I Love My Brutal Husband

I Love My Brutal Husband
13. Pukul 9



Tidak peduli jika istrinya marah. Hendery kembali dengan tangan kosong membuat Chalodra menatapnya bingung. Hendery pulang pukul 9 malam, saat itu Chalodra masih belum tidur.


Chalodra mengitari tubuh Hendery, mencari sesuatu yang diharapkan akan dilihatnya. Chalodra mendongak, menatap Hendery dengan penuh harapan. "Kucingnya mana?" tanya Chalodra dengan suara gemas.


"Tidak Ada kucing. Menonton televisi saja!" ujar Hendery.


"Yah!" Chalodra mendudukkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur, melipat kedua tangannya di depan dada.


"Kenapa tidak bermain ponsel?" tanya Hendery mendudukkan tubuhnya di samping Chalodra.


"Kuotanya sudah habis," balas Chalodra acuh tak acuh.


"Aku belikan dulu, ya?"


Chalodra mulai merasakan perubahan suaminya itu. Dari yang sangat kasar menjadi perhatian setiap waktu. Apalagi suara keras Hendery berubah lembut ketika berbicara dengannya.


Hendery berdiri dari duduknya. Chalodra sudah sangat kesal, jadi dia mengacuhkan kepergian suaminya itu.


Chalodra membanting tubuhnya ke belakang mendarat di kasur empuk ukuran besar itu. Chalodra menerawang jauh langit-langit kamar. Memang, Chalodra tidak terlalu suka menonton televisi, apalagi film drama azab. Chalodra menyukai permainan anak-anak di handphone, tetapi sayangnya dia lupa untuk mendownloadnya.


Saat Chalodra memejamkan matanya untuk menghalau cahaya lampu. Suara nada dering dari sofa membuat tubuhnya terduduk. Rupanya handphone milik Hendery tertinggal.


Chalodra berjalan mendekatinya, lalu mengambilnya. Tertulis nama 'Carlon' di sana. Chalodra dilema, antara menerima panggilan itu atau menolaknya. Dengan keberanian dan tekat yang besar, Chalodra mengangkat panggilan itu.


"Hendery!" ucap orang itu dari dalam telpon.


"Aku sudah tahu nama anak Anggara itu."


Carlon tidak memberi jeda ucapannya, membuat Chalodra bungkam.


"Namanya Chalodra Agatha."


"Besok temui aku di rumah."


"Kita bahas rencana pembunuhannya."


"Aku sangat senang sekali."


Chalodra membeku, dia diam seribu bahasa. Bibirnya menganga mendengar semua itu. Tanpa Chalodra sadari, Hendery mematung di ambang pintu melihat Chalodra.


"Cha!" teriak Hendery melihat tubuh Chalodra ambruk di sofa. "Chalodra?"


Chalodra masih membuka mata meski napasnya memburu. Chalodra menyorot sendu netra Hendery. "Mas, maksudnya apa?" Hendery menautkan kedua alisnya. "Mas mau bunuh aku?"


Manik Hendery melebar. Chalodra mendorong tubuh laki-laki itu, menambah jarak dengan Hendery. Tubuh Chalodra bergetar, bahkan wajahnya terlihat pucat.


"Aku jelaskan," ucap Hendery. Hendery menarik napas dalam dan menghembuskan perlahan. "Jadi, orang yang telpon tadi adalah Papa aku." Hendery sempat melihat nama penelepon. "Papa aku punya dendam dengan Anggara, Ayah kamu."


"Jadi, orang yang dimaksud Ratu waktu itu, dia Carlon."


"Carlon menyuruhku untuk membunuhmu, Cha. Tapi, aku tidak akan melakukannya." Hendery menggelengkan kepala agar Chalodra mempercayainya. Namun, Chalodra malah berlari ke tempat tidur.


Hendery menghela napas berat melihat Chalodra ketakutan. Kedua tangannya mengepal keras seraya mendekati Chalodra. "Cha," panggilnya, terdengar sangat lembut.


Chalodra memunggunginya. Perempuan itu sudah mengucurkan air mata yang deras. Chalodra menangis sesenggukan.


"Chalodra." Merasa diabaikan, Hendery menarik tubuh Chalodra ke dalam pelukannya. "Mas sayang kamu, Cha. Mas janji tidak akan melakukannya."


Chalodra merasakan kehangatan dalam dekapan Hendery. Dia mendengarkan detak jantung suaminya yang berdebar. Tidak menjawab, Chalodra semakin menyusupkan kepalanya ke dada bidang Hendery.


Hendery mengusap lembut punggung dan kepala Chalodra. Mengukir senyum tipis di balik wajah istrinya.


...


Pagi ini, Chalodra sepertinya ingin diamuk oleh Hendery. Dia tengah bermain-main dengan ponselnya, mencari akun sosmed Egry. "Ini bukan?" tanyanya melihat akun itu.


"Aku harus telpon dia," ucapnya. "Pas banget, dia online."


Langsung saja, Chalodra memanggil. Manik Chalodra berbinar, panggilannya diangkat oleh Egry.


"Halo?"


"Chalodra?"


"Apa perasaan itu masih utuh?" tanya Chalodra dengan sorot sendu.


"Sama dan akan tetap seperti dulu. Aku selalu mencintaimu, Atha."


Setelah mendengar panggilan kesayangan Egry yang tetap sama, Chalodra mengembangkan senyumnya. Namun, masih ada sesuatu mengganjal hatinya.


"Secepatnya, aku akan menjemputmu."


"Aku selalu menunggu."


"Sudah dulu, ya?"


Dengan berat hati, Chalodra menjawab, "Baiklah."


Egry pun memutus panggilan secara sepihak. Laki-laki itu sedang berdiri di depan mobil hitamnya. "Secepatnya, aku akan membunuhmu, Atha sayangku." Senyum miring dalam wajahnya terlihat menyeramkan.


Namun sayangnya, Chalodra tidak tahu sosok Hendery berdiri di belakangnya dan mendengar semua obrolan Chalodra. Dengan gerakan cepat, Hendery merebut ponsel itu dari tangan Chalodra, membuat Chalodra terbelalak kaget.


"Mas?" Chalodra bergidik ngeri melihat raut wajah suaminya itu.


"Handphone kamu, Mas sita." Hendery melenggang pergi dari kamar, membuat Chalodra mematung.


Chalodra ambruk ke belakang, tubuhnya terduduk di kasur. Pasti dan akan terjadi, Hendery akan ngamuk pada Chalodra. Tak bisa dipastikan, Hendery tidak akan berbuat kasar lagi setelah ini.


Benar dugaan Chalodra, suaminya tidak pulang hingga tengah tengah malam. Rasa gelisah, takut kehilangan Hendery. Bagaimana jika Hendery bersama wanita lain? Ini semua semata-mata salah Chalodra, dia berani menentang suaminya.


Chalodra acuh tak acuh. Dia mondar-mandir keluar-masuk, dari kamar ke balkon. Chalodra menerawang jauh langit malam ini. Terasa dingin dan hampa tanpa kehadiran suaminya itu. Chalodra merasa sangat bersalah.


Ketika Chalodra larut dalam lamunannya, suara ketukan pintu membuatnya melangkah cepat. Namun, ternyata yang berdiri di baliknya bukanlah Hendery, tetapi Tivani.


"Kak Tivani?"


Tivani tersenyum tipis ke arah Chalodra. "Boleh masuk?"


"Boleh."


Tivani mendudukkan pantatnya di kasur, menatap netra Chalodra yang sendu. "Aku tahu, kalian sedang bertengkar."


"Iya, dan ini salahku," ucap Chalodra sambil menundukkan kepala.


"Chalodra, mungkin kamu belum tahu ini," ujar Tivani membuat Chalodra mengerutkan dahi.


"Jangan pernah memancing amarah Hendery, atau kamu sendiri yang akan mendapatkan akibatnya."


Chalodra semakin mengerutkan dahinya. Bibirnya mengatup tidak mengerti dengan ucapan Tivani.


Tivani menarik napas dalam, lalu menghembuskan pelan. "*B*orderline personality disorder."


"Atau gangguan kepribadian ambang."


"Membuat pengidapnya sering mengalami sikap yang berubah-ubah."


Kondisi ini merupakan gangguan mental yang ditandai dengan suasana hati serta citra diri yang sering berubah-ubah dan perilaku yang impulsif.


"Kamu pasti sering melihatnya."


"Hendery trauma, mentalnya tertekan. Dulu, saat Mama meninggal, Papa jarang di rumah dan membuat Hendery dicaci teman-temannya. Beruntung, ada Bi Aya."


"Kamu sekarang sudah paham, Chalodra? Kalau kamu tidak mau Hendery marah, jangan mencari masalah dengannya," jelas Tivani membuat Chalodra hanya mengangguk.


Chalodra sangat tidak menyangka suaminya mengalami gangguan mental yang sangat berbahaya. Pantas saja selama ini Hendery selalu berubah-ubah, kadang manis dan akan menjadi galak. Ternyata itu merupakan suatu gejala.


"Setelah ini, kamu harus perhatian dengannya ya, Chalodra?"


"Aku usahakan," jawab Chalodra.


Sikap Tivani bertolak belakang dengan Hendery yang dingin. Tivani ramah dan murah senyum, seperti Taka.


"Baiklah, aku pergi."


"Hati-hati."