I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
41. Pinky Hendery



...SELAMAT MEMBACA...


...LIKE SAMA KOMENNYA DONG BESTIE...


Kabar mendadak dan menggembirakan itu telah membuat Hendery menjadi murah senyum. Laki-laki itu tengah bersiap dengan pakaiannya untuk memeriksakan kandungan Chalodra. Sweater hitam dan celana hitam menjadi ciri khas Tuan Hendery.


Chalodra membujuk pintu kamar, dia baru saja membuatkan Taka bekal untuk bekerja. Alisnya saling bertautan, Chalodra menghembuskan napas berat seraya berjalan ke meja rias. "Kamu pakai baju selain hitam sekali saja, apa tidak bisa?" tegur Chalodra.


Hendery melirik Chalodra yang memunggunginya. Chalodra mengoleskan lipstik pada bibirnya, lalu mengikat rambutnya dengan tali tampar(BERCANDA PERMIRSA). Gelang karet merapikan rambut panjang Chalodra.


"Mas tambah tampan kalau pakai baju hitam, Cha," kata Hendery.


Chalodra mengambil tas di nakas sambil menggerutu, "Karena itu aku negur kamu, Mas! Nanti kalau banyak yang lihat kamu, gimana?"


"Ah, pasti kamu kesenangan 'kan?" sambungnya.


"Oh, kamu cemburu?" balas Hendery, sudah jelas Chalodra cemburu! Dasar Hendery.


Chalodra menatap sinis Hendery, dia berdiri di hadapannya Hendery sambil mendongak. "Dasar!" kata Chalodra.


Tubuh Chalodra itu pendek, jikalau Hendery mau menyentil jidat Chalodra, bisa dengan mudah Hendery melakukannya. "Ya sudah, Mas ganti baju dulu," katanya.


"Cepat! Aku tunggu di bawah," ujar Chalodra. Dia melenggang dengan menghentakkan kaki, tentu saja bibir Chalodra masih menggerutu tapi tidak bisa didengar Hendery.


Hendery berjalan ke almari, melihat deretan bajunya yang tersusun rapi. Tentu saja untuk sweater, hanya ada warna hitam. Sebab Hendery juga jarang berbelanja, membeli baju hanya kemeja dan jas. "Ini saja, berbeda dari yang lain," ucap Hendery.


Dengan sekali angkat, Hendery melepaskan sweater hitam dari badannya. Dada bidan dan perut kotaknya itu terekspos di pantulan kaca. "Aku ternyata sexy," gumamnya.


Chalodra melipat kedua tangannya di depan dada. Dia menunggu Hendery sambil berdiri di tangga paling bawah. Dengan menahan kantuk, Chalodra berdecak kesal. Semalaman dia tidak bisa tidur, Hendery mengelus perut terus-menerus perut Chalodra, tentu saja Chalodra tidak bisa tidur karena geli.


"Cha," panggil Hendery. Sebelum berbalik, Chalodra mendengus. Begitu menoleh, Chalodra dibuat menganga dengan penampilan laki-laki itu sekarang.


"Mas?"


"Ayo, kita berangkat!" ajak Hendery. Dia merangkul pundak Chalodra, menurun istrinya dengan perlahan.


Chalodra menahan tawa, perutnya terasa geli. Bagaimana tidak? Hendery memakai sweater berwarna pink, dan rambutnya yang sangat lepek. "Mas, itu baju aku 'kan?" tanya Chalodra saat sudah di dalam mobil. Chalodra benar-benar menahan tawa, sedangkan Hendery hanya mengangguk. Namun, tetap saja suami Chalodra terlihat tampan.


Hendery melajukan mobil dengan kecepatan standar, dia hanya diam berfokus pada jalan yang dilewatinya. "Mas, memangnya Mas tidak apa bolos kerja seperti ini?" tanya Chalodra, sudah beberapa kali pertanyaan ini terlintas di benak Chalodra, Hendery jarang pergi ke kantornya.


"Kamu belum tahu siapa Mas?" Hendery malah mengajukan balik pertanyaan. Lalu, bagaimana Chalodra tahu, kalau Hendery tidak pernah bercerita? "Mas ini Direktur Utama. Pemilik saham terbesar di kantor, penerus perusahaan Nenek."


Chalodra teringat, apa yang dilihatnya di rumah lama, tepatnya di dalam ruangan Hendery. Chalodra tidak bisa menanyakan hal ini, apalagi di suasana damai seperti sekarang.


Sampai di rumah sakit, Chalodra dibawa ke ruangan khusus USG. Perut Chalodra sudah diolesi salep dan bu dokter juga mulai menggerakkan alat pemindai(probe) pada kulit Chalodra. Di layar sana, janin itu menggeliat seakan tahu, dan saat itu juga dia menendang. "Wah, janinnya sudah besar ini," ujar dokter itu. "Sudah empat bulan, Bu."


Chalodra menganga, begitu juga dengan Hendery. "Saya baru tahu kemarin, Dok," kata Chalodra.


"Oh, iya? Berarti anak Ibu tidak nakal." Dokter itu mengukir senyum lebar, sangat ramah. "Janinnya sehat."


Chalodra menggenggam erat tangan Hendery, ekor mata Chalodra meneteskan sebutir air mata, hingga Hendery mengelapnya dengan cepat. Keduanya saling menatap dalam, dengan senyuman hangat dan tulus.


"Bisa, Dok?" tanya Hendery, dokter itu mengangguk.


Deg deg deg


Ritmenya begitu santai, terdengar tidak terlalu keras. Chalodra semakin dibuat menangis, bahkan pipinya sudah basah. "Mas, lucu banget," kata Chalodra.


"Iya, Cha," jawab Hendery. Dia mengigit bibir bawahnya dengan geram. "Cha, Mas ke toilet dulu, boleh?" Chalodra mengangguk.


Hendery berdiri, lalu melenggang keluar ruangan. Dia mendudukkan tubuhnya di kursi depan ruangan. Hendery benar-benar merasa lemas. Dia mengusap wajahnya gusar, lalu dia pejamkan matanya, lama. "Aku benar-benar gak nyangka, aku punya anak," gumam Hendery.


Tentu saja merasa bahagia, mengingat hidupnya tidak pernah mulus selama ini. Hendery pikir, dia akan bercerai dengan Chalodra setelah tugas yang diberikan Carlon tidak dilaksanakannya, karena Carlon pasti akan membunuhnya. Namun, dugaan itu salah, karena Chalodra selalu sabar melewati segalanya. "Mas banyak-banyak terima kasih sama kamu, Cha."


Setelah dari rumah sakit, Hendery mengajak Chalodra mampir ke supermarket membeli susu, tentunya untuk Chalodra. "Mau yang rasa cokelat, Mas!" rengek Chalodra.


"Memangnya tidak apa-apa? Bukannya harus vanila?" Hendery terus kekeh, membuat Chalodra kesal. Padahal, Chalodra ingin yang ada rasanya. "Rasa cinta Mas saja, Cha. Apa tidak cukup?"


"Mas! Bukan begitu." Chalodra melipat kedua tangannya di depan dada, bibirnya sudah monyong dari tadi. Lima belas menit, dihabiskan untuk berdebat. "Begini ya, Mas. Kalau tidak boleh yang rasa, kenapa dibuat?"


"Kalau ada susu Ibu hamil rasa cokelat, stoberi itu artinya boleh diminum, Mas!" Chalodra mencoba menjelaskan, tetapi sepertinya Hendery tidak percaya.


"Cha, nurut sama Mas, ya?!" Benar-benar menyebalkan, sekarang Hendery malah membuat wajah mengemaskan di depan Chalodra.


"Oke! Tapi belikan ice cream," kata Chalodra.


"Mau berapa?"


"Empat!"


Hari ini penuh dengan kegemasan pasangan suami istri ini, yang baru mendapatkan jenis kelamin anaknya. Chalodra merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia baru saja bersih-bersih setelah menghabiskan dua ice cream. Hendery mengikuti, dia memeluk Chalodra dari samping.


"Cha, kita kasih nama siapa anak kita?" tanya Hendery.


"Kata Dokter jenis kelaminnya cowok. Kalau Raka, bagaimana?"


"Terserah kamu, Sayangku!"


"Tapi bagus 'kan?" Hendery mengangguk. "Aku heran, sekarang Mas benar-benar berbeda."


"Apanya?" tanya Hendery.


"Mas lupa? Dulu Mas nikahin aku karena mau menyelamatkan, tapi Mas malah kasar sama aku." Dengan bibirnya yang berkerut, Chalodra terlihat membayangkan masa lalunya. "But sekarang? Lebih dari manja."


Hendery menarik kedua sudut bibirnya. Tangan besarnya dia gunakan untuk mengelus kepala Chalodra. "Karena sekarang Mas sadar, kalau Mas cinta sama kamu. Dan Mas mau membahagiakan kamu."


"Jangan cuma aku yang bahagia, tapi kita sama-sama."


...Bertahannya lama sebuah hubungan, berdasarkan cara menyikapinya....