I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
59. Curhatan pria



...SELAMAT MEMBACA! ...


Bulan sabit bersembunyi di balik awan. Angin berhembus membawa pergi asap yang keluar dari mulut Hendery. Laki-laki itu tengah merokok di balkon, bersandar di pagar, dan menikmati segarnya malam ini. Hendery menoleh, mendapati sang istri naik ke kasur.


Chalodra membuang muka saat matanya bertemu dengan Hendery. Lalu, dia tidur dengan posisi miring membelakangi Hendery.


"Kenapa lagi dia?" tanya Hendery pada dirinya sendiri. Segera mematikan putung rokoknya, Hendery berjalan masuk dan menutup pintu balkon.


Melangkahkan kaki panjangnya perlahan mendekati ranjang. Hendery naik dan memeluk tubuh Chalodra dari belakang, sampai istrinya itu semakin mengeratkan matanya. "Cha, kenapa?" tanya Hendery, berbisik pada telinga sang istri.


Tidak mendapat jawaban, Hendery mengendus tekuk leher Chalodra, menenggelamkan wajahnya di sana. "Mas, geli. Jangan seperti itu!" tegur Chalodra.


"Katakan dulu, kamu kenapa?"


Chalodra menghela napas kasar, dia berbalik badan, menatap Hendery dengan sinis. "Yang tadi, benar-benar sekretaris Taka?" tanya Chalodra.


Hendery mengangguk singkat. Tangan besarnya membelai rambut Chalodra, memindahkan helaian dari wajah ke belakang telinga. "Kenapa?"


"Aku suruh dia untuk sering main ke sini. Tapi, dia bilang 'akan ke sini' kalau ada kamu di rumah."


Hendery terbelalak, membuka lebar matanya. "Dia bilang seperti itu?" Chalodra mengangguk.


Hendery mengulas senyum tipis, mengelus kepala Chalodra dengan lembut. "Tidak perlu khawatir, oke? Mas akan tangani dia," ujar Hendery.


"Memang, Mas mau ngapain?"


"Besok, Mas akan datangi Taka untuk bicara."


"Lebih baik tidak perlu, Mas!" cecar Chalodra.


"Kalau dia jauhi aku, aku tidak punya teman lagi." Raut wajah Chalodra berubah, dia harap bisa berteman dengan Sara. Namun, kalimat yang diucapkan membuatnya takut.


Chalodra membisu, tidak menatap Hendery. Dia memainkan kancing baju suaminya. "Cha, ada Casandra. Mas bisa hubungi Taka supaya bermain ke rumah. Kamu juga bisa ajak Ibu Ratu. Atau mau berkunjung ke rumah Tivani?"


Chalodra mengangkat pandangannya, manik jernih itu saling bertemu dengan tatapan yang begitu dalam. "Mas, maaf. Aku sebenarnya ingin punya teman dan bisa jalan-jalan ke luar," ungkap Chalodra.


Laki-laki itu pun merasa bersalah. Mungkin, dirinya terlalu membatasi pergaulan sang istri. "Maafkan Mas! Karena keadaan ini, kamu jadi tidak bisa sebebas sebelum menikah." Mata Hendery sayu hingga Chalodra meletakkan tangannya di pipi suaminya.


"Mas, aku senang bisa habiskan waktu sama kamu, kok. Cuma ... aku rindu dengan masa-masa aku yang dulu."


"Oke, setelah ini kamu bebas mau bagaimana pun. Tapi, harus selalu kasih tahu Mas! Oke?" Chalodra mengangguk senang, dia memeluk erat sang suami dan mengecup dada bidang itu.


"Maaf, ya?" Hendery mengecup pucuk kepala Chalodra dengan lama, sampai memejamkan mata ia tidak mau melepaskan.


Malam dingin itu, Chalodra didekap oleh kehangatan Hendery. Rintangan yang sempat datang menjadikan mereka lebih mencintai. Hendery sudah lupa akan tujuan awal, bahkan merubah tujuannya untuk Chalodra. Mungkin, Chalodra awalnya tidak pernah cinta, tetapi waktu mengubahnya.


Tampilan hitam kesukaannya. Gadis kuncir kuda itu melangkahkan kaki dengan cepat, berjalan tegak. Lalu, dia membuka daun pintu dan masuk ke rumah kekasihnya. Casandra menghentikan langkahnya saat mendapati seorang wanita asing duduk di sofa ruang tamu.


Casandra berjalan mendekat, kedua tangannya mengepal kuat. "Siapa kamu?!" tanya Casandra dengan suara lantang.


Wanita dengan dandanan menyala itu mengangkat kepala. Memandangi Casandra dari ujung kaki hingga kepala, membuat Casandra berdecak kesal. "Tidak dengar atau bagaimana?" celetuk Casandra.


Wanita itu tersenyum miring. Lalu, dia berdiri dari duduknya. Melipat kedua tangan di depan dada, menatap nyalang ke arah Casandra. "Aku Sara. Aku adalah--"


"Eits! Sayang, jangan salah paham! Dia sekretaris aku," sahut Taka.


Sara menjadi kesal karena kedatangan Taka. Dia mendudukkan tubuh seksinya di sofa, kembali meminum segelas teh yang disuguhkan.


"Sara, ini dokumennya. Bisa kamu bawa ke kantor sekarang. Hari ini saya cuti," ujar Taka sambil menyodorkan benda kepada Sara.


Taka duduk di sofa, diikuti Casandra yang berusaha membuat wanita itu panas. "Iya, hari ini Pak Taka cuti. Kita mau lihat baju pernikahan untuk bulan depan," ucap Casandra.


Taka sedikit bingung dengan tingkah Casandra, tidak biasanya bersikap manja seperti ini.


"Baik, akan saya urus semuanya," kata Sara. Dia berdiri dari duduknya, diikuti Taka. "Sampai bertemu di kantor, Pak Taka. Saya permisi." Sara melenggang pergi.


Habislah Taka. Casandra menyorot tajam Taka hingga cowok itu merasa nyalinya ciut. "Sandra, jangan pasang muka seperti itu, dong!" pinta Taka, memeluk tubuh sang kekasih dari samping.


Casandra dengan kuat mendorong tubuh Taka agar menjauh darinya. Dia berdiri, memelototi Taka. "Cepat siapkan mobil atau tidak jadi pergi!"


"O--Oke!" Taka berlari cepat pergi ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil dan turun menyiapkan mobil. Jika tidak bergegas, gadis itu akan menerkamnya.


Seperti yang Casandra katakan, mereka pergi untuk melihat baju pernikahan. Merencanakan acaranya dengan matang dari beberapa bulan lalu, kini hari dan tanggal sudah diputuskan. Meski Casandra dan Taka sering bertengkar, keduanya akan berbaikan dengan cepat.


Taka sudah mencoba melupakan masalah Sara dan Casandra, tetapi sang kakak malah datang ke rumahnya untuk mengadu. Taka malas bila harus berhadapan dengan tampang menyeramkan Hendery.


Lelaki beristri itu menyeduh kopi dari gelas. Lalu, meminumnya sedikit. "Casandra juga mengalaminya, bukan?" tanya Hendery.


Taka mengangguk. "Tadi pagi."


Hendery lelah bila harus bertengkar dengan Chalodra karena masalah orang ketiga. Meskipun dirinya tidak tergoda, tetapi seorang wanita pasti akan cemburu. "Sudah tahu sikapnya, kenapa tidak dipecat?" ujar Hendery.


"Prestasi kerjanya bagus," kata Taka. "Tidak bisa alasan untuk memecatnya."


Hendery tersenyum miring. "Wanita pintar zaman sekarang kebanyakan suka dengan milik orang lain." Hendery menggelengkan kepala. Dia merogoh saku, mengeluarkan bungkus rokok.


"Kak, pernikahan aku jadi bulan depan," ujar Taka.


"Lalu?"


"Aku sudah yakin. Tapi, takut tidak bisa mengontrol emosi kalau ada masalah." Taka menundukkan dalam kepalanya.


"Memang kamu bisa ngamuk?"


Pertanyaan yang dilontarkan Hendery membuat Taka menggerutu. "Aku juga laki-laki," kata Taka. Bertanya kepada kakaknya itu sama saja mencari sensasi.


"Mulai sekarang harus bisa kontrol emosi. Ya ... sebelum menikah coba buat suatu janji dengan Casandra."


"Janji?" Hendery mengangguk. "Janji menerima apa adanya dan selalu bersama dalam keadaan apapun?"


"Ya, seperti itu."


"Tapi, semua masalah pasti bisa teratasi," ucap Hendery. "Lihat sendiri, kan? Pernikahan Kakak dan Chalodra, kamu juga menjadi saksi bagaimana kami dulu."


Taka mengangguk kepala. "Masalah kalian gak mudah. Kalau aku, gak yakin bisa melewati itu semua."


...🐰...