I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
11. Sebuah kenyataan



...SELAMAT MEMBACA...


Melihat kekasihnya bersama adiknya sendiri membuat Chalodra tidak berhenti berpikir. Dia memasang wajah murung. Angin sepoi berhembus membuat tubuhnya sejuk. Chalodra sedang berdiri di balkon kamarnya. Hendery sedang ke luar untuk menyiapkan sebuah kejutan untuknya.


Chalodra ingin sekali mengirim pesan pada Egry, kekasihnya. Namun sayang, dia tidak menghapal nomor laki-laki itu. Cinta pertama Chalodra, dia merasa dirinya adalah orang jahat yang pergi meninggalkan pacarnya.


"Cha," panggil Hendery memasuki kamar, tetapi tidak mendapat jawaban dari Chalodra. Hendery melihat Chalodra yang berdiri di balkon dengan tatapan kosong. Laki-laki itu melangkah mendekat. "Sedang apa?"


Meski suara Hendery sangat pelan, tetap membuat Chalodra terkejut. Chalodra memekik pelan merasakan jantungnya yang hampir melompat. "Mas!" tegur Chalodra.


Wajah datar Hendery seperti biasa, tidak berwarna. Tatapan tajam milik laki-laki itu menyorot serius manik Chalodra. "Aku punya kejutan untuk kamu," ucap Hendery.


Chalodra mengangkat alisnya penuh penasaran. "Apa?"


"Ikut Mas ke ruang tengah!" pinta Hendery melenggang mendahului Chalodra.


Seorang wanita yang duduk di sofa membuat Chalodra mengerutkan dahi. Dia sangat mengenal postur tubuh itu. "Ibu?" Chalodra memekik pelan ketika Ibunya menoleh melemparkan senyum lebar.


Chalodra mendudukkan tubuhnya di samping Ratu, Ibunya itu. "Apa kabar?" tanya Ratu. Nada bicara wanita itu terdengar sangat berbeda di telinga Chalodra.


Chalodra hanya mengangguk sebagai jawaban. Ratu tersenyum tipis membuat matanya sedikit menyipit. "Jauh hari Ibu hubungin Hendery untuk membuat janji temu dengan kamu," ujar Ratu.


"Kamu harus menurut dengan suami kamu! Ini demi keselamatan kamu, Chalodra," lanjut Ratu membuat Chalodra semakin tidak mengerti. Sedangkan Hendery berdiri di balik dinding, bersembunyi untuk mendengarkan pembicaraan dua orang itu.


"Sebenarnya, kamu bukan anak kandung Ibu." Chalodra terbelalak kaget, diam menggeleng tidak mempercayai ucapan Ibunya itu.


Ratu kembali mengukir senyum tipis. "Kamu anak dari Anggara dan Agni. Anggara adalah pelanggan Ibu, dia Ayahmu, Chalodra."


"Ada orang yang ingin membunuh kamu, itu kata Anggara."


"Ibu mempunyai masalah dengan rahim, karena itu Ibu melakukan pekerjaan ini."


"Semua. Kakak dan Adik kamu juga bukan anak Ibu." Suara Ratu semakin lirih. Sorot matanya penuh luka pada Chalodra.


Chalodra bergeser, mendekatkan tubuhnya dengan Ibunya. Dia memeluk erat tubuh Ratu membuat air mata wanita itu tumpah. "Maaf, Chalodra." Suara serak Ratu membuat hati Chalodra bersedih.


Kenyataan tentang orang tuanya membuat ketegarannya runtuh. Melihat Ratu menangis untuk pertama kalinya. Selama ini Chalodra hanya menganggap Ibunya itu sebagai orang yang sombong.


Ternyata, Ibunya itu menyimpan luka yang teramat pedih.


"Dia menitipkan kamu sama Ibu supaya kamu tidak dibunuh, Chalodra," ucap Ratu sesenggukan. Diam mengendurkan pelukannya dengan Chalodra, menghapus air mata putrinya yang deras membasahi pipi. "Ibu titipkan kamu sama Hendery supaya kamu aman."


Tanpa Ibunya ketahui, Chalodra merasakan rumah Hendery seperti neraka, penuh siksaan. Namun, lebih baik dia tidak menceritakan hal itu.


"Ibu sudah anggap kamu sebagai anak Ibu sendiri, Chalodra. Kamu tidak marah sama Ibu kan, Cha?" Sendu, tatapan Ratu yang tidak pernah ada, kini Chalodra melihatnya.


"Chalodra anak Ibu," kata Chalodra membuat Ratu kembali berhamburan memeluknya.


"Kamu baik-baik di sini, ya!" Usapan lembut diberikan Ratu pada pucuk kepala Chalodra. Dia tersenyum tulus membuat hati Chalodra teduh.


"Hati-hati!"


Ratu melambaikan tangan, juga Chalodra yang tersenyum lebar. Wanita itu melangkah pergi keluar dari kediaman Hendery.


Chalodra berjalan mendahului, diikuti Hendery di belakangnya. Chalodra menyamakan langkah kakinya dengan Hendery, dia beriringan bersama suaminya itu. Chalodra memilin jemarinya, dia sedikit mendongak melihat Hendery dari samping.


"Mas, bisa jelaskan maksud pembunuhan itu?"


Langkah Hendery terhenti, membuat Chalodra juga menghentikan langkahnya. Mereka berdua berada di depan kamar, saling menatap tajam. Hendery tahu, banyak rasa penasaran di mata Chalodra.


Melihat Chalodra yang mungil itu, Hendery tidak sanggup menceritakan yang sebenarnya. Dia mengambil napas dalam dan menghembuskan. "Maaf, Cha. Tidak untuk sekarang," ujar Hendery terdengar menekan.


Hendery merogoh saku untuk mengambil kunci kamar. Dia membukanya. "Mas ada urusan." Hendery kembali dingin, Chalodra tidak suka itu.


Dengan langkah yang teramat pelan, Chalodra masuk ke kamar, menatap pintu yang perlahan ditutup oleh Hendery. "Sampai kapan?" gumamnya memandang tubuh suaminya sudah menghilang.


Chalodra melangkah pelan, mendudukkan pantatnya di tempat tidur. Pandangannya kian memudar, dibanting badannya ke kasur. Helaan napas panjang, hingga rasa kecewa. "Aku pikir, aku orang yang kamu cintai, Mas. Tapi, aku sama sekali tidak tahu tentang kamu."


"Keluarga kamu, pekerjaan kamu, kehidupan kamu yang sebenarnya pun aku tidak mengetahuinya."


"Bahkan, kehidupan aku sendiri ...."


"Aku tidak tahu." Suara lirih Chalodra berdengung di telinganya, terasa penuh sayatan yang teramat pedih.


"Apa kebahagiaan menjadi takdirku?"


.....


Angin malam, jutaan bintang, satu bulan yang kesepian seperti Chalodra. Balkon kamar menjadi saksi bisu kegalauannya. Andai angin bisa membawa dan menghilangkan luka, mungkin Chalodra sudah bahagia.


"Andai aku terlahir menjadi rumput, mungkin sekarang sudah reinkarnasi."


"Andai aku bahagia, mungkin aku akan merasa beruntung," lanjutnya.


Sejak bertemu dengan Ibunda Ratu, Chalodra merasa gelisah. Antara tidak mengerti dan tidak percaya tentang semua yang dikatakan Ratu. Apalagi suaminya itu tidak pernah terbuka tentang semua hal.


Dengan lembut, Hendery membuka pintu. Melangkah pelan mencari keberadaan istrinya. Pintu balkon terbuka, Hendery menuju ke sana.


"Cha," panggil Hendery membuat Chalodra bergegas menghapus air matanya. Melihat pergerakan Chalodra, Hendery berdiri di sampingnya. "Kenapa?"


Chalodra menggeleng sambil tersenyum lebar seperti biasanya. "Mata aku panas terkena angin," ucap Chalodra. Hendery tahu, istrinya itu bohong.


Tanpa aba-aba, Hendery menarik tubuh Chalodra ke dalam pelukannya. Dengan erat, laki-laki itu memberi dekapan yang hangat dan teramat sangat nyaman. "Maaf, akhir-akhir ini aku jarang menemani kamu," ujar Hendery.


Chalodra merasakan rambutnya dielus oleh tangan besar suaminya, dia tersenyum tipis. Niat ingin bertanya lagi tentang pembunuhan itu urung, takut Hendery akan berubah menjadi singa. "Bukan masalah besar."


"Aku hanya sedih, tidak bisa bebas keluar kamar," lanjut Chalodra.


Hendery sedikit terkejut dengan perkataan istrinya yang tidak mengandung kebohongan. "Maaf, Cha. Ini demi kebaikan kamu."


Karena itu Chalodra sedih tidak bisa keluar kamar, Hendery tidak mengatakan alasannya membuat Chalodra kesal dengan perlakuannya.


"Terserah." Chalodra membuang muka.pipinya menggembung membuat Hendery ingin sekali mencubitnya, tetapi gengsinya lebih besar.


Runtuh sudah ketahanan Hendery. Dia menarik pundak Chalodra menghadapnya. Chalodra mendongak menatap wajah tampan suaminya. Chalodra berpikir, Hendery akan menciumnya, Chalodra memejamkan matanya. Namun, Chalodra malah merasakan panas di pipinya. Ternyata, Hendery mencubit pipi Chalodra, bukan menciumnya. Chalodra menahan malu.