju kamarnya. Chalodra dengan semangat menyalakan televisi di depannya, dia sudah ketinggalan banyak episode film favoritnya. Tidak lama setelah itu, bel rumah berbunyi membuat Chalodra sedikit terkejut.


Ting Tong


Chalodra segera berdiri, lalu membuka pintu besar itu. Jantungnya seakan berhenti melihat tamu yang datang. Amar berdiri sambil menggendong gadis kecil, juga Maria di sampingnya. "Hai," sapa Amar.


Chalodra sontak terkejut. "Iya, silakan masuk!"


"Ada siapa, Kak?" tanya Taka sambil berjalan membawa dua gelas minuman. "Eh, Kak Amar sekeluarga?"


"Taka, aku boleh main sebentar 'kan?" tanya Amar.


"Boleh, silakan duduk!" ucap Taka.


Amar mendudukkan putrinya di samping Maria yang duduk di sofa. Anya mengedarkan pandangannya dengan mata berbinar. "Om, ada ice cream?"


"Aduh, Om tidak punya ice cream. Kalau jus, mau?" ucap Taka.


"Ayo!" ajak Taka. Dia menggandeng tangan mungil Anya. Sebenarnya, Taka tengah menahan gemas agar tidak mengigit anak itu.


"Anya jangan nakal, oke?" teriak Maria, dibalas anggukan oleh Anya.


"Sebentar, aku panggilkan Mas Hendery dulu, ya?" ujar Chalodra sambil berjalan pergi.


Chalodra benar-benar masih syok, mungkin jika setiap hari melihat Amar, Chalodra akan gila. Chalodra membuka pintu dengan pelan, tetapi tidak mendapati keberadaan Hendery. "Mas!" teriak Chalodra memanggil, sambil kembali menutup pintu.


"Mas Hendery, ada kembaran kamu!" Namun, batang hidung Hendery tak kunjung menampakkan diri.


"Apa, Cha?" Chalodra sontak berbalik, menatap pintu kamar mandi yang terbuka. Mata Chalodra tidak berkedip, rasanya sayang kalau dilewatkan.


Hendery berbalut kaos hitam, tanpa bawahan, dengan handuk kecil yang dia gunakan untuk mengelap rambut basahnya. Bisa menebaknya? Kaos hitam ukuran besar itu mampu menutupi bawahan Hendery. "Celana aku ketinggalan, Cha," ujar Hendery sambil berjalan melewati Chalodra.


Hendery mengambil celana jeans di atas ranjang, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Hingga Hendery keluar, Chalodra masih bergeming. "Terpesona 'kan kamu?" goda Hendery mencubit hidung Chalodra.


"Gak! Kaget aku lihat kamu. A-Anu i-itu ada kembaran kamu di luar," ucap Chalodra dengan suara bergetar.


"Amar?" Chalodra mengangguk.


.....


Amar tidak habis pikir, sekarang dia tidak berekspresi setelah mendengar seluruh cerita Hendery. Tentang Carlon yang sekarang mengincar Chalodra, Egry selalu menganggu, dan lainnya. Amar menggelengkan kepala, lalu bergumam, "Jadi, aku harus cepat kembali?" Hendery mengangguk sebagai jawaban.


"Sudah sangat berbahaya, akan lebih berbahaya jika Carlon tahu kamu ada di sini," ucap Hendery.


"Ya, kamu benar. Aku harus cepat kembali."


"Aku tidak bisa membantu, karena ada Chalodra yang juga harus aku jaga."


Dua pria itu terlihat serius dengan pembicaraannya, tentu saja karena ini berhubungan dengan nyawa. Seorang laki-laki dengan topi berjalan memasuki pekarangan rumah. "Permisi, ada paket untuk Antaka Andreas!"


"Maaf, Pak. Tapi ini rumah Taka!" jawab Amar.


Hendery segera memukul lengan laki-laki itu. "Iya, ini rumahnya!" Hendery berdiri, mengambil bungkusan berwarna cokelat itu. "Kamu itu bagaimana, sih?" tegur Hendery.


"Tadi dia bilang Andreas!" seru Amar.


"Antaka Andreas, dipanggil Taka."


"Ah, maaf, pendengaran aku memang suka salah."


Hendery menghembuskan napas panjang, lalu melangkahkan kaki ke dalam rumah. Amar mengikuti Hendery, pergi dari teras rumah.


Di dalam, Chalodra sedang berbincang masalah wanita dengan Maria, ternyata Maria suka dengan lelucon. Anya begitu senang bermain dengan Taka, menjadikan laki-laki itu sebagai kuda tunggangannya.


"Taka, ada paket untukmu," ujar Hendery sambil memberikan bungkusan itu.


Tanpa disuruh, Anya terlebih dulu turun dari tubuh Taka yang nungging. Taka membuka bungkusan itu, lalu melihatnya. "Undangan dari Kak Tivani," ujar Taka.


"Mereka mau menikah?" tanya Chalodra dengan antusias.


"Iya, lusa pukul sembilan pagi."


"Mas, kita datang 'kan?" tanya Chalodra untuk memastikan, Hendery mengangguk.


"Kalian juga bisa datang, kalau mau," ujar Hendery.


Amar dan Maria saling menatap, lalu mengangguk bersamaan. Maria paling suka mendatangi acara pernikahan, dia sangat suka dengan gaun yang pengantin gunakan.


"Mas, kita ambil baju aku di rumah, yuk!" ajak Chalodra. "Aku juga ingin bertemu Bi Aya."