
...SELAMAT MEMBACA...
"Kak Chalodra tenang, ya? Kasihan bayinya," ujar Taka. Dia mengelus punggung Chalodra untuk memenangkan.
Pundak Chalodra naik turun, napasnya tidak beraturan. Dia sangat khawatir dengan Hendery, jika Hendery terkena masalah, lalu apa yang bisa dibuat Chalodra? Chalodra menghapus pelan air matanya dan mencoba menetralkan napasnya. "Taka, kamu susul Mas Hendery saja, ya? Aku takut kalau dia kenapa-kenapa," ucap Chalodra.
"Tapi, nanti Kakak tidak ada yang menjaga," jawab Taka.
"Ada Maria sama Amar di luar."
"Mereka sudah pulang."
Chalodra berdiam sejenak. "Ada suster juga 'kan? Aku beneran gak apa-apa di sini sendiri."
"Tapi, nanti kalau Kak Hendery tahu aku tinggalin Kakak sendiri, pasti Kak Hendery marah," seru Taka, meyakinkan Chalodra. Sebenarnya, Taka juga takut dengan keselamatan Hendery, tetapi Chalodra juga sedang dalam bahaya.
"Taka, kamu awasi saja, aku takut Mas Hendery berbuat macam-macam. Kakak mohon, ya?" Chalodra melebarkan matanya, memohon kepada Taka dengan sendu.
Taka mengeluarkan helaan napas berat, lalu mengangguk. "Aku akan panggil bodyguard Kak Hendery buat jagain Kakak dari luar."
"Iya, makasih. Kamu hati-hati, ya."
Taka mengangguk, lalu melenggang keluar ruangan. Dia bahkan tidak tahu, kakaknya itu pergi kemana. Ini yang Taka tidak suka, membiarkan seseorang dalam bahaya. Chalodra yang sedang diincar dan Hendery pergi dengan emosinya. Namun, Taka akan tetap pergi meski tanpa arah.
Di dalam sana, Chalodra menatap kosong langit-langit kamar rumah sakit. Hambar, panasnya sinar lampu membuatnya memejamkan mata. Ini benar-benar tidak baik, keberuntungan belum berpihak kepada Chalodra, dan Chalodra tak tahu dimana kebahagiaan berada. Apa ia tersesat saat mencari Chalodra?
"Cha, harus bisa! Kamu harus temani Mas Hendery, sampai kedamaian datang." Kata-kata yang terlontar dari bibirnya, membuat hati Chalodra sesak. Dia memejamkan kuat-kuat matanya, agar air mata tidak keluar. Namun, justru isak tangis pecah tak bisa Chalodra tahan. "Capek."
Di sisi lain, mobil hitam terparkir di sebuah gudang tua di tengah hutan. Seorang pria keluar dan melangkah ke dalam gudang. Banyak laki-laki berdiri menyambutnya dengan berdiri tegap. Pria itu menatap tajam seluruhnya. "TANGKAP CARLON! SIKSA DIA! TERSERAH, MAU KALIAN APAKAN. DIA SUDAH TIDAK BISA DITOLERANSI." Suara lantangnya menggema.
Banyaknya anak buah Hendery hanya mengangguk paham. Seluruhnya memiliki tubuh tinggi, besar, dan berotot. Mereka tidak berbeda jauh dari Hendery. "CARI DIA SEKARANG! JANGAN HUBUNGI SAYA KALAU BELUM KETEMU!"
"BAIK, BOS!" jawab mereka juga lantang.
Hendery menatap mereka dengan tajam, lalu mengangguk. "Kerjakan!" Dia melangkahkan kaki lebarnya keluar dari tempat panas itu. Hendery mengeluarkan bungkus rokok dari dalam saku celananya. Dalam keadaan sialan seperti ini, Hendery akan menenangkan dengan sebatang kretek itu.
Dalam teriknya matahari seperti ini, Hendery meneduh di bawah rimbunnya pohon. Ditemani rokok di sela jari telunjuk dan tengah, Hendery memijat pelipisnya. "Chalodra," gumamnya. "Aku harus apalagi, Cha?"
Sorot mata Hendery berubah sendu, membuat wajahnya terlihat begitu melelahkan. Memang, Hendery tidak bisa terus seperti ini, apalagi melibatkan istrinya di dalam kekerasan. Carlon, sudah tidak dapat diampuni, mungkin ini adalah titik kesabaran Hendery. Tidak peduli siapa Carlon, dia sudah terlihat seperti musuh di mata Hendery.
Dari kecil, Hendery tidak pernah merasakan kasih sayang Carlon. Laki-laki itu terlalu brengsek untuk mamanya yang baik hati. Entah apa kesalahan sang mama, hingga mendapatkan suami seperti Carlon. Lalu, apa dosa Hendery, sehingga Chalodra menderita karenanya.
Dalam kesunyian malam, Chalodra merengkuh di atas brankar. Dia memeluk kedua kakinya yang dilipat, Chalodra meringis kesakitan. Kram menjalar di perutnya, saat Chalodra terbangun dari tidurnya untuk minum. Tidak ada siapapun di sana.
Hendery lantas memeluk Chalodra, mengelus lembut punggung istrinya. "Cha, kenapa?" tanya Hendery, khawatir.
"Rasanya kram, Mas," jawab Chalodra lirih.
"Sebentar, Cha!" Hendery lekas memencet bel pemanggil di dinding, tepat di atas brankar.
Hendery tidak berhenti melakukannya, hingga seorang perawat membuka pintu. "Ada apa ya, Pak?" tanyanya.
"Perut istri saya kram, cepat tangani!" seru Hendery.
"Mas!" geram Chalodra, sambil mencengkram baju Hendery. "S-Sakit." Tidak tahan, Chalodra mengigit bibir bawahnya. Seperti ada yang melilit di perutnya dan menimbulkan pusing teramat menyiksa.
Dokter datang saat perawat itu memanggil. Dokter memeriksa dan menempelkan benda di perut Chalodra. "Kram ini memang biasa terjadi, mungkin bayi Ibu sedang rewel. Perlahan, sakitnya akan hilang," kata dokter itu.
Benar, perlahan Chalodra berhenti merengkuh. Sekarang, dia tidur terlentang sambil menggenggam erat tangan Hendery, di sisi kanan brankar. "Mas, bayinya baik-baik aja 'kan?" tanya Chalodra, bergumam dengan tatapan sendu.
Hendery menarik kedua sudut bibirnya, lalu mengelus lembut kening Chalodra. "Pasti."
Sang surya menerangi wajah Chalodra, ia menyelinap masuk melalui cela jendela. Chalodra membuka matanya perlahan, lalu meregangkan ototnya yang kaku. Dia mengedarkan matanya, tetapi seseorang pergi dari sampingnya. "Mas?"
Chalodra mendudukkan tubuhnya lalu mengambil gelas air di atas nakas. Chalodra meminumnya setengah. "Mas Hendery kemana?" Chalodra mengerutkan bibirnya.
Tatapan kosong, Chalodra mengerutkan dahinya. Chalodra mengelus perutnya yang membuncit. "It's okay, baby."
"Cha, sudah bangun?" Hendery masuk membawa sebuah nampan. "Aku bawakan bubur." Hendery mengambil mangkuk di atasnya, lalu menyuapi mulut Chalodra sesendok bubur. "Enak?" tanya Hendery.
Chalodra mengangguk cepat. "Maaf, kemarin ninggalin kamu. Mas gak bisa ninggalin kerjaan kemarin," ujar Hendery, terdengar begitu lembut.
"Gak apa-apa. Tapi, jangan dilakukan lagi, aku khawatir," jawab Chalodra.
"Mas janji."
.....
Tong kosong bekas berserakan, benda berkarat memenuhi, di dalam sebuah ruangan gelap, seorang pria merokok sambil berbicara di telpon. "Ya, aku akan menghabisi keduanya. Bahkan, aku akan melenyapkan semuanya," katanya.
Suara serak dan kerutan di wajahnya, membuatnya jelas terlihat tua. Carlon, mengukir senyum miring dengan menarik sebelah sudut bibirnya. "Anggara, aku tidak akan memaafkan kesalahanmu, meskipun sudah sangat lama."
"Angkat tanganmu, Tuan!"
Carlon lekas mengangkat pandangannya. Hampir sepuluh orang, menodongkan senjata kepadanya, membuat nyali Carlon ciut.